Indonesia
NovelToon NovelToon
Jevanna

Jevanna

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dijodohkan Orang Tua / Duda
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rrnsnti

Annalia Louise, seorang gadis SMA yang baru saja merasakan pahitnya patah hati, tiba-tiba harus menghadapi kenyataan baru yang mengejutkan—perjodohan dengan Jevandra Cruz, siswa populer di sekolahnya yang dikenal cuek dan dingin. Tanpa waktu untuk pulih dari luka lamanya, Annalia dipaksa menerima keputusan orang tuanya. Namun, bukan sekadar perjodohan biasa, mereka harus menjalani pernikahan rahasia yang hanya diketahui oleh keluarga mereka.

Di tengah tekanan menghadapi kehidupan sekolah, perasaan yang campur aduk, dan beban rahasia besar yang mereka simpan, Annalia dan Jevandra dipaksa untuk menemukan cara bertahan bersama. Tapi, akankah keduanya hanya saling bertahan dalam keterpaksaan, atau justru pernikahan rahasia ini menjadi awal dari perasaan yang tak pernah mereka duga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rrnsnti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hukuman

“Punya nyali juga lo ya, dateng kerumah gue!” ucap Jevan kepada Zean pemimpin dari geng Maverius yang sedang berada didepannya.

“Cih, lo pikir gue takut untuk dateng ke rumah elo ini.” Orang yang bernama Zean itu menyeringai membuat Jevan tampak jengah melihatnya.

“Gak malu lo hah! Setiap nantangin kita kalah mulu? Kalok gue jadi elo udah pasti gue gak bakal nantangin The Boy’s lagi karna gue udah tau kalok ujungnya lo pada bakal kalah terus,” ujar Viktor dengan tampang santai.

“Hallah bacot! Gue pastiin hari ini Maverius bakal menang lawan The Boy’s!” teriak Zean sambil menunjuk Jevan.

“Liat aja, lo cuman bertujuh sedangkan kita? 20 orang, 7 lawan 20! Siapa yang bakal menang?” sambung Zean lagi.

“Udah berapa kali lo ngomong kaya gitu? Dari dulu sampek sekarang lo slalu ngomong bakal ngalahin The Boy’s, tapi apa buktinya? Lo dan geng sampah lo itu kalah terus! Gak sesuai sama bacot lo yang gede itu,” kata Candra yang mampu membuat emosi Zean memuncak.

“Gak ada urusannya kita bertujuh atau enggak, tanpa anggota The Boy’s yang lain pun, gue yakin lo bakal kalah ditangan kita!” jawab Jevan dengan tampang serius.

“Kayaknya urat malu lo udah putus ya Zen,” celetuk Niko tiba-tiba.

“Kenapa gitu Nik?” tanya Resvan dengan

muka lempeng.

“Ya habisnya dia nantangin kita mulu, udah tau ujungnya pasti kalah! Masih aja nantangin ‘kan gak tau malu itu namannya,” jawab Niko dengan muka watadosnya.

“Bener banget tuh, ayok Zen! Gue anterin lo ke bengkel siapa tau montir disana bisa nyambungin urat malu lo ya putus itu,” ajak Resvan sambil mengulurkan tangannya.

“Bacot lo pada! MAVERIUS! SERANG!” komando Zean yang membuat pasukannya menyerang ketujuh lelaki itu, kenapa hanya bertujuh? Karna yang ada hanya Jevan, Candra, Nathan, Arka, Niko, Viktor dan Resvan, karna semua geng Jevan berada di markas besar.

Awalnya niat mereka hanya berangkat bersama ke sekolah tanpa tau jika geng Maverius akan menyerang. Karna waktu tidak memungkinkan untuk menghubungi semua anggota The Boy’s, maka mereka bertujuh lah yang melawan geng Maverius sendiri.

Semua pun saling baku hantam didepan rumah Jevan, mengabaikan teriakkan para anak muda yang berada di sana, dan tanpa mereka sadari seorang perempuan tengah menonton mereka didepan rumah Jevan, mengumpat tak jelas karna jalannya harus terhalang motor anak geng Maverius.

“Yaealah, orang pada tawuran biasanya di lapangan atau enggak di jalan sepi lah ini beda! Di komplek elit tawurannya, gesrek semua otaknya pasti,” ucap Anna santai sambil berdecak pinggang di depan gerbang rumah Jevan.

