Aku hanya bisa tertunduk lemas setelah terlibat perdebatan di telepon dengan Fay tadi. Aku bodoh! Aku memang bodoh. Tidak terpikir kemungkinan ponsel Dave dipegang oleh istrinya. Sekarang, sesal telah menyebarkan rasa sakit dan sedih ke setiap sel di tubuhku.
Mengapa perasaan ini begitu perih? Bahkan saat orang tuaku meninggal, aku tak merasakan seperih ini, tak sesedih yang sedang kuderita pagi ini. Apa aku terlalu menyikapi permasalahan ini dengan perasaan?
Sudah beberapa hari kubiarkan malam tak berganti di kamar. Tak mau kuizinkan cahaya matahari masuk melalui jendela. Aku ingin hari tetap malam, dan segala yang terjadi hanyalah sebatas mimpi. Mimpi di malam hari. Sebuah ilusi yang meratapi gelapnya kepenatan hidup.
Berkali kuyakinkan diri jika ini mimpi, nyatanya ini nyata. Berusaha kuat, namun aku membutuhkan pundak seseorang untuk bersandar.
Kali ini, aku beranikan membuka jendela. Cahaya matahari langsung menyengat. Pagi ibu kota! Kududuk di tepi balkon sambil memandang horizontal dan vertikal.
Saat melayangkan pandangan horizontal kulihat gedung-gedung pencakar langit nan megah kepunyaan Jakarta. Luas tak terbatas. Sejauh mata memandang, sejauh itu tak kulihat tepian bumi. Ketika kupandang secara veritkal, terlihat lalu lintas begitu ramai. Semua kendaraan mengantri panjang di persimpangan rambu lalu lintas, menunggu hijau kan datang. Kutengadahkan kepala ke atas, hanya ada langit biru yang luas. Awan-awan putih menghias gambar angkasa dengan apik. Hari yang cerah. Namun, hari yang suram di dalam pikiranku.
Haruskah aku pergi ke tempat terjauh di muka bumi ini? Atau pergi ke dunia lain yang mungkin lebih damai? Akan tetapi, benarkah kedamaian itu akan aku dapati setelah memutuskan untuk pergi? Akankah dia merindukanku? Bisa jadi dia hanya akan menangis sesaat, kemudian melupakan selamanya. Izinkan aku berteriak. Meneriakkan nama yang selalu kutunggu.
Kucoba atur nafas. Sesekali memejamkan mata. Berusaha tenang, mencari secercah ketenangan untuk menentukan l…
Winter di Hokkaido
Bab 5: Resolusi
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 41 Episodes
Comments