♠︎Historical Fiction series #01
....
Seorang gadis dengan paras ayu keturunan Jawa-Bali bernama Gentari, semenjak ia berumur 19 tahun, ia selalu bermimpi tentang dirinya yang sedang berada di abad ke-8 di setiap malamnya. Kata orang mimpi merupakan bunga tidur yang tidak begitu berarti. Namun siapa yang mengira bahwa mimpi itu adalah puing-puing ingatan masalalu yang terlupakan?
...
cover art by Ig : @kur_ku_kur & @eisa.luthfi20
On Going!
No Plagiat❌
All Rights Reserved June 2024, Eisa Luthfi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eisa Luthfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Kemarahan Rakai
...♠︎♤Ada Cinta Di Tanah Mataram♤♠︎...
"Berhenti!"
"Serahkan seluruh harta kalian!"
Raka menarik tali kudanya, hampir saja kudannya mengenai sekelompok bandit dengan pakaian serba hitam itu. Sedangkan Gentari membola kaget, ia tidak menyangka perjalanan nya akan di hadang oleh sekelompok perampok.
Raka turun dari kudanya dengan Gentari, serta membawa gadis itu menjauh.
"Kau tunggu di sini saja ya Gentari, tunggu sampai Damar datang, mengerti?"
"Iya Kangmas" Gentari berjongkok di balik semak-semak dengan tangan yang menggenggam belati kecil dengan erat. Dari sini ia bisa mengintip Raka yang sedang berkelahi dengan tidak imbang.
Kawanan bandit itu sekitar 6 orang sedangkan Raka seorang diri, namun Gentari yakin bahwa Raka pasti bisa menanganinya. Mengingat jika pria itu memiliki ilmu Kanuragan, sudah lebih dari cukup untuk menghempaskan orang-orang tamak itu.
"Ku bilang serahkan hartamu! Apa kau tuli hah?"
"Hahaha, mungkin dia hanya rakyat miskin Tuan. Mana mungkin orang seperti nya memiliki harta? Hahaha!"
"Tetapi kalau rakyat miskin, mana mungkin ia memiliki kuda dengan tubuh bagus seperti itu?"
Dalam hati Raka sangat geram, di bawah kepemimpinan nya sebagai Yuwaraja masih banyak saja orang-orang hina yang mencari harta dengan cara merampas seperti ini.
Padahal bulan lalu prajurit di Keraton sudah menangkap sekelompok bandit dan memenjarakan mereka. Tapi masih saja ada bandit-bandit lain yang masih berkeliaran.
Raka sangat marah karena banyak dari keluarga korban yang meminta keadilan kepadanya, karena bukan hanya merampas harta, para manusia ini juga sering melukai korban bahkan sampai meninggal.
Rakyat yang tidak mampu saja tetap bekerja keras demi menyambung hidup mereka, tetapi ada apa dengan orang-orang ini? Apakah mereka tidak punya hati nurani?
Bahkan Sri Maharaja Rakai Garung membebaskan para rakyatnya untuk bekerja, boleh mengabdi di Keraton, berdagang, maupun bertani. Sri Maharaja juga tidak meminta pajak yang besar, tetapi tetap saja banyak orang melakukan pekerjaan kotor seperti ini.
Ditengah fokusnya melawan para bandit, teriakan dari Gentari membuatnya lengah.
"Aaaa, tolong!"
"Gentari!"
"Kangmas awas!"
Raka kembali menghadap kedepan disaat seseorang berhasil melukai lengan atasnya menggunakan keris, ia tidak merasakan sakit. Namun darahnya merembes keluar cukup banyak. Dan itu yang membuat Gentari_yang sedang di sekap tambah menangis khawatir.
Gadis itu dengan sekuat tenaga mencengkram tangan kanan seseorang yang mengacungkan keris di lehernya, agar keris itu tidak dapat menggores lehernya.
"Diamlah, atau kau yang akan kami bawa nanti!"
Gentari geram, dengan susah payah ia mencoba melepaskan diri dengan menendang pada titik sensitif pria itu.
"Argh! Sialan kau!"
"Kangmas!"
Raka kembali menoleh ke arah Gentari, seketika membola disaat pria yang Gentari kira sudah berhasil di lumpuhkan, malah mencoba melempar Gentari dengan sebuah batu.
"Gentari!"
Gentari terpejam dengan kepala yang sudah berdenyut nyeri, ia meraba bagian belakang kepalanya yang ternyata sudah basah oleh darahnya sendiri. Ia mencoba terus berjalan ke arah Raka, namun ia tidak berhasil menjaga kesadarannya.
"Nimas!"
BRUK!
Tubuh gadis itu luruh di atas tanah. Raka yang melihat itu semakin geram, dengan cepat ia menumpaskan seluruh bandit itu seorang diri. Membuat teriakan dan rintihan menggema di dalam hutan itu.
Sedangkan disisi lain, Damar yang baru saja berkuda dengan santai sambil membawa hewan buruannya. Terkejut mendengar suara bising dari arah depan, dengan cepat ia melajukan kudanya. Ia tambah terkejut melihat pemandangan di tengah jalan itu, ada junjungannya yang sedang menghajar 5 orang bandit dengan brutal, Gentari yang tidak sadarkan diri dan..
Langsung saja Damar menarik busurnya disaat bandit terakhir mencoba menusuk Tuan nya dari belakang.
Syutt!
"Argh!"
"Yang Mulia!"
