Eleanor adalah seorang Elf cantik dari kerajaan Silvan di hutan Mirkwood. Suatu hari ia tak sengaja bertemu dengan seorang pria bernama Dimitri yang tersesat di dalam hutan. Eleanor membantu menyelamatkan pria itu namun pada akhirnya mereka berdua saling jatuh cinta hingga Eleanor hamil. Tak lama setelahnya Dimitri menghilang dan tidak pernah kembali ke Mirkwood. Eleanor memutuskan untuk pergi ke dunia manusia untuk mencari cintanya. Namun ironisnya ia menemukan bahwa pria yang ia cintai telah menikah dengan seorang wanita dari dunia manusia. Apakah Eleanor akan bisa kembali bersama dengan Dimitri ataukah cintanya akan berubah menjadi pembalasan dendam?
Ikuti terus kisah perjuangan cinta Sang Elf cantik!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vivin Febry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Aku membalas tatapan tajam Eldrin. Aku juga masih memikirkan hal yang sama seperti apa yang ia pikirkan. Kami masih harus memecahkan teka-teki rumit ini. Sejak saat aku masih tinggal di dalam hutan, kami sudah mencurigai adanya pengkhianat di dalam istana. Namun fakta mengenai Dimitri yang memiliki belati semakin memperkuat hal ini.
"Siapa kira-kira yang menjadi pengkhianat di dalam istana?" Aku menanyakannya seraya menatap lekat Eldrin.
Kakakku mengangkat kedua bahunya dan menghela nafas panjang. Aku juga tidak memiliki gambaran tentang siapa yang telah menjadi pengkhianat di dalam istana. Selama ini semua penyihir di istana tampak tidak ada yang menunjukkan hal-hal yang mencurigakan.
Aku kembali mengingat Dimitri saat ia melangkah keluar dari dinding pembatas tadi. Aku juga masih tercengang mengingat kenapa tiba-tiba sihirku kembali berfungsi. Waktu itu aku mencoba memanggil kekuatan sihirku ketika aku berusaha untuk menyembuhkan Abigail namun hasilnya nihil.
Kami berdua menoleh ke arah Rose yang sedang berjalan menghampiri kami.
"Kenapa selarut ini masih belum tidur?" Rose menatap khawatir ke arahku.
Aku menggeleng pelan ke arahnya.
"Rose, ada banyak hal yang menjadi misteri." Aku menyandarkan kepalaku di sandaran sofa. Aku merasa begitu lelah seolah energiku tersedot habis.
"Ada apa?" tanya Rose seraya menoleh ke arahku dan Eldrin secara bergantian.
"Aku tadi melihat Dimitri keluar dari dinding pembatas," ujarku lemah.
"Maksudmu?" Tatapan Rose mulai menunjukkan ketakutan.
"Dimitri memiliki belati serbuk bulan." Aku menghentikan ucapanku dan memijit pelipisku dengan tanganku. Aku merasa seolah kepalaku akan meledak.
"Apa arti dari semua ini?" Tatapan Rose tampak menerawang ke kejauhan.
"Ada salah satu penyihir di dalam istana yang memberinya belati serbuk bulan. Kami belum tahu apa tujuan ia melakukan hal itu." Eldrin menjelaskan pada Rose dengan wajah yang tampak berpikir keras.
"Rose, jauh lebih buruk lagi, penyihir itu mengetahui tentang aku dan Dimitri sejak awal." Nada suaraku melemah di akhir kalimat.
Rose menatapku dengan wajah khawatir.
"Bagaimana kau tahu?"
"Dimitri mengatakan padaku bahwa penyihir itu menemuinya dan mengatakan bahwa aku tidak ingin bertemu dengan Dimitri lagi," ucapku dengan nada serak karena hampir menangis.
Rose membelai rambutku. Aku menghembuskan nafas berat. Aku merasakan tendangan yang begitu kuat dari dalam perutku hingga aku memekik kesakitan. Aku memegangi perutku dengan tubuh setengah membungkuk ke depan.
"Eleanor, apa kau baik-baik saja?" Rose memegangi bahuku dan menatapku dengan khawatir.
"Tidak apa-apa." Aku kembali menyandarkan kepalaku di sandaran sofa.
"Mungkin kau harus segera beristirahat," ujar Eldrin dengan tatapan khawatir.
Aku menggeleng pelan. Tanganku masih memegangi perutku. Kali ini aku merasakan sensasi aneh yang berasal dari dalam perutku. Tidak seperti biasanya ketika aku merasakan tendangan kecil dari dalam sana, saat ini seolah bayiku ingin memberontak keluar dari dalam perutku.
Aku memejamkan mataku dan berusaha untuk meredam rasa sakit yang muncul dari dalam perutku. Mungkin sebentar lagi rasa sakit itu akan hilang dengan sendirinya. Aku mengelus perutku dengan pelan dan berusaha untuk menenangkan bayiku di dalam sana.
