Menikah dengan Dr. Revan Aditya adalah impian Alya Gumaisya. Namun, sejak hari pertama, Alya sadar bahwa dirinya hanyalah istri pajangan yang dinikahi demi kepentingan keluarga, bukan karena cinta.
Bertahun-tahun hidup dalam pengabaian dan penghinaan, Alya akhirnya memilih pergi dan membangun hidupnya sendiri. Saat ia tak lagi mengharapkan cinta Revan, justru pria itu mulai menyadari bahwa wanita yang selama ini diabaikannya adalah satu-satunya yang benar-benar ia butuhkan.
Sayangnya, penyesalan selalu datang terlambat. Kini, Alya tak lagi ingin menjadi istri yang menunggu, sementara Revan harus berjuang menghadapi balas dendam paling menyakitkan—kehilangan wanita yang pernah mencintainya tanpa syarat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Direndahkan, Justru Aku Semakin Semangat
Aku mengerjapkan mata sejenak, seperti biasa posisi tidurku akan bergeser jauh dari tempat yang seharusnya. Memeluk Revan yang sedang tertidur menjadi pemandangan setiap pagi, tidak disengaja dan aku pun tidak berharap seperti ini.
Cepat aku bangun, sebelum Kak Revan sadar jika aku tertidur sambil memeluknya. Bergegas untuk membersihkan diri dan beribadah, serta menyiapkan pakaian kerja untuk Kak Revan serta pakaian untukku mengajar. Ini adalah hari pertama aku mengajar, jadi aku harus menyiapkan pakaian terbaikku. Baju kurung berwarna merah muda, hijab motif bunga menjadi pilihanku.
Satu jam bersiap bersama di dalam kamar, tanpa banyak obrolan. Aku dengan kesibukanku dan Kak Revan dengan kesibukannya, memakai semua pakaian yang sudah aku siapkan.
Aku mulai mematut diri di hadapan cermin, memakai hijab floral yang sudah membingkai rapi wajahku, merapikan hiasan wajah.
Selesai semuanya, aku dan Kak Revan melangkah bersama, menuruni tangga rumah satu per satu, melakukan sandiwara di hadapan Bu Rahayu, untuk menunjukkan bahwa hubungan pernikahan ini baik-baik saja.
"Oh, sudah punya pekerjaan sekarang?"
Bude Arum ternyata kembali menginap di rumah ini, entah kapan datangnya. Wanita paruh baya itu menatapku sinis, menilik penampilanku dari atas dan bawah.
Aku yang baru sampai tangga terakhir sontak menghentikan langkah, begitu pun dengan Kak Revan. Langkahnya pun ikut terhenti.
"Iya, Bude. Hari ini aku sudah mulai bekerja. Semoga saja ini jalan aku untuk meniti karier di sini."
"Heleh, jadi guru honorer bisa apa untuk menyetarakan posisimu di samping Revan?"
"Lihat saja, penampilannya saja sangat kampungan sekali."
"Benar, Bude. Sangat jauh lagi dengan wanitanya Mas Revan yang sangat modis. Wanita karier yang sangat cerdas."
Dona ikut nimbrung, mendukung semua cemoohan yang dilayangkan Bude Arum padaku.
Mereka saling berbisik sambil sesekali cekikikan, menatap penampilanku yang menurut mereka kampungan dan tidak modis ini.
Aku menoleh sekilas pada penampilanku, memang tidak modis, tapi setidaknya rapi dan sopan untuk profesiku sebagai guru.
Aku menghela napas sekilas, berusaha untuk tersenyum tipis pada Bude Arum dan Dona yang masih menatapku dengan pandangan merendahkan.
"Meniti karier, apa salahnya, Bude? Menjadi guru honorer, apakah itu profesi yang sangat rendah bagi kalian...?"
Senyumku semakin melebar. "Bagi kalian yang menganggap materi itu di atas segalanya?"
Ucapanku terhenti saat Kak Revan menarik tanganku, menuntunku untuk terus berjalan menuju meja makan, bertepatan dengan Bu Rahayu yang baru tiba. Aku tersenyum ramah padanya.
"Pagi, Bu..." sapa Kak Revan, perlahan melepaskan tanganku.
"Pagi... kalian terlihat sudah sangat rapi sekali. Ibu senang melihatnya."
"Oh iya... selamat ya, Alya, atas diterima kerjanya hari ini."
Aku tersenyum sambil menyuapkan satu potong roti ke dalam mulutku. "Terima kasih, Bu. Alya juga senang sekali, bisa melanjutkan cita-cita Alya..."
"Hem, profesi rendahan juga dibanggakan. Kamu seharusnya malu, Rahayu. Jikalau nanti keluarga besar kita kumpul, mau ditaruh di mana muka kamu dan Revan?"
Bude Arum kembali menyahut, tatapannya tidak berhenti mendelik ke arahku. Dona di sebelahnya hanya tersenyum puas kala melihat Bu Rahayu yang tampak menunduk tanpa membelaku, begitu pula dengan Kak Revan.
