Nara, gadis yang sejak kecil diasuh oleh keluarga Aksa dan Lio, selalu menganggap mereka sebagai kakak kandungnya. Namun, semuanya berubah ketika perasaan yang seharusnya tidak ada mulai tumbuh. Aksa, yang selama ini hanya diam dan menahan diri, akhirnya mengakui sesuatu yang mengubah segalanya.
“Ra, aku sayang sama kamu, bukan sebagai kakak. aku sayang sama kamu, sebagai cowok yang suka sama cewek, Ra.”
Kalimat itu membuat dunia Nara berhenti sejenak. Ia ingin mengingkari, ingin melawan kenyataan, tapi hatinya sendiri berkhianat.
Di antara luka lama, keluarga, dan batasan yang mengikat mereka, bisakah Nara menerima kenyataan bahwa takdir telah mengikat mereka dalam perasaan yang lebih dari sekadar saudara? Ataukah ia akan memilih untuk menghindar selamanya?
Sebuah kisah penuh emosi, rahasia, dan ketegangan yang akan membuatmu terus bertanya—apakah cinta ini benar-benar salah, atau justru takdir yang tak bisa dihindari?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alvalyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pisah
Ketika Nara sampai di depan rumahnya, Ia terkejut ketika mendengar suara teriakan ibunya. Ternyata orang tua Nara sedang bertengkar hebat. Nara menangis ketika ibunya mendapat siksaan dari ayahnya. Nara menghampiri ibunya dan memeluknya dengan diiringi tangisan mereka berdua.
"Ayah, jangan sakiti ibu." Nara memohon kepada ayahnya agar berhenti memukuli ibunya. Bukannya berhenti, ayahnya malah mendorong Nara hingga terpental kebelakang.
"Eh kamu nggak usah ikut campur. Dasar anak nggak berguna, cuman bisa nyusahin aja kerjaannya." Ayahnya pun tidak segan segan menginjak kaki kecil Nara dan Nara pun menjerit kesakitan. Ibunya menangis melihat putrinya juga disiksa oleh ayahnya sendiri.
Ternyata Orang tua Nara bertengkar karena masalah ekonomi keluarga mereka yang merosot drastis. Perusahaan yang dibangun oleh Ayah Nara bangkrut. Saham para investor pun tidak dapat terbayarkan. Ditambah kebutuhan pokok keluarga belum terpenuhi dan inilah yang membuat Ayah Nara frustasi. Ia jarang pulang kerumah dan tidak menafkahi istri dan anaknya. Ia sibuk pergi ke Bar untuk menenangkan pikirannya.
...****************...
Di sisi lain, Nilam yang merupakan ibu Nara sempat berpikir untuk berpisah dengan Dingga yang merupakan ayah Nara. Nilam merasa tidak kuat dengan kelakuan kasar dari Dingga. Ia merasa suaminya telah berubah semenjak perusahaan mereka bangkrut. Nilam berniat untuk pergi ke pengadilan untuk meminta surat perceraian. Dan dia akan pergi ke luar negeri untuk bekerja. Nilam sudah tidak mau mempunyai hubungan apapun dengan Dingga. Tapi disisi lain Nilam memikirkan perasaan anaknya Nara. Bagaimanapun perceraian mereka akan membuat mental anaknya hancur. Apalagi sekarang anaknya masih berumur 6 tahun, Nara masih membutuhkan orang tua yang utuh untuk tumbuh kembangnya.
"Nara, maafin ibu ya. Kamu jadi kaya gini gara gara ibu. Tapi mau gimana lagi sayang, ibu udah nggak kuat sama ayah kamu." Ucap Nilam sembari mengelus rambut Nara yang sedang tertidur pulas di kamarnya.
......................
Pagi hari pun datang. Nara terbangun dengan pantulan sinar mentari dari jendela kamarnya. Nara bergegas pergi untuk mandi. Dia heran mengapa rumahnya sepi, dia turun kebawah untuk melihat apa ada orang tuanya di bawah. Betapa terkejutnya Nara ketika ia mendengar bahwa ayah dan ibunya akan bercerai. Dingga menyetujui perceraian yang diajukan oleh Nilam.
"Terserah kamu mau pergi kemana setelah kita bercerai. Aku sudah tidak punya hubungan apapun denganmu." Ucap dingga sambil menandatangani surat cerai itu.
Tiba tiba Nara langsung berlari memeluk ibunya. Nara tidak mau berpisah dengan ibunya. Nara menangis sesenggukan karena Nilam akan pergi meninggalkannya.
"Ibu nggak boleh pergi, kalau ibu pergi siapa yang bakal nemenin Nara bobo." Nara mendekap ibunya dengan tangisan keras Nara yang membuat Nilam sakit dan tidak tega untuk meninggalkannya. Tapi mau gimana lagi, ini sudah menjadi keputusan Nilam sejak lama. Ia harus pergi jauh dari Nara.
"Maafin ibu ya Nara, ibu janji akan pulang buat nemuin Nara. Ibu harap Nara jadi anak yang nurut ya sayang. Ibu sayang banget sama Nara." Nilam yang menangis dan memeluk Nara dengan kuat karena ia merasa tidak tega akan meninggalkan Nara.
Tanpa berlama lama Nilam melepaskan pelukannya pada Nara sambil mengusap air matanya. Nilam langsung menarik koper disebelahnya yang menandakan Nilam harus pergi saat itu juga. Nilam langsung keluar rumah dengan dada yang terasa sesak karena ia tidak menyangka akan meninggalkan anaknya itu. Nara menangis dan berniat mengejar ibunya, tapi Dingga dengan sigap menahan Nara. Nara merasa ibunya tidak menyayanginya karena meninggalkan dia bersama ayahnya.
"Lepasin, biarin Nara ikut ibu." Nara yang berusaha melepaskan dirinya dari tangan Dingga.
"Ibumu itu nggak sayang sama kamu, dia ninggalin kamu disini karna nggak mau kamu ngerepotin dia, makanya kamu jadi anak yang nurut!" Dingga yang langsung melepas tangan Nara dan membentaknya.
Hati Nara merasa sakit dengan perkataan Ayahnya, Nara kecewa dengan orang tuanya.
Dia langsung berlari ke kamarnya dan mengunci pintunya. Dia menangis dibalik pintu, sambil berteriak mengapa orang tuanya kejam kepadanya.
...----------------...
masih bingung jln cerita sama jdul nya