Indonesia
NovelToon NovelToon
Cintamu Membalut Lukaku

Cintamu Membalut Lukaku

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Kelahiran kembali menjadi kuat / Romansa / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:20.9k
Nilai: 5
Nama Author: achamout

Sejak kehilangan ayahnya, Aqila Safira Wijaya hidup dalam penderitaan di bawah tekanan ibu dan saudara tirinya. Luka hatinya semakin dalam saat kekasihnya, Daniel Ricardo, mengkhianatinya.

Hingga suatu hari, Alvano Raffael Mahendra hadir membawa harapan baru. Atas permintaan ayahnya, Dimas Rasyid Mahendra, yang ingin menepati janji sahabatnya, Hendra Wijaya, Alvano menikahi Aqila. Pernikahan ini menjadi awal dari perjalanan yang penuh cobaan—dari bayang-bayang masa lalu Aqila hingga ancaman orang ketiga.

Namun, di tengah badai, Alvano menjadi pelindung yang membalut luka Aqila dengan cinta. Akankah cinta mereka cukup kuat untuk menghadapi semua ujian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achamout, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 Mengungkit Masa Lalu Aqila

Alvano membawa Aqila masuk ke ruangannya. Gadis itu tampak benar-benar ketakutan, takut jika Alvano mempercayai Areta dan malah memarahinya. Sesampainya di dalam, Alvano mengunci pintu, membuat Aqila semakin terkejut.

"Mas... A-Aku..." suaranya gemetar, bingung harus mulai menjelaskan dari mana. Baru kali ini ia melihat Alvano bersikap sedingin itu padanya.

Namun, saat Alvano menoleh dan menatap Aqila yang tertunduk ketakutan, ekspresi wajahnya perlahan melunak. Tatapan tajam yang penuh ketegasan berubah menjadi hangat.

"Qila? Kamu kenapa, hmm? Kenapa ketakutan begitu?" Alvano bertanya, suaranya lebih lembut. Ia mengangkat dagu Aqila dengan lembut, memaksanya untuk menatapnya.

"Mas... Aku... Aku beneran nggak nyiram Kak Areta dengan kopi panas itu. Dia sendiri yang menuangkan kopi itu ke tubuhnya. Aku... Aku nggak mungkin sejahat itu, Mas," ucapnya lirih, isakan kecil mulai terdengar. Matanya berkaca-kaca, takut jika Alvano akan menyalahkannya.

Alvano menatapnya lekat-lekat, lalu tanpa ragu, ia menarik Aqila ke dalam pelukannya.

"Kamu kenapa nangis, sayang?" bisiknya lembut, sambil mengusap punggung Aqila dengan penuh ketulusan.

Aqila membeku di tempatnya. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia benar-benar tidak menyangka Alvano akan memperlakukannya seperti ini. Perlahan, ia merenggangkan pelukan mereka, menatap suaminya dengan kebingungan.

"Mas... Mas nggak marah sama aku?" tanyanya pelan. Tubuhnya masih sedikit gemetar.

Alvano menggeleng mantap. Dengan penuh kasih sayang, ia menghapus air mata Aqila dengan ibu jarinya. "Mas nggak pernah marah sama kamu, sayang. Mas tau kamu nggak salah," ucapnya.

Aqila mengerjapkan matanya, seakan masih tidak percaya. "Mas percaya sama aku?"

"Iya, Qila," Alvano tersenyum kecil. "Mas bisa melihat mana orang yang jujur dan mana yang berbohong. Lagi pula, mas yakin kamu nggak akan melakukan hal sejahat itu ke siapa pun. Kamu gadis baik. Kamu istri mas... Dan mas sangat mengenal kamu," lanjutnya dengan suara yang penuh keyakinan.

Aqila tersenyum kecil. Seulas kelegaan mulai merayapi hatinya. "Makasih, Mas... Udah percaya sama aku."

Alvano menatapnya dalam. "Oh iya, Mas boleh nanya sesuatu?"

Aqila mengangguk pelan. "Apa, Mas?"

"Kamu kenal Areta?" Alvano menatapnya lebih serius. "Kenapa kamu bisa bermasalah sama dia? Dan tadi, laki-laki yang bersama Areta... Mas lihat kamu seperti punya kekecewaan mendalam terhadapnya. Apa kamu pernah punya hubungan dengannya?"

Pertanyaan itu seperti pisau yang menusuk jantung Aqila. Nafasnya tercekat. Ia menunduk, tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. Luka lama yang selama ini berusaha ia kubur dalam-dalam seolah tersingkap kembali.

"A... Aku..." Aqila tergagap.

