Aku ini cuma pemuda biasa, yang ingin hidup tenang. Punya kerjaan biasa saja, pendapatan biasa saja, menikahi gadis yang biasa saja, dan punya kehidupan yang biasa saja. Sesederhana itu keinginanku.
Tapi kadang hidup sangat menjengkelkan. Selalu memberikan cerita yang berbeda dari apa yang dibayangkan. Di saat aku memutuskan untuk keluar dari zona nyaman, nasib buruk langsung menimpaku.
Seorang peramal bilang aku akan mati di akhir bulan ini. Dilanjut dengan aku yang tiba-tiba terjatuh dari atas kosan, menjebol atap rumah orang. Hingga terjun bebas ke tengah aksi penggerebekan polisi terhadap bandar narkoba!!
Apa kematianku akan datang lebih cepat dibanding ramalan???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Resviandira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
9 Februari
Stefan mendatangiku ke kosan baru yang tampak lebih bersih dan mewah. Bisa dibilang kos-kosan exclusive
namanya. Pemiliknya seorang kakek tua yang sangat ramah dan agak… budeg. Maaf, Kek.
“Pergi dulu ya, Kek.”
“Di Jakarta mau piknik di mana?”
“PERGI DULU, KEK!” ucapku lebih keras.
“Nanti aja kakek mandinya. Masih siang.
Rasanya aku ingin menangis.
Akhirnya aku pun pergi mengikuti Stefan yang hanya memasang muka ramah seperti biasa.
Kami menuju ke sebuah gedung perkantoran. Namun saat aku masuk ke dalamnya, tampak sangat sepi. Hanya ada seorang bapak-bapak yang sedang mengepel lantai sampai mendengarkan lagu dari ponselnya.
“Mas Stefan,” sapa si bapak.
Stefan tersenyum sambil mengangguk sopan. Aku pun mengikutinya. “Permisi, Pak,” ucapku. Bapak itu pun tersenyum ramah padaku.
Perjalananku dan Stefan pun berakhir di lantai tiga. Di dalam sebuah ruangan yang sepi. Hanya ada satu orang di dalam sana, yang ternyata adalah lelaki bernama Delta. Aku masih mengingat rambut kuncir kudanya.
“Yo, Rezky!” sapa Delta.
“Yo, Bang.”
“Pada di mana?” tanya Stefan pada Delta.
“Lagi otw ke sini.”
Sementara aku memperhatikan ruangan yang tampak normal. Seperti ruang rapat. Kupikir aku akan menemukan ruangan berisi monitor dan senjata spy seperti di film-film.
Tak lama kemudian, terdengar suara pintu yang dibuka. Seorang lelaki berkacamata yang tampaknya seumuran denganku masuk. Wajahnya tampak jutek dan melirikku tajam. Aku jadi merasa langsung dibenci olehnya.
“Rez, kenalin. Dia salah satu anggota tim. Namanya Tempe.”
Aku nyaris tertawa mendengar namanya. Mana ada orang dengan nama selucu itu.
“Ada masalah?” tanya lelaki berkaca mata itu dengan galak.
Aku langsung menggeleng. “Nggak. Sorry.”
“Jangan galak-galak lah Pe sama anak baru,” ujar Delta.
“Kenapa juga harus dapet anak baru. Paling baru sehari udah cabut.”
Aku cuma bisa nyengir karena merasa bukan saatnya untuk menanggapi. Tapi yang kutahu, sepertinya Tempe tidak suka dengan kehadiranku.
Tak lama, muncul dua orang lainnya. Lelaki berambut cepak dengan wajah tanpa ekspresi. Lalu satu lagi lelaki yang agak pendek, berbadan kecil, berambut pirang.
“Heh, lo lagi kayak gini masih bisa bercandain gue! Kehed sia!” si lelaki berambut pirang tiba-tiba marah kepada Delta. Aku bisa langsung tahu dia orang Sunda dari nada bicaranya. “Mana lift lagi rusak. Gue jalan lewat tangga dari lantai sepuluh!”
Delta malah cekikikan sambil duduk santai melihat lelaki yang marah itu. “Biar sekalian olehraga lah.”
Stefan pun memperkenalkan kedua orang itu padaku. “Itu Atom,” ucapnya.
Lelaki yang namanya disebut mengangguk padaku. Sepertinya dia ramah, tapi wajahnya saja yang tampak flat. Bahkan dia tidak bicara apa-apa.
“Hai, Bang. Aku Rezky,” ucapku. Orang itu hanya mengangguk saja. Apa dia tidak bisa bicara ya?
