Selena, gadis cupu dan pendiam yang menjadi bahan bully semenjak dirinya masuk ke SMA BINTANG. Ibu dan sahabatnya meninggal di waktu yang berdekatan membuat Selena perlahan hancur dan terlarut dalam kesedihan.
Dalam pusaran kesedihan yang dia rasakan, ada emosi dan amarah yang mengalir ketika Selena mendengar bahwa Nadia, gadis yang biasa membully dirinya terlibat dalam kasus kematian sahabatnya.
Perlahan rasa takut Selena menjadi kebencian yang memberikannya keberanian yang belum pernah dia rasakan. Selena mulai berubah, dia membalas setiap pembullyan dan kekerasan yang dia dapat, dan berjanji akan mengungkap kasus kematian sahabatnya.
Dia tidak akan menjadi wanita lemah lagi. Dia akan menghabisi para setan yang bertopeng manusia yang telah membully dirinya selama ini.
Dan siapa sangka, takdir mengikat kisah asmaranya dengan Sehan, sahabat dari gadis yang selalu membully dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAPPY - YO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Dinding serba putih dengan bau obat yang khas menjadi saksi perempuan yang terbaring di brankar dengan tangan kanan yang di gips. Keningnya di usap lembut oleh nenek Ayu dengan hati teriris sakit.
"Kenapa mereka bisa sejahat ini sama kamu, nak? Nenek masih tidak mengerti, kenapa para preman itu tiba-tiba matahin lengan kamu tanpa alasan." Ujar Nenek Ayu membuat Selena meneguk ludah.
Netra Selena bergulir pada Lio yang duduk di sisi yang lain, mereka bertatapan seolah memberi kode sebelum Lio angkat bicara.
"Preman itu sepertinya ingin merampok kami, mungkin karena Selena terus berontak, makannya dia marah dan berbuat seperti itu." Jawab Lio membuat Selena mengangguk cepat.
Keduanya sudah setuju untuk tidak menceritakan hal yang sebenarnya pada Nenek Ayu, karena itu hanya akan menimbulkan kekhawatiran. Nenek Ayu sudah sangat bekerja keras, Selena tidak boleh menganggu pikirannya juga.
"Nenek jangan khawatir. Aku gapapa." Ujar Selena mencoba tersenyum dan mengusap lengan Nenek Ayu.
"Gue minta maaf Sel. Gue gak bisa bantuin elo waktu kejadian itu dan cuman bisa lihat kayak orang bego. Gue beneran nyesel." Sesal Lio menundukan kepala, rasa bersalah terus menyerang hatinya setelah kejadian keji itu.
Selena menggeleng sebelum tersenyum tipis. "Kamu gak salah sama sekali, Lio. Wajar kamu gak bisa apa-apa saat itu, aku juga tahu rasanya gimana." Ujar Selena mengingat dirinya selalu tidak mampu melawan ketika dirinya atau sahabatnya dibully.
"Maka dari itu, kejadian ini sama sekali bukan salah kamu. Jangan nyalahin diri sendiri." Ujar Selena menatap Lio membuatnya ragu namun tidak lama mengangguk pelan.
Selena jadi mengerjap, tersadar sesuatu. "Buat biaya Rumah Sakit, kita harus gimana?"
"Ah, gue juga mau bahas itu. Awalnya mau gue yang bayar tapi kata susternya udah ada yang bayar lunas." Ujar Lio membuat Selena dan Nenek Ayu jadi saling tatap bingung.
"Siapa yang bayar?" Tanya Selena sebelum pintu dibuka dan muncul Sehan dari sana.
Sehan bersalaman dengan Nenek Ayu sebelum melirik Selena yang masih bengong menatapnya.
"Lo gak papa?" Tanya Sehan membuat Selena tersadar, sebelum menggeleng pelan.
Menyadari sesuatu, Lio jadi beranjak dan mengajak Nenek Ayu untuk ikut juga. Sepertinya keduanya butuh privasi.
"Nek, ayo kita makan dulu. Nenek belum makan kan, karena jagain Selena terus. Jangan Khawatir sama Selena, itu temen sekolahnya yang jagain." Ujar Lio membuat Nenek Ayu mengangguk.
Hening menyelimuti sampai akhirnya Sehan menghembuskan napas kasar menatap lengan Selena yang digips.
"Darimana elo tahu gue di Rumah Sakit ini?" Tanya Selena.
"Gak penting gue tahu dari mana, daripada itu gue mau bahas yang lain. Sekiranya dengan kejadian ini elo mau berhenti buat lawan Nadia, gue gak akan maksa elo." Ujar Sehan membuat Selena menundukan kepala.
Suara isakan tangis terdengar, punggung Selena bergetar, dia mendongkak sambil menghapus air matanya yang terus mengalir.
"Padahal gue pengen banget ikut lomba ngelukis. Gue ikut seleksi dengan jujur, tapi kenapa sesulit ini?" Isak Selena di tengah isak tangisnya.
"Kenapa jalannya bisa sesakit ini, tangan gue sampai harus jadi akibatnya." Ujar Selena membuat Sehan bergeming, menatapnya sulit.
...****************...
Nadia menggoreskan cat biru langit ke kanvas. Dia melirik ke luar jendela kamarnya yang dia jadikan objek sebelum menggoreskan cat kembali sampai kepalanya menoleh ketika pintu kamarnya dibuka keras dan muncul Sehan dengan wajah mengeras, melangkah masuk ke dalam kamarnya.
