Indonesia
NovelToon NovelToon
Biarkan Aku Bahagia

Biarkan Aku Bahagia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Murni
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Imas Yunaeni

"Aku mencintai tubuh mu"

Satu kalimat yang begitu menyakiti hati Nabilla, cinta tulusnya tidak berarti apa-apa bagi Axel.

Hubungan yang diinginkan semanis cerita novel, nyatanya tak bisa Nabilla dapatkan dari Axel.

Hingga Nabilla bertemu dengan Raffa yang tak lain adalah adik kandung Axel, perlahan hidupnya dirasa berubah, luka yang kerap menyelimutinya perlahan memudar.

Namun hal manis itu tak selurus jalan tol, Nabilla justru terjebak dalam dendam kakak beradik tersebut.

Terjerat cinta Raffa, justru membuat keadaan semakin tak karuan karena Axel yang tak pernah bisa melepaskannya.

Dengan siapa Nabilla akan mendapatkan kebahagiaan impiannya, jalan dan langkah seperti apa yang akan Nabilla putuskan demi meraih kisah cinta semanis novel cinta dambaannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imas Yunaeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kau Teman Ku?

Beberapa hari Axel bertahan di rumah sakit, sampai hari ini dokter masih belum mengizinkannya untuk pulang.

Karena itu, Nabilla juga mengabaikan pekerjaannya sendiri, ia benar-benar menemani Axel di rumah sakit setiap waktunya.

"Kamu mau makan sekarang?" tanya Nabilla.

"Boleh saja."

Nabilla tersenyum, ia mengambil kotak makan yang dibawanya, setiap hari Nabilla memang membawakan makanan untuk Axel.

Satu sisi Nabilla merasa senang karena dengan keadaan Axel yang seperti itu, Nabilla merasa hubungannya menjadi hangat dan penuh ketenangan.

"Aku suapi ya."

"Terimakasih."

Nabilla mengangguk, seperti biasanya Nabilla memang selalu menyuapi Axel makan selama ada di rumah sakit.

Nabilla merasa itu momen manis, yang tak pernah terjadi sebelum Axel masuk rumah sakit seperti sekarang.

"Permisi."

Keduanya menoleh bersamaan, Nabilla tersenyum ia segera salam saat Renata sampai di sampingnya.

"Bagaimana keadaan kamu, Axel?"

"Aku baik-baik saja, bukankah sudah sering aku katakan kalau aku baik-baik saja."

Renata mengangguk, baguslah kalau memang seperti itu, lagi pula memang itu yang diharapkannya selalu.

"Tante, hanya sendiri kesini?"

"Sendiri saja, mau sama siapa lagi, Om kan harus bekerja."

Nabilla mengangguk, benar juga, jangan seperti Nabilla yang justru mengabaikan pekerjaannya sendiri.

"Kamu sedang makan, biar Mami yang suapi kamu."

"Emmm, ide yang bagus," ucap Nabilla.

Ia bangkit dan membiarkan Renata duduk di tempatnya, lantas memberikan kotak makannya pada Renata.

"Aku ke luar sebentar ya," ucap Nabilla.

"Mau kemana?" tanya Axel.

"Sebentar saja, aku haus mau beli minuman."

"Hati-hati," ucap Renata.

Nabilla mengangguk, ia lantas berlalu meninggalkan keduanya, Nabilla memang haus sekali dan malas minum air putih yang tersedia di dalam.

Kringgg ....

Langkahnya terhenti, Nabilla membuka ponselnya, ada panggilan masuk dari Stefi.

"Jangan bilang kalau ada masalah."

Nabilla lantas menjawabnya, ia diam saja menunggu Stefi bicara lebih dulu padanya.

"Tidak masalah, lakukan saja, selagi bisa kamu lakukan sendiri lakukan saja."

Nabilla tersenyum, wanita itu memang sangat bisa dipercaya, Nabilla tidak perlu repot bolak-balik kantor jika saat genting seperti saat ini.

"Oke, kabari lagi nanti kalau memang ada kendala, terimakasih."

Nabilla menutup sambungannya, berhari-hari tak mengunjungi kantor, tak lantas membuat semuanya berantakan.

Urusan kantor bisa diatasi oleh sekretarisnya itu, Nabilla bisa tetap menjalani harinya dengan lebih tenang.

"Nabilla."

Nabilla menoleh, ia tersenyum seraya melambaikan tangannya, ekspresi senangnya tidak bisa ditutupi sama sekali.

Sejak makan siang kala itu, Nabilla belum lagi bertemu dengan Selly, dan baguslah kali ini wanita itu datang menemuinya.

"Apa kabar kamu?" tanya Nabilla seraya memberikan pelukan sesaat.

"Aku yang harus bertanya kabar mu, kemana saja kau menghilang?"

"Aku baik-baik saja, bahkan aku merasa lebih baik sekarang."

"Bagaimana bisa, Axel gimana?"

"Dia di dalam sama Maminya, kamu masuk saja kalau mau masuk."

Selly menggeleng, ia akan masuk kalau Nabilla masuk, tapi sepertinya Nabilla justru mau keluar.

Nabilla tampak mengusap tenggorokannya, kering sekali dan membutuhkan minuman segar sekarang juga.

"Kamu mau masuk atau tidak?" tanya Nabilla.

"Ya ayo masuk, kamu juga mau masuk kan?"

"Aku mau beli minum dulu, biarkan saja Axel sama Maminya dulu, mereka baru bertemu."

"Ah ya sudah, aku ikut dengan mu saja."

Nabilla tersenyum seraya mengangguk, itu lebih baik agar tak bingung juga kalau masuk sendirian.

