Indonesia
NovelToon NovelToon
Menjadi Istri Kedua

Menjadi Istri Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Romantis
Popularitas:34.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nur Alquinsha

Menjadi istri kedua adalah hal yang tidak pernah Shakila bayangkan terjadi dalam hidupnya. Tapi, demi membantu pasangan yang belum dikaruniai anak, Shakila menikah dengan Abian Devan Sanjaya.

Abian adalah pria saleh yang paham ilmu agama, baik dan penyayang. Abian sudah menikah 5tahun dengan Zahra, sayangnya mereka belum juga dipercaya untuk memiliki anak.

Shakila menikahi Abian hanya untuk memberi Abian anak. Tapi, Abian mengaku mencintai Shakila dan mengatakan tidak akan ada perceraian diantara mereka.

Bagaimana kisahnya? ikuti terus ya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Alquinsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 • Geng motor

Abian membawa kantong belanjaan ke dalam rumah, menyusun semuanya di dapur seperti yang biasa dilakukannya. Abian memastikan semua tersimpan di tempat yang seharusnya, supaya Zahra juga tidak bingung mencarinya.

Abian memakai jasa asisten rumah tangga di rumahnya, tapi hanya sebatas membersihkan rumah dan urusan mencuci, sementara untuk memasak Abian dan Zahra lakukan bersama.

Abian dan Zahra saling berbagi tugas setiap hari. Pagi Abian menyiapkan sarapan, siang Zahra memasak untuk dirinya sendiri, untuk malam Abian dan Zahra memasak bersama.

Abian harus memastikan semua tersimpan di tempat yang seharusnya, untuk memudahkan Zahra mencari bahan makanan untuk masak. Bahkan, Abian menuliskan note 'untuk istriku tercintai' sebagai tanda makanan untuk Zahra.

Abian menyeka keringat di pelipisnya. Belanja dan menyusun belanjaan saja rasanya sangat melelahkan. Abian sampai berkeringat hanya karena dua hal yang sering dikerjakan wanita.

"Romantis banget ya, suami belanja, istri tidur."

Abian menoleh pada Adiba. Adik Abian belum pulang ke Sukabumi karena ingin genap satu minggu tinggal di Ibukota bersama kakaknya.

"Oh ya, mas membeli susu kesukaanmu, mas simpan di kulkas, nanti tinggal ambil saja ya."

"Kenapa mas tiba-tiba jadi baik?" tanya Adiba curiga. "supaya aku menerima mba Kila, huh?"

"Kalau kamu tidak mau, yasudah." ucap Abian enteng. "mas bisa meminum susunya sendiri."

"Jangan! lagipula mas tidak suka susu, kan?"

"Kata siapa mas tidak suka susu, hum?" Abian membereskan kantong belanjaan yang sudah kosong dan Abian simpan ke dalam laci dapur.

"Tidak baik mengambil kembali yang sudah mas berikan padaku!" Adiba mengingatkan.

"Bukan mas yang mengambil kembali, kamu yang menolak pemberian mas." sahut Abian.

Adiba tidak peduli. Membuka kulkas mencari susu yang kakaknya maksud dan benar susu itu adalah susu rasa pisang kesukaan Adiba.

"Aku tidak menolak susunya. Makasih, mas."

Abian tersenyum melihat adiknya duduk di meja makan meminum susu pemberiannya.

"Mba Kila mau kesini." Abian memberitahu.

"Mas mohon, jangan bicara buruk padanya."

Adiba melirik Abian. Mengetahui kakaknya mengkhianati cinta Zahra, membuat Adiba kesal dan marah, tapi Adiba tahu perasaan adalah hal yang sulit untuk kita kendalikan.

Adiba tidak bisa menyalahkan Abian, tidak pantas untuk berbicara buruk pada Shakila.

"Akan aku usahakan." ucap Adiba tak acuh.

Adiba tidak jahat dan tidak mungkin bicara buruk di depan kakak iparnya. Adiba hanya ingin kakaknya ini menyadari kesalahannya.

Perasaan memang sulit dikendalikan, namun dalam islam pria diwajibkan untuk menjaga pandangannya dari yang bukan mahramnya.

Saat seorang pria mudah untuk jatuh cinta karena tidak bisa menjaga pandangan dari yang bukan mahramnya, bukankah pria itu salah? perasaan tidak salah, tapi si pemilik perasaan salah tidak menjaga pandangan.

"Tolong jangan menyakiti perasaan mba Kila."

Adiba menatap Abian sepenuhnya karenanya.

"Mas tahu? mas sendiri yang menyakiti mba Kila dengan memberikan status istri kedua?"

Adiba menatap kakaknya, menunggu jawaban.

"Mas tahu sebutan untuk istri kedua? pelakor, wanita murahan, penggoda suami orang lain!"

"Mba Kila bukan wanita seperti itu!" Abian menekankan, mulai terpancing amarahnya.

"Tapi status yang mas berikan pada mba Kila membuatnya akan dipandang seperti itu oleh orang lain!" sahut Adiba mengingatkan Abian.

