Perjalanan hidup terkadang tidak sesuai yang kita impikan. Pastinya setiap orang memiliki kisah perjalanan hidup yang baik, nyaman dan Bahagia. Aku tidak memiliki perjalanan hidup yang indah , banyak ujian yang menghadang. Aku seorang bayi yang dibuang di tempat sampah, hingga akhirnya seorang janda paruh baya yang berprofesi sebagai pemulung mengangkatku menjadi anaknya. Aku hanyalah lulusan SMP, dengan berbekal otodidak aku belajar membuat kerajinan tangan berbahan plastic daur ulang hingga menjadi sukses.
Perkenalanku dengan seorang pria yang baik hati, berharap ia adalah jodohku. Ternyata orang tua angkatnya tidak menyetujuinya. Sebagai balas budi pada orang tua angkatnya ia rela aku menikahi adiknya yang lumpuh akibat kecelakaan. Ternyata ujianku masih tetap berlanjut , suamiku yang lumpuh itu seorang yang angkuh, sombong dan kasar. Pernikahan ini harus kuterima dan kujalani dengan sabar, sehingga membuat aku mencintai suamiku dengan tulus dan aku menganggapnya ia sebagai suami ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmah Safitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 9 Rahasia Terbesar Almarhumah Ibu
Ini hari ketujuh ibunya meninggalkan dirinya untuk menghadap Sang pencipta. Hari ketujuh ini merupakan hari terakhir ia mengadakan pengajian tahlilan untuk ibunya. Pada hari ketujuh ini, ia sengaja membagikan sembako pada tetangga yang menghadiri pengajian tahlilan di rumahnya. Ia juga membagikan sembako tersebut, untuk orang yang kurang mampu di luar kampungnya. Aminah berharap kebaikan yang ia lakukan dengan diniatkan untuk ibunya, insyaallah ibunya akan mendapatkan pahala.
Setiap hari saat pagi hari tiba, ia selalu pergi ke makam ibunya. Ia hanya berdiam diri selama berjam-jam di depan makam ibunya. Terkadang ia berbicara sendiri, seakan- akan ibunya ada di depannya dan mendengarkan curahan hatinya. Saat adzan Dzuhur berkumandang ia baru pulang ke rumah. Itu pun setelah mbak Marni menjemput Aminah menyuruhnya untuk pulang ke rumah.
Selama seminggu air mata Aminah selalu mengalir dengan derasnya, sehingga matanya menjadi bengkak. Ia akan merasakan kesedihan yang hebat di saat malam hari, setelah semua tetangganya pulang ke rumah masing-masing. Rasa rindu pada ibunya yang sangat besar membuat ia mengalami kesedihan yang teramat dalam.
Setiap malam hari seperti biasanya , ia tidak bisa tidur. Matanya sangat mengantuk namun matanya tidak bisa
terpejam. Terekam dengan jelas bayangan ibunya selalu berada di setiap tempat yang ada di rumahnya. Entah mengapa, malam ini ia memberanikan menuju kamar ibunya. Hatinya tergerak memanggil untuk menyuruhnya masuk ke dalam kamar mendiang ibunya.
Semenjak ibunya meninggal dunia, ia belum berani masuk ke dalam kamar ibunya dikarenakan setiap harinya ibunya selalu berbaring di kamar tersebut. Kamar tersebut juga merupakan saksi bisu saat ibunya terakhir menghembuskan napasnya.
Mbak Marni saja, tidak mengetahui kapan ibunya Aminah mengalami sakratul maut. Informasi dari mbak Marni, ibunya tertidur saat Aminah pergi. Saat siang hari, di saat mbak marni memberikan makan siang pada ibunya Aminah, beliau sudah kaku dan badannya sudah terasa dingin.
Dengan langkah perlahan ia memasuki kamar ibunya. Ia pun langsung menuju ranjang ibunya. Aminah pun
langsung memeluk bantal ibunya, ia mencium bantal tersebut dengan sangat erat. Ia masih merasakan aroma tubuh ibunya. Ia pun langsung menangis dengan deras, “Ibu… Ibu, Aminah kangen.” Ucapnya dengan menangis.
Sudah satu jam ia menangis, akhirnya Aminah tertidur di kamar ibunya pada malam ini. Aminah pun terbangun dari tidurnya saat mendengar adzan Subuh berkumandang. Ia membuka matanya dan
menatap langit-langit kamar ibunya. “ Apakah ibu di sana Bahagia?” Tanyanya.
Ia berusaha untuk bangun, walaupun kepalanya terasa berat dan sakit. Maklum saja, ia menangis dengan cukup lama. Saat ia terbangun, dan duduk ia tidak sengaja menyentuk sebuah kotak yang ada dipojok ranjang ibunya. Ia pun langsung tersentak kaget, “Kotak apa ini ?” Ucapnya.
Ia pun membuka kotak tersebut, di dalam kotak kecil terdapat sebuah cincin. Ia semakin kaget melihat cincin
tersebut, karena cincin tersebut bermatakan berlian. “Cincin ini sangatlah mahal, cincin siapakah ini?” Ucapnya kembali.
Di bawah cincin tersebut ia menemukan sebuah surat yang terlihat sudah usang. Dengan perasaan yang resah gelisah, ia membuka surat tersebut. Saat ia membuka surat, terlihat tulisan di dalam surat tersebut adalah tulisan tangan ibunya.” Ini tulisan ibu,”Ucapnya.
