Vina, ia adalah gadis piatu yang tinggal bersama bibinya, setelah lulus dari SMA, Vina dijodohkan dengan Andre, putra dari keluarga pengusaha sukses.
Vina tidak bahagia dengan pernikahannya, ibu mertuanya serasa seperti orang ketiga, dan suaminya juga tidak pernah peduli dengan keadaannya. Waktu terus berlalu, perlahan, Andre mulai menerima Vina sebagai istrinya. Namun keadaan kembali kacau saat kekasih Andre tiba-tiba muncul kembali dan menagih janji untuk dinikahi, mampukah Vina mempertahankan rumah tangganya? Atau dia akan berhenti dan mengakhiri semuanya? Penasaran dengan kisah mereka? Ayo ikuti kisah mereka!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rijal Nisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan Aurel
Sambil mendekap erat boneka kesayangannya, Aurel tersenyum-senyum sendiri mengingat kembali moment saat dia mengatakan kepada Andre, bahwa dirinya dan Radit akan segera menikah.
Radit adalah calon suaminya? Berani sekali dia bicara seperti itu. Sekarang bertemu dengan Radit saja rasanya sangat malu.
"Setan apa yang udah nempel di badan gue? Ya ampun, bisa-bisanya gue ngaku ke mereka semua kalau Radit adalah calon suami gue." Aurel membenamkan wajahnya ke atas bantal.
"Benar-benar memalukan," monolog Aurel.
Suasana hatinya sedang baik saat itu, berbeda dengan Vina. Setelah pulang dari rumah bu Mira, malam itu juga, Vina membereskan semua pakaiannya. Dia masukkan bajunya ke dalam koper, dia akan keluar dari rumah itu malam ini juga.
"Aku harus pergi, aku tidak boleh tinggal di sini lagi, ini bukan rumah aku." Vina berjalan ke arah meja rias, di sana ada sebuah kotak perhiasan, itu adalah miliknya.
Tidak mungkin juga kalau dia pergi, tapi tidak membawa apa-apa. Itu haknya, tidak ingin berpikir terlalu lama, akhirnya Vina mengambil perhiasan itu dan memasukkan ke dalam tasnya.
Sudah jam sebelas malam, tidak mungkin dia bisa pergi selarut ini, terpaksa Vina harus menunggu besok pagi.
---
"Assalamualaikum..."
"Aurel!"
"Aurel!"
Dari luar rumahnya, Aurel mendengar suara Radit mengucap salam dan memanggil namanya.
"Akhhh!" pagi-pagi gini kok bisa-bisanya gue dengar suara cowok itu sih." Aurel menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha menepiskan bayangan Radit, lalu dia menutup kedua telinganya, tidak ingin suara Radit mengganggu sarapan paginya.
"Aurel!"
"Duh, bukannya pergi."
"Rel, lo ada di dalam kan? Ini gue, Rel."
"Hah???"
Aurel terperangah mendengar suara Radit, yang tadi dikiranya hanya halusinasi saja.
Sambil terus mengunyah makanannya, Aurel berjalan ke depan untuk membuka pintu. Dia sendiri di rumah itu, karena dia memang tidak tinggal serumah dengan orangtuanya.
"Ya ampun, lo kenapa lama banget buka pintunya?" tanya Radit heran.
"Udah, enggak usah ngomel-ngomel. Ayo cepat masuk, jangan lupa tutup pintunya! Gue mau lanjut sarapan lagi." Aurel berjalan lebih dulu, Radit kemudian masuk dan kembali menutup pintu.
"Dih, galak amat jadi cewek," cicit Radit.
"Oi! Jangan bengong aja di sana, sini sarapan bareng gue!"
"Rel, yang lo bilang kemaren itu---"
"Oh ya, eum... Lo mau nemenin gue ketemu sama Vina gak?" tanya Aurel, sengaja dia menyela omongannya Radit, supaya cowok itu tidak menanyakan soal kejadian kemaren.
"Jawab dulu pertanyaan gue! Apa maksud lo ngomong seperti itu kemar---"
"Ya ampun, gue lupa nutup pintu belakang, lo tunggu di sini dulu ya." Aurel segera pergi dari sana, padahal dia belum menyelesaikan sarapannya. Namun, pertanyaan Radit membuatnya sangat terganggu, jadi dia sengaja menghindar dengan membuat banyak alasan.
"Sengaja banget." Radit menatap kesal ke arah Aurel yang sudah meninggalkan ruang makan. Cowok itu mengambil nasi goreng yang hanya tinggal setengah lagi, nasi goreng yang tidak sempat dihabiskan Aurel. Radit tahu, Aurel hanya berasalan saja.
"Dia pikir gue bodoh apa? Dia enggak tahu kali ya, gini-gini gue juga pernah pacaran." Radit senyum-senyum sendiri membayangkan Aurel yang jadi salah tingkah dengannya sekarang.
"Loh, kok nasi gue lo habisin sih, Dit?"
