Bab 5. Menukar dengan pedang

"Nona Ye," ucap Bibi Lan membangunkan lamunanku.

"Ya Bibi, ada apa?" tanyaku.

"Sebelum pergi, nona muda Huang ingin bertemu dengan anda," jawab Bibi Lan.

"Nona muda ingin bertemu denganku?" tanyaku sambil menunjuk hidungku sendiri.

"Ya Nona," balas Bibi Lan.

"Baiklah," balasku menurut dan meneguk habis obat pahit ditanganku sebelum mengikuti langkah Bibi Lan.

Setibanya di kamar putri perdana menteri, aku menatap seorang wanita duduk diatas ranjangnya yang menatap kearahku dengan senyum diwajahnya.

Dia sangat cantik, begitu pujiku dalam hati. Berbeda sekali saat terakhir kemarin aku lihat saat dia masih berbaring diatas kasur, wajah wanita itu sangatlah pucat dan nampak berantakan.

Namun kali ini aku melihatnya sungguh berbeda, penampilannya benar-benar anggun dan terlihat segar nan mempesona.

"Salam hormat hamba pada putri," salamku hormat.

"Duduklah," jawabnya menyuruh aku agar duduk di dekatnya.

"Baik putri," balasku menurut.

"Jadi kau adalah Qiuye (musim gugur) putri Tabib Lan?" tanya Nona muda Huang.

"Benar Putri," jawabku singkat.

Nona muda Huang menatapku dari ujung kaki hingga ujung kepala lalu bertanya dan aku mengikuti kemana matanya menatapku. "Apakah penampilanmu selalu begini? Maksudku, apa kau selalu memakai penutup kepala?" tanyanya ingin tahu.

"Iya Putri," ucapku sambil memegang topi kain seperti kupluk.

"Tapi kenapa?"

"Itu karena aku adalah seorang tabib wanita, jadi aku harus selalu memakai penutup kepala ini agar tidak ada rambutku yang jatuh ke dalam obat," jawabku beralasan. Ya sebenarnya agar tidak ada orang lain yang tahu warna asli rambutku saja.

"Oh begitu," balas Nona muda Huang.

"Ya begitulah Putri."

"Qiuye ... Jangan panggil aku putri, panggil saja aku Yao Er," sarannya agar lebih akrab.

"Hm.." pikirku. "Begini saja Putri, bagaimana kalau hamba memanggil anda Nona muda Huang atau Nona Huang saja, bagaimana?" sambungku memastikan dengan bertanya terlebih dahulu. Karena bagiku, memanggil nama putri pejabat secara langsung bisa saja berujung bencana.

Salah satunya dimarahi oleh Ayah, karena menganggap aku ini tidak sopan.

Nona muda Huang terkekeh kecil, "Baiklah, terserah kau saja. Oh iya, berapa umurmu? Kamu masih terlihat sangat muda," tanyanya kemudian.

"Hamba masih berusia lima belas tahun," jawabku.

"Lima belas tahun? Sungguh luar biasa sekali, aku tidak menyangka diusiamu yang masih sangat muda ini kau sudah mahir meramu obat bahkan membantu Ayahmu mengobati orang yang sakit," pujinya.

"Anda terlalu memuji Nona muda Huang, sebenarnya hamba masih harus banyak belajar," jawabku merendah.

"Kau begitu rendah hati, pantas saja ayah dan ibuku begitu memujimu," balas Nona muda Huang.

"Ah tidak juga," balasku tersipu malu.

"Oh iya, aku punya sebuah hadiah untukmu. Ini memang sengaja ku siapkan untukmu karena telah membantu merawatku," ucap Nona muda Huang menyerahkan sebuah kotak dan memberikannya kepada Bibi Lan. "Berikan ini padanya," titahnya kemudian.

"Baik Nona," balas Bibi Lan patuh.

Aku menerima pemberian hadiah dari Nona muda Huang, sebuah kotak dari kayu jati berwarna coklat tua bercorak ukiran naga dan juga burung phoenix.

"Apa ini Nona muda?" tanyaku sedikit penasaran.

"Buka saja dan aku harap kau menyukainya," balas Nona muda Huang.

Aku membuka kotak hadiah tersebut tanpa ragu dan terkesima dengan isi didalamnya, sebuah Zan (tusuk rambut tunggal) yang sangat indah.

