Indonesia
NovelToon NovelToon
FAIRY EN AVES

FAIRY EN AVES

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Reinkarnasi / Anak Genius / Romansa / Barat
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: NanaBwi

Aresh Keenan Gutama, memiliki takdir yang tak terduga. Ia selalu mengharapkan hal-hal yang mustahil terjadi di dunia ini.

Karena itulah ia selalu menemukan sesuatu yang Magis, tempat di mana tidak ada satu manusiapun yang bisa menemukan keberaannya. Hingga ia menemukan sesuatu yang membuatnya jatuh cinta. Tentang ia yang tidak ada di dunia, Makhluk tercantik yang pernah ia temui, makhluk terindah yang selalu ingin ia nikmati.

.

Misi mencari sayap tergelap yang pernah tercipta.
.

FAIRY EN AVES
@daynosawrush

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NanaBwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16. Hujan Tidak Selalu Menguntungkan.

"Hujan..." gumam Aresh yang sedang berdiri di depan gedung sekolahnya.

Kepalanya mengadah, tangannya terulur menerima setiap tetesan derasnya air yang turun dari langit.

lagi-lagi ia tidak membawa payung bahkan mantel, jam sudah menunjukan pukul 5 sore. Jika hari ini terus hujan, ia tidak akan dapat memenuhi janjinya lagi kepada sang kekasih.

"Gak jadi lagi nih?" tanya Fey kepada Aresh dengan raut wajah suntuknya.

Aresh menarik tangannya yang basah karena menadah air hujan di depannya. "ya gimana lagi? Next time kalo udah gak hujan, aku gak mau nantinya kamu sakit gegara kehujanan"

Pria itu tersenyum hangat kepada gadis yang berada di sampingnya.

"Tapi hari ini hari terakhir Funfire" ucap Fey yang masih kecewa.

"Kenapa pengen banget ke Funfire? Kita bisa ke lotte world"

"Bosen tau setiap jalan ke lotte world mulu" kesal Fey.

"ya terus mau kemana?" tanya Aresh seraya meraih tangan kekasihnya kemudian memasukannya kedalam saku jaket hoodienya.

"Ke bukit yang ada di deket dermaga, katanya tempatnya bagus banget. Nanti kesana yah" kata Fey begitu antusias saat ia sedang ingin pergi ke tempat itu.

Aresh lantas mengangguk menyetujui ajakan dari kekasihnya, tidak apa sesekali pergi ketempat natural seperti itu. Kali saja ia bisa menemukan hal menakjubkan lagi seperti halnya ia menemukan Ondina malam itu. Sungguh sangat diluar dugaan sampai sekarang pun dirinya masih belum mempercayainya bahwa Ondina memanglah makhluk bersayap yang berasal dari dunia diluar bumi.

Hujan tidak kunjung mereda, Aresh mulai khawatir karena hari sudah menggelap.

"Aku pesenin taxi online aja yah, aku gak mungkin nganterin kamu pulang hujan-hujanan, aku gak bawa mantel soalnya" kata Aresh kemudian di tanggapi anggukan dan senyuman yang begitu manis dan cantik tentu saja.

Setelah beberapa saat menunggu Taxi itu datang, dengan jantan Aresh membukakan pintu dan mempersilahkan gadisnya untuk masuk kedalam mobil, tangannya dengan sigap memayungi Fey agar kepala gadis itu tidak terkena rintikan air hujan. Lantas mobil itu melaju membawa sang kekasih pulang kerumahnya.

Aresh memandang langit yang sudah menggelap, ia kemudian berlari seraya memayungi dirinya sendiri dengan tangannya menuju ke parkiran tempat dimana ia memarkirkan motornya.

Tanpa berlama-lama Aresh melajukan motornya meninggalkan area sekolahannya.

Sesampainya dirumah dengan keadaan seluruh badannya basah kuyup. Aresh memasuki rumahnya dan langsung disambut oleh bik Ai yang membukakan pintu untuknya.

"Den Aresh kenapa hujan-hujanan?" tanya Bik Ai setelah menutup kembali pintu rumah.

"ya karena hujan bik" jawab Aresh seraya sedikit terkekeh.

Bik Ai langsung memasang wajah asem karena jawaban Aresh anak dari majikannya yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri.

"Ondina kemana bik?" tanya Aresh saat melihat keadaan rumah sepi dan kosong.

"Oh, tadi habis mandi sore, Non Ondina masuk ke Kamarnya sepertinya tidur."

Aresh mengangguk, "Aresh ke kamar dulu ya bik, mau bersih-bersih"

"Ya sudah karena Den Aresh sudah pulang, Bibik pamit pulang dulu ya" pamit Ai kemudian mulai meninggalkan Aresh di dalam rumah.

Pria muda itu menuju ke kamarnya lalu mulai membersihkan diri.

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=ππππππ\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

Ondina keluar kamarnya berjalan menuju dapur, sepertinya ia sudah hafal dan terbiasa beeada di rumah Aresh. Rasanya sudah seperti rumahnya sendiri, bahkan ia lebih hafal dengan bagian rumah Aresh daripada rumahnya sendiri. Bahaimana bisa Ondina menghafal bagian rumahnya jika rumahnya begitu luas dan memiliki tempat yang bahkan Ondina sendiri tidak tau mengapa tempat itu di ciptakan. Bombarda sepertinya sangat kurang kerjaan saat menciptapkan tempat-tempat aneh yang bahkan tidak dapat Ondina masuki.

