Indonesia
NovelToon NovelToon
Es Kul- Kul Penyambung Hidup

Es Kul- Kul Penyambung Hidup

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: siti jubaedah

Safira yang sebelumnya terbiasa berdiam di rumah, mengurus anak dan juga melayani suami. Namun di tahun ke tiga pernikahan mereka. Deden sang suami, mengalami kecelakaan yang menyebabkan kelumpuhan di kedua kakinya. Hingga peran mencari nafkah berpindah tugas kepada Safira, dengan berjualan Es kul -kul. Safira mencari Peruntungan. jatuh bangun kerapkali ia rasakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siti jubaedah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

menahan Geram

Aku hanya mengangguk. Kembali ku peluk tubuh Emak. Tenang rasanya, sakit, lelah, hilang sudah rasanya melihat senyumnya saja. Seolah melihat harapan besar di sana. Bagaimana tidak. Doanya menembus langit, rida Allah tergantung ridanya, bahkan surga berada di telapak kakinya.

Tak habis pikir rasanya, masih ada orang – orang di luar sana yang dengan tega melukai hati seorang ibu. Wanita yang telah bertaruh nyawa untuk melahirkannya ke dunia. Sembilan bulan lamanya mengandung, mengalami hari yang tidak menyenangkan.

Saat anaknya sudah lahir, ibu tak pernah menuntut di beri uang yang banyak, harta berlimpah, ganti rugi atas lelahnya. dia hanya ingin penghormatan dan kasih sayang dari anak – anaknya, hanya itu. Bukankah mudah, tetapi mengapa masih ada seorang ibu yang di buat menangis oleh tindakan darah dagingnya sendiri.

“Sudah dari tadi, kata Deden kamu sedang membeli kebutuhan untuk berjualan.”

“iya Mak, tadi Fira beli buah juga bahan – bahan untuk membuat es kul – kul.”

“bagaimana usaha kamu, Fir, lancar?”

“alhamdulilah sejauh ini lancar, Mak. Meski ada juga yang tidak laku, lantas Fira bagi- bagikan saja ke anak jalanan. Itung – itung sedekah mak.”

Emak hanya mengangguk seraya tersenyum. Kembali menyalakan kompor, rupanya Emak tengah memanaskan opor Ayam. Pantas saja aromanya begitu menggiurkan.

“wah Emak bawa opor ayam, enak nih, Mak.” Ku hirup dalam – dalam aroma masakan itu. Perutku mulai keroncongan.

“Iya, Emak sengaja masak ini khusus untuk kamu, Fir. Kamu kan paling suka sama opor.”

“Apalagi kalau Emak yang masak, makanya Fira jadi suka. FIra mau langsung makan saja, mak.” Aku langsung menuju rak piring.

“Nana di mana, Fir?” Tanya Emak kalau aku menyendok opor itu ke piringku.

“Di depan mungkin, Mak,” sahutku.

Emak berjalan keluar dapur, mungkin ingn menemui sang cucu. Benar saja, tak lama terdengar teriakan Nana yang begitu kegirangan melihat kedatangan sang Eyang.

Meski jarang bertemu Nana cukup dekat dengan Emak, sebab Emak yang senantiasa bertutur kata lembut dan sangat menyayangi semua cucunya, menjadikan Nana dekat dan sangat menyayangi Eyangnya.

“Eyang jauh..." teriak Nana.

Ya, Nana memang memanggil nama ibuku dengan panggilan Eyang jauh. Karena kediaman kami yang lumayan jauh. Kami berbeda kabupaten. Untuk sampai di kediaman Emak, memakan waktu kurang lebih enam jam. Itupun kalau tidak macet.

Aku membawa piring makan ku menuju ruang tengah. Aku hendak makan bersama Mas Deden, sebab tadi pagi kami hanya sarapan roti tawar di temani teh hangat.

“makan yuk, mas, Emak bawa Opor Ayam yang sangat enak.” Aku lantas duduk di sebelah Mas Deden.

Tanpa penolakan sedikit pun, satu sendok nasi langsung di lahap Mas Deden.

Sementara Emak dan Nana tak lagi terdengar suaranya, mungkin sudah melipir ke warung sana. Sudah jadi kebiasaan setiap kali bertemu, Nana akan bermanja – manja dan merengek agar dibelikan makanan dan mainan pada sang Eyang.

“Oh iya, Fira sampai lupa, Emak ke sini sendirian, emas?

“Iya Fir, katanya bapak tidak bisa ikut, soalnya masih sibuk panen kopi. Mungkin nanti nyusul kalau panennya sudah rampung, itupun kalau bapak tidak capai.” Jelas Mas Deden.

