Indonesia
NovelToon NovelToon
Ansan'S New Law

Ansan'S New Law

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Preman / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Alzahraira Nur

like,follow and komentarnya ya

Di SMA Kota Ansan, hukum rimba adalah satu-satunya aturan yang berlaku. Koridor sekolah bukan lagi tempat belajar, melainkan arena perburuan di mana si kuat menindas si lemah tanpa ampun. Para guru telah angkat tangan, membiarkan kebrutalan murid-muridnya melampaui batas—mulai dari perkelahian berdarah hingga gaya hidup bebas yang merusak.
​Namun, ketenangan semu para penguasa sekolah terusik saat seorang murid pindahan menginjakkan kaki di sana. Dia tidak datang untuk tunduk, melainkan untuk meruntuhkan hierarki kekerasan yang sudah mengakar. Bisakah satu orang mengubah kegelapan Ansan, atau justru ikut tertelan di dalamnya?
cerita mengandung unsur kekerasan dan bijaklah saat ingin membacanya..
ikuti kisahnya hanya di novel ku

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alzahraira Nur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Badai Hitam di Pelabuhan Ansan

​Malam itu, Ansan diselimuti kabut tebal yang tidak biasa. Cahaya mercusuar di pelabuhan tua hanya mampu menembus tipisnya udara yang terasa berat dan dingin. Selama satu tahun terakhir, pelabuhan ini telah menjadi wilayah damai di bawah perlindungan Red Blood. Tidak ada lagi transaksi ilegal, tidak ada lagi kekerasan jalanan. Baron telah berhasil mengubah kota ini menjadi tempat yang jauh lebih baik.

​Namun, kedamaian itu hanyalah ilusi yang rapuh.

​Sebuah kapal kargo tanpa bendera, berwarna hitam legam, merapat ke dermaga nomor 9. Mesinnya tidak bersuara, hanya riak air yang menandakan kehadirannya. Dari lambung kapal yang terbuka, sesosok pria melangkah keluar. Ia mengenakan jubah tempur taktis yang berat, langkah kakinya menciptakan dentuman logam yang solid di atas aspal dermaga.

​Dia adalah Jax, atau sekarang, ia hanyalah Nemesis.

​Pembersihan Tanpa Suara

​Sepuluh anggota Red Blood yang sedang berpatroli di area gudang tidak menyadari kedatangannya. Mereka sedang tertawa kecil, membicarakan rencana makan malam setelah shift berakhir. Tiba-tiba, lampu di area dermaga meledak satu per satu secara berurutan.

​Pyar! Pyar! Pyar!

​"Apa itu?! Siapa di sana?!" teriak salah satu penjaga sambil mengokang senjatanya.

​Dalam kegelapan, sepasang mata merah menyala muncul. Itu adalah lensa sensor termal di balik topeng besi Jax. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Jax melesat. Kecepatannya kini sudah melewati batas biologis manusia akibat modifikasi satu tahun di laboratorium The Eclipse Syndicate.

​CRASH!

​Jax menghantam penjaga pertama dengan bahunya. Kekuatan itu begitu besar hingga tubuh pria itu terpental sejauh lima meter dan menghantam kontainer baja hingga penyok. Sebelum penjaga kedua sempat menarik pelatuk, Jax sudah berada di belakangnya. Dengan satu gerakan tangan yang dilapisi armor karbon, ia mematahkan leher pria itu tanpa belas kasihan.

​Krak!

​Suasana menjadi sangat brutal. Jax tidak lagi bertarung dengan gaya preman sekolah. Gerakannya efisien, mematikan, dan sangat dingin. Ia merebut sebuah pipa besi yang ada di dekatnya, lalu melemparkannya seperti tombak. Pipa itu menembus dada salah satu penjaga hingga tertancap di dinding kayu di belakangnya.

​Hanya dalam waktu kurang dari tiga menit, sepuluh pria terlatih itu tergeletak tak bernyawa. Jax berdiri di tengah genangan darah, napasnya tetap teratur. Di telinganya, suara sang Direktur Eclipse bergema melalui komunikator satelit.

