BRUUK!
Celine terpental tubuhnya jatuh ditumpukkan daun kering. Matanya berkeliling dan menatap daun-daun yang menari-nari tertiup angin. Suara nyanyian burung memenuhi langit-langit hutan. Pohon-pohon berbisik satu sama lain.
"Tempat apa ini?"
Celine terus berjalan sambil mengembuskan nafas dan tercekat saat menemui jalan yang bersimpangan.
"Tolong, tolong." Tubuh Celine ambruk jatuh ke tanah. Samar-samar Celine melihat seseorang berpakaian jubah putih mendekatinya. Pandangan Celine menjadi gelap.
Semenjak kejadian di masa kecilnya, Celine masih belum bisa menerima kenyataan orang tuanya meninggal dunia. Celine terus berhalusinasi. Tanpa Celine sadari dia menciptakan dunia halusinasi.
Ikuti jalan ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yenny Een, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Usus Buntu
BRUUK!
"Maaf, maaf saya tidak sengaja." Celine menatap orang yang ditabraknya.
"Yuwen, Yuwen kamu masih hidup, Yuwen." Celine memeluk erat seseorang di depannya. Yang dipeluk malah bengong keheranan.
"Kemana saja, aku kangen." Celine menangis dalam pelukannya.
"Hei apa-apaan ini!" Seorang gadis dengan paksa melepaskan pelukan Celine.
"Yuwen, siapa dia?" Celine menatap gadis cantik yang memegang lengan Yuwen.
"Maaf ya, kamu salah orang. Dia In Su tunangan ku. Dasar gak bisa liat cogans bisa-bisanya makai trik sok kenal. Minggir!" Gadis itu sengaja mendorong tubuh Celine dengan tangan kirinya.
"Celine kamu tidak apa?" Arina membantu Celine berdiri.
In su berbalik menatap Celine. Celine menghapus air matanya dan dengan cepat meninggalkan Toko Tas. Arina, Delisha mengejar Celine.
"Gaeess maaf, aku gak nafsu makan. Aku antar kalian pulang ke rumah." Celine melajukan mobilnya.
Delisha dan Arina tidak berani bertanya setelah melihat Celine seperti orang yang baru saja putus cinta dan dicampakkan kekasihnya. Delisha dan Arina sampai di rumah mereka. Celine pun pamit kemudian melajukan mobilnya menuju rumah. Rupanya Jin sudah ada di rumah. Celine langsung memeluk Jin dan menangis.
"Hei, ada apa?" Jin mengusap lembut rambut Celine.
"Ka, tadi aku ketemu Yuwen di Mall. Tapi dia tidak mengenaliku. Dan dia sudah bertunangan. Hiks." Celine membasahi dada Jin dengan air mata.
"Kaka sudah bertemu di restoran tadi sore." Jawab Jin.
"Apa? Kenapa bisa?" Celine melepaskan pelukan dan menatap Jin.
"Kaka menghadiri pertemuan dengan beberapa pebisnis di Kota ini. Di situ Kaka melihat Yuwen. Kaka langsung memeluknya. Tapi Yuwen diam dan tidak mengenali Kaka. Kaka sangat yakin itu Yuwen." Kata Jin.
"Aku juga merasa yakin itu Yuwen Ka. Apa yang terjadi padanya. Apakah mungkin Yuwen amnesia?" Celine duduk di sebelah Jin.
"Kamu tau siapa namanya orang yang mirip Yu?" tanya Jin.
"Kata tunangannya namanya In Su." Jawab Celine.
Jin mengetik In Su di layar ponselnya. Ternyata memang benar yang bernama In Su wajahnya sangat mirip dengan Yuwen. In Su adalah anak dari pebisnis terkenal di Negara K, menurut informasi yang di dapat dari orang pintar sejagat dunia maya Mbah Goo.
"Ka, jika benar itu In Su, jadi dimana Yu? Apa Yu sudah...?" Celine kembali meraung dalam kesedihan.
"Tapi jasad Yu selama ini belum ditemukan. Jika benar itu adalah Yu, bearti In Su yang sebenarnya menghilang. Di dunia ini kemungkinan orang sangat mirip itu sangat kecil, kecuali jika mereka kembar." Ujar Jin.
"Apa sebaiknya kita tanyakan kepada Papa Chen?" Celine memberikan saran.
Kemudian Celine menghubungi Papa mertuanya lewat chat. Celine mengirimkan satu foto In Su yang dia dapatkan dari dunia maya dan satu foto Yuwen yang baru saja didapatkan Jin dari CCTV restoran tempat diadakannya pertemuan tadi sore.
Tidak berapa lama Papa Chen menghubungi Celine. Papa Chen dan Mama Alana sangat terkejut melihat foto In Su yang sangat mirip dengan Yuwen. Mereka memastikan foto pertama bukan Yu tapi orang yang memang mirip dengan Yu. Foto yang di restoran sudah dipastikan itu adalah Yu. Sebagai orang tua mereka sangat yakin itu adalah Yuwen anak mereka. Celine juga menceritakan pertemuannya dengan Yu dan juga pertemuan Jin dengan Yu. Yu sama sekali tidak mengenali mereka berdua. Papa Chen dan juga Mama Alana sangat bersyukur Yuwen masih hidup walaupun Yuwen tidak mengenali Celine dan Dong Jin. Papa Chen memerintahkan orang-orang kepercayaannya untuk menyelidiki In su dan Yuwen.
