Alya adalah Ratu mafia yang memimpin sebuah organisasi Order Tabir Hitam dengan nama First Order.
Tapi sayangnya ia mencintai pria kantor biasa saat ia sering menjelajahi tempat yang akan menjadi misinya.
Dan saat itulah ia memutuskan untuk keluar dari dunia hitam dan membuang mahkotanya ke dalam lumpur demi bisa menjalani hidup bahagia bersama sang suami.
Sayangnya pernikahan itu tidak berlangsung lama, mertua tidak menyukainya, dan suaminya menikah dengan manager di tempat kerjanya.
Pembalasan di mulai, Alya kembali mengambil mahkotanya dan menjadi Ratu Mafia kembali dan membawa putri kecilnya menjadi orang ternama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6
Dada Alya rasanya sesak sekali mendengar ucapan Alisya yang polos itu.
Rasa sakit di hatinya jauh lebih menyiksa daripada luka tembak atau luka tusuk yang pernah ia rasakan selama menjadi ratu di dunia hitam.
Sejak perceraian mereka, Andi tidak pernah sekalipun menjenguk Alisya. Jangankan datang, memberi nafkah sepeser pun untuk darah dagingnya sendiri Andi tidak pernah.
Pria itu sepenuhnya mengabaikan Alisya demi memanjakan calon istri dan calon anak tirinya.
Alya berlutut di hadapan Alisya. Ia memegang kedua bahu kecil putrinya, menatap dalam-dalam mata mungil yang memancarkan kerinduan itu.
"Jangan, Sayang. Papa sudah nggak sayang Alisya lagi. Papa sudah punya keluarga baru sekarang," kata Alya mencoba menjelaskan dengan suara selembut mungkin agar anaknya paham.
"Tapi kenapa, Ma?" bisik Alisya. "Alisya nakal ya? Makanya Papa nggak mau meluk Alisya lagi kayak Papa meluk Raya?"
"Nggak, Sayang... Nggak sama sekali," pangkas Alya cepat. "Alisya anak yang sangat baik dan pintar. Alisya nggak salah apa-apa."
Namun, suara tawa dari arah mobil sedan itu terdengar makin keras, mengiris hati mereka berdua.
"Wah, anak Papa hari ini makin cantik! Tadi di sekolah belajar apa aja, Sayang?" tanya Andi dengan nada memanjakan, mengusap lembut kepala Raya.
"Raya dapet bintang empat dari Bu Guru, Pa!" jawab Raya manja, mengalungkan tangannya di leher Andi.
"Pintar banget anak Mama dan Papa," timpal Ranti manis seraya mengecup pipi Raya. "Nanti habis ini kita makan es krim sama beli mainan baru ya?"
"Horeee! Makasih Papa Andi!" seru Raya kegirangan.
Alisya yang mendengar perkataan itu refleks mengambil satu langkah maju. "Papa..." panggil Alisya sangat lirih, hampir tenggelam oleh suara bising kendaraan.
Naluri seorang anak tak bisa bohong. Alisya melepaskan pegangan tangan Alya dan berjalan mendekati mobil itu. "Papa..."
Alya terkejut. "Alisya, tunggu!"
Andi yang hendak membukakan pintu mobil untuk Ranti mendadak menghentikan gerakannya.
Ia menoleh dan mendapati Alisya sudah berdiri beberapa langkah di belakangnya dengan wajah sendu.
Di belakang Alisya, Alya berjalan cepat menghampiri dengan raut wajah tegang.
Raut wajah Andi yang tadinya penuh kehangatan mendadak berubah dingin dan ketus saat melihat Alisya dan Alya.
"Mau apa kamu ke sini?" cetus Andi tanpa basa-basi. Tidak ada sedikit pun rasa rindu atau kasih sayang di matanya saat menatap Alisya.
"P-papa... Alisya kangen Papa..." bisik Alisya gemetar, mengulurkan tangan kecilnya hendak menggapai celana Andi.
Namun, Andi justru mundur satu langkah, menghindari sentuhan tangan putrinya sendiri seolah Alisya adalah pengganggu.
"Heh! jangan bikin malu aku di depan umum ya," kata Andi tajam. "Aku lagi sibuk. Aku mau ngajak Raya makan."
"Mas Andi, siapa mereka?" tanya Ranti sambil melipat tangan di dada, menatap Alya dan Alisya dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan. "Ini mantan istri kamu yang tukang cuci piring itu? Kok anaknya diajarin minta-minta perhatian gini sih?"
"Bukan siapa-siapa, Yang. Cuma orang masa lalu yang nggak penting," jawab Andi santai tanpa memikirkan perasaan Alisya.
Ia lalu menatap Alya dengan tatapan sinis. "Alya, tolong ajari anak kamu tata krama. Jangan biarkan dia dekat-dekat sama keluarga saya lagi. Raya jadi takut tuh lihat anak kamu nangis-nangis nggak jelas."
DEG.
Kalimat itu bagaikan petir di siang bolong.