"Mas tidak mencoba berpikir mba Kila bisa mendapatkan pria yang lebih baik dari mas dan yang belum memiliki istri seperti mas?"

Abian meneteskan air matanya. Abian tentu memikirkan itu, Shakila bisa mendapat pria yang lebih baik darinya dan belum menikah.

Tapi, ketika ummanya mengenalkan seorang wanita padanya, Abian tidak memikirkannya lagi karena yang Abian pikirkan hanya Zahra.

Zahra sedang sakit, Abian harus lebih banyak menghabiskan waktu untuk menemani Zahra.

Shakila akan mengerti, tanpa perlu penjelasan bahwa Zahra sakit, tapi wanita lain tidak akan mengerti meskipun Abian jelaskan kondisinya.

"Mas, Diba, ada apa?" tanya Zahra terbangun karena mendengar keributan dari arah dapur.

"Kenapa mas menangis, hm?" Zahra kembali melihat air mata di wajah suami tercintanya.

Abian menahan tangan Zahra saat tangan wanita itu berniat menghapus air matanya.

"Maaf, kamu terbangun karena kami?" Abian mencium tangan Zahra dengan penuh kasih sayang. Abian sudah salah menikahi Shakila, namun Abian melakukannya demi wanita ini.

Abian memegang wajah Zahra dan mencium keningnya. "duduklah, mas ambilkan minum untuk mu. Mas tadi membeli teh hijau, mau?"

"Mas ..."

"Mas dan adik mas hanya cekcok saja sedikit, tapi kamu tidak perlu khawatir ya." jelas Abian.

"Tapi kenapa tadi mas sampai menangis hm?"

"Mas Abian menangis karena aku mengatakan mba Shakila bisa mendapatkan pria yang lebih baik darinya." Adiba membantu menjawabnya.

"Hati-hati saja nanti mba Shakila melirik pria lain. Kalian menikah hanya untuk anak, kan?"

Zahra melirik Abian saat suaminya itu sudah berhasil membantunya duduk di meja makan.

"Tidak apa-apa mba Kila melirik pria lain, yang jelas hanya mas suami mba Kila." sahut Abian kemudian mengambil air minum untuk Zahra.

"Memang semua pria berpikir hanya mereka yang bisa mendua? padahal wanita juga bisa!"

Abian menatap adiknya tajam, tidak percaya Adiba akan berbicara seperti itu terhadapnya.

"Mas tahu kenapa wanita lebih banyak yang setia dibanding pria? karena setia itu mahal!"

Abian memberikan gelas minum pada Zahra, berusaha untuk mengabaikan ocehan Adiba.

"Dan mas tahu kejamnya wanita? pria bisa mencintai banyak wanita, tapi wanita bisa dekat dengan banyak pria tanpa mencintai."

"Kamu belajar kata-kata itu darimana, huh?"

"Aku belajar dari novel." jawab Adiba enteng.

"Mas akan minta mas Adam untuk membuang novel kamu." Abian ikut duduk di meja makan.

"Kamu mau makan buah tidak?" tawar Abian pada Zahra, mengabaikan wajah kesal Adiba.

Padahal, buah-buahannya berada di hadapan mereka dan Zahra tinggal mengambilnya saja.

"Aku mau jeruk, mas." ucap Zahra menghargai tawaran suaminya. "mas habis belanja, heh?"

"Iya, mas belanja tadi." Abian mengambil jeruk dan mengupas jeruk itu untuk istri tercintanya.

"Aku akan marah kalau mas sampai meminta mas Adam membuang novelku." ancam Adiba.

"Kamu mengancam mas?" tanya Abian melirik sebentar adiknya dan menyuapi istrinya jeruk.

"Aku serius!" ucap Adiba penuh penekanan.

"Istighfar, jangan marah-marah. Mas hanya bercanda." Abian kembali menyuapi Zahra.

"Kalian tidak bisa berhenti hm?" tanya Zahra.

"Tidak tahu. Adiba tuh, dari sejak mas pulang marah-marah terus." Abian membela dirinya.

"Itu karena mas memang pantas aku marahi."

"Kamu dengar sendiri, sayang?" tanya Abian menatap Zahra untuk mendapat pembelaan.

"Mas, kamu bukan anak kecil. Mengalahlah."

Abian hanya mengangguk seperti anak kecil yang sedang menerima nasehat dari ibunya.

"Kamu sudah menelpon Arsen? tanyakan dia dimana sekarang?" tanya Zahra mengalihkan.

"Belum, nanti mas telpon ya." jawab Abian.

°°°°°°°°°

Arsen mengerem mobilnya mendadak saat tiba-tiba saja sekelompok orang mencegat jalannya. Mobil mereka dikelilingi oleh geng motor yang tidak tahu darimana datangnya.

Mereka berada di jalanan yang sepi dalam perjalanan pulang dari Bandung ke Jakarta.

"Kalian berdua baik - baik saja?" tanya Arsen memastikan keadaan dua wanita di bangku belakang. Belum sempat mereka menjawab, tiba-tiba kaca mobil digedor oleh seseorang.