"Ini indah sekali," pujiku berbinar-binar.

"Bagaimana? Apa kau suka?"

"Aku suka, ini bagus sekali!" seruku senang.

"Kalau begitu pakailah, biar Bibi Lan membantu memakaikannya di rambutmu."

Seketika aku menarik senyumku dan menggeleng, karena ia ingat akan janjinya kepada Ayah dan Ibu untuk tidak menunjukkan rambutnya kepada orang lain.

"Tidak perlu Nona muda, karena menurutku Zan ini sangat berharga bagiku dan aku takut kalau memakai ini akan merusaknya. Jadi aku memilih untuk menyimpannya saja," balasku beralasan.

"Begitukah? Baiklah, terserah kau saja."

"Terima kasih Nona," balasku.

"Katanya kau senang dengan hadiah pemberianku, lantas kenapa wajahmu tiba-tiba saja murung?" tanyanya padaku yang tidak-tiba terdiam.

"Maafkan hamba Nona muda, bolehkah hamba mengganti hadiah ini dengan hadiah yang lain?" tanyaku meminta ijin.

"Kenapa? Apa Zan ini tidak sesuai dengan keinginanmu? Apa kau tidak menyukainya?" tanyanya ingin tahu.

"Aku sangat suka, tapi setelah aku pikir-pikir aku lebih membutuhkan hadiah lain daripada Zan ini," balasku.

"Kau ingin hadiah lain, lalu hadiah apa yang kau inginkan?"

"Maaf kalau hamba lancang, tapi bolehkah Nona muda Huang menghadiahi saya sebilah pedang? Maaf kalau permintaanku sedikit aneh dan merepotkanmu, tapi setelah mempertimbangkannya kembali aku ingin menukar hadiah ini dengan pedang karena sepertinya aku lebih membutuhkan benda itu daripada perhiasan ini."

Tatapan Nona muda Huang seketika berubah serius. "Pedang bukan lah sebuah mainan, pedang juga bukan sesuatu yang bisa kau dapatkan dengan mudah. Walaupun keluarga Huang terkenal akan seni bela diri pedang dan juga pembuat pedang terkemuka berasal dari keluarga Huang. Akan tetapi kami tidak bisa memberikannya begitu saja kepada orang lain yang belum dinyatakan pantas atau layak menggunakan pedang, selain itu orang tersebut haruslah mampu dan sanggup bertanggung jawab saat menggunakan."

"Jadi Nona Qiuye, maaf aku tidak bisa memenuhi permintaanmu ini. Karena kau harus layak terlebih dahulu sebelum memilikinya. Selain itu pedang yang bagus bukanlah pedang yang cuma kau beli dari toko atau pedang gratisan yang didapatkan dari orang lain secara cuma-cuma, akan tetapi pedang yang bagus adalah pedang yang mampu memenuhi semua karakter, jati diri dan juga takdirmu."

"Dan satu hal lagi, pedang memiliki dua sisi. Sisi pertama dia bisa menjadi senjata yang mampu melindungi diri sendiri maupun orang lain, akan tetapi disisi lain pedang juga bisa menjadi senjata mematikan yang melukai orang lain dan juga pemiliknya! Apa kau sudah paham Nona Qiuye?" tutur Nona Muda Huang menjelaskan.

"Baik Nona muda, hamba sudah paham." Aku tertunduk lesu dan menggenggam erat kotak kayu pemberian nona muda.

"Baguslah kalau kau sudah paham," balas Nona muda Huang. "Bibi Lan tolong antar Nona Qiuye," ucapnya kemudian.

"Baik Nona," patuh Bibi Lan. "Mari Nona Qiuye," ucapnya padaku.

"Baik, tapi tunggu sebentar." Aku menolak keluar dari kamar Nona muda Huang. "Nona, bagaimana caranya aku bisa mendapatkan pedang? Maksudku, bagaimana caranya agar aku layak memilikinya?"

"Kamu begitu serius ingin memilikinya, kalau begitu minta ijin-lah dulu pada ayahmu. Kalau ayahmu mengijinkan, maka aku akan mengijinkanmu memegang sebilah pedang, bahkan aku akan memberikannya padamu secara cuma-cuma," jawab Nona muda Huang memberi tantangan.

Sebuah tantangan yang membuat mulutku seketika bungkam.

