Harika merupakan seorang gadis pintar dan cantik yang bekerja di salah satu perusahaan yang berada di Ibu Kota Jakarta, ia bertekat membantu kedua orang tuanya agar perekonomiannya lebih baik. Saat dia sibuk bekerja, orang tuanya jatuh sakit dan menyarankan agar Harika segera menikah karena usia orang tuanya sudah tidak lama lagi. Sebagai anak yang berbakti kepada orang tuanya, akhirnya harika menuruti permintaan orang tuanya. Dia akhirnya di persunting sama CEO Tampan di perusahaannya. Dia menikah dan dikaruniai satu anak perempuan yang cantik. Saat mereka jalan-jalan, mobil yang dikendarai harika mengalami kecelakaan yang mengakibatkan suaminya lumpuh karena kakinya patah dan harus di amputasi. Harika sedih karena harus rela hidup dengan suami yang lumpuh dan harus merawat anaknya yang masih kecil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibnu Muhammad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 - MALAM PERTAMA
Akhirnya harika sekarang sudah resmi berstatus menjadi istri orang. Dia merasa bahagia sekali malam ini. Bahagia bercampur grogi karena dia baru kali ini tidur ditemani oleh laki-laki.
"Akhirnya aku sudah menikah, terus apa yang harus aku lakukan di malam pertama ini ya? Apa aku harus berpura-pura kesurupan saja ya? Atau pura-pura kena sawan saja? Atau harus gimana?” Gumam dalam hati harika.
Harika masih bingung apa yang harus dia lakukan ke suaminya. Karena dia takut di malam pertama ini tetapi disisi lain dia juga tidak mau mengecewakan suaminya.
“Aduh! Mana nih perut tiba-tiba mules lagi. Apa aku ngungsi ke kamar Ibu aja kali ya? Tapi, dosa nggak sih ninggalin suami sendirian di malam pertama itu?" Tanyaku dalam hati
“Mas bayu kemana sih, katanya ke kamar mandi tapi lama banget, apa jangan-jangan dia pingsan disana?” Pikiran harika kacau campur grogi
Harika merapihkan tempat tidurnya, dia melihat banyak sekali kado dari sahabat-sahabatnya. Tiba-tiba mas bayu mengetuk pintu kamar
“Assalamu’alaikum harika sayang?”
“Wa’alaikum salam sayang?” Jawab harika dari dalam kamar
“Mamas bayu sudah boleh masuk belum ini?” Pinta bayu
“Ehm.. iya mas boleh kok, silahkan masuk saja!” Jawab harika gerogi entah apa yang ada di dalam fikiran harika sampai-sampai salah tingkah sendiri di malam pertamanya ini
“Ternyata membayangkan malam pertama itu sama seramnya kayak membayangkan ketemu kuntilanak di perempatan komplek rumah lo ngeri-ngeri sedap.” Bisik hati harika
“Kamu kenapa sih sayang kok wajah kamu kayak bingung gitu sih?” Tanya bayu ke harika
“Emm.. enggak kenapa-napa kok mas bayu.” Jawab harika serba salah
"Hemm gimana nih ngomongnya, yaudahlah aku langsung ngomong aja kali ya. Minta pengertiannya dia. Kalo dia enggak mau ngerti ya aku suruh tidur di luar saja. Lagian ini kan kamar ku.
Tapi, kalo kayak gitu yang ada aku bakal disabet sama Emak. Aih, kenapa persoalan malam pertama gini amat ya. Riweh, seriweh nagih utang sama orang yang lupa ingatan!” Gumamku dalam hati.
Harika lalu memandangi ranjang yang dipenuhi kelopak mawar berbentuk hati. Terlihat indah dan membuat wangi di seluruh ruangan ini
"Kamu sudah mandi harika sayang?" tanya Mas bayu, lelaki yang baru beberapa jam lalu telah sah menjadi suamiku, saat aku berjalan mendekat ke arahnya yang tengah duduk di sisi ranjang, sembari menggulung lengan kemeja putihnya hingga siku.
Sebenarnya, mau dilihat dari sisi manapun Mas bayu ini memang ganteng kok. Cuma, aku tetap takut kalau malam ini dia sampai minta yang iya-iya.
"Udah Mas, Mas Bayu mau mandi?" tanyaku, sedikit kaku, lalu duduk di kursi yang tak jauh dari ranjang.
"Iya, lengket kalo nggak mandi. Bisa minta tolong ambilkan baju ganti mas bayu di koperku enggak sayang?" Pinta mas bayu sambil menunjuk tangannya ke arah kopernya
"Oh bisa mas bayu. Mas bayu mau ganti di kamar mandi?" Tanyaku, seraya berjalan ke arah koper milik Mas bayu yang tergeletak di sisi lemari.
"Memangnya, kalau mau ganti di sini boleh sayang?" Tanyanya membuatku sempat terpaku, lalu terkekeh salah tingkah.