​"Bagus, Nemesis. Itu hanyalah pemanasan. Sekarang, bergeraklah ke pusat kota. Cari tahu di mana 'Matahari' itu bersembunyi. Dan ingat, jika kau menemukan gadis itu, bawa dia hidup-hidup."

​Jax terdiam sejenak. Mendengar kata "gadis itu", sebuah denyutan aneh muncul di dadanya. Sebuah memori tentang wangi mawar dan suara tawa yang lembut mencoba bangkit. Namun, mikrotip di otaknya segera menyadari anomali tersebut.

​ZZZZTTTTTT!

​Jax memegangi kepalanya yang mendadak sakit luar biasa. Ia mengeluarkan raungan rendah yang terdengar seperti geraman serigala. "Sakit... hancurkan... semua..." bisiknya. Ia melompat ke atas atap gudang dan menghilang di balik kabut, menuju jantung kota Ansan.

​Sinyal Bahaya: Kebangkitan Sang Baron

​Di markas pusat Red Blood, Baron sedang duduk di ruang kerjanya, meninjau laporan keuangan firma keamanannya. Tiba-tiba, Rai masuk dengan wajah pucat pasi. Tangannya memegang sebuah tablet yang menampilkan rekaman CCTV pelabuhan yang sempat aktif sebelum dihancurkan.

​"Bos... kau harus lihat ini," suara Rai bergetar.

​Baron menatap layar tersebut. Ia melihat sesosok pria bertopeng membantai sepuluh anak buahnya dalam waktu singkat. Meskipun wajahnya tertutup dan tubuhnya jauh lebih besar, Baron mengenali gaya bertarungnya. Cara pria itu berpijak, cara ia memutar tubuhnya sebelum menyerang—itu adalah teknik yang hanya dimiliki oleh satu orang.

​"Jaka..." bisik Baron. Jantungnya berdegup kencang. Antara rasa syukur karena sahabatnya masih hidup, dan rasa ngeri melihat apa yang telah mereka lakukan padanya.

​"Dia bukan Jaka yang dulu, Bos," ujar Rai sambil menunjukkan data kecepatan gerak subjek di layar. "Lihat ini. Kecepatan dan kekuatannya sudah tidak masuk akal. Ini adalah hasil modifikasi tingkat tinggi. Dia datang bukan untuk reuni, Bos. Dia datang untuk menghancurkan kita."

​Baron segera berdiri dan mengambil jaket kulitnya. "Rai, hubungi Ezra. Beritahu dia untuk membawa Shareen ke bunker bawah tanah sekarang juga! Jangan biarkan dia keluar sedikit pun!"

​"Lalu kau mau ke mana, Bos?"

​"Aku akan menemuinya di atap sekolah. Tempat semuanya bermula. Jika dia mencari musuh terkuat, dia pasti akan pergi ke sana," ucap Baron dengan tekad bulat.

​Pertemuan di Atas Atap: Luka Lama yang Terbuka

​Satu jam kemudian, hujan mulai turun mengguyur Ansan. Baron berdiri di atap gedung SMA Ansan yang sudah sepi. Angin kencang meniup rambutnya, namun matanya tetap fokus ke arah gerbang sekolah.

​Tiba-tiba, sesosok bayangan mendarat dengan dentuman keras di ujung atap yang lain. Jarak mereka hanya dua puluh meter.

​"Kau kembali, Jaka," ucap Baron. Suaranya tenang namun penuh otoritas.

​Sosok bertopeng itu—Jax—menatap Baron dengan mata merahnya yang menyala di kegelapan. Ia menarik pedang besar dari punggungnya. Pedang itu mulai mendesis, dialiri energi listrik bertegangan tinggi yang membelah rintik hujan.

​"Nama itu... sudah mati," suara Jax terdengar berat dan distorsi akibat modulator di topengnya. "Hanya ada Nemesis. Dan kau... adalah target pembersihan."

