Indonesia
NovelToon NovelToon
Menghapus Jejak

Menghapus Jejak

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Lari Saat Hamil / Nikahmuda / Cintapertama / Konflik etika
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: NonaV

Anya Dien gadis SMA berumur enam belas tahun harus meregang pendidikannya. Merombak sagala planingnya di masa depan kelak akibat kecerobohan- Bima Albara Sakti yang bergelar ketua osis di SMA Bangsa.

Bima yang notabenya senior Anya di Osis yang seharusnya bersifat baik malah berhasil mengempaskan segala cita-cita Anya. Bahkan sebab kejadian tersebut Anya harus kehilangan segalanya. Mulai kebahagiaan dan keluarga.

Lalu akankah Anya mampu bertahan di fase menyakitkan tersebut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonaV, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

00.10 Ratapan Atas Kesalahan

...“Di hidup ini...

...Telah kusinggahi banyak cinta...

...Namun tak pernah aku temui cinta...

...Sekuat aku menginginkan dia.”...

...~Hal Hebat - Govinda~...

...***...

Puji memeluk Anya sekilas saat bis telah sampai di depan rumah Anya. "Istirahat yang cukup dan manfaatkan hari libur!" Puji terkekeh seraya melepaskan pelukkannya lantas kembali naik bis. Sedangkan, Anya tersenyum simpul dan perlahan mundur dari bis.

Mata Anya tak sengaja menoleh ke arah jendela bis tepatnya tempat duduk Bima yang kini tengah memandangnya dari dalam. Sekejap raut wajah Anya berubah datar membuat Puji heran dan mengikuti ke mana pandangan Anya. Puji mengerti dan memilih untuk bungkam hingga suara sang supir menggema bertanya apa Anya telah turun? Spontan Puji menoleh dan mengangguk membuat bis kembali melaju setelah Puji menutup pintu.

Sedangkan, Anya menunduk saat bis melewatinya, menghindari pandangan Bima yang tertuju ke arahnya. Anya menengadah saat suara Vanya menggema di balik gerbang rumahnya yang menjulang bak istana. Anya tersenyum dan masuk untuk menghampiri saudara perempuannya. Ketika sampai Vanya spontan memeluk Anya erat hingga sang empu meringis.

"Anya kamu bau banget! Pasti belum mandi?" Anya mengangguk polos membuat Vanya memencet hidungnya. "Astaga! Perawan Ayah Fathur gini amat." Vanya mengambil alih tas Anya dan berjalan masuk sambil bergidik ngeri mencium aroma tubuh adiknya.

Sedangkan yang diledek malah terkekeh miris. "Andai kak Vanya tahu aku bukan lagi Anya... gadis perawan!" Anya mengulas senyum hambar hingga akhirnya memilih masuk.

Anya mengucap salam yang dibalas riuh satu keluarga dari arah meja makan. Anya yakin kali ini dua kakak kembarnya Vino dan Vano ada di rumah setelah setengah tahun merantau di kota orang untuk menuntut ilmu di bidang kedokteran. Anya berjalan menghampiri keluarganya dengan perasaan bersalah. Satu per satu menyaliminya apalagi saat salim pada Vino dan Vano Anya menerima pelukkan hangat yang selama ini dia rindukan.

Sebagai anak bungsu tentu saja akan menjadi kesayangan keluarga apalagi sejauh ini Anya tumbuh sebagai gadis berprestasi dan baik walau nyatanya semua akan perlahan hilang. Buliran itu tak mampu lagi Anya bendung di pelupuk hingga akhirnya memilih luruh membasahi kemeja abu milik kedua kakak kembarnya.

"Anya rindu kalian!" Anya terisak membuat Vino dan Vano menguraikan pelukkan lantas saling melirik hingga akhirnya terkekeh geli.

"Ya ampun Anya Dien! Udah gede masih aja nangis. Mending mandi sana kamu bau, masa anak perawan bau ayam!" Anya malah terkekeh membuat keluarganya tertawa.

Anya mengambil alih tasnya dari tangan Vanya walau sempat menerima penolakan. "Aku punya peremen karet rasa melon kesukaan kamu. Kemarin beli dan kebetulan ada diskon!" Anya berhasil mengambil tas dari tangan Vanya lantas menggeleng sebagai penolakan.

"Aku mandi dulu. Aku juga mau istirahat dan aku udah makan di jalan, jadi masih kenyang!" Sikap Anya berbeda membuat keluarganya heran.

"Anya kenapa, ya?" Vanya bertanya ketika Anya telah tertelan tangga.

Vino datang dan merangkul bahunya. "Tahukan rasanya kemah?" Vanya mengangguk polos membuat Vino mencolek hidung adiknya tersebut. "Nah, Anya mungkin capek dan butuh tidur. Jadi jangan diganggu dulu biarin dia istirahat!"

Vanya kembali memandang ke arah tangga. "Tapi, kenapa jalan Anya kayak orang yang sakit selangkangan?"

Batin Vanya.

...***...

Bima berjalan gontai sembari mengelap keringat di dahinya. Saat kaki jenjangnya sampai di anak tangga pertama suara Ambara Sakti— Abangnya yang telah berumah tangga memanggil dari arah dapur yang kebetulan bertepatan di samping tangga membuat Bima mudah melihat posisi kakaknya tersebut.

Bima menoleh hingga akhirnya bersandar di pembatas tangga. "Ada apa?" Bima menengadah lantas mendengar tawa kecil Ambara.

"Kenapa ditelpon gak di angkat?" tanya Ambara seraya meminum tehnya.

Bima mendengus kesal. "Lu tahu gue abis kemah dari puncak? Mana ada sinyal di sana Bang!" Bima menghadap ke arah Ambara yang kini tidak sendiri.