Anna pun melirik ke arah ember yang berisi air di bawah pohon dalam rumahnya, ia pun berjalan ke arah ember itu, membawanya ke keluar gerbang dan...

Byurr!

Anna menyiramkan air itu kepada semua anak The Boy’s dan Anak Maverius, membuat semua berhenti berkelahi dan menatapnya dengan keadaan basa kuyup karna ulah Anna yang bar-bar.

“Gak ada otak lo semua hah? Lapangan masih lebar tuh! Kenapa harus tawuran disini? Ganggu gue mau sekolah tau gak!” bentak Anna yang membuat semua lelaki itu kicep termasuk Jevan dan Zean.

Semua menatap Anna dengan aneh, semua cewek akan kabur jika melihat tawuran tapi cewek ini berbeda, bukannya kabur! Cewek ini malah membuat sesi baku hantam berhenti dengan caranya sendiri, meski itu tidak wajar.

“Lo! Sini lo pindahin nih motor, gue mau lewat!” tunjuk Anna pada Raksa wakil ketua geng Maverius.

“Gue?” tanya Raksa sambil menunjuk dirinya sendiri.

“Ya elo! Siapa lagi? Pindahin gak, atau gue bakar nih motor!” ancam Anna yang langsung membuat Raksa berlari kearahnya dan memindahkan motor yang ditunjuk Anna ke pinggir jalan. Kenapa nurut?

Setelah selesai dipindahkan Raksa pun berlari ke arah Zean dan berdiri disampingnya, sedangkan Anna! Ia langsung memakai helm full facenya mengendarai motornya hingga di tengah jalan.

Anna menghentikan motornya dan langsung menoleh ke belakang, menaikkan kaca helmnya dan berkata.”LANJUTIN AJA TAWURANNYA, 10 MENIT LAGI POLISI BAKAL GABUNG! OH IYA BUAT ANAK SMA HIGH SCHOOL KALO DALAM WAKTU 15 MENIT KALIAN GAK DATENG KE SEKOLAH SIAP-SIAP GUE HUKUM!”

Setelah mengatakan itu Anna pun mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, meninggalkan The Boy’s dan geng Maverius yang menatapnya bingung.

...*****

...

“ANNA! JEVAN SAMA NATHAN LAGI BERANTEM DILAPANGAN!” teriak Viktoria yang membuat semua orang didalam kelas 11 IPA 2 menoleh ke arahnya.

“Seriusan lo? Mereka ‘kan temenan kok bisa berantem?” tanya Anna yang masih duduk di bangkunya bersama Raja.

“Adduhh gue gak tau, yang penting lo sekarang ikut gue kelapangan, buat misahin mereka,” ucap Viktoria seraya menarik tangan Anna keluar dari kelasnya untuk menuju lapangan.

“Gak usah narik-narik Vik, gue bisa jalan sendiri,” kata Anna sambil melepaskan tangannya dari Viktoria.

Anna pun langsung berlari ke arah lapangan, dan benar saja ia melihat Jevan dan Nathan tengah berkelahi di tengah lapangan, Candra, Niko, Arka, Viktor dan Resvan berusaha menghentikan mereka tapi tidak ada yang mau mengalah.

“STOP!” teriak Anna namun tak dihiraukan oleh Jevan dan Nathan.

Anna pun mendekat ke arah Jevan dan Nathan, saat Jevan akan melayangkan pukulan ke arah Nathan, Anna langsung berdiri di depan Jevan dan memegang tangan Jevan.

“Stop! Gak usah dilanjutin lagi,” ucap Anna lembut yang membuat keduanya langsung berhenti.

“ALHAMDULILLAH! Akhirnya berhenti juga.” Niko bernafas lega saat perkelahian itu berhenti karna datangnya Anna, jika Anna tidak datang mungkin salah satu dari mereka tidak akan selamat.

“Kalian berdua ikut gue ke ruangan osis!” ujar Anna sambil berjalan terlebih dahulu diikuti Candra, Jevan dan Nathan.

“ALHAMDULILLAH! Akhirnya berhenti juga.” Niko bernafas lega saat perkelahian itu berhenti karna datangnya Anna, jika Anna tidak datang mungkin salah satu dari mereka tidak akan selamat.

“Kalian berdua ikut gue ke ruangan

osis!” ujar Anna sambil berjalan terlebih dahulu diikuti Candra, Jevan dan Nathan.