Alvano menatapnya lekat. "Qila, tolong ceritakan semuanya sama Mas," pintanya, suaranya terdengar lembut tapi penuh ketegasan. "Mas nggak mau kamu terus menyimpan semuanya sendiri. Kalau kamu terus diam kayak gini, Mas nggak akan bisa bantu kamu. Mas butuh jawaban, sayang..."

Aqila menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya dengan berat. "Baik, Mas... Aku... Aku akan ceritakan semuanya."

Ia menggigit bibir bawahnya sebelum melanjutkan. "Sebenarnya, aku kenal Kak Areta karena dia adalah kakak tiriku, Mas... Dan Daniel... Dia mantan aku."

Alvano membelalakkan mata. Rahangnya menegang. "Jadi... Areta itu kakak tiri kamu? Dia yang selalu menindas kamu?" suaranya terdengar tidak percaya. "Dan Daniel... Dia mantan kamu? Tapi kenapa mantan kamu bisa tiba-tiba membela Areta? dan mereka juga terlihat sangat dekat, Mas nggak ngerti dengan apa yang sebenarnya terjadi..."

Aqila menutup matanya sejenak, mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan luka lama yang begitu menyakitkan. "Mas tau alasan aku diusir dari rumah waktu itu?" ia menatap Alvano dengan sorot mata sendu.

Alvano menggeleng. "Karena pertengkaranku dengan Kak Areta."

Suara Aqila bergetar. "Waktu itu, Daniel adalah pacarku. Dia orang yang selalu ada buat aku... Tapi karena aku terlalu sibuk bekerja, aku jadi jarang punya waktu untuknya. Suatu hari, aku pulang kerja lebih awal. Aku ingin memberi kejutan untuk Daniel... Aku ingin menghabiskan waktu bersamanya."

Alvano menyimak dengan saksama, ekspresi wajahnya semakin serius.

"Aku datang ke kampus ini... Kampus yang sama tempat aku kuliah sekarang." Aqila mengusap wajahnya dengan kasar. "Aku senang waktu itu, Mas. Aku benar-benar bahagia karena akhirnya aku bisa punya waktu untuk Daniel. Tapi..." suaranya tercekat.

"Tapi?" Alvano mendorongnya untuk melanjutkan.

"Tapi aku melihatnya sedang bermesraan dengan Kak Areta..." suara Aqila pecah. "Hati aku hancur, Mas. Aku nggak menyangka mereka berdua bermain api di belakangku. Kak Areta merebut Daniel dariku... Dan yang lebih menyakitkan, Daniel tidak merasa bersalah sama sekali. Dia justru membela Kak Areta dan menyalahkan aku!"

Alvano mengepalkan tangannya, menahan amarah yang mulai membara dalam dirinya.

"Aku memutuskan Daniel saat itu juga... Aku pergi dari kampus ini dengan keadaan hancur."

Alvano menatapnya dengan mata yang dipenuhi kepedihan. "Jadi itu yang menyebabkan kamu menangis saat keluar dari kampus waktu itu?"

AIr mata Aqila mulai mengalir deras, iya mengangguk. "Dan itulah alasan mama mengusir aku dari rumah. Kak Areta marah besar karena aku memergoki mereka. Kami bertengkar hebat. Mama... Mama tidak mendengarkan penjelasanku sama sekali. Dia justru membela Kak Areta, yang jelas-jelas sudah salah."

Aqila menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya. "Dia... Dia memukulku dengan gagang sapu, Mas... Mama tidak berhenti memukulku sampai aku kesakitan."

Alvano terkesiap. "Apa?!"

"Dia... Dia tidak hanya memukulku, tapi juga mengusirku dari rumah dalam keadaan terluka dan tak berdaya..." suara Aqila semakin lemah.

Alvano yang mendengar pengakuan itu merasa dadanya sesak. Tanpa ragu, ia menarik Aqila ke dalam pelukannya.

"Sayang..." bisiknya, suaranya bergetar. "Maaf... Maaf Mas udah mengungkit masa lalu kamu..."

Aqila menggeleng di dalam pelukan Alvano. "Aku nggak papa, Mas... Aku justru lega akhirnya aku cerita semuanya sama Mas..."

Alvano menarik nafas dalam, mencoba menahan emosinya. "Qila... Jangan bilang kalau kejadian kemarin juga gara-gara mereka?"

Aqila mengangguk pelan. "Kak Areta masih belum bisa menerima kenyataan bahwa aku bisa kuliah di sini. Dia... Dia bilang aku pelacur, Mas. Dia menuduhku menggunakan tubuhku untuk bisa kuliah di sini..."

