Hai, namaku Adresia Michael Polliton.
Hiduku awalnya biasa biasa saja, hingga aku dipindahkan ke kantor pusat dan bekerja sebagai sekretaris dari bos lucknut.
Keano Adrana Shagufta. Pria bengis. Berhati dingin. Si Perfeksionis yang minta di di kunyah dengan gerigi besi. Hancur sudah ketenangan hidupku. Porak poranda lagi. Kenapa aku di pertemukan kembali dengan dengan pria kejam, berhati dingin seperti Lucifer ini. Keano Shagufta, teman SMA-ku yang kerjaannya selalu marah marah, marah marah, dan marah marah.
Laki laki yang selalu bercokol dihatiku, berakar dengan kuat, tak mau hilang. Laki laki egois yang suka PHP-in peremupuan. Laki laki yang bakal aku celurit pertama kali kalau hukum dan dosa di tiadakan.
Laki laki yang menumbuhkan kembali rasa bersalahku. Karena kejadian dimasa lalu.
Disaat aku binggung bagaimana cara menghadapinya.
Pria bengis itu berubah. Menjadi lebih baik. Sikapnya yang hangat, mulutnya yang penuh dengan madu, dan senyum menggoda iman yang selalu mencuri detak jantungku.
Lalu bagaimana aku harus menyikapi keadaan sekarang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chochomellow26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 7: Dasar Bos Lucknut!
Jangan lupa vote and comment nya ya.
Saran dan dukungan pembaca sangat berarti bagi penulis.
Merci,
Chocomellow.
***
Acara ulang tahun perusahaan berlangsung sukses. Selama tiga hari kami bersenang senang. Hari pertama family gathering, hari kedua peresmian galeri dan sebagai penutup akan ada pesta yang diadakan oleh perusahaan.
Hari ini aku mengikuti permainan dan pertandingan yang diadakan perusahaan di acara family gathering. Ada permainan tahan ketawa, tebak gaya, dan box kengerian. Tidak hanya itu, ada juga lomba balap karung, lomba tiga kaki, tarik tambang, lomba futsal, bahkan juga ada lomba makan kerupuk.
Sebagai penutup, panitia juga menyediakan lomba dayung. Dan aku, berniat mengikuti semua jenis lomba dan permainan tampa terkecuali. Maklum kurang liburan. Terkadang aku ikut dalam tim DK (Departeman Keuangan) yang terdiri dari aku, Dimas, Mbak Meli, Rita dan Doni serta pemain cadangan kita Kang Arbi. Dan tentu saja tim baruku, timnya Pak Myer. Yang terdiri dari Aku, Mbak Alya, Edra, Mira, dan Ronald. Jangan lupakan pemain cadangan kami yang kece abis, Pak Myer.
Selama family gathering, aku melaporkan semua kegiatan dan persiapan lomba pada Kean. Kean juga mengikuti lomba. Barusan dia selesai bermain futsal. Dengan baju masih berkeringat. Aku menyerahkan handuk dan minuman isotonic padanya. Kean menghabiskan minumannya dan bertanya mengenai persiapan lomba padaku.
"Setelah selesai makan siang, akan ada lomba tarik tambang, berbarengan dengan lomba makan kerupuk, pak. Sedangkan untuk penutup akan ada lomba dayung." Aku menerima handuk dari Kean. Melipatnya dan menggantungkannya di lenganku.
"Semua persiapan untuk lomba tarik tambang dan makan kerupuk sudah dipersiapkan. Pak Ardi yang akan membuka lomba makan kerupuk, jadi untuk lomba tarik tambang akan diserahkan pada Bapak. Karena pimpinan lainnya banyak yang ikut serta dalam dua lomba ini." Aku mengikuti Kean yang melangkah ke luar dari lapangan futsal.
Aroma citrus dan anggur menyebarkan kesegaran di udara. Kenapa aku masih bisa mencium parfumnya padahal dia sudah berkeringat seharian seperti ini? Apa parfumku juga masih kecium ya? Jangan jangan bajuku udah bau parfum plus plus lagi: campuran keringat plus matahari. Dimana sih dia beli parfum yang wanginya tahan lama seperti ini? Aku memikirkannya sepanjang jalan. Hingga Kean tiba tiba berhenti dan aku menabraknya.
Ups! Sepertinya dia punya kebiasaan berhenti ditengah jalan seperti ini. Dan aku dengan bodohnya mengulangi kesalahan yang sama: Menabraknya!
"Apa kamu tidak mendengarkan saya?" ucap Kean dengan suara tajam. Dia memandang lurus dimataku. Membuatku bergetar ketakutan.
"Maaf pak," ucapku. Lalu mencoba mengingat apa yang baru saja ditanyakan Kean padaku.