Bapak memang bekerja sebagai petani kopi. Kebun itu bukan milik sendiri, melainkan milik seorang juragan yang terkenal kaya di kampung kami. Sementara bapak hanya seorang pekerja di sana.

“semoga bapak bisa nyusul ya, Mas. Fira sudah rindu ingin bertemu bapak.”

“Iya, Fir, kita doakan urusan bapak di sana di beri kelancaran dan bisa berkumpul dengan kita di sini.

“amin ya allah”

🍉🍉🍉🍉

Setelah asar, aku bersiap – siap untuk berjualan. Sekantung besar keresek berisikan Aneka buah – buahan, sudah bertengger manis di atas jok motor.

Jualan kali ini, aku masih berangkat seorang diri, sebab Nana memilih tinggal bersama Eyangnya. Entahlah sejak tadi keduanya begitu lengket tak mau jauh. Makan mau di suapi Eyang mandi maunya di temani Eyang pokoknya Semua harus serba Eyang.

Saat ku hendak menaiki motor, aku di kagetkan dengan kedatangan Bi Yati yang secara tiba – tiba. Wajahnya begitu masam, air wajahnya menyiratkan sebuah kebencian.

“Apa maksud kamu menyebar cerita yang tidak –tidak tentangku, ha!?” bentak Bi Yati, geram.

“maksud bibi, apa ?” tanyaku heran.

“kamu jangan pura – pura tidak tahu ya! Jelas – jelas kamu sengaja menyebarkan cerita buruk tentang aku di warung sana!” Bi Yati menunjuk – nunjuk kearah ku.

“Fira tidak pernah bercerita apa pun tentang Bibi, sungguh.”

Aku menyangkal tuduhan yang di lontarkan Bi Yati. Karena memang sama sekali aku tidak bercerita sedikitpun tentang kejadian itu. Melainkan, Bi Hasna lah yang banyak cerita.

“Jangan sok polos kamu! Aku bukanya tidak mau mengambil es kul – kul itu, aku hanya belum sempat saja mengambilnya!” Bi Yati melirik sinis ke arah keresek di atas jok motor.

“kalau itu, alasan nya, mengapa Bibi tidak memberi kabar Fira. Setidaknya, Fira tahu alasan keterlambatan Bibi mengambil, dan Fira pun tidak akan menunggu dengan cemas.

“kamu saja yang tidak sabaran! Untung saja aku tidak jadi ambil es kul – kul itu dari kamu. Sudahlah murahan rasa pun tidak enak!”

Ya Allah, sudah jelas dia yang salah justru, mengapa aku yang kena semprot.

“Tolong, Bibi jangan menghina jualan saya, walaupun modalnya kecil, setidaknya saya berusaha mencari di jalan yang halal!” tegas ku. Ku arahkan tatapan tajam padanya. Jujur aku mulai terpancing emosi.

“kamu itu hanya pendatang di sini, jangan banyak tingkah deh! Jualan modal begitu saja sudah banyak gaya!” pungkas Bi Yati seraya menendang pot bunga milikku. Jadilah tanah yang ada di pot itu berserakan. Wanita itu berlalu dengan wajah merah padam.

Ku kepal kuat kedua tanganku menahan geram. Heran, kok ada orang seperti itu. Sudah salah malah nyolot. Dia yang sudah pesan tetapi tidak jadi ambil, malah jualanku yang di hina.

Ku pejamkan mata, kutarik napas panjang melepas perlahan. Ku lakukan ber ulang – ulang. Setelah mampu menguasai keadaan, aku masuk ke dalam rumah hendak meminum air. Tiba – tiba kerongkonganku terasa kering.

🍉🍉🍉

“Mak, berapa hari di sini?” tanyaku pada emak usai makan malam. Aku tengah mencuci piring sementara Emak membersihkan meja.

“mungkin satu minggu ke depan Fir, tidak mungkin kebun di tinggal lama – lama.”

“yah, satu minggu itu sangat sebentar bagi Fira, Mak. Dua minggu saja, bagaimana?” ku lirik emak sekilas, Wanita paruh baya itu tampak terkekeh.

“Emak baru saja datang lho, Fir, sudah mikirin kapan pulangnya. Intinya kita lewati saja dahulu waktu kebersamaan kita untuk beberapa hari ke depan. Siapa tahu kamu nya yang nanti bosan, karena Emak lama – lama di sini.”

Mendengar penuturan Emak, ku hentikan gerakan mencuci ku gegas ku hampiri wanita yang telah melahirkan ku itu.

Bersambung....

1
vi
sediiiih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!