Pencarian

"Paman, kenapa kau melakukan ini?"

Selama ini memang dirinya merasa tak enak sudah menumpang hidup disini, dan ia berusaha keras melunasi apa yang telah dilakukan oleh pamannya, walaupun mungkin belum cukup. Namun dengan apa yang ia lakukan pada Freya, Luna tidak bisa memaafkannya.

Dengan langkah yang gemetar dan hati yang dipenuhi dengan kebingungan, Luna Noire berdiri di ambang pintu rumah yang pernah ia panggil sebagai tempat berlindung. Pikirannya masih terpenuhi oleh kejutan dan kekecewaan. Dia merasa seakan-akan melayang di antara dunia yang dulu dikenalnya dan kegelapan yang tak terduga.

Namun, di tengah kekacauan emosionalnya, satu hal tetap teguh dalam pikirannya: dia harus menemukan adiknya. Freya adalah satu-satunya keluarga yang dia miliki, satu-satunya orang yang selalu ada di sampingnya dalam kesulitan maupun kegembiraan.

Akhirnya Luna memutuskan untuk mencari bantuan dari kepolisian. Dia berharap bahwa di sana dia bisa menemukan bantuan yang dia butuhkan untuk menemukan keberadaan adiknya yang hilang.

Gadis itu dengan langkah mantap pergi kesana. sekitar dua puluh menit perjalanan ia tiba. dari kejauhan ia melihat kantor itu penuh dengan kesibukan masing-masing.

"Permisi.."ucapnya sambil melangkah masuk.

"Iya, ada yang bisa kami bantu?"

ketika dia tiba di kantor polisi, harapannya segera redup. Dia disambut oleh sikap acuh tak acuh dari petugas polisi yang duduk di balik meja resepsionis. Tatapan mereka dingin dan tak berperasaan, seolah-olah Luna hanya satu dari sekian banyak orang yang meminta bantuan mereka.

"Freya, adik saya, dia hilang. Saya tidak tahu di mana dia berada," Luna berkata dengan suara gemetar, mencoba menahan air mata yang siap untuk menetes.

"Silakan laporkan kehilangan Anda menggunakan formulir ini dan hubungi nomor darurat jika Anda memiliki informasi tambahan."Jawab sang Petugas.

"Tapi aku harus segera menemukannya, Tolong aku.."

"Kami akan berusaha menemukannya secepat mungkin, Silahkan isi Formulirnya."

Respons dari petugas polisi itu tidak sesuai dengan harapannya. Mereka menanggapi keluhannya dengan cepat, tanpa sepatah kata simpati atau kepedulian.

Luna merasa terpukul. Dia berharap bahwa kepolisian akan membantu menemukan adiknya, bahwa mereka akan memperlakukannya dengan serius. Namun, kenyataannya adalah bahwa dia harus berjuang sendiri, di tengah kegelapan dan ketidakpastian.

Dengan hati yang berat, Luna meninggalkan kantor polisi, membawa beban kekecewaan dan keputusasaan di pundaknya. Seolah laporan Luna adalah candaan, walaupun ia melaporkan pamannya, mereka meminta bukti. Namun sayangnya ia tidak bisa membuktikan apapun dan ia sendiri yang harus menyelesaikannya perselisihan keluarganya.

"Bagaimana caranya agar mereka percaya? Bagaimana aku harus membuktikannya?" Gumamnya dalam hati.

Langit malam yang gelap menyelimuti Luna saat dia melangkah di sepanjang jalanan yang sunyi. Langkah-langkahnya terdengar gemetar di antara keheningan malam, seakan mencari jalan keluar dari labirin kegelapan yang mengitari hatinya.

Dengan setiap langkah yang dia ambil, Luna menggenggam erat ponsel yang memperlihatkan foto adiknya, Freya, dalam genggaman gemetarnya. Wajah manis Freya tersenyum padanya dari dalam potret, tetapi senyuman itu terasa jauh, terpisah oleh jarak yang tak terjangkau di antara mereka.

"Maaf mengganggu, apa anda pernah melihat gadis ini?"

Luna memperlihatkan foto Freya kepada setiap orang yang dia temui di jalanan, berharap bahwa seseorang akan mengenalinya, bahwa seseorang akan memberikan petunjuk yang akan membawanya kembali kepada adiknya yang hilang. Namun, setiap kali, jawaban yang dia dapatkan tetap nihil, seperti suara yang hilang di tengah kebisingan malam.

"Maaf aku tidak melihatnya." Jawab orang orang itu.

"Terima kasih.."lirihnya sembari menghembuskan nafas putus asa.