Meminta ijin pada ayah? Bagaimana mungkin. Ayah menginginkanku mewarisi ilmunya, ilmu pengobatan agar aku bisa menjadi tabib sepertinya.

"Bagaimana? Kenapa mendadak diam? Apa kau takut pada ayahmu? Kalau hal sekecil ini saja kau sudah takut, maka jangan berharap lebih daripada itu.

"A-aku memang tidak berani, tapi bukankah masih banyak cara lain. Berikan aku cara yang lain saja Nona muda Huang," ucapku bersikukuh.

"Nona Qiuye, mohon anda jangan keras kepala dan mempersulit Nona muda kami," potong Bibi Lan menyudahi.

"Tidak apa Bibi, aku hargai semangatnya itu. Karena dia bersikeras ingin mendapatkan pedang, maka aku akan memberikannya," ucap Nona Muda Huang.

"Nona, jika anda memberikan Nona Qiuye pedang dan bagaimana jika terjadi sesuatu nantinya? Anda akan jadi orang pertama yang akan menanggung akibatnya," nasehat Bibi Lan khawatir.

"Tidak apa Bibi, aku akan tetap memberikannya. Tapi dengan satu syarat dan kau harus menyanggupinya," ucap Nona muda Huang

...Bersambung....

Terpopuler

Comments

Joan

Joan

lanjut thor

2026-06-06

0

Noviyanti

Noviyanti

Selama menunggu kelanjutan cerita ini, kalian bisa baca karya yang lain dulu ya

2026-06-05

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Kebenaran yang terungkap
2 Bab 2. Ikut ke kediaman perdana menteri
3 Bab 3. Sebuah buku
4 Bab 4. Ingin tahu
5 Bab 5. Menukar dengan pedang
6 Bab 6. Meminta Ijin datang ke istana
7 Bab 7. Ketakutan Tabib Jiang
8 Bab 8. Jenderal Besar.
9 Bab 9. Mimpi buruk.
10 Bab 10. Pesan dari Jenderal besar
11 Bab 11. Guan Yu datang
12 Bab 12. Murka Putri Xu
13 Bab 13. Menginterogasi
14 Bab 14. Adu pedang
15 Bab 15. Mengumpulkan informasi
16 Bab 16. Nona Huang tahu
17 Bab 17. Hadiah dari Putra Mahkota
18 Bab 18. Mencari informasi
19 Bab 19. Si Peti es
20 Bab 20. Putri musim gugur
21 Bab 21. Taruhan
22 Bab 22. Menahan serangan.
23 Bab 23. Membawa pergi
24 Bab 24. Racun asing dari barat
25 Bab 25. Meminumkan obat.
26 Bab 26. Mencari keberadaan Qiuye.
27 Bab 27. Siuman
28 Bab 28. Panah angkasa
29 Bab 29. Masuk ke Kota Bawah Tanah
30 Bab 30. Berjalan keluar.
31 Bab 31. Perkelahian kecil
32 Bab 32. Pakaian pelayan wanita
33 Bab 33. Surat dari ayah.
34 Bab 34. Guan Yu ke istana
35 Bab 35. Menutup kasus
36 Bab 36. Titah pernikahan.
37 Bab 37. Kembali ke kediaman
38 Bab 38. Hukuman.
39 Bab 39. Tabib Nan dan Putri Xu
40 Bab 40. Hari Pertama Latihan.
41 Bab 41. Perang sumpit
42 Bab 42. Wu San dan Qian.