Aurel menghempaskan pantatnya dengan kesal ke atas kursi, mulutnya tak berhenti ngomel-ngomel karena Radit telah menghabiskan sarapannya.
"Tinggal dikit lagi kok tadi, daripada mubazir ya gue habisin aja sekalian," jawab Radit membela diri.
"Kalau lo lapar, kan lo bisa ambil nasi lain di dapur," kesal Aurel.
"Oke, nggak usah ngomel-ngomel gitu, entar cantiknya luntur loh." Aurel merasakan wajahnya panas mendengar omongan Radit.
Syukur cowok itu sudah berlalu dari sana, jadi dia tidak melihat perubahan wajah Aurel.
"Aneh, kok gue jadi deg-degan gini ya? Wajah gue rasanya juga panas, ih... Bisa-bisanya gue tersipu hanya dengan omongan gak jelas si Radit itu," cicit Aurel.
"Ini nasinya, dimakan lagi, biar lo kenyang." Radit meletakkan sepiring nasi goreng di depan Aurel.
"Gue udah enggak laper lagi, mending lo aja yang makan." Aurel berlari masuk ke kamarnya.
"Aneh, kenapa sikapnya berubah gak jelas kayak gitu?"
Radit segera duduk, dia menyantap sarapan paginya. Tidak mau ambil pusing dengan sikap aneh sahabatnya. "Nasi goreng buatan Aurel enak juga."
----
"Please, bi... Angkat dong." Vina berkali-kali menelpon sang bibi, tapi tidak pernah sekalipun diangkat.
"Gimana, Bu. Jadi enggak?" tanya tukang becak itu.
"Sebentar, Pak. Saya telpon bibi saya sekali lagi, soalnya dia sudah pindah rumah, jadi saya mau tanya dia pindah ke mana sekarang."
"Oh, baiklah." Bapak tukang becak itu manggut-manggut mendengar jawaban Vina.
Kediaman Bu Erni...
"Angkat dong, Bu! Siapa tahu penting."
"Males ah, ini yang nelpon kak Vina, gimana kalau dia cuma mau bawa masalah buat kita?"
"Bawa masalah gimana toh, Bu? Ibu lupa, bulan yang lalu kan kak Vina juga yang kirim uang buat kita. Coba Ibu angkat, mungkin dia mau ngirim uang lagi," ucap Dewi, dia sangat berharap Vina mengirimkan uang lagi buat dirinya dan sang ibu. Kebetulan juga, beberapa bulan ini kondisi ekonomi mereka sedang tidak baik. Mereka bahkan harus menjual rumahnya yang dekat dengan kota, hingga harus pindah ke desa seperti ini.
Kalau saja ibunya tidak suka foya-foya, pasti kehidupan Dewi tidak seperti ini sekarang. Uang bulanan sekolahnya bahkan sudah nunggak selama dua bulan.
---
"Makasih ya, Pak. Ini ongkosnya." Vina menyodorkan selembar uang seratus ribu kepada tukang becak itu.
"Wah, uangnya kegedean, Bu. Saya gak punya kembaliannya dua puluh ribu lagi," ucap bapak itu.
"Kembaliannya buat Bapak aja!"
"Makasih banyak, Bu. Alhamdulillah..."
Vina ikut senang melihat senyuman bahagia yang terukir di wajah tua bapak tukang becak itu.
"Sama-sama, Pak."
"Mari saya bantu bawa tasnya," ucap bapak itu, sambil menurunkan tas dan koper milik Vina dari becaknya.
"Enggak usah, Pak. Cukup sampe di sini aja," jawab Vina menolak, dia berdiri mematung menatap rumah petak di depannya. Rumah itu lebih kecil daripada rumah bibinya yang dulu.
Vina tidak sadar kalau dirinya sudah hampir 15 menit menatap rumah baru bibinya, dia bahkan tidak menyadari saat bapak tukang becak itu pergi.
---
"Assalamualaikum..."
"Assalamualaikum, Bi..."
"Wa'alaikumussalam."
Ceklek...
Pintu pun terbuka, kini di depannya telah berdiri sosok gadis cantik. Dia adalah Dewi, anak dari bibinya.
"Kak Vina." Dewi berhambur memeluk Vina. Betapa senangnya dia bisa kembali bertemu dengan Vina.
"Ibu kamu di mana?"
"Enggak tahu, Kak. Tadi ibu keluar sama teman-temannya." Dewi melirik ke tas koper dan juga tas yang dibawa Vina. Matanya menyipit, dia bingung kenapa Vina terlihat seperti orang yang mau pindah rumah.
"Kamu pasti penasaran kenapa aku bawa koper dan tas seperti ini, nanti aku ceritain. Sekarang bantuin aku dulu dong, bawain tas ini masuk!" pinta Vina. Dewi segera membantunya membawa tas itu masuk ke dalam.
Bersambung...
siapa yang datang tuh?
semangat menulis
kisahnya sudah bagus