Keduanya sama-sama pergi menjauh dari ruang rawat Axel, sedikit menghirup udara bebas di luar saja untuk sesaat saja.

 

Riko membuka pintu rumah, ia diam melihat Raffa yang ada dibalik pintunya.

"Kau?"

Sesaat kemudian tampak Putri yang menghampiri, wanita itu tersenyum seraya menaik turunkan alisnya.

"Ada apa?" tanya Riko.

"Sepertinya lelaki ini butuh curhat sama kamu, dan aku rasa memang itu sudah seharusnya."

"Kenapa?"

Putri mengangkat kedua bahunya sekilas, ia tidak akan bicara apa pun, biar nanti Raffa saja yang cerita semuanya.

"Baiklah, ayo masuk," ajak Riko.

Keduanya masuk mengikuti langkah Riko, mereka duduk bersamaan.

"Bi, bawakan minum," ucap Riko.

Putri mengangguk, ia melirik Raffa sekilas, kasihan sekali lelaki itu, ia benar-benar diasingkan oleh semua orang.

Tapi semoga saja akan ada solusi setelah ini, Riko nungkin bisa jadi tempat terbaik untuk cerita masalah Raffa.

"Ada apa ini, kalian tidak bekerja?" tanya Riko.

"Aku sedang ambil cuti, hari ini dan besok, kalau Raffa memang sudah mengundurkan diri dari pekerjaannya."

"Kenapa?"

"Mungkin ingin fokus pada masalahnya."

Riko diam, mereka menoleh bersamaan saat mbak rumah menghidangkan suguhannya.

Gerak cepat sekali, dan lumayan lengkap juga hidangannya, Putri tanpa permisi langsung meneguk minumnya.

"Masalah apa, kusut sekali muka mu."

Putri melirik Raffa, terkadang muka seperti itu terasa lucu bagi Putri, tapi memang menyedihkan juga.

"Aku tidak mengerti harus bagaimana."

"Bagaimana, tentang apa?"

Raffa justru melirik Putri, ia memang butuh bantuan tapi rasanya malas sekali untuk banyak bicara.

Putri menghembuskan nafasnya pasrah, jadi harus dirinya yang bicara, menyesal sekali ia ikut masuk.

"Jadi, Raffa ada masalah sama keluarganya, dia ada ribut sama Axel, kamu tahu kan?"

"Axel," ucap Riko seraya mengangguk.

"Beberapa waktu lalu, Raffa gak sengaja memukul kepalanya Axel, niatnya mau pukul lengan ya Raff?"

Raffa mengangguk pasti, Putri turut mengangguk juga.

"Niatnya mau pukul lengan, tapi malah kena kepala, Axel pingsan dan saat diperiksa katanya Axel kehilangan sebagian memori ingatannya, dan Raffa tetap merasa kalau pukulannya itu tidak akan sampai membuat Axel hilang ingatan, tapi gak ada yang mau percaya."

"Kenapa gak diperiksa ulang?"

"Raffa sudah berusaha untuk itu, tapi Dokternya selalu ada alasan untuk menolak, dan karena itu juga keyakinan Raffa makin kuat kalau memang ada kesalahan dari pemeriksaan itu."

Riko tampak diam, ia berusaha mencerna semua kalimat Putri, mana mungkin Riko menganggap kalau itu pemalsuan data.

Riko memiliki teman dibidang kedokteran, dan sepertinya semua bekerja seperti seharusnya, jadi seharusnya dokter Axel juga melakukan hal yang sama.

"Gak coba dibawa ke Rumah Sakit lain?"

"Gak ada yang membolehkan itu dilakukan."

"Siapa?"

"Semuanya, keluarga kamu kan Raff?"

Raffa mengangguk, Riko turut mengangguk, apa lagi itu, masa iya Riko harus berfikir kalau keluarganya juga membodohi Raffa.

"Mungkin kamu punya solusi untuk ini?"

"Kenapa kamu bisa pukul dia?"

"Dia hendak menyakiti Ibu ku, bagaimana bisa aku membiarkan itu terjadi."

Riko dan Putri saling lirik, entahlah Putri juga tidak tahu persis permasalahannya seperti apa.

Satu yang bisa Putri tangkap dari masalah itu, hanya ketidak baikan hubungan Raffa dan Axel, selebihnya tidak ada yang bisa dimengerti olehnya.

"Aku bukan Detektif, apa yang aku harus lakukan sekarang."

"Kamu selalu punya solusi kalau aku ada masalah, kenapa kamu tidak coba bantu Raffa juga."

"Ya tapi ini masalah keluarga."

"Lupakan keluarganya, intinya adalah Raffa dan Axel juga Dokter itu."

Riko mengernyit, ia kembali diam bergelut dengan fikirannya, apa yang harus dilakukannya kalau soal keluarga orang lain.

Putri menghembuskan nafasnya berat, apa mungkin langkahnya akan sia-sia saat ini, padahal Putri sudah sangat berharap untuk hasil baiknya.

"Bawa saja Raffa periksa ke tempat lain, kalau memang tidak diizinkan juga, kamu bawa saja Dokter lain untuk memeriksanya."

"Aku tidak punya kenalan Dokter," ucap Raffa.

"Aku ada kalau kamu mau, tinggal bilang saja kapan waktu dibutuhkannya."

Raffa menoleh, ia diam menatap Riko, apa itu bisa jadi solusi terbaik untuk masalahnya saat ini.

Mungkin saja mereka akan menghalangi dokter itu untuk memeriksa Axel, dan pada akhirnya akan sia-sia juga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!