Indonesia
NovelToon NovelToon
AKU: Catatan Lelaki Yang Mencintaimu

AKU: Catatan Lelaki Yang Mencintaimu

Status: tamat
Genre:Teen / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:936
Nilai: 5
Nama Author: Ayuni Reisz

"Jika waktu bisa kuhentikan, aku ingin selamanya berada di sisimu, menjaga hubungan kita hingga garis terakhir."

Banyak yang berkata jika masa remaja adalah masa yang menyenangkan. Sepertinya kalimat itu berlaku juga untuk Izang, pemuda 17 tahun yang menyukai adik kelasnya, Ara. Meskipun awalnya bersama karena terpaksa, hal itu tidak menyurutkan rasa cinta Izang pada Ara.Bahagia? Harusnya. Namun, cobaan mulai menimpa bertubi-tubi. Mulai dari perceraian orang tua, kepindahan ke Bandung, hingga hubungan jarak jauh (LDR).Di saat mereka berjuang mempertahankan cinta, takdir justru mendatangkan badai yang jauh lebih kejam—sebuah vonis sakit yang mengancam sisa usia Izang. Akankah mereka yang memulai hubungan dengan tertatih, bisa bertahan hingga akhir? Ataukah perpisahan selamanya menjadi ujung dari kisah ini?

💔 Kisah Romantis Melankolis - POV Pria (Siapkan Tisu!)
🕒 Update Setiap Hari!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni Reisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB SEMBILAN: Ruang Teduh (Bagian 1)

“Kamu dimana sih? Kok lama banget angkat teleponnya?” aku menggerutu sambil menengok ke arah jam tanganku. Baru sepuluh menit tapi aku sudah meneleponnya sebanyak 20 kali.

“Aduh! Maaf, Chan! Aku ini baru selesai kelas dan handphoneku pasti kusilent kan? Ada apa sih emang?” sebelum aku menjawab pertanyaannya, kudengar Ara berbicara pada beberapa orang sekaligus. Membahas tugas kelompok yang harus mereka kumpulkan minggu depan. Dia berpamitan selang beberapa menit kemudian.

“Aku di depan kampus.”

“Apa???” suara Ara seketika naik tiga oktaf.

“I’m serious,” tukasku sambil berkaca di spion.

“No freaking way!”

“Then you better run and see me by yourself, babe!” tantangku. Ara terdiam. Namun, derap sepatunya mengisyaratkan padaku jika Ara sedang berlari ke tempat yang kumaksud. Entah kenapa jantungku ikut berpacu lebih cepat meskipun aku tidak ikut berlari. Kupicingkan mataku menatap kejauhan, belum kudapati sosok Ara. Bibirku menyunggingkan senyum tanpa henti. Aku menikmati sensasi telepon ini.

“Chan!!!” panggilan itu mengalihkan perhatianku. Kudongakkan kepalaku dan kudapati Ara yang masih berjarak tiga meter dari tempatku berdiri. Aku merentangkan tanganku, mengundang Ara. Dia tertawa sebelum kembali berlari dan memberiku pelukan yang amat sangat sempurna.

“Hai!” bisikku pelan di telinganya. Shit! Aku kangen.

“Kok kamu di sini? Bukannya kamu rencana datengnya masih akhir bulan?” Ara menopangkan dagunya di dadaku. Beberapa orang yang melewati kami memberikan tatapan risi. Sikapku? Masa bodoh. Aku kan tidak memeluk istri orang.

“Bulan ini aku dapet cuti penuh, Chan,” jawabku sembari mencium puncak kepalanya. Ara langsung menjauhkan tubuhnya dariku.

“Apa? Kamu bikin ulah apa lagi sekarang?” celetukan Ara membuatku terkekeh.

“Come on! Ceritanya panjang. Masuk mobil dulu gih! Aku ceritain sambil jalan,” kubuka pintu mobil yang kusandari sedari tadi. Ara mengerjapkan matanya beberapa kali, bertanya. Kujawab pandangannya itu dengan tatapan ‘akan kujelaskan setelah kamu duduk di mobil’. Dia pun menghembuskan napasnya keras-keras meskipun akhirnya merangsekkan tubuhnya juga ke kursi penumpang.

“Ini mobilnya siapa lagi?” aku baru mendaratkan pantatku ketika Ara sudah mengutarakan pertanyaan yang sedari tadi berputar di kepalanya itu. Kunyalakan mobilku sebelum menanggapinya.

“Ian yang sewa, Chan,” tuturku sambil melesakkan mobilku di jalanan. Heran, semakin lama kota dingin ini macetnya seperti Bandung saja.

“Kok kamu mau-mau aja?”

“Daripada aku disuruh bawa Lamborghininya, ya mending aku turutin aja maunya dia buat sewa mobil. Masih untung aku berhasil bujuk dia buat nggak beli mobil baru buat ditaruh di Malang,” sungguh, yang ini aku serius. Ian memang mengutarakan hal itu beberapa hari setelah aku mengemasi barang yang akan kubawa ke Malang. Aku, yang biasanya mengiyakan semua keinginan Ian, langsung menolak mentah-mentah. Bukan karena aku tidak mau. Tapi lebih kepada siapa yang akan mengurusi mobil itu kalau kami berdua tidak di Malang. Ara? Yang benar saja.

“Astaga! Ian itu benar-benar, deh! Hobi banget buang-buang uang,” Well, welcome to Ian’s world, baby!