43 Bab 43. Berlatih tombak.
44 Bab 44. Kabar buruk
45 Bab 45. Kematian Wu San.
46 Bab 46. Racun Dingin.
47 Bab 47. Senjata tidak asing
48 Bab 48. Aku putri seorang tabib.
49 Bab 49. Menghangatkan tubuh.
50 Bab 50. Terbangun.
51 Bab 51. Pelayan wanita pribadi satu-satunya
52 Bab 52. Putri Xu datang
53 Bab 53. Guan Feng
54 Bab 54. Rasa kesal
55 Bab 55. Menginap
56 Bab 56. Kelemahan Guan Yu.
57 Bab 57. Dampak yang timbul
58 Bab 58. Ditangkap
59 Bab 59. Tabib Nan tahu siapa pelayan itu
60 Bab 60. Sumpah Putri Xu.
61 Bab 61. Menjalani sidang.
62 Bab 62. Hukuman mati.
63 Bab 63. Eksekusi.
64 Bab 64. Peristiwa memilukan
65 Bab 65. Melarikan diri dan menjadi buronan istana.
66 Bab 66. Penyesalan dan rasa benci
67 Bab 67. Membujuk
68 Bab 68. Kedatangan Guan Feng
69 Bab 69.
70 Bab 70. Kandungan Obat.
71 Bab 71. Bunga hati hitam
72 Bab 72. Berkelahi.
73 Bab 73. Putri Kaisar yang asli
74 Bab 74. Rencana pengobatan
75 Bab 75. Makan Bersama.
76 Bab 76. Kegelisahan Guan Yu
77 Bab 77. Pergi ke festival.
78 Bab 78. Insiden kecil
79 Bab 79. Akhir kejayaan Yuan Pan
80 Bab 80.
81 Bab 81. Mabuk.
82 Bab 82. Kaisar Song marah
83 Bab 83. Menghasut kaisar
84 Bab 84. Pengobatan gagal.
85 Bab 85. Titah dan anugerah
86 Bab 86. Kekesalan Xin.
87 Bab 87. Menerima anugerah
88 Bab 88.Pangeran utara.
89 Bab 89. Obat tetes mata
90 Bab 90. Mengepung Jenderal Besar.
91 Bab 91. Jenderal Besar di tangkap
92 Bab 92. Efek obat tetes mata
93 Bab 93. Tewasnya jenderal Mu Long.
94 Bab 94. Pernikahan Politik
95 Bab 95. Tinggal kenangan
96 Bab 96. Penyambutan Qiuye
97 Bab 97. Rencana Putri Xu
98 Bab 98. Menunjukkan bakat
99 Bab 99. Kalah telak
100 Bab 100. Meminta ijin.
101 Bab 101. Terpana sekali lagi
102 Bab 102.
103 Bab 103. Tamparan keras.
104 Bab 104. Bei Wang terpikat
105 Bab 105. Ketegangan di istana
106 Bab 106. Menolak dengan tegas.
107 Bab 107.
108 Bab 108. Hancurnya Markas utama
109 Bab 109. Menyiapkan diri.
110 Bab 110. Rencana Pelarian.
111 Bab 111. Melarikan diri.
112 Bab 112. Pertemuan kedua Bei Wang dan Guan Yu.
113 Bab 113. Pertarungan Bei Wang dan Guan Yu
114 Bab 114. Tidak ada yang bisa lari dariku!
115 Bab 115. Kematian Bei Wang.
116 Bab 116. Kesedihan yang ku luapkan
117 Bab 117.
118 Bab 118.
119 Bab 119. Putri yang diasingkan.
120 Bab 120. Surat undangan.
121 Bab 121. Menolak menikah
122 Bab 122. Membongkar kejahatan
123 Bab 123. Penggeledahan dan penemuan barang bukti
Episodes

