Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Tuan Muda Arogan

Istri Kontrak Tuan Muda Arogan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Angst / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Selingkuh / Penyesalan Suami / Menikah dengan Musuhku
Popularitas:15.5k
Nilai: 5
Nama Author: Candradimuka

Karena sebuah luka di masa lalu, Bintang rela disiksa habis-habisan dalam keluarga suaminya. Luka, pria yang dipaksa menikah dengannya oleh kakak dia sendiri, melampiaskan penolakan itu pada Bintang. Dia menolak bertemu Bintang sejak awal pernikahan hingga tujuh tahun berlalu, dan setelah tujuh tahun dia akhirnya datang, mengacaukan hari-hari damai Bintang dengan banyak keegoisannya. Bintang terpaksa harus menurut, harus patuh dan diam saja pada semua perkataan dan tindakan Luka sebab itu adalah kontrak di antara mereka.

Namun bagaimana jika pelan-pelan pernikahan itu menjadi penyesalan besar dalam hidup keduanya? Bagaimana jika keduanya sudah saling mencintai namun justru saling melukai?


*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candradimuka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9.

Di kediaman ini cuma ada dua kamar, seluruhnya di lantai dua. Tidak ada ruangan lain selain kamar di lantai dua hingga dua kamar yang saling berhadapan itu benar-benar sangat luas.

Luka masuk ke salah satunya hingga Bintang masuk ke kamar lain. Baru saja Bintang memejamkan mata, suara pintu kamar terbuka langsung mengusiknya.

"Tambahin gorden," perintah Bintang karena tahu itu Tirta. "Pasang tebel sampe matahari enggak masuk. Tambah AC satu lagi."

Tirta mendengar tapi tak menjawab. Dia justru datang meletakkan segelas jus jeruk segar di dekat meja. Lalu berkata, "Lo mau makan malem apa?"

Walau dia menggunakan bahasa yang seharusnya tidak dia gunakan, Bintang cuma berbalik membelakanginya. "Pikir sendiri."

Kedua mata Bintang terpejam, larut dalam tidur karena lelah. Walau itu hanya dari pegunungan Bogor ke Jakarta, Bintang sudah tujuh tahun tidak meninggalkan kediaman Narendra.

Ketika terbangun, Bintang justru sudah berada di pelukan lengan Luka, yang napasnya terasa hangat di punggung Bintang.

"Luka itu beda dari saya, Tri." Begitu dulu Lio berkata. "Dia keliatan kayak batu tapi sebenernya fleksibel."

Ya, dia jauh lebih mudah dari dugaan Bintang. Berbeda dari Lio yang bisa tersenyum bahkan tertawa namun tak punya hati, Luka punya.

Makanya dia tak mustahil didekati asal dia sudah tertarik. Dia akan datang dengan sendirinya.

"Luk."

Dia tampaknya tidur pulas.

"Luka."

Panggilan Bintang direspons, namun juga membuat pelukannya semakin erat. "Hm?" tanyanya dengan nada mengantuk berat.

"Rusuk saya ketindih."

Lengan Luka langsung bergeser turun, memeluk perut Bintang dan lanjut tidur. Bintang menghela napas pasrah. Berbalik telentang dan menoleh pada wajah tenang Luka.

Dia dan Lio benar-benar mirip seolah bersaudara kembar, namun garis wajahnya yang ketus juga sangat berbeda dari Lio yang ramah. Tapi wajah ketusnya menurut Bintang jauh lebih tampan daripada wajah konyol Lio.

Bintang mengulurkan tangan ke kening Luka, mengusap-usap plaster yang tertempel pada bekas sabetan pedang di keningnya. Akibat perbuatan Bintang.

Sentuhan itu memaksa Luka terbangun dari tidur nyenyaknya.

"Kamu ngapain di sini?" tanya Bintang nyaris berbisik.

"Suka-suka saya mau ngapain." Luka menjawab dingin, tapi tangannya menarik Bintang semakin dekat seolah dia tak bisa bernapas jika tak menghidu aromanya.

Ujung hidungnya menekan pipi Bintang. Tak menyembunyikan hasrat dalam dirinya terhadap perempuan itu.

"Rambut kamu harusnya merah, Tri."

Bintang hanya menatap langit-langit. "Itu perintah?"

"Ya. Perintah saya."

Maka Bintang harus mewarnai rambutnya. Warna merah terdengar cukup menarik. "Saya enggak mau warna merah kayak Rina," kata Bintang seraya menoleh. "Warna terang enggak cocok buat saya."

Luka menyelipkan tangan di sela-sela rambutnya sebelum mendorong Bintang untuk menciumnya. "Saya tau merah yang cocok."

Tapi sebelum Luka menjelaskan, pintu kamar diketuk, disusul kemunculan Tirta di sana. "Bos, makan malem siap."