Lalu si lelaki pirang tampak mendekatiku sambil mengajak bersalaham. Sepertinya dia jadi yang paling ramah
dari semuanya. “Heh, anak baru. Gue…”
“Si Kehed,” potong Delta sambil tertawa.
“Diem lo kehed!” sahut lelaki rambut pirang itu lagi dengan nada marah. Lalu dia kembali melihat ke arahku. “Gak
usah dengerin dia. Panggil aja gue Jahe.”
“Oh, iya, Bang. Salam kenal.”
Aku pikir sudah semuanya datang. Tapi tak lama, ada dua orang lagi yang masuk ke dalam ruangan. Satunya lelaki
berbadan besar, bermuka garang. Ada tato naga di lehernya. Dia datang bersama perempuan yang wajahnya seperti familiar.
“Nah, kembaran si Kehed muncul juga,” ucap Delta.
Saat itu aku baru menyadari kalau wajah perempuan itu mirip dengan Jahe! Ternyata mereka kembar!
“Oh ini anak barunya?” perempuan itu tampak menyapaku dengan ramah. Dia pun menyalamiku. “Anak baru yang katanya jatuh dari langit itu yaa? Salam kenal ya, aku Ginger.”
Aku tersenyum agak canggung. “Langit-langit rumah lebih tepatnya, hehe. Salam kenal, Mb-”
Belum sempat menyelesaikan perkataanku, tiba-tiba Jahe membungkap mulutku dari belakang. Lalu dia berbisik padaku.
“Jangan panggil dia Mbak. Panggil aja kakak. Kalau lo gak mau langsung mati!”
“Kembaran kehedku tersayang, jangan potong orang lagi ngobrol, doongg…” ucap perempuan itu dengan tetap tersenyum.
Aku merasa bingung, tapi aku turuti saja perkataan Jahe. “Salam kenal, Kak Ginger.”
Kulihat Ginger tersenyum senang. Lalu dia memeluk lenganku. Aku agak canggung karena tidak pernah ada perempuan yang nempel padaku seperti ini.
“Panggil aja Ginger yaa!! Seneng deh ada cowok cakep juga akhirnya. Bang Stefan juga cakep, tapi katanya dia lebih suka cewek yang lebih tua. Kalau Bang Delta cakep tapi playboy.”
Lagi-lagi aku hanya bisa tertawa garing.
“Si kehed orang baru langsung digodain. Nanti dia malah kabur gara-gara takut sama elo!” sahut Jahe.
Kulihat Ginger masih tersenyum. Dia menjauh dariku dan melangkah mendekati Jahet. Lalu tiba-tiba, dia menonjok wajah kembarannya dengan keras. BUAGH!!
Aku terhentak karena terkejut. Namun yang lain kulihat biasa saja. Sepertinya mereka sudah biasa dengan sifat Ginger yang seperti itu.
Kulihat hidung Jahe tampak berdarah. “Bang Jahe gak apa-apa?” tanyaku dengan khawatir.
Ginger kembali mendekatiku dan memeluk lenganku lagi. “Biarin aja, dia gak akan mati. Kepalanya keras kayak batu. Hehe,” ucapnya dengan wajah imut.
Aku pun memilih untuk mencari topik lain dan berusaha untuk tidak berurusan dengan Ginger yang sepertinya menyeramkan. Itu kenapa Jahe melarangku memanggilnya dengan sebutan Mbak, karena mungkin dia tidak suka dipanggil seperti itu.
“Kalau Abang siapa namanya?” tanyaku pada lelaki berbadang besar yang mendelikku dengan tajam. Tatapannya seakan ingin menghajarku.
“Bigroot,” ucapnya dengan suara ngebass. Sangat sesuai dengan badannya yang besar.
“Oke, udah semua, kan?” ucap Stefan. “Mereka ini anggota tim saya, Rez. Jahe, Ginger, Tempe seharunya seumuran sama kamu.”
Agak membuatku terkejut karena semua orang tampak sangat muda. Bahkan Stefan dan Delta yang kelihatannya paling tua saja sepertinya masih berumur 30-an.
“Mulai sekarang, Rezky gabung dengan kita. Memang awalnya karena dia gak sengaja datang ke tengah pertemuan kita dengan Barong. Sampai akhirnya Barong sendiri berusaha mencelakainya karena mengira kalau Rezky salah satu dari kita. Jadi, daripada dia terbunuh dengan cuma-cuma, akan lebih berguna kalau bergabung dengan kita. Karena bisa jadi kawanan Barong akan mencarinya lagi. Benar begitu kan, Rez?”
Aku mengangguk, mengiyakan perkataan Stefan. “Iya, Bang.”