Arsen panik. Bukan karena takut pada orang diluar, tapi karena kedua wanita bersamanya.

"Kalian tunggu disini! jangan ada yang keluar dari mobil!" perintah Arsen pada dua wanita yang anehnya tidak terlihat panik sedikit pun.

"Turunkan kaca mobilnya, tidak perlu keluar."

"Tapi-"

"Kamu tidak akan bisa menghadapi mereka."

Resiko menurunkan kaca mobil lebih besar dibandingkan Arsen harus keluar dari mobil, karena ada wanita yang harus Arsen jaga di dalam mobil itu. Tapi tidak bisa membantah.

"Pak Arsen!" Arsen hampir saja menurunkan kaca mobil, tapi Arsen memilih untuk keluar.

Shakila mengepalkan tangan. Shakila panik dan takut, hanya wajahnya saja yang tenang.

Ketika seseorang sering mendapat tekanan, dia akan lebih tenang menghadapi sesuatu.

Tapi, ketenangan itu hanya yang terlihat oleh orang lain, kenyataannya berbeda dari yang terlihat. Sebenarnya ketenangan itu tidak ada.

"Ibu tunggu disini, aku akan keluar membantu pak Arsen." ucap Rahma saat melihat bosnya pucat. Rahma tahu bosnya sedang ketakutan.

"Tidak apa-apa, kita akan baik-baik saja. Ibu harus tenang oke?" ucap Rahma meyakinkan.

Rahma melihat Arsen dipukul oleh salah satu dari geng motor dan itu membuatnya bingung.

"Ibu tidak apa-apa aku tinggal sendiri disini?"

"Kita keluar bersama." jawab Shakila menatap keluar mobil, dimana Arsen sedang melawan geng motor yang menghadang mereka. Arsen bisa bela diri, tapi lawan Arsen terlalu banyak.

"Ibu disini saja, jangan keluar." saran Rahma.

"Aku harus ikut denganmu. Atau, aku telpon suamiku?" Shakila meraih ponselnya dari tas.

Saat Shakila hampir berhasil menelpon Abian, ponselnya direbut begitu saja oleh seseorang.

...~ Bersambung...

1
Suryadi Nur
kapan apdet lagi masih ditunggu lho
Tri Ayu Ramadani
kk kapan upnya
⋆ ˚。⋆୨ Light 🧸 ୧⋆ ˚。⋆: Aku udah nulis, tapi belum di posting. Insyaallah secepatnya
total 1 replies
Siti Maskanah
kok g ada lanjutannya thor
sofi_mama_azka_dito
hubungan yg rumit
Tri Ayu Ramadani
lama bener apdetnya smpai lupa sm ceritanya
Suryadi Nur
Thor kelamaan nunggu apdetnya
Tri Ayu Ramadani
lanjut
Kasna Wati
zahra berpikirlah untuk berobat dan jauhkan diri dari abian
Kasna Wati
jauhkan dirimu zahra dari abian biar seru
Kasna Wati
sembahlah zahra kamu pasti sembuh .sesudah sembuh hindarilah abian biar kamu hidup tenang dan bahagia. jangan lagi pikir abian yang sudah sangat keterlaluan
Tri Ayu Ramadani
lanjut dong thor seru ceritanya
Nissa Mahbub Mazin
ko Aku pengin si zahra menjauh dulu dari Abian...
Thor kabulkanlah permintaan ku ya😊
⋆ ˚。⋆୨ Light 🧸 ୧⋆ ˚。⋆: doanya yang baik-baik biar dikabulin 🤣
total 1 replies
Kasna Wati
klo cerita ingin trus gak seru
Kasna Wati
semoga cepat sembuh zahra dan tinggalkan abang pria gak da perasaan. thor buatkan zahra berobat keluar negeri tampa sepengetahuan abang biar seru ceritanya. Abian biar tinggal bersama shakila bersenang-senang. nanti sesudah sembuh zahra harus menghilang biar abang hidup dalam penyesalan.
⋆ ˚。⋆୨ Light 🧸 ୧⋆ ˚。⋆: Pesannya gak nyampe kalau dibikin kayak gitu
Tenang, ini baru pemanasan 🤣
total 1 replies
Nissa Mahbub Mazin
semoga zahra sembuh dan pergi ninggalin Abian...
sakit hati aku sama Abian..
⋆ ˚。⋆୨ Light 🧸 ୧⋆ ˚。⋆: semoga abian cepet sadar biar gak ditinggalin ya 😄
total 1 replies
Kasna Wati
buat aja thor zahra sakit parah dan abisnya lingkung ,gimana nanti bisa dia tahan nafsu birahinya sama istri kedua sedangkan zahra lagi sakit tak berdaya. Dasar laki2 gak punya perasaan
Tri Ayu Ramadani
kpn up lagi kk
Kasna Wati
ah lebay kliatan pergi aja jauh
Tri Ayu Ramadani
lanjut
Pipit Sopiah
lama juga ga apa killa,, represing dan hilangkan masalah sama suamimu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!