Luka langsung menjauh. Bangkit dari kasur dan berjalan pergi. Walau dia menyempatkan diri berkata pada Tirta, "Gantiin dia baju."

Karena tidak ada Syarla dan tidak ada pelayan, maka Tirta bertugas menyelesaikannya.

Bintang menatap pria itu tanpa ekspresi. Namun saat tahu Luka benar-benar sudah masuk ke kamarnya sendiri, bibir Bintang langsung merangkai senyum.

Ah, apa kalian berpikir Bintang sudah selesai menyiksa Tirta? Tidak. Tidak akan selesai.

Bintang adalah pendendam. Sekali ia benci pada sesuatu, rasa bencinya tidak akan hilang.

"Tutup pintu."

Tirta menghela napas, menutup pintu sesuai kata Bintang dan menguncinya diam-diam. "Gue enggak bakal bikin lo kesel lagi, Tri, jadi enggak perlu lagi—"

"Jangan pernah ngomong kecuali saya kasih izin." Bintang beranjak menuju kamar mandi. "Sekarang bantuin saya mandi."

Walau terlihat ada banyak hal tertahan di wajahnya, Tirta mau tak mau datang, membantu melepaskan pakaian Bintang. Ketika semua benda itu terlepas dari tubuhnya, Bintang menyeringai.

"Anak kurang ajar," ejeknya. "Kamu ngeliat hal harusnya lebih dulu diliat sama Luka."

Rahang Tirta mengetat. Dia terlihat sangat marah bosnya dihina oleh Bintang, namun bahkan ketika Bintang datang menyentuhnya, Tirta hanya bisa diam.

Dia tidak bisa menghindar. Memang dia mau mengadu pada Luka? Mau berkata kalau dia mencium Bintang, dia melihatnya telanjang dan sebagainya?

Itu seperti menghina Luka tepat di depan wajahnya.

"Saya enggak mau bikin kamu nyesel udah dateng ke hidup saya." Bintang menarik lepas pakaian Tirta. "Saya mau bikin kamu nyesel udah lahir."

Bintang sangat menyukai dua hal di dunia.

Satu, ia suka menyiksa dirinya sendiri sampai ia gila. Dan dua, ia suka menghancurkan hidup orang lain sampai mereka gila.

*

"Mahesa." Seorang pria muda tampan berhoodie itu tengah memberi makan kudanya saat panggilan tersebut datang. Tentu saja Mahesa menoleh, melihat Sena Sadawira, informan terbaik di kota sekaligus anak buahnya datang mendekat.

Jika seorang informan datang jauh-jauh begini, sudah jelas ada informasi penting.

"Kayaknya Bintang di Jakarta," kata Sena.

"Bintang?" Mahesa langsung menyeringai. "Heeeh, bukannya Lio enggak mau nunjukin dia sebelum resmi ngumumin? Yakin itu Bintang?"

"Dia sama Luka." Sena melipat tangan, ikut tersenyum. "Lio kayaknya sengaja biarin dia keluar. Lo tau Bintang baru mau gerak kalo dia udah resmi jadi Narendra, kan?"

Masuk akal. Lio itu memang paling suka bermain-main pada sesuatu yang berbahaya. Tujuh tahun lamanya dia menjaga Bintang di sisinya secara langsung, tapi itu cuma karena dia mau menghancurkan gadis itu pelan-pelan.

Demi Luka.

"Itu pancingan buat gue atau buat Langit?" Mahesa bergumam, pura-pura bingung padahal tahu jawabannya jelas.

Pancingan untuk mereka berdua.

"Pancingan buat Bintang, kali." Sena terkekeh. "Tapi ngomongin soal Langit, dia juga udah tau."

"Tama, kah?"

"Alex dateng ke gue nanyain bekas drone-nya Tama. Itu anak kayaknya pergi bunuh-bunuhin kroco yang ngirim mata-mata ke Narendra."

"Udah jelas Lio juga biarin orang tau Luka di Jakarta." Mahesa menghela napas seolah dia lelah pada tingkah Lio.

Padahal dia dan Lio adalah jenis manusia yang sama.

"Lio repot-repot ngundang gue ketemu, masa sebagai cowok sejati, gue nolak?"

Lagipula, bonekanya Luka yang diberi nama Trika itu, sebenarnya milik Mahesa. Mahesa cuma meminjamkannya sebentar pada mereka sebelum ia berniat mengambilnya kembali.

Paling tidak hatinya.

*

"Bos."

Luka mengangkat wajah dari makanan. Menatap Bintang yang sedang makan dengan tenang, tidak terlihat peduli saat Tirta berbisik pada Luka.

"Mahesa bilang bakal dateng."

Tanpa sadar Luka membanting garpu dan pisaunya, mendelik tajam pada Tirta. Tentu saja, kemarahan itu bukan padanya tapi pada berita yang dia bawa.

