Arum dan Ranum adalah kaka beradik yang berbeda kepribadian, Arum kaka yang sangat dewasa, alim dan disiplin sedangkan Ranum adalah adik yang tidak disiplin, semaunya dan kekanakan. Arum sangat tidak suka dengan pacar Ranum yang di nilai urakan, playboy dan semaunya seperti Ranum. Bagaimana jadinya jika karena doa Ranum yang sedang kesal karena selalu di kritik tentang pacarnya di kabulkan sehingga Arum yang idealis memiliki kekasih yang seperti kekasih Ranum urakan, playboy dan semaunya dan sebaliknya Ranum mendapatkan kekasih seperti pria idaman Arum.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indri03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Skripsi Ranum
Ranum lagi bingung, Judul skripsinya sudah diterima, tetapi dia masih belum tau akan melakukan penelitian di mana. Dia harus segera mencari perusahaan untuk tempat penelitian karena sebagian besar teman-temannya sudah mendapatkan perusahaan untuk penelitian.
Di tempat kak Arum sih pasti kak Arum mau bantu, tapi sejak kasus Aldi minggu lalu, Ranum masih agak-agak males ngomong banyak-banyak sama kakaknya. Untung Bu Elisa dateng pagian, aku mau ngajuin ijin tar siang karena harus konsultasi ke dosen pembimbing pikir Ranum.
Ranum mengetuk pintu ruangan bu Elisa. “masuk,” terdengar sahutan lembut dari dalam. “Maaf Bu saya bisa minta ijin pulang cepat nanti jam 14.00? Karena saya harus menemui dosen pembimbing skripsi,” jelas Ranum.
“Oh kamu sudah mulai skripsi yah? yuk duduk dulu sudah lama yah kita tidak cerita-cerita Ranum,” ibu Elisa mempersilakan Ranum duduk. “Terima kasih bu,” sahutnya sambil duduk.
“Kamu ambil skripsi judul apa? penelitian di perusahaan mana Num?” tanyanya ramah.
“Saya ngambil judul tentang analisa perilaku konsumen Bu, sebetulnya sesuai keseharian saya di pekerjaan ini bu, sayangnya untuk skripsi harus mengambil perusahaan yang lebih besar dan saya belum menemukan perusahaannya Bu, karena agak sulit kalau tidak ada kenalan di perusahaan-perusahaan Bu,” jawab Ranum.
Bu Elisa mengangguk-angguk sambil berpikir. “kamu tunggu sini sebentar yah, ibu mau nelpon dulu,” perintahnya, kemudian dia keluar ruangan. Ranum heran apa maksud ibu Elisa menyuruhnya nunggu disini, apa dia mau bantu cariin perusahaan, ada sedikit harap-harap dibenak Ranum.
Sepuluh menit kemudian ibu Elisa kembali, “Ranum ibu pernah cerita kan, anak ibu ada bekerja diperusahaan selai, tadi ibu meneleponnya, dia bisa bantu kamu untuk penelitian disana kamu mau? Nanti kalau mau ibu kasih alamat perusahaannya biar kamu kesana yah,” wah Ranum melocat-loncat kegirangan “waduh makasih banget ibu Elisa, tentu saja saya mau, sekali lagi terima kasih Ibu,” sahutnya senang. Ibu Elisa sampai tertawa-tawa melihat.
********
Jam 7.15 Arum sampai dikantor, Vita belum dateng, masuk keruangannya ada aroma roti yang meneteskan air liur, kebetulan sekali tadi pagi dia tidak sarapan karena harus jalan pagi, menyelesaikan perhitungan lembur karyawan. Sambil membuka kota roti terlihat ada tiga buah roti, dari tempatnya ini roti tempat adiknya bekerja, apa mungkin Ranum yang mengirimnya kesini, tapi tadi dia berangkat adiknya masih mandi, atau nyuruh delivery order mengantarnya.
Sambil tersenyum Arum mencicipi roti mmm….. nikmat, adikku memang baik mungkin dia mau baikan semenjak ditegur minggu lalu keakraban kami agak berkurang. Sambil menikmati roti Arum memencep nomor handphone adiknya tutt tutt tutt, deringan ketiga adiknya mengangkat telp “ya halo kak Arum? Ada apa kak,” tanyanya
“ terima kasih yah, rotinya enak, tau saja kamu kalau kakak lagi laper,” sahut Arum “ roti apa yah kak?” jawab Ranum bingung “loh ini yang kirim roti kemeja kakak kamu kan?” tanya Arum sama bingungnya.
“Duh kakak kalau mau roti bilang aja, jangan pakai pura-pura sudah terima, ya sudah tar pulang kerja aku beliin deh, udah yah aku telat nih mau lari dulu,” sahut Ranum sambil ngos-ngosan karena kedengarannya memang sedang lari.
Klik sambungan terputus tapi Arum masih bingung, kalau bukan Ranum jadi siapa yang mengirimi aku roti pikirnya. Tiba-tiba dia melihat secarik kartu ucapan di dalam kotak roti tersebut, Arum langsung membacanya “kekosongan perut mudah mengisinya, tetapi kekosongan hati sangat sulit, dengan kerendahan hati ijinkan aku memulainya dari mengisi kekosongan perutmu,” kening arum langsung berkerut. No name. Tanpa nama.