Indonesia
NovelToon NovelToon
SCANDAL WITH DOSEN

SCANDAL WITH DOSEN

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Hamil di luar nikah / Nikah Kontrak
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: adelita

Eleanor Widdie kehilangan segalanya setelah kematian sang ibu. Demi menyambung hidup. Melalui sahabatnya, Eleanor mendapat tawaran gila menjadi sugar baby. Awalnya terpaksa memberikan tubuhnya pada pria yang bahkan lebih pantas menjadi ayahnya sendiri. Namun ia tak pernah menyangka, pria yang mengayomi kehidupannya adalah dosen killer yang disegani di kampus. ⸻ “Aku tidak menyangka pria dingin yang terkesan setia bisa merasakan kesepian dalam pernikahannya.” — Eleanor Widdie “Kau tidak perlu ikut campur dalam urusanku. Cukup buat dirimu berkesan di hadapanku, dan aku akan memberikan semua yang kau inginkan.” — Adrian Hale

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adelita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 16

Pagi itu di mansion  berjalan seperti biasa—tenang, tertata, dan nyaris tanpa gangguan. Sinar matahari masuk melalui jendela-jendela besar ruang makan, memantulkan cahaya hangat di atas meja panjang yang telah tertata rapi dengan berbagai hidangan.

Di ujung meja, Eleanor duduk dengan sikap yang masih sedikit kaku. Meski sudah hampir 1 mingguan berada di rumah itu, ia belum sepenuhnya merasa menjadi bagian dari suasana tersebut. Namun setidaknya... ia merasa aman.

Di sampingnya, duduk Marlina yang sesekali memperhatikan piringnya, memastikan ia tidak kekurangan apa pun. Sementara di kursi utama, Melinda duduk dengan anggun, menikmati teh paginya dengan tenang.

Suasana pagi itu nyaris damai—

Hingga tiba-tiba suara langkah tergesa terdengar dari arah ruang depan.

"ADRIAN DIMANA KAMU!!" suara perempuan menggema, terdengar kesal dan tidak sabaran.

Eleanor yang sedang mengangkat sendoknya langsung terhenti.

Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.

Tak lama kemudian, suara yang sama terdengar lagi, kali ini lebih dekat.

"Di mana Adrian?!" bentaknya.

Beberapa pelayan terlihat saling pandang sebelum salah satu dari mereka menjawab dengan hati-hati.

"Maaf, Nyonya... Tuan Adrian tidak berada di sini."

"Tidak ada?" ulang perempuan itu, nadanya meninggi. "Bagaimana bisa tidak ada?!"

Eleanor menelan ludah.

Nama itu—Adrian.

Tangannya sedikit gemetar. Ia menunduk, mencoba tetap tenang, meskipun pikirannya mulai berlari ke mana-mana.

Adrian... siapa Adrian? Nama itu terlalu familiar.

Namun ia mencoba menyangkal dalam hati.

"Tidak mungkin... mungkin hanya kebetulan nama saja..."

Di ujung meja, Melinda menghela napas pelan, jelas terganggu dengan keributan tersebut.

"Marlina," ujarnya dengan nada datar, "urus menantumu itu."

Marlina langsung menoleh. "Baik, Ma." Ia berdiri, lalu sempat melirik Eleanor.

Marlina pun beranjak pergi menuju ruang depan.  kini tersisa Eleanor dan Melinda di ruang makan. suasana kembali hening... namun terasa canggung.

Melinda menyesap tehnya, lalu melirik Eleanor sekilas.

"Maaf ya, Sayang. " ucapnya santai. "Sudah biasa. Cucu menantu saya itu memang... suka membuat keributan."

Eleanor tersenyum tipis, mencoba sopan. "Tidak apa-apa, Nek."

"Suaminya juga." lanjut Melinda, sedikit mendengus.

"Jarang sekali pulang. Entah apa yang dia lakukan di luar sana."

Jantung Eleanor kembali berdegup. Namun ia tetap diam. Tidak berani bertanya.

Sementara itu, di ruang tamu—

Gabriela duduk dengan gelisah di sofa, tangannya menggenggam cangkir teh yang baru saja disajikan, namun tidak ia sentuh sama sekali.