Seketika, mata Alvano dipenuhi kemarahan. "Dia benar-benar harus dihukum!" Alvano bersiap hendak keluar ruangan.

Ia hendak pergi, tapi Aqila buru-buru mencengkeram lengannya.

"Aqila, dia memang perlu dihukum. Bagaimana bisa dia berbicara seperti itu padamu? Mas nggak terima, sayang. Istri mas diperlakukan dan direndahkan seperti itu."

Tatapan Alvano menggelap, sorot matanya penuh ketegasan dan amarah yang tertahan. Rahangnya mengeras, menunjukkan betapa murkanya ia.

"Mas rasa, mas ingin mengeluarkannya dari kampus sekarang juga," ucapnya dengan suara tegas, membuat Aqila langsung menggeleng cepat.

"Jangan, Mas! Jangan keluarkan dia dari kampus ini!" pintanya dengan suara memohon.

Alvano menatapnya tajam. "Kenapa kamu masih membela dia, Qila? Dia sudah berbuat jahat padamu!"

Aqila menggeleng cepat. "Aku tahu, Mas... Tapi aku nggak mau dia dikeluarkan dari kampus ini. Bagaimanapun, dia kakakku. Aku pernah berjuang keras untuk membiayai kuliahnya. Jangan biarkan semua usahaku sia-sia..."

Alvano tertegun. Melihat betapa tulusnya hati Aqila, ia akhirnya menghela napas panjang.

"Kamu benar-benar gadis yang luar biasa, Aqila..." lirihnya. "Baiklah, karena ini permintaanmu, Mas nggak akan mengeluarkannya dari kampus. Tapi kalau dia masih terus menyakiti kamu... Mas nggak bisa tinggal diam lagi."

Aqila mengangguk pelan. "Terima kasih, Mas..."

Alvano menariknya ke dalam pelukannya lagi. Kali ini, ia bersumpah akan selalu melindungi Aqila, apapun yang terjadi.

🌸🌸🌸🌸🌸

Amel mondar-mandir di depan kelas dengan wajah cemas. Ia terus memikirkan Aqila, takut kalau sahabatnya itu akan dimarahi atau bahkan dihukum oleh Alvano. Bagaimana tidak? Tatapan tajam dan dingin pria itu tadi begitu menusuk, seakan tak memberi ruang untuk kesalahan sekecil apa pun.

Aqila… semoga aja kamu nggak kena marah Pak Vano… gumamnya dalam hati, semakin gelisah.

Saat itu juga, suara langkah kaki terdengar mendekat. Amel segera menoleh dan melihat Aqila berjalan ke arahnya. Mata gadis itu sedikit sembab, bibirnya juga terlihat pucat.

"Aqila!" Amel langsung menghampiri, kedua tangannya memegang bahu Aqila dengan erat, menatapnya penuh kecemasan. "Kamu nggak papa kan? Pak Vano nggak marahin kamu, kan? Dia nggak hukum kamu, kan?" tanyanya bertubi-tubi.

Aqila mengangkat wajahnya, tersenyum tipis untuk menenangkan sahabatnya. "Aku nggak papa, Mel. Pak Vano nggak marahin aku, dan dia juga nggak hukum aku," jawabnya pelan. Ia lalu berjalan masuk ke kelas dan duduk di kursinya, diikuti oleh Amel yang masih terlihat khawatir.

"Kamu yakin? Syukur kalau gitu... Aku bener-bener takut kalau sampai Pak Vano marahin kamu, apalagi tadi aku lihat tatapannya bener-bener dingin," ujar Amel, masih belum sepenuhnya lega.

Aqila menggeleng pelan. "Nggak, Mel. Untungnya Pak Vano percaya sama penjelasanku. Dia sama sekali nggak marah."

"Tapi, Qila…" Amel menggigit bibirnya, ragu sejenak sebelum melanjutkan. "Kenapa kakak tingkat kita yang namanya Areta itu selalu gangguin kamu? Aku lihat dia bener-bener benci banget sama kamu. Kamu sebelumnya kenal sama dia?"

Aqila menarik napas berat, seolah harus kembali menggali luka lama yang ingin ia kubur. "Aku kenal dia, Mel… Dia kakak tiriku," ucapnya pelan.

Amel terperanjat. "Apa?! Jadi dia kakak kamu?" Ia menatap Aqila dengan tidak percaya. "Tapi… tapi kenapa dia benci banget sama kamu? Apa kamu pernah punya masalah sama dia?"

Aqila menundukkan kepala. "Aku nggak tau, Mel… Aku nggak tau aku punya salah apa sama dia, sampai dia membenciku segitunya," ucapnya lirih.