"Tahu! Tapi, cuma mau ngabarin kalo Mama sama Papa ke luar kota selama seminggu. Jadi gue sama Fiona mau nginep di sini nemenin lo," jelas Ambara seraya mengelus pipi Fiona—istrinya.

Bima mengangkat kedua tangannya pertanda tidak peduli lantas berjalan selangkah. "Gua udah gede jadi sendirian di rumah gak papa," ujar Bima ketus yang dibalas gelora tawa oleh Abangnya.

"Ketus amat Bim. Kenapa?" Ambara membuka korannya sedangkan Bima terpaksa berhenti melangkah lagi.

"Capek Bang. Mengertilah wahai Ambara Sakti!" Bima mendelik tajam lantas mencibir.

"Gue kira lu abis patah hati. Ups! Lu, 'kan masih belum bisa lupain Leng—" sungut Ambara sudah lebih dulu dibekap oleh Fiona membuatnya meronta.

Sedangkan Bima geming saat mendengar nama itu kembali. Nama yang berusaha ia lupakan dari benaknya. "Gak usah bahas masa lalu Bang! Gue mungkin gak punya pacar tapi bukan berarti gue belum bisa lupain dia." Nada bicara Bima yang terkesan dingin membuat Ambara merasa bersalah hingga mendapatkan cubitan keras dari sang istri.

"Tapi, setidaknya lu udah punya pengisi hati walau dalam diam, kan?" Ambara mencium tangan Fiona membuat sang empu mencibir.

"Mungkin," ujar Bima seraya mengangkat bahu acuh lantas mulai melenggang masuk.

Sedangkan Ambara berteriak, "Bim! Kalo lu suka sama cewek jangan pernah bikin dia sakit hati. Bukannya lu tahu gimana sakitnya ditinggalkan pas sayang-sayangnya?!"

Di anak tangga terakhir Bima berhenti. "Sebelum mencintai gue udah bikin perempuan itu sakit hati, bahkan lebih dari patah hati," gumam Bima lantas kaki jenjangnya mulai melangkah ke kamar.

Di tempat yang berbeda dalam situasi yang sama Bima dan Anya menatap diri mereka di pantulan cermin sembari berderai pilu. Bima yang merasa dirinya paling salah sedangkan Anya yang merasa dirinya paling kotor dan telah mengecewakan keluarganya. Tubuh mereka bahkan tumbang, sambil terisak pertanda dua insan tersebut telah lemah dalam segalanya.

Ratapan atas kesalahan yang mungkin akan menjadi penyesalan paling luar biasa bagi Bima. Bima memang pernah sakit hati oleh seorang perempuan, namun hatinya tidak pernah berpikir untuk merusak perempuan yang pernah ia temui.

Dalam waktu bersamaan pula mereka melangkah menuju kamar mandi berniat membersihkan diri yang telah kotor karena dosa. Hal yang paling Anya takuti harus terjadi di masa remaja yang baru saja ia lalui. Rasa sakit dijamah laki-laki membuat Anya berteriak pilu di bawah guyuran shower. Sedangkan Bima memejamkan matanya berusaha tenang walau hatinya gundah.

Perlahan walau menyakitkan Anya menggosok tubuh menggunakan kedua tangannya hingga kulit putihnya berwarna merah akibat gosokan yang terlalu kuat. "Aku udah kotor, aku gak suci lagi!" Anya menangis pilu dalam diam seraya memukul wajahnya keras hingga memerah.

Lantas Bima merasakan bagaimana dirinya menjamah tubuh mungil tak berdosa itu. Teriakan pilu meminta tolong masih berdengung-dengan di pendengarannya, namun mengapa Bima tidak sadar kala dosa itu sedang ia ciptakan? Bima mulai mencopot satu per satu pakaiannya tanpa membuka mata seraya memeluk dirinya sendiri dan meratapi dosa besarnya terhadap Anya dan juga Tuhan.

Anya juga sama, perlahan melepaskan kaitan branya hingga tak tersisa sehelai benang pun. Anya bahkan memukul bagian tubuh tertentunya membuat ia meringis sendiri. "Tuhan! Kalau memang aku punya dosa besar jangan kayak gini hukumannya. Aku gak sanggup, gimana kalo keluarga aku tahu mereka bakalan marah besar sama aku!" Anya menangis seraya menutup wajah menggunakan kedua tangannya.

Secara bersamaan mereka tumbang dan menumpukan tubuh pada kedua lutut lantas menunduk. Rasa dingin makin menjalar di tubuh mereka berdua, serentak mereka menengadah membiarkan wajahnya diterpa air shower yang kencang. Anya sesenggukan seraya memeluk dirinya. Sedangkan Bima tetap geming dan memejamkan mata namun seketika suara rintihan pilu Anya menggema di benaknya.

"Kak Bima sakit. Lepas!"

Barulah Bima membuka mata dan menggeleng, menolak atas ingatan berdosa itu. Mereka berdiri bersamaan lantas memandang dirinya kembali di pantulan cermin dan berkata, "Mulai hari ini semuanya harus kembali baik-baik saja. Berpura-pura baik-baik saja!"

Setelah mengatakan itu spontan mereka memukul cermin menciptakan suara nyaring hingga keluar ruangan. "PRANG!"

"ANYA!"

"BIMA!"

Dua tempat yang berbeda dengan situasi yang sama.

...***...

...Tbc… ...

1
Eva Rosita 🇮🇩
sangat bagus
Maria Luisa
cerita ini udah bikin aku betah di rumah aja thor, terus semangat nulis yaa!
NunaV: Terima kasih, pasti semangat 💪
total 1 replies
Nakayn _2007
Bikin ketagihan!
NunaV: aaa terima kasih♡
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!