Updated 123 Episodes

1
Bab 1. Kebenaran yang terungkap
2
Bab 2. Ikut ke kediaman perdana menteri
3
Bab 3. Sebuah buku
4
Bab 4. Ingin tahu
5
Bab 5. Menukar dengan pedang
6
Bab 6. Meminta Ijin datang ke istana
7
Bab 7. Ketakutan Tabib Jiang
8
Bab 8. Jenderal Besar.
9
Bab 9. Mimpi buruk.
10
Bab 10. Pesan dari Jenderal besar
11
Bab 11. Guan Yu datang
12
Bab 12. Murka Putri Xu
13
Bab 13. Menginterogasi
14
Bab 14. Adu pedang
15
Bab 15. Mengumpulkan informasi
16
Bab 16. Nona Huang tahu
17
Bab 17. Hadiah dari Putra Mahkota
18
Bab 18. Mencari informasi
19
Bab 19. Si Peti es
20
Bab 20. Putri musim gugur
21
Bab 21. Taruhan
22
Bab 22. Menahan serangan.
23
Bab 23. Membawa pergi
24
Bab 24. Racun asing dari barat
25
Bab 25. Meminumkan obat.
26
Bab 26. Mencari keberadaan Qiuye.
27
Bab 27. Siuman
28
Bab 28. Panah angkasa
29
Bab 29. Masuk ke Kota Bawah Tanah
30
Bab 30. Berjalan keluar.
31
Bab 31. Perkelahian kecil
32
Bab 32. Pakaian pelayan wanita
33
Bab 33. Surat dari ayah.
34
Bab 34. Guan Yu ke istana
35
Bab 35. Menutup kasus
36
Bab 36. Titah pernikahan.
37
Bab 37. Kembali ke kediaman
38
Bab 38. Hukuman.
39
Bab 39. Tabib Nan dan Putri Xu
40
Bab 40. Hari Pertama Latihan.
41
Bab 41. Perang sumpit
42
Bab 42. Wu San dan Qian.
43
Bab 43. Berlatih tombak.
44
Bab 44. Kabar buruk
45
Bab 45. Kematian Wu San.
46
Bab 46. Racun Dingin.
47
Bab 47. Senjata tidak asing
48
Bab 48. Aku putri seorang tabib.
49
Bab 49. Menghangatkan tubuh.
50
Bab 50. Terbangun.
51
Bab 51. Pelayan wanita pribadi satu-satunya
52
Bab 52. Putri Xu datang
53
Bab 53. Guan Feng
54
Bab 54. Rasa kesal
55
Bab 55. Menginap
56
Bab 56. Kelemahan Guan Yu.
57
Bab 57. Dampak yang timbul
58
Bab 58. Ditangkap
59
Bab 59. Tabib Nan tahu siapa pelayan itu
60
Bab 60. Sumpah Putri Xu.
61
Bab 61. Menjalani sidang.
62
Bab 62. Hukuman mati.
63
Bab 63. Eksekusi.
64
Bab 64. Peristiwa memilukan
65
Bab 65. Melarikan diri dan menjadi buronan istana.
66
Bab 66. Penyesalan dan rasa benci
67
Bab 67. Membujuk
68
Bab 68. Kedatangan Guan Feng
69
Bab 69.
70
Bab 70. Kandungan Obat.
71
Bab 71. Bunga hati hitam
72
Bab 72. Berkelahi.
73
Bab 73. Putri Kaisar yang asli
74
Bab 74. Rencana pengobatan
75
Bab 75. Makan Bersama.
76
Bab 76. Kegelisahan Guan Yu
77
Bab 77. Pergi ke festival.
78
Bab 78. Insiden kecil
79
Bab 79. Akhir kejayaan Yuan Pan
80
Bab 80.
81
Bab 81. Mabuk.
82
Bab 82. Kaisar Song marah
83
Bab 83. Menghasut kaisar
84
Bab 84. Pengobatan gagal.
85
Bab 85. Titah dan anugerah
86
Bab 86. Kekesalan Xin.
87
Bab 87. Menerima anugerah
88
Bab 88.Pangeran utara.
89
Bab 89. Obat tetes mata
90
Bab 90. Mengepung Jenderal Besar.
91
Bab 91. Jenderal Besar di tangkap
92
Bab 92. Efek obat tetes mata
93
Bab 93. Tewasnya jenderal Mu Long.
94
Bab 94. Pernikahan Politik
95
Bab 95. Tinggal kenangan
96
Bab 96. Penyambutan Qiuye
97
Bab 97. Rencana Putri Xu
98
Bab 98. Menunjukkan bakat
99
Bab 99. Kalah telak
100
Bab 100. Meminta ijin.
101
Bab 101. Terpana sekali lagi
102
Bab 102.
103
Bab 103. Tamparan keras.
104
Bab 104. Bei Wang terpikat
105
Bab 105. Ketegangan di istana
106
Bab 106. Menolak dengan tegas.
107
Bab 107.
108
Bab 108. Hancurnya Markas utama
109
Bab 109. Menyiapkan diri.
110
Bab 110. Rencana Pelarian.
111
Bab 111. Melarikan diri.
112
Bab 112. Pertemuan kedua Bei Wang dan Guan Yu.
113
Bab 113. Pertarungan Bei Wang dan Guan Yu
114
Bab 114. Tidak ada yang bisa lari dariku!
115
Bab 115. Kematian Bei Wang.
116
Bab 116. Kesedihan yang ku luapkan
117
Bab 117.
118
Bab 118.
119
Bab 119. Putri yang diasingkan.
120
Bab 120. Surat undangan.
121
Bab 121. Menolak menikah
122
Bab 122. Membongkar kejahatan
123
Bab 123. Penggeledahan dan penemuan barang bukti

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!