"Emang lo perlu bertindak sejauh ini?" Tanya Sehan langsung membuat Nadia mengangkat alis.
Menyadari sesuatu, Nadia jadi berdecih sebelum berbalik dan kembali melukis.
"Elo tahu dengan cepat, ya. Gue jadi merinding." Ejek Nadia tersenyum miring.
"Jawab gue!" Desak Sehan menaikan intonasinya.
"Lo sendiri yang memutuskan buat berpihak ke dia, jadi diem aja dan lihat seberapa sakitnya liat Selena menderita karena gue." Ujar Nadia santai tanpa menoleh membuat Sehan menghembuskan napas kasar sebelum mengangguk pelan.
"Oke." Ujarnya sebelum berbalik pergi, meninggalkan kamar Nadia dengan pintu terbuka, melewati Dekan yang sedari tadi bersembunyi di balik pintu.
Dekan jadi mengernyitkan alis, dia bingung. Sepertinya dia ketinggalan sesuatu yang besar karena kedua sahabatnya terlihat tidak akur.
...****************...
Selena menatap Lio yang sedang mengupas apel untuk dirinya sebelum membuka mulut ketika Lio menyodorkan sepotong apel ke depan mulutnya.
"Makasih." Ujar Selena membuat Lio berdecih.
"Bukan apa-apa." Jawab Lio pelan.
Lio menatap Selena ragu untuk mengungkapkan apa yang ada di pikirannya membuat Selena mengerjap bingung.
"Ada apa, Lio?"
"Sel, elo gak ada niatan buat pindah sekolah?" Tanya Lio membuat Selena mengangkat sebelah alisnya.
Lio berdecak sebelum menaikan kacamatanya, "Gue udah lihat sendiri seberapa parah, gila dan berbahayanya orang yang ngebully elo. Itu udah diluar akal sehat, Sel. Dia rela lakuin kejahatan apa aja buat dapetin apa yang dia mau. Dia beneran berbahaya dan gue gak lihat ketakutan di matanya, Sel. Lo beneran bukan tandingannya."
Selena bergeming, kali ini dia merasa apa yang Lio ucapkan semuanya benar. Nadia benar-benar gila dan Selena tahu itu dengan baik.
Nadia adalah ketua iblis diantara para iblis.
Netra Selena bergulir ketika Lio mengusap netranya yang basah di balik kacamata sebelum terisak kecil. Lio memang begitu, dari dulu dia lemah dan gampang menangis, tidak ada bedanya dengan Selena yang dulu.
Selena menjulurkan tangan, mengusap bahu Lio, berharap agar dia tenang. Selena jadi mengernyit, ternyata menjadi Lio juga sangat menyakitkan, entah kenapa itu benar-benar mengingatkan dirinya tentang masa dimana dia selalu dia dan kesakitan saat melihat sahabatnya, Keira dibully di depan netranya dan tidak ada yang dapat dia lakukan.
"Gue mohon Sel, lo pindah sekolah aja. Tinggalin semuanya dan sekolah bareng sama gue. Kalau elo gini terus, lo cuman akan menderita dan gak akan ada kebahagian di hidup elo. Masa SMA yang seharusnya indah, elo lewatin dengan tangis dan luka di sekujur tubuh. Ada kesempatan buat lari tapi elo ngerantai diri elo sendiri." Ujar Lio membuat Selena meneguk ludahnya sendiri karena kata-kata Lio benar-benar menusuk ulu hatinya.
"Gue mohon, Sel. Pindah sekolah. Lari. Waktu sampai lulus itu terlalu lama. Gue gak mau kehilangan siapapun lagi." Ujar Lio beriringan dengan air matanya yang mengalir.
Netra Selena berkaca sebelum akhirnya ikut menangis.
"Tapi, aku harus nemuin keadilan buat Keira, Lio. Aku gak ikhlas pelaku pembunuhan Keira masih berkeliaran dengan bebas sementara kita dan orang tuanya menderita." Jawab Selena membuat Lio bergeming sebelum menghembuskan napas kasar.
"Lo masih belum ikhlas, Sel?" Tanya Lio tidak habis pikir membuat Selena tersentak.
"Kalau elo gini terus, kapan Keira bisa tenang di sana?" Tanya Lio lagi sebelum berdecak dan mengacak rambutnya sekali.
Selena bergeming, sebelum mengusap wajahnya. Tenggorokannya kering, dia tidak mampu menjawab karena memang benar begitu adanya. Dia tidak punya kata sanggahan.
"Tapi meskipun begitu, aku beneran gak bisa diem aja. Aku harus terus lawan Nadia dan bikin dia ngaku atas apa yang telah dia perbuat." Ujar Selena sebelum netranya melirik pada tangan kananya yang digips.
"Meskipun setelah ini aku gak yakin." Gumam Selena ketika mengingat bahwa Nadia benar-benar lawan yang kuat.
"Terus setelah itu? Setelah semua kesusahan yang elo lewatin dan luka fisik yang elo dapat, kalau pelakunya bukan Nadia, gimana?" Tanya Lio membuat hati Selena mencelos dengan netra membelalak lebar.
Benar, dia tidak pernah memikirkannya.