“Namanya juga anak tunggal keluarga kaya, Chan. Mau ngeluarin uang berapa pun juga nggak akan terasa,” indeed, ini adalah fakta penting selain tujuh keajaiban dunia.

“Ya tapi tetep aja aku nggak suka sama sisi Ian yang itu. Lagian ngapain sih nyuruh kamu sewa mobil segala?” Ara meletakkan tangannya di depan AC. Mengukur suhunya kemudian mengarahkannya ke arah lain selain tubuhnya. Aku meringis. Aku tahu pacarku ini tidak tahan dengan AC mobil. Kalau kata Ara, dia tidak punya bakat untuk menjadi orang kaya karena anti dengan pengatur suhu kendaraan itu.

“Ian nggak mau kamu kepanasan kalau naik motor. Makanya dia ngotot nyuruh aku bawa mobil yang udah dia sewa di bandara.”

“Wait, wait! Dia nggak di sini?” Ara terkejut.

“Nope. He calls from there, car is ready to be picked up at the airport here, and I have to say ‘yes’ to drive it once I landed. Meskipun dia nggak di sini, tapi tetep aja dia bisa ngendaliin semuanya semaunya,” aku tiba-tiba merinding. Orang-orang kaya memang menakutkan.

“Jeez!” Ara menatapku tak percaya.

“Now you know how much he cares about you and how to scares you with it,” ucapku sungguh-sungguh. Seperti yang kusinggung sebelumnya, dan seperti yang kamu tahu sendiri, ini adalah cara Ian dalam menunjukkan perhatiannya pada orang yang dia sayang. Yah, walaupun terkesan berlebihan, tapi itulah Ian.

“Yes, scares me to death!” Ara geleng-geleng kepala dibuatnya. Aku tertawa saja. Ini baru urusan mobil. Dia belum tahu kalau Ian bahkan bisa langsung mengambil penerbangan kelas satu untuk terbang ke Malang menemui Ara jika dia mau. Atau mungkin menyewa helikopter dan terjun bebas setelahnya. Ah, bercanda. Pesawat kelas satu sih memang iya, tapi kalau terjun bebas? Ian belum segila itu juga sepertinya.

“Well, what’s the story then?” Ara duduk agak menyamping. Menyandarkan kepalanya sembari menatapku. Kuhirup napas dalam-dalam. Lalu mulailah aku bercerita tentang Vanya. Mulai dari awal mula kesialanku karena Andra, firasat-firasatku, kebetulan-kebetulan yang janggal, hingga kejadian makan malam tempo hari. Ara diam seribu bahasa, menyimak setiap ceritaku dengan saksama. Untuk ukuran perempuan yang cerewet dan sangat menakutkan ketika bad mood, Ara adalah pendengar yang baik. Dia tidak pernah menyela pembicaraanku barang sebentar. Membiarkanku mengumpat ke sana kemari dan menunggu ceritaku hingga selesai. Terkadang dia juga melemparkan candaan-candaan nakal untuk menggodaku. Tapi Ara selalu di sana, mendengarkan semuanya, dan bereaksi seperlunya.

“Jadi, maksud kamu cuti ini sebagai permintaan maaf dari pak direktur?”

“I think so. Awalnya aku bilang ke Andra untuk ngasih aku cuti dua minggu. Bahkan aku udah berpikir kalau aku akan dipecat karena masalah Vanya. I’ve prepared myself for that. Tapi beberapa hari kemudian Andra ngasih kabar kalau pak direktur memberi aku cuti sebulan penuh, melebihi yang aku minta. Dan Ian pun tidak merasa bahwa persetujuan cuti itu sebagai usaha pemecatan secara halus. Aku dan dia sama-sama tahu pak direktur merasa tidak enak dengan kami berdua. Anggap saja itu cara lain beliau dalam meminta maaf. And cause of that, here I am! Driving you home in the middle of daylight,” aku menutup cerita.

“Berarti Ian dapet cuti juga?” tegas Ara.

“Yup, tapi dia ikut ayahnya untuk urusan bisnis. Entah akan sebulan penuh atau nggak, dia juga belum tahu,” untuk kali ini aku bahagia karena Ian setuju untuk ikut ayahnya ke Belanda. Setidaknya, I’ll have Ara for myself.

“Vanya?” Ara bertanya lagi.

“Hm, not sure about her. Aku nggak lihat batang hidungnya sama sekali sejak malam itu. Mungkin langsung dideportasi ayahnya ke Singapura,” jawabku sekenanya. Ara mendeham sejenak.

“Nah, terus gaji kamu?” celetukan Ara kali ini benar-benar membuatku tertawa. Saking lamanya aku tertawa, air mataku sampai mengalir. Gadis ini benar-benar, deh!

“Really?” cetusku sembari menyeka air mataku. Aku bahkan masih cekikikan setelahnya.

“Of course,” Ara benar-benar memasang wajah serius. Ketika kami sampai di perempatan yang lampu merahnya tengah menyala, kukecup pipinya sekilas.

“I get paid in full upfront if that’s what you’re worried about. And double too."

“Yay, that’s the best news ever!” seru Ara sambil memelukku. Aku kembali terbahak. Memahami jika aku makin jatuh cinta pada gadis yang lebih mengkhawatirkan gaji daripada wanita lain yang menggoda pacarnya ini. Persetan kamu mau bilang aku bodoh. Yang jelas aku hanya tahu jika aku akan selalu jatuh cinta padanya. Lagi. Dan lagi.

...***...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!