"Oh kau terbangun?" seru Aresh yang juga baru keluar dari kamarnya.

"Aku haus, jadi aku terbangun" tanggap Ondina seraya meraih gelas yang berada di atas meja kemudian mengisinya.

Aresh lantas mendekati Ondina dan ikut menuangkan air kedalam gelas kemudian menegaknya hingga tandas, "aku juga haus" pria itu menunjukan gelasnya yang sudah kosong.

Ondina terkekeh melihat tingkah Aresh yang begitu menggemaskan, "kamu lucu Aresh"

"Aku memang sudah terlahir lucu dan menggemaskan" kata Aresh tersenyum hingga menunjukan mata berbulan sabitnya itu, benar-benar memang sangat menggemaskan.

Ondina hanya berdecak namun pada akhirnya ia tidak bisa menahan dirinya untuk terkekeh rasanya ingin mencubit pipi milik Aresh. "Jika tersenyum jangan menutup matamu Aresh"

"kenapa?" gotak pria itu sontak membuka matanya.

"kau tidak takut ditinggal pergi saat kau membuka mata?" Ondina tergelak, "cobalah untuk membuka matamu saat kamu tersenyum, Aresh"

"tapi tidak apa, kau tetaplah tampan" lanjut Ondina lalu tangannya terulur menepuk pelan pipi Aresh kemudian pergi meninggalkan pria itu yang masih mematung.

Tubuhnya seolah terpaku pada perlakuan Ondina yang entah mengapa membuat jantungnya dua kali bekerja lebih cepat. Ia bahkan tidak pernah merasakaan hal seperti ini jika bersama Fey, sudah hampir satu tahun berhubungan tetapi dirinya tidak pernah mendapatkan perasaan ini.

Lalu di detik kemudian ia merasa nyeri pada dadanya, detakan jantung itu terasa menusuk begitu dalam hingga rusuknya terasa begitu linu, ia menjadi sesak. Aresh menoleh kepada gadis yang tengah duduk di sofa menghadap pada televisi yang menyala memakan makanan ringan dan asik menikmati acara ragam yang mungkin menyenangkan menurut gadis itu terlihat sangat jelas bahwa ia tertawa begitu nyaring masuk kedalam telinganya.

"Aresh! Bergabunglah!" seruan Ondina berhasil menyadarkan lamunan Aresh dan rasa nyeri itu seketika menghilang. Ia berjalan menghampiri Ondina dan duduk tepat di samping gadis itu.

"Aresh?" panggil membuat sang empu yang sudah hanyut dengan acara ragam yang di tontonnya hanya berdehm kemudian menoleh pada Ondina.

"Bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya Ondina sedikit berjaga.

"bertanya mengenai apa?" Aresh berbalik tanya.

"Aku ingin bersekolah sepertimu, apakah bisa? Aku sangat bosan berada dirumah seorang diri" pinta gadis itu masih memandang Aresh.

"Tidak bisa!" dengan tegas Aresh menolak.

Bukan, bukan ingin Aresh untuk mengekang gadis ini ia bahkan tidak memiliki hak apapun atas Ondina. Tapi meskipun asing, rasanya sangat mengkhawatirkan saja jika Ondina sampai bersekolah dan mulai mengenal dunia luar. Itu dapat membahayakan hidupnya mengingat bahwa Ondina adalah seorang Aves.

Aresh sangat mengenal dunia manusia sangatlah kejam, ia bahkan tidak bisa menebak isi pikiran manusia yang jauh dari kata baik.

"Tapi mengapa Aresh?"

"Itu membahayakanmu Ondina, aku tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Kau tau bahwa dirimu adalah Aves, jika kau tau perselisihan antara manusia dan Aves belumlah berakhir."

Iya benar, perselisihan antara manusia dengan makhluk bersayap belumlah berakhir sejak peperangan itu. Dalam dongeng yang selalu di bacakan sang bunda membuatnya percaya bahwa masih ada bekas sisanya. Itu bukanlah cerita fantasi biasa lagi saat ia melihat Ondina secara nyata, melihat makhluk bersayap yang datang mengantar gadis itu ke pijakan bumi untuk pertama kalinya.

"Ayolah Aresh, aku hanya ingin melakukan sesuatu. Aku janji jika aku sudah menemukannya aku akan berhenti dan kembali, itulah yang dijanjikan oleh Helios kepadaku." bujuk Ondina, tangannya kini sudah menggenggam lengan Aresh meminta pria itu untuk mengizinkannya pergi bersekolah.

Ini sangat beresiko, bagaimana Aresh bisa mengatasinya bahkan ini diluar kuasanya.

Aresh kembali menimang, bukankah ada baiknya jika ia membiarkan Ondina pergi bersekolah? Aresh bisa lebih mengawasi gadis ini dan tidak meninggalkan seorang diri di dalam rumahnya lalu pingsan tanpa sebab.

"Ayolah Aresh, aku berjanji tidak akan lama hanya sampai bulan purnama berakhir" Ondina kembali merengek membuat Aresh menghela pasrah.

"baiklah, tetapi setelah itu kau berjanji harus kembali."

Ondina mengangguk girang, kemudian memeluk Aresh dengan begitu erat.

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=ππππππ\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!