Kejarlah ilmu sampai ke negeri cina, sepertinya berubah makna menjadi cinta. Reza dan keluarganya adalah penduduk lokal asli yang hidup dikawasan kota J, berteman dengan Chintya yang pendatang dari etnis cina bersama keluarganya yang mengelola toko kelontong.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaLiAs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepingan Kebenaran x K3 2
Dini menelan ludah. Ia menatap Dokter Hanif sejenak, yang membalasnya dengan anggukan meyakinkan. Dini lalu mengalihkan pandangannya ke arah Detektif Budi dan mengangguk pelan.
"Baik," Detektif Budi membuka buku catatannya. "Bisa kamu ceritakan, apa yang terjadi setelah kamu memisahkan diri dari teman-temanmu untuk mengembalikan buku ke perpustakaan?"
Dini memejamkan mata. Ingatan itu seperti kaset rusak yang tiba-tiba diputar kembali. Dadanya naik turun dengan ritme sedikit cepat. Siska meremas tangan Dini, membisikkan kata-kata penenang.
"Ada... dua orang..." suara Dini keluar, lirih dan terbata-bata. "Bukan... mahasiswa. Badan mereka... besar. Pakai jaket kulit..."
Detektif Budi dan Anton saling berpandangan. "Preman?" tanya Budi memastikan. Dini mengangguk. "Apakah ini wajah mereka?" Budi mengeluarkan dua lembar foto DPO si Botak dan si Jali.
Mata Dini melebar saat melihat foto itu. Tubuhnya bergetar, napasnya seketika memburu. Dokter Hanif bersiap maju, namun Dini mengangkat tangannya sedikit, menahan sang dokter. Ia memaksa dirinya mengangguk lagi. "I... iya. Mereka."
Maya yang sejak tadi menahan napas langsung angkat bicara, suaranya dipenuhi emosi kebencian. "Tuh kan, Pak! Preman sewaan! Pasti Reza yang bayar mereka buat nyeret Dini! Bapak harus cepet tangkap Reza dan paksa dia ngaku di mana preman-preman itu sembunyi!"
Dini tiba-tiba menoleh ke arah Maya. Genggaman tangannya pada Siska mengencang. Gadis itu menggelengkan kepalanya dengan kuat.
"Bukan..." desis Dini, kali ini suaranya sedikit lebih keras, dipenuhi urgensi untuk meluruskan kesalahpahaman yang telah menghancurkan hidup pahlawannya. "Bukan... Reza."
Hening. Siska dan Maya mematung.
"Maksud lo apa, Din? Jelas-jelas Pak Yanto nemuin dia lagi di depan elo pas kejadian!" bantah Siska, kebingungan.
Air mata Dini mulai menetes. Ia memaksa pita suaranya bekerja ekstra keras menembus blokade traumanya. "Reza... Reza datang... dia nolongin aku... Preman itu lari... Reza kasih bajunya... buat aku..."
Pernyataan terbata-bata namun sangat jelas itu bagaikan bom waktu yang meledak tepat di tengah ruangan.
Siska melepaskan genggaman tangannya dari Dini dan menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangan. Wajahnya pucat pasi. Maya mundur selangkah, kakinya lemas hingga ia nyaris jatuh ke lantai. Mereka berdua saling berpandangan dengan horor yang tak terlukiskan.
Ya Tuhan, jerit batin Siska. Mereka telah memfitnah orang yang salah. Mereka telah menjerit, menunjuk, dan memastikan seorang pemuda tak bersalah—seorang penolong yang mengorbankan pakaian dan keselamatannya sendiri—diusir dari kampus dengan hina. Rasa bersalah yang teramat sangat langsung menghantam dada kedua gadis itu seperti godam besi. Tangis penyesalan Maya seketika pecah.
Di sisi lain, reaksi Detektif Budi justru berbanding terbalik. Ia tidak terlihat terkejut. Sebaliknya, Budi mencatat ucapan Dini dengan tenang. Insting kepolisiannya sudah curiga sejak awal. Bukti jejak ban mobil Honda Jazz dan jejak sepatu berukuran besar di lumpur belakang gedung sama sekali tidak cocok dengan profil Reza yang kurus dan miskin.
"Baik, Dini. Kesaksianmu sangat penting," ucap Budi menenangkan. "Satu hal lagi. Apakah kamu tahu siapa yang menyuruh kedua preman itu? Apakah kamu mendengar mereka menyebut sebuah nama?"
Dini memejamkan matanya, berusaha mengingat. Namun di dalam gedung gelap itu, ia hanya mendengar tawa menjijikkan dan ancaman. Tidak ada nama yang terucap. Dini menggeleng lemah.
"Tidak masalah," kata Budi, menutup buku catatannya. Ia menoleh ke arah Siska dan Maya yang sedang menangis tersedu-sedu didera rasa bersalah. "Kesaksian ini sudah cukup untuk membersihkan nama Saudara Reza di mata hukum. Fokus kami sekarang adalah menangkap kedua DPO itu untuk mencari tahu siapa dalang utamanya. Berita baiknya, tim IT kami baru saja mendeteksi sinyal ponsel prabayar lama milik salah satu pelaku aktif sebentar di wilayah pesisir Tegal. Pengejaran sedang dilakukan."
Sementara keadilan perlahan menemukan jalannya di rumah sakit, di sebuah apartemen mewah milik Kevin di kawasan Jakarta Selatan, udara terasa sangat beracun.
Gorden tebal ditutup rapat, menghalangi cahaya matahari siang. Botol-botol minuman berserakan di atas meja kaca. Kevin duduk di sofa mahal, menggigit kuku-kukunya dengan tatapan liar yang tertuju pada layar televisi yang mati.
Aldo duduk di kursi seberangnya, tubuhnya gemetar dan kantung matanya menghitam parah. Sudah beberapa hari Aldo menginap (lebih tepatnya disandera secara psikologis) di apartemen Kevin. Mereka berdua bolos kuliah. Menarik diri dari pergaulan kampus untuk menghindari tatapan curiga.