Arg, orang sialan itu. Seharusnya kalau Alex membunuh seseorang ya dia target utama. Sudah jelas dia datang ke sini karena tahu ada Bintang.

"Tolak," ucap Luka dingin.

"Dia izin ke Bang Lio, Bos."

Lio dan Mahesa sialan itu!

Ada seratus ribu alasan Luka benci Mahesa dan ia malas menjelaskannya. Pokoknya dia dan Lio itu sejenis, walau sebenarnya mereka itu antara sahabat juga musuh.

Mahesa Mahardika, dinobatkan sebagai pemuda paling kaya di negara ini, seorang genius gila yang lahir seratus tahun sekali. Selain dipuja sebagai pangeran tampan, dia seseorang yang luar biasa pintar sampai menguasai empat kitab suci—tapi dia tidak bertuhan. Dia juga dipuja sebagai seorang patriot sejati yang suatu saat akan memimpin bangsa ini maju.

Tapi itu omong kosong. Semuanya omong kosong. Dia itu cuma ******* yang senang mempermainkan manusia dan menganggap dirinya sendiri sebagai Tuhan. Dia juga Lio diam-diam sedang berusaha membentuk pasukan pemberontak. Lio berfokus pada penyediaan tenaga kerja manusia sedangkan Mahesa bagian dari operasi dan rencana.

Walau alasan terbesar Luka benci dia adalah karena dia menyebalkan seperti Lio.

"Mahesa Mahardika." Bintang mendadak berbicara. "Mahesa itu maksud kamu?"

"Bukan urusan kamu," ucap Luka dingin. Benar-benar tidak mau dia dan Mahesa bertemu.

"Kamu kekanakan, Luk." Bintang membalas datar. "Mahesa Mahardika itu pendukung utama Narendra. Kalau kamu naik ke kursinya Lio dua puluh tahun lagi, menurut kamu gimana kalau Mahesa Mahardika ninggalin Narendra?"

Luka menggebrak meja. "Jadi maksud kamu Mahesa jauh lebih penting dari saya?!"

"Itu kenyataan." Bintang memicing. "Kamu emang belum resmi jadi penerus, tapi bahkan satu persen kerjaan enggak mau kamu pegang. Itu semuanya kamu limpahin ke anjing-anjing kamu."

Luka menggeram. "Jangan samain saya sama Mahesa, Tri. Saya enggak punya ambisi jadi Tuhan."

"Mau jadi Tuhan masih mending daripada enggak mau jadi apa-apa." Bintang beranjak. "Kalau kamu enggak mau ketemu, biar saya yang ketemu."

*

Bantu author ngembangin karya dengan dukungan kalian, yah ☺

Dan buka juga karya-karya Candradimuka lainnya, terima kasih 🙏🙏

1
dewi
ya allah banyak bawang d emosi bacanya thoor semagat thoor
Widhi Labonee
yg hrs d kasihani disini siapa????
Widhi Labonee: nggak ahh...kl ke kak author...sayangi ajaaahh.. wkwkwkkwk
total 2 replies
Widhi Labonee
hwaduh... kok bs ya mereka ky gitu
Widhi Labonee
ky nya ada deh yg ky mahrsa ini d th 23 ini hehehhehe... gak ahh ntar koment ku d hapus lagi... wkwkwkwkw
Widhi Labonee
hmmm.. semakin menarik...
dewi
sebenarnya bintang siapa kk
ig : candradimuka.author: nama pemeran utamanya atuh 😭. namanya ada dua emang.
total 1 replies
Widhi Labonee
omegaaaatttt.....
Widhi Labonee
tuh kan .. ap we blg,,, gejala awal bucin noh ngana luk
Widhi Labonee
hmmmm... mulai deh gejala bucin nih... ayyoookk gaaasssskeun
Widhi Labonee
wooww... ngeri ngeri sedep yah hidup dg org" narendra nih...
Stockist NASA Surabaya L.2696
aq baca 13 istri narendra tp ga paham alurx... dicerita ini... aq paham... unik juga... jd tetap semangat nulisx ya kak
Widhi Labonee
hmmm,,, apakah ini kisah awal" nya narendra kak othor???
ig : candradimuka.author: yap, ini awal terbentuknya Narendra 😊
total 1 replies
Widhi Labonee
gegara baca ini,, sy jd belajar apa itu misogini,, kupikir miso itu sejenis makanan sih eh bukan trnyata,, wkwkekek,, dasar otak pendek aq nih.. hahahhahaha
ig : candradimuka.author: huhu, misogini tuh benci perempuan. iya, luka awalnya jahat banget 😭
total 1 replies
Widhi Labonee
baru baca lgsg tegang nih,, emang seris Narendra sll bekeng deg deg plasssss
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!