Pria di sampingku itu begitu acuh, antara tidak peduli atau mungkin mendukung dengan apa yang diucapkan oleh Bude Arum.
"Harusnya Revan itu kamu kasih izin buat menikah dengan perempuan pilihannya, yang memiliki pekerjaan yang setara dengannya. Bukan seperti...."
Bude Arum kembali menatapku rendah, aku hanya bisa menunduk dalam-dalam. Hatiku begitu terasa perih, bukan hanya karena ucapan Bude Arum saja. Melainkan, Bu Rahayu dan Mas Revan pun tidak membelaku.
Aku merasa sendiri di rumah sebesar ini. Satu sisi aku ingin menyerah, tapi di sisi yang lain.
Ada semangat yang begitu membara di dalam diri ini. Bukan untuk mendapatkan cinta Kak Revan, melainkan ingin menunjukkan kemampuan seorang guru honorer yang memiliki penghasilan sampingan yang tak terduga.
Aku harus berusaha lebih giat lagi. Ada yang menungguku di sana, untuk membuktikan kemampuanku.
"Aku berangkat..." ucap Kak Revan, pria yang duduk di sampingku itu berdiri tegak.
"Tunggu, Alya, dong, Revan.."
"Tidak usah, Bu. Jarak kita berlawanan arah. Sebaiknya Kak Revan duluan saja, nanti takut telat."
Aku tidak ingin merasa Kak Revan keberatan untuk mengantarku, karena tadi sekilas aku membaca jika Kak Revan akan menjemput kekasihnya.
Bruk...
"Aduh... maaf, Mbak.."
Dona menumpahkan segelas air putih pada rokku, basah sudah dan aku harus menggantinya dengan cepat.
"Kak Revan berangkat saja, aku akan lama karena harus mengganti pakaianku." Aku melirik Kak Revan yang masih berdiri di sana. Kemudian ia mengangguk singkat dan pergi begitu saja.
🌸🌸🌸
Proses pembelajaran berjalan normal, hanya saja aku masih harus menyesuaikan dengan sistem pembelajaran yang sedikit berbeda di sekolah ini. Dengan murid yang lebih banyak, tidak seperti di desaku. Membuatku sedikit kewalahan dengan anak-anak kelas satu yang masih sering mengalami tantrum.
Tapi aku harus semangat, karena aku sangat mencintai pekerjaanku ini.
Aku berjalan melewati lorong-lorong sekolah, tersenyum hangat kala disapa oleh murid-murid yang sedang bermain di taman sekolah. Tujuanku kini menuju kantin untuk menemui temanku yang kebetulan bekerja sebagai pustakawan di sekolah ini.
"Kenapa ni, macam ditekuk tu wajah..."
Zara yang sedang meminum segelas jus jeruk langsung menangkap kehadiranku.
"Ra... emang profesi kita itu sering dianggap rendah ya sama orang kaya?"
Zara tampak menekukkan alisnya, "Ya... tidak semua sih, memang kebanyakan seperti itu. Katanya sih karena gajinya terlalu imut."
"Iya, justru itu, aku direndahkan oleh keluarganya Kak Revan. Katanya profesiku tidak setara dengannya yang seorang dokter terkenal." Aku menekukkan wajah, menumpahkan segala unek-unek pada Zara, teman dekatku.
"Terus Revan? Dia belain kamu?"
Aku menghela napas pelan. Mengingat rasa perih, perasaan tak terbalas. Kenyataan yang pahit, jika Kak Revan menikahiku atas permintaan dari ibunya.
"Kak Revan menikahiku atas permintaan dari Bu Rahayu. Dia memiliki kekasih, tapi entah mengapa mereka tidak menikah. Aku tidak tahu alasannya."
Zara melebarkan matanya, juga jeruk yang ia sedot hampir saja membuatnya tersedak.
"Kamu harus kuat, Alya! Tunjukkan kemampuanmu, kalau kamu itu wanita hebat!"
Zara begitu berapi-api, ia berbicara sampai menepuk-nepuk meja kantin. "Kesampingkan dulu perasaanmu pada Revan, kini saatnya kamu menunjukkan taringmu, Alya..."
Aku semakin bingung dibuatnya, aku hanya bisa menatapnya dengan bibirnya yang sedikit terbuka.
"Biarkan si Revan itu terbuai dengan perasaan cintanya pada kekasihnya, kamu harus bangkit. Balas hinaan itu dengan bukti nyata."
"Dengan cara apa aku harus membalasnya, Zara? Dengan profesiku yang hanya sebagai guru honorer, mereka akan menertawakanku..."
Zara merogoh ponselnya cepat, membukanya, kemudian menampilkan layar aplikasi baca padaku.
"Lanjutkan, Alya...!"
Dalam hitungan detik, senyumku mengembang dan semangatku semakin membara.
"Makasih, Zara... aku merasa ada tali pertolongan darimu..." Aku memeluk erat Zara.
Bersambung.