Dia bertanya kepada pedagang kaki lima yang sedang merapikan barang dagangannya, kepada pengendara motor yang melintas dengan cepat, kepada para pejalan kaki yang tergesa-gesa menuju tujuan mereka. Tetapi, semua yang dia dapatkan hanyalah tatapan bingung dan gelengan kepala yang membingungkannya semakin dalam.

"Apa yang harus aku lakukan? Apa Freya baik baik saja?".

Dalam kegelapan yang semakin mencekam, Luna merasa seperti terperangkap dalam pusaran kebingungan dan keputusasaan. Dia merasa sendirian di dunia yang terasa begitu asing baginya, tanpa petunjuk atau bantuan untuk menuntunnya kembali kepada adiknya yang tersesat.

Dengan langkah yang tegar, Luna melanjutkan pencariannya, memasuki setiap gang kecil dan lorong gelap, berharap untuk menemukan jejak yang hilang yang akan membawanya kembali kepada adiknya. Meskipun gelap, meskipun sepi, dia tidak pernah kehilangan harapan bahwa suatu hari, dia akan dipertemukan kembali dengan cahaya yang telah hilang dari hidupnya.

Luna akhirnya berlabuh dan terhenti di depan sebuah warung kopi kecil yang masih terang benderang di tengah malam yang gelap.

"Permisii.."

Dia memutuskan untuk masuk, berharap bahwa mungkin seseorang di sana akan memiliki informasi tentang adiknya yang hilang. Saat dia membuka pintu warung kopi, aroma kopi yang harum memenuhi udara, menciptakan suasana yang hangat dan mengundang di dalam.

Seorang pria tua dengan rambut abu-abu dan senyuman hangat menyambutnya saat Luna memasuki warung. Dia duduk di meja kecil di pojokan, menyuguhkan secangkir kopi hangat di depannya.

"Selamat malam, ada yang bisa saya bantu? sepertinya kamu kelelahan" tanya pria tua itu dengan nada ramah.

Luna menyapa pria tua itu dengan sopan, mencoba menahan gemetar di suaranya. "Selamat malam, Pak. Saya sedang mencari adik saya yang hilang. Apakah bapak mungkin pernah melihatnya?"

Pria tua itu mengangguk, matanya dipenuhi dengan rasa simpati yang dalam. "Saya mungkin tidak bisa membantumu, tapi duduklah, nikmatilah secangkir kopi."

"Terima kasih."Luna bersyukur atas kebaikan hati pria tua itu. Dia duduk di kursi di seberang meja, menyeruput kopi hangat yang menenangkan dan menghangatkan tenggorokannya.

"Ini foto dia," Luna menunjukkan foto Freya kepada pria tua itu.

Pria tua itu memandang foto dengan penuh perhatian. Sejenak, terdengar hening di antara mereka, hanya teriakan jarak jauh dari jalanan yang memecah keheningan malam.

Akhirnya, pria tua itu mengangguk perlahan. "Maaf, nak. Saya belum pernah melihatnya sebelumnya. Tapi jangan menyerah. Kadang-kadang, jawaban datang dari tempat yang paling tidak terduga."

Luna tersenyum lemah, terima kasih atas kata-kata pria tua itu. Meskipun pertemuan mereka tidak memberinya jawaban yang dia cari, tetapi ada kehangatan dalam percakapan mereka yang membuatnya merasa sedikit lebih baik."Terima kasih..saya harus mencarinya kembali.."

"Saya berdoa semoga kamu bisa segera menemukan adikmu.."

Luna keluar dari sana, ia menghembuskan nafas berat, entah harus kemana lagi ia mencari. Satu satunya cara adalah memohon agar pamannya memberitahunya.

Clak, Clak Clak

Saat langit terasa semakin gelap dan berat, tetes-tetes hujan mulai turun dengan derasnya, menambah tragedi dalam hidup Luna.Dengan langkah yang gemetar dan hati yang dipenuhi keputusasaan, Luna merasakan tetes-tetes hujan yang dingin membasahi punggung tangannya saat dia berdiri di pinggir jalan yang sepi.

"Ahh..Aku benar benar sial."

Hujan itu seperti simbol dari kesedihan yang melandanya, mengguyurinya dengan rasa sakit dan kehilangan yang tak terbendung. Setiap tetes hujan seperti pukulan yang menyakitkan, mengingatkannya pada kehilangan adiknya dan ketidakpastian masa depan yang mengintainya.