Rasa sakit itu bukannya berhenti, namun malah terasa semakin intens. Aku mengerang dan wajahku meringis kesakitan.
"Eleanor!" Rose mengguncang bahuku.
Aku tidak menjawabnya. Semua sarafku rasanya mengeluarkan sinyal kesakitan. Aku merasakan perutku menegang dengan sensasi sakit yang menghujam dari dalam dan menyebar ke seluruh tulang-tulangku. Aku memegangi perutku dan meringis kesakitan.
"Eleanor, kau mulai berkontraksi!" Rose terdengar panik.
Berkontraksi? Apakah itu artinya aku akan melahirkan? Pikiranku dikalahkan oleh rasa sakit yang terasa membakar dari dalam perutku. Rasa sakit itu terus menjalar hingga ke tulang belakang. Perutku seolah menegang. Aku mulai mengigit bibirku untuk menahan eranganku agar tidak terlepas keluar dari mulutku.
Aku merasakan keningku basah oleh keringat. Aku mulai seolah hampir kehilangan kesadaran tentang apa yang terjadi di sekitarku. Aku tidak bisa mendengar suara Rose dan Eldrin dengan jelas. Semua syarafku seolah bereaksi terhadap rasa sakit yang saat ini seolah akan mematahkan semua tulang-tulangku.
"Bawa dia ke kamar!" Aku samar-samar mendengar Rose berteriak panik ke arah kakakku.
Aku tidak bisa melakukan apa-apa. Semua syaraf di tubuhku menegang. Hanya rasa sakit yang begitu hebat yang menguasai pikiranku sekarang. Aku merasakan Eldrin menggendongku dan berlari menuju ke kamar. Ia meletakkan ku di atas kasur.
Aku tidak tahan lagi untuk menahan eranganku. Kali ini bukan hanya erangan yang lolos dari mulutku, melainkan jeritanku mulai terdengar di telingaku. Kenapa hal ini terasa begitu sakit. Kapan sakit ini akan berakhir. Aku seolah tidak tahan untuk menanggung rasa sakit yang seolah mematahkan semua tulangku.
Aku merasakan Rose mulai membuka kakiku lebar-lebar. Aku tidak melawannya. Aku membiarkan Rose melakukan apa yang perlu ia lakukan. Aku menjerit hebat.
"Ayo dorong!" perintahnya padaku.
Aku mengikuti instruksinya dan mendorong dengan sekuat tenaga. Aku mendorong sambil berteriak kencang. Aku merasakan keringatku mulai menetes ke dalam mataku dan membuta mataku terasa perih.
Aku merasakan tangan kakakku menggenggam tanganku. Aku meremasnya dengan begitu kuat untuk mengalihkan rasa sakitku. Dia duduk di tepi ranjang seolah untuk membagi rasa sakit yang sedang aku hadapi. Aku melihat bayangan wajah Dimitri di pelupuk mataku. Seharusnya Dimitri yang menemaniku di saat-saat seperti ini.
Rasa sakit karena kekecewaanku terhadap Dimitri semakin menambah semua kesakitan yang sedang aku alami saat ini.
"Ayo dorong lagi! Lebih kuat!" Rose mendesakku.
Aku mencoba untuk mengumpulkan segenap tenaga dan kembali mendorong dengan begitu kuat hingga rasanya seolah tulang panggulku hendak lepas. Aku menjerit kesakitan. Aku merasakan jalan lahirku seolah panas membakar. Aku seperti ingin menyerah.
"Aku tidak bisa," ujarku lemas.
Aku merasakan tubuhku lemas dan kepalaku terkulai di bantal. Rasa sakit ini terlalu berat untuk bisa aku tanggung. Aku tidak akan bisa bertahan. Aku menggelengkan kepalaku dengan lemah ke arah Rose. Tatapan Rose begitu khawatir.
"Eleanor, bertahanlah!" pintanya.
Aku menggelengkan kepalaku. Aku merasakan tangan kakakku masih tetap memegang tanganku dengan kuat. Aku menoleh ke arahnya. Pandangan Eldrin penuh luka. Aku meneteskan air mataku.
"Bertahanlah!" Eldrin menangis.
Ini baru pertama kalinya aku melihatnya menangis. Hal itu membuat dadaku terasa sakit. Aku tidak boleh menyerah. Aku harus bertahan demi anakku, demi kakakku dan juga Rose.
Aku kembali mengumpulkan tenagaku dan kembali mendorong dengan semua kekuatan yang tersisa di tubuhku. Aku menjerit dan mendorong dengan sekuat tenaga hingga aku merasakan tubuhku bergetar. Aku merasakan bayiku melewati diriku dan keluar dari tubuhku.
Terdengar suara tangisan bayi yang seketika membuat kami semua menangis karena terharu dan bahagia. Rose mengangkat bayi mungil yang masih penuh darah itu ke hadapanku. Aku menerimanya dan mendekapnya di dadaku.
"Oris," bisikku di telinganya.