​"Siapa yang melakukan ini padamu?! Apa yang mereka janjikan sampai kau tega membantai anak buahku?!" teriak Baron.

​Jax tidak menjawab. Ia justru melesat maju.

​CLANG!

​Baron menangkis ayunan pedang listrik Jax dengan sepasang pelindung lengan titanium yang selalu ia pakai di bawah jaketnya. Benturan itu menciptakan gelombang kejut yang memecahkan kaca-kaca di lantai bawah. Baron terdorong mundur sejauh tiga meter karena kekuatan fisik Jax yang luar biasa.

​"Kau sangat kuat sekarang, Jaka. Tapi aku tidak akan membiarkanmu menghancurkan apa yang sudah aku bangun untuk Shareen!" Baron membalas dengan pukulan kombinasi cepat ke arah rusuk Jax.

​Namun, Jax seolah tidak merasakan sakit. Ia membiarkan pukulan Baron mendarat, lalu menangkap kepala Baron dan menghantamkannya ke dinding beton atap. BRAKK!

​Baron terhuyung, darah mengalir dari pelipisnya. Ia melihat Jax mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, siap untuk menebas. Namun, tepat saat itu, suara sirine polisi dan helikopter Red Blood mulai terdengar mendekat.

​"Ini belum berakhir, Matahari," bisik Jax. Ia menendang Baron hingga jatuh ke lantai, lalu ia melompat turun dari gedung, menghilang ke dalam kegelapan kota sebelum pasukan bantuan tiba.

​Baron terkapar di lantai atap, menatap langit malam yang kelam. Ia menyadari satu hal: Perang ini bukan lagi soal siapa yang lebih kuat di sekolah. Ini adalah perang melawan organisasi raksasa yang telah mengubah sahabatnya menjadi iblis.

​"Aku akan membawamu kembali, Jaka... meskipun aku harus menghancurkan setiap tulang di tubuhmu," janji Baron di tengah deru hujan.

​Di sisi lain kota, Shareen yang sedang berada di dalam mobil pengawalan menuju bunker, menatap ke arah sekolah dengan perasaan cemas yang luar biasa. Ia merasakan kehadiran seseorang yang sangat ia rindukan, namun kehadiran itu membawa hawa kematian yang sangat kental.

​Perang besar di Ansan baru saja dimulai. Sang Naga telah kembali untuk membakar segalanya, dan Sang Matahari harus memilih: membunuh sahabatnya, atau ikut terbakar bersama kenangannya.

​BERSAMBUNG

1
💤💤💤
mangats kak
_sshinta
Semangat thor aku mampir nih.

Mampir di ceritaku juga ya kak "BERI AKU KEBAHAGIAAN" terimakasih. Like, komen, dan vote juga ya hehe :)

Mari saling dukung
Arthur
Terus semangat kak
udah rate, boom like nih

Mampir yuk ke Fur Therese ❤
Jangan lupa like, rate, and vote, klik fav karena bakal up everyday 🐇
Joanne March⚘
hai sudah kuberi like & rate lho

jangan lupa mampir di lapakku:Raindrop plays my piano yaa😁terima kasih
Romianna Sitepu
semangat Thor
mampir juga ya ke
RINDU DI RIBUAN KILOMETER
V I N
Halo!
Ceritanya bagus niih!

salam dari "Evangenesis"!

Yang gabut tolong mampir ya , nanti pembaca bisa kasih saran next kelanjutannya spt apa, kalau bagus akan saya up!ヽ(*≧ω≦)ノ
juju
Hai kak aku mampir nih udah aku kasih like juga

yuk mampir dan like juga karya aku judulnya "Lelaki Pilihan Elena" dan tinggalkan jejak disana

ditunggu ya kak
Marco Mao
hai...
like and rate sudah mendarat,
feedback ke "cinta roh yang tertukar"
tinggalkan jejak disana,aku menunggu kedatanganku, dan berharap kita bisa saling mendukung sebagai sesama penulis..figting
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!