Amel semakin prihatin. Ia menggenggam tangan Aqila erat-erat. "Dan mama papa kamu? Apa kamu nggak pernah cerita ke mereka tentang semua perlakuan jahat Areta? Seharusnya kakak tirimu itu dikasih pelajaran biar nggak terus-terusan jahat sama kamu!"

Mata Aqila meredup. Napasnya kembali terasa berat. "Mel… aku udah nggak punya orang tua. Mama dan papa aku udah meninggal. Dulu aku memang tinggal bersama mama tiri dan kakak tiriku… tapi sekarang nggak lagi."

Amel membelalak. "Hah?! Aqila… aku nggak tau… Maaf… Aku nggak bermaksud bikin kamu sedih dengan pertanyaanku," ucapnya penuh rasa bersalah.

Aqila tersenyum tipis, meskipun hatinya sedikit perih. "Nggak papa, Mel…"

"Tapi… tapi kenapa bisa begitu, Aqila? Kenapa kamu nggak tinggal bersama mereka? Lalu, sekarang kamu tinggal di mana?" Amel menatap Aqila bingung, meminta penjelasan.

Aqila terdiam sejenak, lalu dengan keberanian penuh, ia mulai menceritakan semuanya pada Amel. Tentang masa lalunya yang begitu pedih, tentang perlakuan kejam ibu dan kakak tirinya, tentang bagaimana ia disiksa, disingkirkan, dan akhirnya diusir dari rumah. Setiap kata yang meluncur dari bibirnya membuat Amel semakin membelalakkan mata, syok mendengar semua itu.

"Aqila…" Suara Amel bergetar, matanya masih sulit mempercayai kenyataan yang baru saja ia dengar. "Aku nggak nyangka mereka benar-benar sejahat itu. Mereka tega menyiksa kamu dan mengusir kamu dari rumah?! Ternyata cerita tentang ibu tiri dan kakak tiri jahat itu beneran ada!"

Emosinya memuncak. Tangannya mengepal erat di atas meja, menahan amarah yang meluap-luap dalam dadanya. "Dan kakak tirimu… dia benar-benar jahat! Bisa-bisanya dia merebut pacar kamu dan nggak merasa bersalah sama sekali?!" Amel geram, wajahnya memerah karena marah.

Aqila mengangguk pelan, berusaha tetap tenang. "Iya, Mel… Tapi sekarang aku sudah berusaha melupakan itu dan fokus pada masa depanku," ucapnya, mencoba terdengar lebih tegar.

Amel masih kesal. "Tapi, Qila… kalau kamu diusir dari rumah, sekarang kamu tinggal di mana?"

Pertanyaan itu membuat tubuh Aqila menegang. Tangan dinginnya sedikit berkeringat. Ia tahu cepat atau lambat Amel pasti akan bertanya ini. Namun, Aqila belum siap untuk mengungkapkan semuanya.

Dengan suara pelan dan hati-hati, ia berkata, "Maaf, Mel… Untuk sekarang, aku belum bisa memberitahu kamu. Tapi nanti… di waktu yang tepat, kamu pasti akan tahu."

Amel terdiam sesaat, lalu mengangguk pelan. Meski ia ingin tahu, tapi ia juga tidak mau memaksa Aqila. Mungkin sahabatnya itu butuh waktu untuk terbuka sepenuhnya dengannya.

🌸🌸🌸🌸🌸

Aqila sedang duduk di sofa, matanya terpaku pada layar televisi yang menayangkan kartun favoritnya, Tom and Jerry. Sesekali, ia tertawa lepas saat melihat tingkah lucu kedua tokoh itu, benar-benar menikmati momen kecil yang membuatnya bahagia.

Alvano, yang baru saja keluar dari kamar, menghentikan langkahnya sejenak. Senyum tipis terukir di wajahnya saat melihat Aqila begitu ceria. Setidaknya, hari ini ia melihat istrinya dalam keadaan bahagia, tanpa beban.

Dengan langkah tenang, Alvano berjalan mendekat dan duduk di sebelahnya. "Nonton apa sih kamu? Sampai ketawa-ketawa sendiri begitu," tanyanya sambil menatap Aqila dengan lembut.

Aqila menoleh dan tersenyum manis. "Ini loh, Mas, Tom and Jerry. Mereka lucu banget!" ucapnya dengan nada ceria, lalu kembali terkekeh saat melihat aksi konyol di layar.

Alvano ikut tersenyum melihatnya. "Sayang…" panggilnya lembut, membuat Aqila menoleh lagi.

"Iya, Mas? Kenapa?"