Lalu kudengar dengan jelas Atom mendengus dengan nada mengejek. “Dalam kata lain, cuma sebagai umpan, kan? Gak mungkin Bos masukin sembarang orang yang bahkan aku gak tau dia punya kemampuan apa.”
“Jangan lupa, dia yang bikin kita bisa menangkap salah satu dari kawanan Barong.” Sepertinya Delta sedang berbaik hati membelaku.
“Ya paling itu cuma kebetulan doang. Dia lagi beruntung. Tapi gak akan ngejamin dia bisa lolos dari Barong setelah ini.”
Memang benar sih, waktu itu aku hanya beruntung masih bisa selamat. Tapi perkataan Atom agak membuatku kesal. Dia benar-benar tidak menyukaiku.
“Pokoknya aku gak mau kalau harus repot ngelindungin dia.”
Awalnya aku berniat untuk diam saja. Membiarkan mereka berkata apa pun tentangku. Tapi entah kenapa sepertinya aku sudah tidak bisa menelan lagi kata-kata yang ingin kuucapkan.
“Maaf, aku memang orang biasa yang bahkan gak tau kemampuanku apa. Tapi dengan aku memutuskan untuk bergabung ke sini, aku bertekad untuk melakukan semuanya dengan sungguh-sungguh. Aku akan berusaha supaya gak merepotkan kalian semua. Kalau memang nanti aku terjebak di tengah bahaya, aku gak akan minta kalian mneyelamatkan aku. Aku rela mati, tapi akan aku pastikan kalau kematianku terjadi setelah melakukan hal bermanfaat untuk tim ini.”
Semua orang terdiam mendengar perkataanku, termasuk Atom. Kulihat hanya Stefan dan Delta tersenyum.
“Keren banget, Rezky!” seru Ginger, masih sambil memeluk lenganku. Membuatku agak malu.
“Seenggaknya gue rasa Rezky punya keberuntungan yang besar. Bayangin aja dia jatuh dari lantai dua, nembus langit-langit rumah, terus jatuh di tengah-tengah perang. Tapi masih hidup! Haha gila kan kurang beruntung apa dia? dan katanya kemaren sempet hampir diculik kawanan Barong, terus nyelamatin temennya yang diculik juga! Anjir lah hoki bener lo, Rez,” ujar Delta.
“Hehe makasih, Bang,” ucapku. Meski sepertinya Delta bukan sedang memujiku juga.
“Oiya, kamu mau dipanggil apa, Rez? Kita semua kan pakai nama panggilan di sini.”
Pertanyaan Ginger membuatku tersadar kalau nama semua orang aneh, dan tidak mungkin itu semua nama asli mereka. Tapi, kenapa Stefan tidak pakai nama panggilan ya?
“Kenapa Bang Stefan beda sendiri. Gak punya nama panggilan?”
Stefan tersenyum ke arahku. “Memangnya kamu yakin Stefan itu nama asli?”
“Em…” Benar juga ya, siapa yang bisa menjamin kalau itu bukan nama panggilan.
“So, kamu mau dipanggil apa?”
Aku pun berpikir. Mencoba mencari nama yang keren. Denji? Gojo? Kakashi? Hm… terdengar seperti anak sekolahan yang wibu.
“Muka-muka si Rezky ini pasti nyari nama dari anime,” sahut Delta sambil tertawa.
Wajahku sepertinya langsung memerah karena malu Delta bisa menebak yang aku pikirkan. “Enggak lah!” protesku. Lalu aku menatap Stefan. “Bang, ada masukan gak ya. Aku bingung harus dipanggil apa.”
“Si Kehed,” ucap Jahe.
“Semua orang aja lo sebut kehed!” protes Ginger.
Untung saja aku punya darah Sunda, jadi aku tahu apa artinya kehed. Kalau dalam Bahasa Indonesia artinya seperti kampret, atau brengsek. Pokoknya kata umpatan yang artinya kasar.
“Kalau gitu, saya kasih kamu nama Klee,” ucap Stefan. “Bahasa Jerman yang artinya clover. Karena saya berharap
kehadiranmu di tim ini bisa membawakan kebruntungan untuk kita.”
Klee… Nama yang unik. Tapi aku suka maknanya.
“Makasih, Bang.”
Aku pun melihaat ke arah semua orang, lalu bicara dengan nada tegas dan penuh keyakinan. “Biar aku memperkenalkan diri sekali lagi. Aku Klee, mulai hari ini akan jadi bagian dari tim Bang Stefan. Mohon kerja samanya!”
slam kenal dan..
semangat berkarya