Indonesia
NovelToon NovelToon
Gentala : Masa Lalu Datang Kembali

Gentala : Masa Lalu Datang Kembali

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi / Reinkarnasi / Fantasi Timur / Tamat
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Alea Lee

Genta, seorang pemuda 25 tahun asal Jakarta. Hidupnya sangat bebas. Tapi akhir-akhir ini, dia terganggu dengan mimpi aneh tentang sepasang kekasih bernama Lembayung dan Gentala, juga kemunculan pria aneh bernama Bimantara. Hidupnya berubah dan jadi penuh misteri seiring dengan lengkapnya penjelasan tentang mimpi dan hal-hal aneh yang terjadi. Akankah Genta berhasil menyelesaikan masalah ini? Dan apakah ia berhasil menemukan titik terang tentang semua ini?
Baca terus Gentala : Masa Lalu Datang Kembali.

-Alea Lee

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alea Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Adalah Kau, Kau Adalah Aku

"Gentala muridku, selama ini kau sudah menjadi murid yang sangat baik. Aku sangat bangga padamu. Hari ini, kau telah lulus menjadi seorang pendekar. Aku berpesan padamu, saat kau sudah berada di dunia luar nanti, sehebat apapun dirimu, kau harus tetap rendah hati. Kau harus tetap menjadi Gentala yang sederhana. Kuperingatkan padamu, pendekar hebat sepertimu akan berhadapan dengan begitu banyak masalah dan kau juga akan dihadapkan pada pilihan yang sulit. Janganlah kau mengincar kekuasaan, aku mendidikmu untuk menolong sesama. Dan kau harus tahu, siapa yang kau bela. Jangan sampai kau membela orang yang salah." Seorang pria tua tampak sedang menasihati Gentala.

Dari penampilan dan ucapannya, sepertinya pria tua itu adalah guru Gentala. Dari rambut dan jenggotanya yang sudah memutih, tampaknya pria itu berusia sekitar 70-80 tahun, tapi tubuhnya masih sangat gagah dan kuat. Pakaiannya berwarna krem agak kecoklatan, dengan ikat pinggang berwarna hitam, celana coklat, dan ikat kepala berwarna putih. Beliau tampak amat berwibawa.

"Baik Guru!" ucap Gentala sambil menunduk, memberi hormat.

"Ambilah ini, Nak! Kuberikan panah ini padamu sebagai bekal. Jagalah senjata ini baik-baik. Panah Naga Api ini adalah panah yang menjadi identitas perguruanku sejak dahulu. Panah ini sendiri yang telah memilihmu menjadi pewarisnya. Mulai saat ini, kau akan dikenal sebagai Pendekar Panah Naga Api!" seru guru sambil mengankat panah itu. Sedangkan Gentala jatuh bertumpu pada lutut kala melihat aura bercahaya dari panah itu.

Guru memberikan panah itu pada Gentala. Ia mencium dan meletakkan panah itu di dahinya sebagai tanda penghormatan. Gentala mencium tangan gurunya. "Aku berjanji padamu, Guru. Aku akan menjaga dan menggunakan panah ini sebaik-baiknya. Aku akan selalu membela kebenaran dan aku akan bersedia menyerahkan nyawaku demi kebenaran itu. Aku ucapkan terima kasih padamu, Guru. Terima kasih atas segala ilmu dan perhatian yang telah kau berikan padaku selama ini." Gentala menunduk.

"Aku percaya padamu, Gentala. Restu dan doaku selalu bersamamu." Guru itu membelai kepala Gentala dan memegang bahunya, menyuruhnya bangkit berdiri. Ia menatap murid terakhirnya itu dengan penuh kebanggaan.

"Lembayung!" seru Guru memanggil gadis yang sudah sering muncul itu. "Iya, Guru!" Lembayung keluar dari pondok tergesa-gesa.

"Mulai sekarang, kau akan ikut dengan Gentala. Kalian berdua harus saling menjaga. Kau harus selalu berada di jalan yang benar dan kau harus terus menyertai Gentala dan menuntunnya di jalan kebenaran. Tugasmu adalah menyertai dan mengingatkan Gentala apabila ia tiba-tiba berbelok ke jalan yang salah." "Baik Guru! Aku akan selalu malaksanakan tugasku. Ucapanmu adalah perintah mutlak bagiku." Lembayung menunduk, menunjukkan rasa hormatnya.

"Ini, ambillah! Kau adalah pendekar perempuan dan pendekar belati yang pernah ada di perguruan ini. Kuberikan padamu Belati Tribuana ini." Guru memberikan semacam ikat pinggang yang ada tiga kantong dengantigabuah belati di dalamnya. Ketiga belati itulah yang disebut dengan Belati Tribuana. Ketiga memiliki ukuran yang sama, tapi memiliki ukiran batu pertama kodam yang berbeda. Yang satu bergambar elang melambangkan dunia di atas awan. Kemudian yang kedua bergambar buaya melambangkan dunia di bawah air. Dan yang terakhir bergambar singa melambangkan dunia di atas tanah yang menjadi tempat tinggal hampir semua makhluk. Ketiga belati tersebut melambangkan ketiga bagian dari dunia, langit, air, dan darat.