Aminah memerhatikan tahun saat surat itu ditulis oleh ibunya yaitu tahun 2004. “ Berarti surat ini ditulis
oleh ibunya Sembilan belas tahun lalu.” Ucapnya.
Ia mulai membaca surat tersebut, air matanya mulai mengalir deras. Ia membaca kalimat surat tersebut dengan teliti dari awal hingga akhir. Ibunya bercerita di dalam surat tersebut yaitu kronologis saat aku ditemukan. “Ternyata aku hanya anak angkat ibunya, aku ditemukan oleh ibunya di tempat pembuangan sampah,” Ucapnya dengan tangisan yang semakin keras.
Cincin di dalam kotak tersebut merupakan, cincin yang ditemukan oleh ibunya saat ibunya menemukan Aminah. “Jadi cincin ini petunjuk untuk mencari orang tua kandungku, “ Ucapnya dengan menangis.
Dari kecil memang Aminah sering dibuilying oleh teman-teman di lingkungan rumah. Temannya sering bilang kalau Aminah hanya anak angkat. Namun, ibunya selalu membela dirinya di depan teman-temannya. Bahkan ibunya meyakinkan Aminah kalau ia merupakan anak kandung.
Sampai saat terakhir ibunya menghembuskan napas, ibunya tidak memberitahukan kepada Aminah bahwa ia hanya anak angkat. “ Terserah orang lain mau bilang aku ini anak angkat mbok Ijah, yang jelas mbok Ijah adalah ibuku. Aku memang tidak dilahirkan dari rahimnya, namun aku dapat merasakan kasih sayang ibunya yang luar biasa, “ Ucapnya untuk menguatkan dirinya.
Ia pun segera bangun dari tempat tidur untuk segera berwudhu dan menunaikan solat Subuh. Setelah solat subuh, dengan menangis ia berdoa untuk ibunya yang sudah meninggal. Aminah juga mencurahkan semua perasaannya. Hatinya saat ini sangat rapuh, ia belum bisa menerima kalau ibunya pergi dengan cepat meninggalkan dirinya. Sekarang ia harus menerima kenyataan yang sangat pahit, kalau ia hanya seorang anak angkat.
Setelah berdoa, dan masih mengenakan mukena. Aminah berpikir, ia harus pindah ke ruko untuk tinggal di
sana. Kalau ia terus berada di sini, hatinya akan selamanya sakit karena kenyataan pahit ini belum bisa diterima oleh Aminah dengan Ikhlas dan lapang dada.
Aminah bangkit dari tempat solatnya, Ia langsung menuju kamar ibunya. Ia mulai merapihkan kamar ibunya. Barang-barang ibunya tidaklah banyak. Jadi ia mulai membersihkan barang-barang milik ibunya, menatanya di dalam lemari dengan rapih.
Ia ingin barang-barang milik ibunya tetap terjaga dengan baik karena dengan memegang barang milik ibunya, mampu mengobati rasa kangen pada ibunya.
Setelah selesai ia merapihkan kamar ibunya. Ia mulai merapihkan kamarnya. Ia mulai memasukkan baju miliknya ke dalam tas besar. Ia juga mulai menyortir mana barang yang masih ia gunakan saat ia tinggal di ruko ataupun yang tidak terpakai maka ia akan membuang barang tersebut.
Saat Aminah masih membersihkan rumah. Sekitar pukul delapan pagi mbak Marni datang. Hari ini ia terlambat datang ke rumah Aminah karena ia harus mengurus suaminya yang sedang sakit. Mbak Marni sudah minta izin pada Aminah dan Aminah mengizinkannya.
Mbak Marni pun heran, saat ia baru masuk rumah ia melihat tas besar dan beberapa kardus. Seperti orang yang akan pindahan saja.
“ Aminah kenapa ada tas besar dan kardus?” Tanya mbak Marni.
Aminah langsung menghentikan pekerjaannya, “ Ia mbak, saya ingin pindah?” Jawab Aminah.
“ Pindah, kenapa harus pindah?” Tanya mbak Marni kembali.
Aminah pun langsung membuang napas dengan kasar, “Rumah ini banyak sekali kenangan dengan ibu,” Ucap Aminah. “Aminah susah untuk bangkit, kalau setiap hari mengenang ibu dan selalu menyesal karena tidak bisa
mendampingi ibu saat terakhirnya.” Ucapnya lagi. “Mbak Marni jangan khawatir, Aminah akan pindah ke ruko tempat usaha Aminah Craft. Jadi mbak, tetap kerja sama Aminah hanya saja pindah tempat.” Lanjut Aminah memberikan penjelasan.
“ Alhamdulillah, makasih ya Aminah!” Ucap mbak Marni. “Ayuk mbak bantu kamu merapihkan semua barang.” Mbak Marni langsung bekerja.
Aminah hanya mengangguk saja. Ia tidak memberitahu rahasia ibunya kepada mbak Marni kalau ia adalah anak angkat. Aminah berpikir , mbak Marni juga sudah mengetahui kebenaran tersebut. Aminah hanya ingin menjaga rahasia ibunya, hanya ia dan Tuhan yang tahu rahasia terbesar mendiang ibunya.