"Nanti malam, ikut Mas yuk!"

Aqila mengerutkan kening. "Ke mana?"

"Ke kafe. Mas mau nongkrong sama teman-teman, sekalian kita makan di luar malam ini, jadi kamu nggak perlu repot masak."

Aqila mengangguk paham. "Oh gitu. Oke deh, aku ikut! Pasti sama Kak Raka, ya?" tebaknya.

Alvano tertawa kecil, lalu mengusap rambut Aqila dengan gemas. "Yap, benar! Tapi bukan cuma Raka aja. Nanti ada beberapa teman Mas yang lain, termasuk Arga."

"Arga?" Aqila mengulang nama itu, sedikit asing di telinganya.

"Iya, dia teman Mas juga. Nanti Mas kenalin ke kamu," ujar Alvano santai.

Aqila mengangguk. "Oke, Mas."

Alvano tersenyum, lalu menatapnya lebih dalam. "Nanti di sana, kamu juga bakal dapat teman baru. Mas berharap semoga kalian bisa akrab."

Aqila menatap Alvano dengan sedikit bingung. "Teman baru?"

Alvano hanya tersenyum tipis, tak menjelaskan lebih lanjut.

"Siapa, Mas?"

Alvano hanya tersenyum misterius. "Nanti kamu lihat sendiri."

1
indah ardiyantilestari
bagus bgt
indah ardiyantilestari
lanjut kak
Maulida Maulida
makin penasaran nihh
Maulida Maulida
makin penasaran cerita nya
dan itu pasti areta
Achamout: Wah feeling kakak tajam juga.. ditunggu aja kelanjutannya kak..
makasih udah baca dan komen🤗
total 1 replies
Maulida Maulida
gini banget mau ketemu qila😭😭😭
hesti_winarni25
Lanjutt kak
Neneng Yensiana
buat Vano melihat kebejatan Daniel dan bianka
Maulida Maulida
bagus bgt bikin nagih selalu ingin baca cerita nya
Achamout: Terima kasih banyak! Senang banget kalau ceritanya bisa bikin nagih. Semoga bab selanjutnya juga nggak mengecewakan! Jangan lupa terus dukung dan nantikan kejutan berikutnya ya!😇
total 1 replies
Maulida Maulida
semangat ayo dong up secepatnya penasaran bgt
hesti_winarni25
Lanjut kak
Semangat
Neneng Yensiana
pergi Aqil jauh buat Vano menyesal dan buat gang Areta menderita berurusan dgn vano
Achamout: Wah, sepertinya ada yang berharap Vano nyesal dan geng Areta kena batunya nih. Kita lihat aja ya di bab selanjutnya!☺
total 1 replies
hesti_winarni25
up doble kak
penasaran nihh
Achamout: Hehe, double ya? Kalau bisa sih mau, tapi nggak mau asal up, harus tetap berkualitas! Makasih udah nunggu ya☺
total 1 replies
Maulida Maulida
ayo up lagi udah gak sabar
Achamout: Hehe, makasih udah nunggu! Bakal up lagi segera, stay tuned
total 1 replies
hesti_winarni25
menarik dengan alur cerita ini tidak bertele tele
semangat berkarya kk
Achamout: Terima kasih☺ Senang banget bisa tahu kalau alurnya nggak bertele-tele. Semoga next bab juga tetap menarik buat kamu😇
total 1 replies
hesti_winarni25
up lagi kak sedih baca bab ini 😭😭
hesti_winarni25: Semangat kak
Aku tunggu nih
total 2 replies
Maulida Maulida
ayo dong up ga sabar bgt mau bc lg
Achamout: Makasih udah setia nunggu! Bantu share dan kasih dukungan biar aku makin semangat buat up lebih cepat!
total 1 replies
Alifa Anafirahma
Kisahmu membuatku tersenyam-senyum sendiri thorr /Heart/
Agung Antarini
orang kaya kok nggak punya pembantu Thor
Achamout: hahah iya, orang rumahnya tipenya mandiri kak😄
total 1 replies
Agung Antarini
Thor rumah mewah kok ada kecoak nya ya🤭🤭🤭🤭
Achamout: "Eh, iya nih! Walaupun rumah orang kaya, tetap aja ada kejutan kecil kayak gitu. Kan nggak ada rumah yang sempurna, bahkan yang terlihat paling mewah pun bisa punya hal-hal nggak terduga, kan? Itu cuma nambahin elemen realisme aja biar cerita nggak terlalu muluk-muluk. Semoga tetap enjoy baca ceritanya ya!"☺
total 1 replies
Agung Antarini
semangat Thor 💪💪👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!