"Terima kasiih, Guru," ucap Lembayung menerima belati itu. "Sekarang, murid-muridku telah menjadi pendekar-pendekar dengan kesaktiannya masing-masing. Janganlah berhenti untuk belajar. Sekarang, pergilah kalian ke Kota Raja! Carilah disana, seorang pemimpin pasukan pendekar bernama Bimantara. Dia adalah muridku juga. Aku telah mengirimnya ke sana beberapa tahun lalu tepat sebelum kalian datang kemari. Cari dia! Bergabunglah dengan kelompoknya! Jika kalian bertemu dengannya nanti, sampaikan salamku padanya." Guru mengutus Gentala dan Lembayung untuk pergi ke kota raja.

"Baik Guru, kami mohon pamit." "Berhati-hatilah kalian!" "Ayo Lembayung. Kelana!" Gentala memanggil seseorang atau sesuatu. Ternyata seekor kuda hitam yang gagah berlari ke arah mereka. Gentala membawa kuda kesayangannya itu dan pergi ke Kota Raja bersama Lembayung.

***

"Hah?!" seru Genta, terbangun dari tidurnya. "Mimpi lagi, astaga!" seru Genta sedikit kesal.

"Eh tapi... Bentar bentar. Panah Naga Api. Itu senjata Gentala. Kira-kira panah itu masih ada apa nggak ya? Gue harus cari tahu. Kalau gue tahu jawaban soal panah itu, gue bisa dapatin jawaban lainnya." Genta segera bangkit dari tempat tidurnya.

Saat Genta sedang berpikir sambil membuat kopi di dapur, tiba-tiba ia teringat sesuatu. "Bego, Genta! Lo kan bisa manggil Bimantara! Genta bego!" seru Genta pada dirinya sendiri.

Ia keluar dari dapur dan duduk di sofa ruang tengah apartemennya. "Bimantara! Bimantara! Bimantara!" seru Genta memanggil sosok Bimantara sambil menutup matanya. Tapi saat ia membuka mata, tidak ada siapa-siapa di ruangan itu dan pria aneh itu tidak muncul juga.

Genta tidak puas, ia mencobanya lagi, "Bimantara! Bimantara! Bimantara!" Tapi pria itu tidak muncul juga. "Sialan! Katanya suruh manggil tiga kali. Udah gue panggil-panggil, nggak muncul juga. Emang PHP!" gerutu Genta kesal, merasa diberi harapan palsu oleh Bimantara.

"Siapa yang bilang aku tidak datang? Ada apa kau memanggilku?" Tiba-tiba ada suara dari arah dapur. Ternyata itu adalah Bimantara yang entah sejak kapan berdiri di sana sambil memakan roti tawar.

"Eh setan!" teriak Genta kaget. "Hei! Siapa yang kau maksud setan? Mau kutikam kau dengan tombakku?!" seru Bimantara kesal. "Ya elo! Tiba-tiba nongol di situ. Ngagetin gue aja! Pake nyolong roti lagi!" protes Genta geram. Tapi Bimantara tak lagi peduli dengan protesannya.

"Hei, kenapa kau memanggilku kemari? Membuang waktuku saja!" tanya Bimantara dengan mulut masih penuh dengan roti tawar.

"Oke, jadi gini. Gue yakin lo pasti tahu soal mimpi gue semalam. Tapi ya gue ceritain aja lah ya. Jadi di mimpi gue tadi malam, ada bapak-bapak, udah tua. Gentala sama Lembayung manggil dia Guru. Terus mungkin, itu guru mereka. Terus gue dengar itu guru lo juga." Genta menceritakan mimpinya dari awal.

"Iya. Pria itu memang guruku. Ia juga guru Gentala dan Lembayung. Namanya Guru Jayantaka," sahut Bimantara. "Terus gue lihat, guru lo itu ngasih senjata panah ke Gentala, sama kayak pisau atau apalah gitu ke Lembayung. Nah si panahnya itu namanya Panah... Panah..." Genta tampak lupa dengan nama dari panah itu.

"Panah Naga Api." Bimantara melengkapi. "Ya itu! Panah Naga Api. Sama Belati.... Belati..." Lagi-lagi Genta lupa. "Belati Tribuana." Lagi-lagi Bimantar yang melengkapi kalimatnya.

"Nah! Iya itu!" Genta senang akhirnya bisa mengingat kembali nama dari senjata-senjata itu. "Senjata itu masih ada nggak?" tanya Genta.

"Tentu saja. Aku sudah menjaga senjata itu selama ratusan tahun. Dengarkan aku, Genta. Kau telah dipilih oleh semesta untuk mewarisi panah itu," jawab Bimantara sambil tersenyum dan terlihat menjadi serius dan emosional.

"Tunggu tunggu. Kok gue yang dipilih untuk jadi pewarisnya. Bukannya Genta..." Genta tersadar akan sesuatu yang membuatnya seketika terdiam.