“Gila! Gue fikir salah satu dari mereka

bakal ada yang Almarhum.” Niko

berbicara sambil memegang dada.

“Sembarangan! Meskipun mereka berantem parah, mereka tetep inget kali, kalo mereka tuh temen,” jawab Arka sambil menoyor kepala Niko.

“Gue pengen tau, masalah mereka berantem karna apa,” ucap Viktor tiba-tiba yang membuat ketiga sahabatnya menoleh kearahnya.

“Kita harus cari tau,” usul Resvan yang

diangguki oleh semua sahabatnya.

Mereka pun pergi menyusul Jevan dan Nathan keruang osis, meski harus menunggu diluar. Sedangkan di dalam ruangan osis Anna dan Candra sedang menatap Jevan dan Nathan dengan tatapan tajam.

“Jadi, ada yang mau jelaskan kenapa kalian bisa berantem?” tanya Anna sambil duduk didepan Jevan dan Nathan.

Semua anggota osis yang berjumlah 20 orang hanya diam, takut yang ingin ikut campur karna mereka sadar yang sedang berada diruang black team itu adalah Jevan pemimpin dari The Boy’s, yang sangat ditakuti seluruh siswa.

“Bisu lo pada? Kok gak mau jawab!” ucap Anna santai tapi terdengar mengerikan ditelinga Jevan dan Nathan.

“Kita Cuma main-main Na! Kita gak berantem beneran,” jawab Jevan yang membuat seluruh orang di ruangan itu menatap tak percaya kearah Jevan termasuk Candra dan Anna.

“Main-main lo bilang Jev? Gua, Niko, Arka, Viktor, dan Resvan deg-degan ngeliat kalian yang udah berantem kayak mau membunuh satu sama lain, dan lo bilang cuman main-main? Gak ngotak lo berdua?” Candra menatap kecewa kearah Jevan dan Nathan, seharusnya mereka tidak begini. Sebagai anggota geng seharusnya mereka saling mendukung dan melindungi satu sama lain, bukannya berantem tidak jelas begini.

“Gue minta maaf, tapi kita beneran gak berantem beneran! Kita cuman main-main,” ucap Nathan yang sedari tadi diam.

“Main-main, kok sampek babak belur!” ketus Anna yang membuat keduanya lansung menoleh ke arah Anna.

“Kita beneran main-main Na! Kita gak

berantem sungguhan!” kata Jevan

mencoba membuat Anna percaya

dengan ucapannya.

“Gue percaya kalian cuman main-main, gue juga bakal main-main ngasih hukumannya, sekarang kalian berdua bersihin toilet cewek sampek bersih! Kalok gak bersih gue bakal tambahin hukuman kalian,” putus Anna yang langsung diangguki oleh

Candra.

“Yang bener aja lo, masak gue harus

bersihin toilet cewek! Gak gue gak

mau!” tolak Jevan sambil membuang

muka.

“Gue juga!” timpal Nathan tak terima

dengan keputusan Anna.

“Terserah kalian, kalo emang kalian gak menerima hukuman yang gue buat, gue bakal kirim surat pengalihan ke kepsek biar kalian langsung disidang disana, mau?” tanya Anna sambil bersedekap dada.

Surat pengalihan? Itu artinya osis menyerahkan anak pembuat onar untuk disidang disana, jika sudah disidang disana hukumannya akan berat bisa diskorsing bisa juga di DO dari sekolah, apalagi untuk modelan seperti Jevan yang setiap hari membuat masalah itu sudah dipastikan Jevan akan dikeluarkan dari sekolah.

Tidak itu tidak boleh terjadi, Jevan masih harus menggoda Anna di sekolah, dia harus berada di sisi Anna selama 24 jam untuk bisa membully Anna. Jika tidak begitu maka Jevan akan kalah dan selalu menjadi bahan bully-an Anna.

“Oke fine gue terima!” ketus Jevan dengan muka masam.

“Good boy! Lo gimana Nat?” tanya Anna

dengan senyuman smriknya.

“Oke!” satu jawaban yang mampu

membuat Anna merasa menang.

1
Itsaku
ya Rabb, mau makan di kantin dikasih blackcard🤣🤣
Itsaku
diawal mesti bilangnya g tertarik, lama² bucin tau rasa dia😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!