Jangan deh! jangan sampai ganti baju di kamar. Aku belum siap lihat roti sobek secara langsung, soalnya.
"Hehehe ganti di kamar mandi saja deh mas." Sahutku seraya menyodorkan baju ganti ke arahnya yang masih duduk di sisi ranjang, sembari menatapku.
Membuatku semakin salah tingkah dibuatnya. Nih orang nggak sadar apa ya, kalau pesonanya bikin hati gedombrengan? Batinku dalam hati. Aku spontan mundur, ketika Mas bayu mempersempit jarak di antara kami.
"Kalau besok boleh kan ganti di kamar? Karena, kamu harus mulai membiasakan sayangku." Bisiknya tepat di samping telinga kananku, membuatku menelan ludah dengan susah payah.
Aku dideketin suami kok, kayak dideketin Mbak Kunti gini ya? Merinding bulu kuduk ku.
"Eh membiasakan apa ya mas bayu?" Tanyaku sambil menatap penuh selidik ke mas bayu, yang tengah mengulum senyum.
"Membiasakan segala hal sayang. Tentang status baru yang kamu sandang sekarang. Oh iya, mukanya biasa saja kali sayang. Nggak usah gerogi gitu. Bikin mas bayu gemes saja." Ucapnya seraya mengelus pelan kepalaku, sebelum akhirnya berlalu masuk ke kamar mandi yang berada di sudut kamar.
Duh tolong jantungku rasanya kayak mau lepas gini. Jedag-jedug nggak jelas, kayak janji mantan.
****
"Kenapa belum tidur?" Tanya Mas bayu, yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan kaos lengan pendek berwarna hitam, dan celana selutut dengan warna senada, serta rambut yang masih basah. Membuat level kegantengannya jadi bertambah.
"Nggak bisa tidur aku Mas." Jawab harika sambil duduk dipojokan
"Sudah shalat Isya? Kalau belum, kita sholat bareng yuk sayang?" Ajaknya sembari memakai sarung berwarna putih yang baru saja diambilnya dari dalam koper. Ternyata, lelaki yang memakai sarung itu memang terlihat semakin gagah ya. Bikin adem hati ini.
Akhirnya kita berdua sholat isya berjamaah sebelum hal-hal itu terjadi karena aku masih gerogi dan belum siap. Takut pas dia minta nanti aku nangis karena kata orang kalau malam pertama itu sakit.
Setelah selesai sholat isya, lalu aku melangkah mendekati tumpukan kado pemberian dari sahabat-sahabatku.
Melihat tumpukan kado itu, aku jadi teringat pesan vika di acara resepsi tadi.
"Kado pemberianku tolong dibuka paling pertama ya. Semoga bermanfaat. Tapi, aku yakin pasti bermanfaat kok!” Bisiknya setelah berfoto denganku di atas pelaminan, beberapa waktu yang lalu.
Tapi, kok perasaanku nggak enak gini ya, kepikiran kado pemberian dari Vika. Pasti dia ngasih sesuatu yang di luar nurul, pikirku.
"Kado dari dia yang mana sih?" Gumamku seraya membongkar tumpukan kado yang menggunung. Melihat satu-persatu nama pemberinya.
"Nah ketemu. Tapi, ini isinya apaan ya? Bungkus saja segede harapan mantan. Tapi isinya ringan banget. Kayak omong kosong mantan!" Gumamku sambil merobek pembungkus kadonya dan betapa terkejutnya aku setelah melihat isinya.
"Nah bener kan firasat ku. Isinya meresahkan!” Ucapku sembari mengambil beberapa bungkus test pack, dan kond*m dengan bungkus bergambar anggur di dalam kotak kado vika. Dih! dasar sahabat sableng, dumelku dalam hati.
"Kado dari siapa itu sayang? Mau dicoba?" Tanya seseorang dari arah belakang, yang terdengar ambigu di telingaku.
Membuatku dengan spontan melempar kado laknat pemberian vika tersebut ke sembarang arah. Lagian, apanya yang mau dicoba? Test pack? Lah, nina-ninunya aja belum masak mau di test pack
“Oh iya sayang malam ini kita langsung apa pemanasan dulu?” Pinta mas bayu
“Pemanasan? Kita kan mau tidur sayang bukan mau olahraga?” Jawabku bingung nyari alasan karena jantungku masih dag dig dug nervous banget. Kalau boleh teriak aku pengen teriak minta tolong ke ibuku
“Hahaha kamu bisa aja, iya malam pertama sayang kayak orang-orang itu, kita berkembang biak?” Jawab mas bayu sambil menggodaku
“Haduh gimana ini ya aku mau alasan apa lagi?” Jawabku
Akhirnya harika dan bayu melakukan nina ninu bersama dan harika sudah tidak gerogi lagi dia malah sudah bisa menikmati malam pertama ini dengan rileks dan bahagia. Istilah malam pertama itu sakit ternyata bohong, buktinya harika merasa enjoy saja.
*****