"Kau itu Gentala! Apa kau masih sama sekali tidak menyadarinya? Mengapa semesta memilih manusia bodoh sepertimu? Wajahmu dan wajah Gentala sudah bukan lagi mirip, tapi sama persis. Tidak hanya wajah, caramu bicara, caramu bersikap, caramu berpikir, caramu berjalan, caramu menatap, semua. Semua itu persis seperti apa Gentala lakukan. Aku sangat mengenali gentala, dia adalah adik dan sahabat bagiku, dan aku menemukan dirinya dalam dirimu, Genta. Sekarang begini, kutanya padamu. Siapa namamu?" tanya Bimantara dengan nada agak meninggi.

"Genta." "Genta siapa bodoh?!" "Gentala Abhisatya." "Bentala bukan?" Bimantara berteriak mencoba menyadarkan pemuda itu. Genta tercekat, ia hanya diam dan berpikir.

"Kau bukan hanya Genta. Kau adalah Gentala Abhisatya, Pendekar Panah Naga Api. Itu adalah takdirmu dan mau tidak mau kau harus menerimanya!" seru Bimantara.

Genta terdiam. Selama ini, ia sebenarnya sudah bisa menyimpulkan kalau Gentala adalah Genta, dan Genta adalah Gentala. Tapi ia selalu membohongi dirinya sendiri dan menyangkal kalau ia adalah Gentala. Memang dalam mimpinya, ia bisa melihat sosok manusia, tapi ia tak pernah melihat dengan jelas, wajah dari manusia-manusia itu. Ia melihat sosok Gentala, dari perawakan dan pembawaannya, Genta menyadari kalau itu adalah dirinya. Tapi, ia tak yakin karena ia tak melihat wajahnya.

"Apa kau masih ragu? Apa perlu aku menunjukkan wajahmu di masa lalu? Baru kau akan menyadarinya?" Tidak ada jawaban, Genta hanya diam menatap Bimantara. "Baiklah. Akan kutunjukkan padamu."

Tak sampai satu detik kemudian, ruang tengah Genta berubah menjadi sedikit lebih gelap. Sinar matahari seakan terhalang oleh sesuatu untuk masuk ke ruangan itu. Tiba-tiba, sosok Gentala muncul di hadapannya. Seorang pria yang tampan dan tegap. Wajahnya sama persis dengan Genta. Perawakannya, tingginya, bentuk badannya, semuanya. Semua sama persis, hanya pakaian dan gaya rambut yang berbeda. Pria yang sekarang berdiri di hadapannya menggunakan baju berwarna coklat gelap, lengan panjang, dengan luaran semacam rompi berwarna hitam. Ia memakai celana kain berwarna hitam. Secarik kain batik dengan warna gelap melingkar di pinggangnya, lalu ditutup lagi dengan ikat pinggang berwarna hitam. Sebuah belati sederhana terselip di ikat pinggangnya. Di kedua tangan, ia memakai semacam pelindung berbahan kulit, dan di dalamnya terselip pula pisau kecil untuk berjaga-jaga. Semacam tas berisi anak panah menggantung di punggungnya, tapi panah itu tidak ada bersamanya.

 "Apa gue mimpi? Atau gue ngaca?" tanya Genta, bingung bercampur takjub. "Kau tidak mimpi Genta. Aku adalah kau, dan kau adalah aku." Dalam sekejab mata, pria itu hilang dari hadapan Genta.

"Dia yang kau lihat adalah Gentala. Dia sama persis denganmu, Genta. Kau adalah dia. Dan tugasmu adalah menyelesaikan apa yang belum sempat ia selesaikan ratusan tahu yang lalu." Bimantara pun pergi, meninggalkan Genta yang masih berdiri mematung di tempatnya.

1
Zana Maria
keren banget Thor alur ceritanya
Nonny
bagus thor
mmpir karyaku ya
"Tambatan Hati Ceo Tampan. "
"Akibat Nikah Muda "
panglima kumbang
lanjutkan thoorrr
panglima kumbang
semakin seru
panglima kumbang
lanjutkan thoorrr
panglima kumbang
mampir thorr...semangat sll
💞 Lily Biru 💞
Semangat kak Lea, Adek Gue BAD mampir membawa like...

ditunggu karya selanjutnya 🥳🥳🥳
Taufik Marselinus
semangat kak alea....👍
Liany
like.. semangat up kk
Liany
Hi kak aku mampir dan membawa like.. jangan lupa feedback ke karyaku ya kak.. kutunggu

dari author
Sebenarnya Cinta
Liany
like like
Liany
semangat up kk
Liany
Semangat terus ka
Liany
Semangat up nya kk.. aku suka karya mu..
mampir juga kak ke karya ku
Sebenarnya Cinta😆
Alea Lee: Thanks Angel...
total 1 replies
Liany
Aku mampir dan mendaratkan like untuk karya kk.. jangan lupa feedback ke karya ku juga ya kak Sebenarnya Cinta
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!