Seperti hari-hari sebelumnya Celine berangkat kuliah diantar Dong Jin. Dari kejauhan seseorang memperhatikan Celine. Celine hendak melangkah masuk ke dalam gerbang kampus, langkahnya terhenti entah kenapa Celine merasakan sakit di perutnya. Celine berbalik menuju minimarket di samping kampus. Celine membeli kimbab dan juga susu strawberry. Setelah membayar Celine duduk di depan minimarket. Celine menikmati sarapannya.
"Permisi, boleh aku duduk di sini?"
"Yuwen." Celine berusaha menahan diri untuk tidak memeluk Yu.
"Nama ku In Su." In Su mengulurkan tangannya.
"Celine." Celine membalas uluran tangannya.
"Siapa Yuwen, kenapa kau dan Pria itu memanggil ku Yuwen?" tanya In Su.
"Yuwen adalah orang yang paling berharga bagiku." Jawab Celine.
"Apakah di kekasihmu?" tanya In Su.
"Dia lebih dari seorang kekasih bagiku." Jawab Celine.
"Dimana dia sekarang?" In Su terus melemparkan pertanyaan.
"Aku tidak tahu. Terakhir kali kami bertemu tiga tahun yang lalu. Ketika kami mengalami kecelakaan pesawat." Jawab Celine.
"Dan kalian pikir aku adalah Yuwen?" tanya In Su.
"Iya." Jawab Celine.
"Ha...ha...ha. Jujur saja. Kamu hanya ingin kenalan dengan ku kan? Kamu sama saja seperti gadis-gadis yang lain. Ingin menarik simpati ku. Maaf itu tidak akan berhasil." In Su dengan sombongnya meninggalkan Celine.
"Tunggu, apa kamu benar-benar bukan Yuwen?" Celine berdiri dari duduknya.
"Sudah aku bilang, aku In Su." In Su berbalik menghadap Celine.
"Jika kamu bukan Yuwen, coba cek di dada sebelah kiri mu. Apakah ada tanda lahir?" tanya Celine.
"Sudah ku katakan aku bukan Yuwen. Dan aku tidak perlu menceknya. Hai gadis, sebegitu sukanya kah kamu dengan ku?" In Su melangkah ke depan mendekati Celine.
"Yang aku sukai Yuwen yang baik hati, tidak sombong seperti mu." Celine memegang perutnya yang semakin sakit.
"Aku juga baik hati, tapi tidak untuk gadis sepertimu yang menggunakan segala cara untuk mendekati ku."
Celine membuka tas dan mencari ponselnya. Dengan tangan yang gemetar Celine memencet nama kontak yang ada di ponselnya.
"Ka...to...long aku." Celine terduduk di kursi tangan satunya masih memegang perutnya.
"Trik apa lagi yang kamu mainkan. Hah!" In Su masih menganggap Celine bersandiwara untuk menarik simpatinya.
"Kamu dimana?" terdengar suara Dong Jin.
"A...ku di mini...mar...ket dekat kam...pus." Lirih Celine.
"Terserah! Lanjutkan sandiwaramu. Semoga saja ada yang simpati pada mu." In Su beranjak pergi meninggalkan Celine.
"Celine, tunggu Kaka." Masih terdengar suara Dong Jin.
"Ka, sa...kit." Celine kesulitan bernafas, pandangannya gelap. Celine terjatuh lemas tak berdaya di depan minimarket.
"Hallo, Celine, Celine...!" Dong Jin berteriak.
"Hallo, maaf gadis ini tidak sadarkan diri. Saya karyawan minimarket dekat kampus. Apa yang harus saya lakukan?" karyawan itu bicara dari ponselnya Celine.
"Tolong segera bawa dia ke rumah sakit terdekat. Nanti saya ganti biaya transportasinya." Dong Jin berlari keluar dari kantornya masuk ke dalam mobilnya.
"Baik." Karyawan itu memasukkan ponsel Celine ke dalam tasnya.
In Su berbalik penasaran apakah Celine benar-benar sakit atau hanya bersandiwara. In Su melihat Celine yang tergeletak di tanah. Wajahnya putih pucat lemah tidak sadarkan diri.
"Biar saya yang bawa dia ke rumah sakit." In Su mengangkat tubuh Celine.
"Tolong setelah tiba di rumah sakit, hubungi nomor terakhir panggilan." Kata Karyawan minimarket.
In Su mengangguk cepat. Dia sedikit berlari menuju mobilnya. Dibantu karyawan minimarket yang membukakan pintu belakang untuk merebahkan Celine. In Su segera ke rumah sakit terdekat.
Sesampai di rumah sakit, Celine segera diperiksa. In Su menunggu di depan ruang UGD. Tak lama Dokter keluar menghampiri In Su dan mengatakan Celine memiliki usus buntu dan harus segera di operasi. In Su mengatakan dia bukan keluarga, dan meminta Dokter untuk menunggu keluarganya sebentar lagi. Dokter kembali ke ruang UGD.
"Ternyata, dia tidak bersandiwara." In Su terduduk lesu di depan ruangan UGD.
PLAK!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...