Wajahnya menunjukkan kekesalan yang nyata.

Begitu Marlina datang, Gabriela langsung menatapnya tajam.

"Mami," ujarnya tanpa basa-basi, "Adrian benar-benar tidak pulang ke sini?"

Marlina duduk di hadapannya dengan tenang. "Tidak, Gaby. Sudah seminggu ini dia tidak kembali."

Gabriela menghela napas panjang, lalu meletakkan cangkirnya dengan sedikit keras.

"Lihat kan?" katanya dengan nada kesal. "Aku sudah bilang! Dia itu benar-benar tidak perduli sama aku Ma!"

Ia mulai berjalan mondar-mandir.

"Aku ini istrinya, Mami!" lanjutnya. "Aku menunggu dia di rumah, aku sudah mengurangi pekerjaanku demi dia, aku berusaha jadi istri yang baik—melayani dia, mengurus rumah—"

Nada suaranya mulai bergetar.

"Tapi apa yang aku dapat?" lanjutnya. "Tidak ada kabar sama sekali! Aku hubungi dia, tidak diangkat! Aku chat, tidak dibalas!"

Ia tertawa pahit. "Dia itu maunya apa, sih?"

Marlina menghela napas pelan. "Gaby... coba kamu pikirkan baik-baik. Apa tidak ada sesuatu yang membuat Adrian merasa tidak nyaman?"

Gabriela langsung menoleh tajam. "Maksud Mami?"

"Mungkin tanpa kamu sadari," lanjut Marlina hati-hati, "ada sikap atau keadaan yang membuatnya menjauh."

Gabriela menggeleng keras. "Tidak ada, Mami!"

Ia mendekat, suaranya meninggi lagi.

"Kami tidak pernah berselisih, kecuali yang terakhir itu!" katanya. "Dan itu pun aku sudah mengalah! Aku sudah mengurangi pekerjaanku seperti yang dia mau!"

Ia menahan napas, emosinya semakin memuncak.

"Tapi malah dia yang berubah!" lanjutnya. "Dia tidak pulang, tidak ada kabar, hilang begitu saja seperti tidak punya istri!"

Matanya mulai berkaca-kaca.

"Aku capek, Mami..." bisiknya. "Aku benar-benar capek..."

Marlina menatapnya dengan lembut.

"Tenang, Sayang," ujarnya. "Nanti Mama akan bicara dengan dia."

Gabriela menatap penuh harap. "Benar, Ma?"

"Iya," jawab Marlina. "Mama akan telepon dia. Suruh dia pulang."

Gabriela mengangguk pelan.

" Tolong kasih tahu Mas Adrian Mami, mau sampai kapan hubungan seperti ini? aku juga punya kehidupan sendiri."

"Kalau begitu... aku pulang dulu," katanya. "Aku sudah tidak tahan di rumah sendirian seperti itu."

"Baik. " sahut Marlina. "Hati-hati di jalan."

Gabriela berdiri, merapikan tasnya, lalu berjalan keluar.

Di saat yang bersamaan—

Eleanor baru saja keluar dari ruang makan.

Langkahnya pelan, namun hatinya masih dipenuhi rasa tidak nyaman sejak mendengar nama itu.

Ia berniat kembali ke kamar.

Namun— Langkahnya terhenti. Dari kejauhan, ia melihat sekilas sosok perempuan yang berjalan keluar dari ruang tamu.

Eleanor menyipitkan mata, mencoba melihat lebih jelas.

Namun sebelum ia sempat memastikan— Perempuan itu sudah berbalik dan berjalan menuju pintu utama..

Hanya siluetnya yang sempat tertangkap. Eleanor berdiri diam. Perasaannya tiba-tiba tidak enak. Ada sesuatu yang mengganjal. Namun ia tidak tahu apa.

Di sisi lain— Gabriela melangkah keluar dari mansion, masih dengan perasaan kesal yang belum reda. Tanpa ia sadari— Di dalam rumah itu, hanya beberapa meter darinya— Ada seseorang yang seharusnya tidak berada di sana.

1
D_wiwied
secara ga sengaja Ele mlh msuk ke penjara 😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!