seorang anak yang bernama Dino Dino Angga Mahendra. dia selalu mendapat kekerasan dalam rumah tangga sehingga memiliki kemarahan yang tidak bisa di kendalikan.
meskipun kemarahannya tidak dapat di kembalikan dia tetap memiliki kepribadian yang baik dan sopan dan selain itu dia juga cerdas dan tampan Sehingga banyak sekali wanita yang suka dengannya.
dan karena kepintarannya dia berhasil masuk ke perguruan tinggi yang bergengsi dan disana dia juga menemukan cinta pertamanya yang bernama Shaina Putri Ayunda, yang memiliki sifat yang dingin, cuek dan sedikit galak.
ok reader untuk yang penasaran dengan kisahnya langsung aja masuk ke alur ceritanya dan karena novel ini memiliki plot maju mundur maju mundur syantik kalian butuh pemikiran ekstra untuk memahami alur ceritanya, SEMANGAT!!!!✊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon miftakhi rizqina khusna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps 32
Di dalam penjara Zulfa meminta kepada kepala penjara untuk meninggalkannya sendiri bersama Rani dan Lova. Pada awalnya kepala penjara menolak pergi, namun Zulfa memaksa dan akhirnya kepala penjara itu pergi.
"Rani, Lova" panggil Zulfa dari luar sel
"Kenapa, belum puas melihat kita disini?" Tanya Lova yang tidak suka dengan kedatangan Zulfa
"Tidak kak, dia kesini untuk menertawakan kita"tambah Rani
"Aku minta maaf, seharusnya kalian tidak berda di sana" ucap Zulfa menundukkan kepalanya
"Kalau begitu bebaskan kami" ucap Lova Sehingga membuat Zulfa terdiam
"Kenapa diam? Dan kenapa meminta maaf setelah tiga tahun kita di penjara?" Tanya Rani namun Zulfa tetap diam
"Dulu aku pikir jika kamu pantas untuk aku sebut sebagai saudara, namun setelah aku pikir selama tiga tahun ini, ternyata kamu tidak lebih dari seorang pendendam" ucap Lova marah
"Cukup, aku memang pendendam, dan kalian juga seperti itu" ucap Zulfa
"Ya, benar, kami pendendam, makanya kami disini, dan kamu?" Tambah Rani menyudutkan Zulfa
"Sekarang lepaskan kami, atau lupakan tentang persaudaraan" ucap Lova memberikan pilihan
"Maaf aku tidak bisa mengeluarkan kalian" ucap Zulfa kemudian langsung pergi
"Kamu yang memilihnya kawan" ucap Lova menatap tajam Zulfa yang menjauh dari selnya.
Di ruang forensik. Disana ada dua Intel dan tim forensik sedang mengamati dan mengotopsi sebuah mayat korban penculikan yang ditemukan di pinggir sungai Brantas. Tak lama kemudian mereka semua telah selesai mengotopsi tubuh korban itu.
"Kasus ini hampir sama dengan kasus kematian Andi, motifnya sama yaitu pemerasan" ucap seorang Intel yang bernama Johan
"Iya, dan beberapa organ dalam korban tidak ada dan itu juga sama dengan kematian Andi" tambah Dokter Irfan
"Dan tadi saya melihat jika pemotongan beberapa organ dalam korban itu tampak rapi, seakan Dokter bedah atau orang yang begitu ahli yang melakukannya" tamah Dino
"Iya, sepertinya memang ini adalah korban dari pelaku yang sama" sahut seorang Intel yang bernama Faza
Triiiing, triiiing, triiiing, telpon yang ada di ruang forensik berbunyi, dengan cepat Dokter Irfan langsung menjawab telepon itu.
"Selamat siang" sapa Dokter Irfan
"Selamat siang tuan" ucap orang misterius dari balik telpon.
"apakah ada yang bisa saya bantu?" Tanya Dokter Irfan dengan sopan
"Ha-ha-ha, tentu saja, saya minta anda tutup kedua kasus penculikan yang sedang kalian tangani, atau kalian akan kehilangan salah satu dari kalian" ucap orang misterius itu sehingga membuat raut wajah Dokter Irfan menjadi tengang, Kemudian langsung menutup telpon itu.
Setelah menutup telpon Dokter Irfan kembali dengan wajah pucat dan berkeringat mengingat ucapan orang misterius yang menelpon tadi.
"Dokter Irfan, apa anda baik-baik saja? Dan siapa yang menelepon tadi" tanya Faza
"Saya tidak tahu, tiba-tiba orang itu mengancam kita untuk menutup kasus ini, atau salah satu dari kita akan celaka" ucap Dokter Irfan dengan wajah pucat dan tegang. Namun mereka yang ada di ruang forensik tertawa dan menganggap itu hanya sebuah bercandaan saja
"Ha-ha-ha, mana mungkin ada orang bodoh yang ingin bermain-main dengan polisi" ucap Johan yang berfikir jika itu hanya anak kecil yang bermain main saja.
"Jangan di anggap serius, tenang saja" tambah Faza
"Baiklah, mari kita lanjutkan penyelidikan" ucap Dokter Irfan kemudian mereka melanjutkan berdiskusi tentang kriteria pembunuh dan penculik dua kasus yang mereka tangani.
.
.
.
Hay reader ikuti terus ya alur ceritanya dan jangan lupa like komen dan vote biar author semakin semangat berkarya dan selamat membaca 🙏