Langkah-langkahnya terasa berat dan gemetar di bawah beban emosional yang menindasnya. Dia merasa seperti terjebak dalam pusaran kegelapan yang tak terduga, tanpa jalan keluar, tanpa cahaya yang memandunya.

Sebuah siluet hitam mengalihkan pandangan yang buram oleh air mata.

"Luna?"Sahut seseorang.

.

.

Episodes
1 Malam yang Rapuh
2 Pencarian
3 Ada Untukku
4 Menuju Kebenaran
5 Siapa kau?
6 Tuan Luca
7 Antonio De Luca
8 Misteri
9 Menuju Takdir
10 Identitas
11 Aku adalah Dia
12 Transformasi
13 Rasa
14 Hanya dengan satu tarikan
15 Kenapa?
16 Rumit
17 Opulent Oasis: Where Luxury Lives and Breathes
18 Blue Cristal
19 Bisnis
20 Pulang
21 Peluang
22 Ini bukan kehidupan yang aku inginkan
23 Pertemuan
24 Keyakinan
25 Jalan tak Berujung
26 Rahasia
27 Mimpi Buruk
28 Sarapan
29 Bandara
30 Diluar batas
31 Tekanan
32 Pesta
33 Berkumpul
34 Semakin dekat
35 Bisnis
36 Kembalilah Padaku
37 Selamatkan!!
38 Shadow Heaven
39 Bab 39 Jejak Luka
40 Bab 40 : Percikan yang membakar
41 Bab 41:Malam Penyelamatan
42 Bab 42: Serangan Balasan
43 Bab 43: Luka yang dibawa pulang
44 Bab 44: Tujuan
45 Bab 45: Red Moon Night
46 Bab 46 : Kenyataan Pahit
47 Bab 47: Kejujuran Hati
48 Bab 48: Jejak yang Tertinggal
49 Bab 49: Penjara Dosa Masa Lalu
50 Bab 50: Jejak Yang Tidak Bisa Dihapus
51 Bab 51: Dibawah Lampu Rumah Sakit
52 Bab 52 : Kembali ke Neraka
53 Bab 53 : Sisi yang Dirindukan
54 Bab 54 : Luka yang Tak Terlihat
55 Bab 55 :Antara Dinding dan Bara
56 Bab 56: Jejak Yang Terkubur
57 Bab 58: Pilihan Terakhir
58 Bab 58 : Di depan Mata
59 Bab 59: Jalur Aman
60 Bab 60: Jalur Dalam
61 Bab 61: Fakta
Episodes

Updated 61 Episodes

1
Malam yang Rapuh
2
Pencarian
3
Ada Untukku
4
Menuju Kebenaran
5
Siapa kau?
6
Tuan Luca
7
Antonio De Luca
8
Misteri
9
Menuju Takdir
10
Identitas
11
Aku adalah Dia
12
Transformasi
13
Rasa
14
Hanya dengan satu tarikan
15
Kenapa?
16
Rumit
17
Opulent Oasis: Where Luxury Lives and Breathes
18
Blue Cristal
19
Bisnis
20
Pulang
21
Peluang
22
Ini bukan kehidupan yang aku inginkan
23
Pertemuan
24
Keyakinan
25
Jalan tak Berujung
26
Rahasia
27
Mimpi Buruk
28
Sarapan
29
Bandara
30
Diluar batas
31
Tekanan
32
Pesta
33
Berkumpul
34
Semakin dekat
35
Bisnis
36
Kembalilah Padaku
37
Selamatkan!!
38
Shadow Heaven
39
Bab 39 Jejak Luka
40
Bab 40 : Percikan yang membakar
41
Bab 41:Malam Penyelamatan
42
Bab 42: Serangan Balasan
43
Bab 43: Luka yang dibawa pulang
44
Bab 44: Tujuan
45
Bab 45: Red Moon Night
46
Bab 46 : Kenyataan Pahit
47
Bab 47: Kejujuran Hati
48
Bab 48: Jejak yang Tertinggal
49
Bab 49: Penjara Dosa Masa Lalu
50
Bab 50: Jejak Yang Tidak Bisa Dihapus
51
Bab 51: Dibawah Lampu Rumah Sakit
52
Bab 52 : Kembali ke Neraka
53
Bab 53 : Sisi yang Dirindukan
54
Bab 54 : Luka yang Tak Terlihat
55
Bab 55 :Antara Dinding dan Bara
56
Bab 56: Jejak Yang Terkubur
57
Bab 58: Pilihan Terakhir
58
Bab 58 : Di depan Mata
59
Bab 59: Jalur Aman
60
Bab 60: Jalur Dalam
61
Bab 61: Fakta

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!