Dengan tergesa ia turun dari kudannya lalu bersimpuh di hadapan sang junjungan. "Maafkan hamba yang tidak dapat melaksanakan tugas dengan baik Gusti"
"Berdirilah Damar, yang terpenting adalah menyelamatkan Gentari saat ini!"
Sontak Damar membulatkan matanya disaat Raka melewatinya, ia ikut mendekat ke arah Gentari yang sudah tergeletak di atas tanah.
"Nimas"
"Nimas, bangunlah!"
Raka memangku Gentari lalu dengan cepat menggendongnya, ia berlari kecil kearah kudanya yang tadi ia tinggalkan.
"Minta rekan prajuritmu untuk membereskan kekacauan ini, aku akan membawa Gentari terlebih dahulu!"
"Sendika dawuh Gusti"
Damar melihat punggung sang junjungan menjauhi hutan dengan kudanya. Dalam hati ia menyesal, kenapa ia lebih mementingkan berburu daripada mengawal junjungannya?
"Hahh, Sang Hyang Karsa. Hamba telah lalai menjalankan tugas hari ini, semoga Yang Mulia dan Gentari baik-baik saja. Hamba pantas mendapatkan hukumannya."
Menghela napas, Damar kembali naik ke atas kuda menuju tempat dimana para prajurit Keraton menjaga Raka dari jauh untuk membantu membereskan tubuh-tubuh bandit yang sudah tergeletak karena pingsan, atau sudah tidak bernyawa?
....
Setibanya di pasraman, Raka langsung kembali berlari sambil menggendong Gentari dengan terus memanggil gurunya.
"Guru!"
"Guru!"
Sekumpulan murid yang sedang berlatih sontak mengalihkan pandangan karena mendengar teriakan seorang Raka. Baru kali ini mereka mendengar Raka berteriak panik seperti itu, ada apa? Batin mereka bertanya-tanya.
"Bukankan tadi ada Gentari yang di gendong oleh Kang Raka?" tanya Adiwilaga dengan seorang rekannya.
"Sepertinya begitu, hanya ada Gentari dan Dara saja wanita disini. Sedangkan Dara sedang sakit di bilik kamarnya"
Adiwilaga mengangguk membenarkan dengan netra yang masih melihat punggung Raka yang perlahan menghilang di balik pintu.
"Semuanya harap kembali fokus!" intruksi dari Guru Mahabala membuat mereka tersentak kaget.
"Saya akan mencaritahu apa yang sedang terjadi di dalam sana, kalian semua lanjutkan latihannya. Dengan dibantu para senior yang mengarahkan, mengerti?"
"Sendika dawuh guru"
Setelah seluruh anak muridnya kembali berlatih, Guru Mahabala bergegas menuju pendopo milik Resi Kripala, tempat dimana Raka membawa Gentari.
...♠︎♠︎◇♠︎♠︎...
"Oh Hyang Karsa, apa yang sudah terjadi nak?"
Resi Kripala terkejut melihat kedua muridnya yang tidak dalam keadaan baik-baik saja. Dengan cekatan ia membersihkan luka di kepala Gentari setelah Raka membaringkan nya di sebuah ranjang.
Sang guru bahkan sangat fokus walaupun sambil mendengarkan Raka yang tengah bercerita dengan khawatir.
"Tenanglah Raka, Gentari akan baik-baik saja. Sebaiknya obati juga lukamu itu, walau kau tidak merasakan sakit tetapi luka harus tetap di obati nak!"
Raka menghela napasnya samar. "Sendika dawuh guru" ia ikut mendudukan diri lalu mulai membersihkan lukanya sendiri. Raka juga mengoleskan ramuan yang sudah Resi Kripala buat di lengannya.
"Karena bagian kepala yang terkena benturan, ia pasti langsung tidak sadarkan diri seperti ini. Tapi beberapa waktu kedepan, nak Gentari pasti akan bangun"
"Nggih guru, matur suwun sanget" jawab Raka lirih.
Resi Kripala tersenyum hangat melihat kehawatiran murid yang sangat ia hormati itu.
Tidak lama kemudian ketukan di daun pintu yang terbuka membuat atensi mereka berpindah kepada Guru Mahabala.
"Ada apa Raka, kenapa kau tadi begitu risau di luar?"
"Pengapunten guru, tadi Gentari terluka karena sekelompok bandit...." Raka kembali menceritakan apa yang di alami mereka di hutan tadi.
"Ya Dewa, apakah nak Gentari terluka cukup parah?" tanya Guru Mahabala kemudian.
"Sang Hyang Karsa selalu menjaganya, ia hanya terkena luka kecil. Hanya saja mungkin sebelumnya Gentari tidak pernah mendapat luka seperti ini, jadi ia tidak sadarkan diri" ujar Resi Kripala.
"Syukurlah ya Dewa" Guru mengatupkan tangannya di atas hidung sambil terpejam.
"Biarkan Gentari istirahat dengan baik, mari tinggalkan dia disini" lanjut Resi Kripala.
"Benar, mari"
Kedua guru besar itu meninggalkan ruangan, dengan Raka yang ikut meninggalkan ruangan itu setelah menatap wajah damai Gentari cukup lama.
...♠︎♠︎◇♠︎♠︎...
Halo-haloo, Gentari dan Raka kembali setelah sekian lama. Terimakasih buat dukungannya yang membuat aku lebih percaya diri lagii! Di tunggu update selanjutnya ya, Terimakasihh :)