"Di sesi terakhir akan ada penghargaan untuk karyawan terbaik dan penyerahan hadiah pemenang lomba. Saya sudah menyiapkan hadiah untuk itu." Aku menjawab setelah mengingat apa yang ditanyakan Kean tadi padaku.
"Saya kecewa padamu Micha. Sikap tidak tulusmu membuatku benar benar kecewa dengan kinerjamu," ucapnya dingin.
Aku terdiam mencerna perkataan Kean. Tak mengerti kenapa dia bisa tiba – tiba mengatakan itu.
"Maafkan saya pak. Ini pastilah salah saya jika anda merasa seperti itu," jawabku karena melihat Kean bersiap menyemburkan lahar panasnya.
"Tapi bolehkan saya tahu apa yang menyebabkan anda merasa kecewa seperti ini?" Tanyaku dengan hati hati agar tak menyinggungnya lebih jauh.
Kean menatapku. Kami terdiam beberapa saat. Sementara aku mencoba menerka apa yang menjadi penyebab kekecewaannya, bos setan ini malah menatapku dengan wajah tak percaya.
"Apa saya melakukan kesalahan Pak? Apa kebetulan saya lupa mengerjakan sesuatu? Atau ada masalah dengan acara ulang tahun perusahaan?"
Aku mengajukan semua kemungkinan yang terpikirkan di otakku. Namun, Kean menatapku tak habis pikir.
"Kebetulan, apa kamu tipe karyawan yang tak bisa fokus bekerja kalau sudah bersenang senang mengikuti lomba dan bermain seperti ini? Saya liat dari tadi kerjaanmu hanya ketawa ketiwi, pagang sana pegang sini sama laki laki dari timmu," katanya dengan nada dingin dan menyindir.
Watdefak!
Kenapa aku terdengar seperti perempuan yang tebar pesona sana sini?
Aku marah mendengar kalimat sarkastik yang keluar dari mulutnya. Apa dia tidak melihat betapa sibuknya aku berlarian kesana kemari? Untuk mengerjakan tugasku. Padahal, sejak pagi aku sudah mengkloning tubuhku menjadi tiga bagian. Biar semua kedapatan jatah yang sama. Bisa bisanya dia bertanya seperti itu padaku?
Asupan kewarasanku langsung berkurang. Melihat saklar perang Kean yang aktif. Tak bisakah hari ini berlalu dengan damai. Aku juga bukan manusia yang tahan banting tuhan.
Memangnya siapa tadi yang meminta kami untuk memenangkan setiap lomba? Menekankan untuk menang bagaimanapun caranya. Selain itu, bukannya orang yang ketawa ketiwi, tebar pesona sana sini itu dia? Kenapa aku yang terdengar seperti perempuan gatel?
"Apa secara tidak sadar saya melalaikan tugas saya Pak?" Aku menatap Kean, karena dia juga menatapku dingin. Maka aku juga tak mau kalah, menatapnya dingin.
"Situ juga pegang pegang, rangkul rangkul, dan tebar pesona sama lawan jenis. Jadi kenapa gue nggak bisa? Emang elo doang yang bisa tebar pesona gue juga bisa..." aku ingin berteriak seperti itu padanya. Apalah daya, dia atasanku. Dan ini tempat umum. Aku bisa buat malu. Jadi aku menelan kata kata yang hampir menyembur dari mulutku yang gatal.
Dasar bos lucknut!
"Kamu terlihat bersenang senang, tapi..." dia menjeda kata katanya dan aku penasaran dengan ledakan seperti apa yang akan keluar dari mulutnya.
"Saya merasa kamu mengabaikan tugasmu sebagai sekeretaris saya." Apa? Aku yang mendengarkan kata katanya hanya bisa membuka mulutku dan menutupnya kembali tampa mengatakan sesuatu.
"Lalu, apa yang bapak inginkan? Apakah bapak ingin saya selalu mendampingi bapak? Bukankah tadi pagi, sebelum acara Bapak yang meminta kami untuk memenangkan lomba apapun yang terjadi? Dan memastikan saya untuk mengingat hal itu." Kami terdiam sesaat.
"Lagi pula, bukankah lebih baik jika saya akrab dengan anggota tim saya dan tetap menjalin keakraban dengan rekan saya yang lain? Sejujurnya acara seperti menjadi kesempatan bagi saya untuk menjalin relasi. Apalagi jika image saya jelek, atau saya dikenal sebagai pribadi yang sombong, bukankah itu akan berpengaruh juga pada padangan orang lain terhadap Bapak? Anda selalu menekankan bahwa sekretaris adalah wajah atasannya. Bahkan mengatakan betapa pentingnya dan sulitnya posisi sebagai sekretaris anda." kataku dengan nada dingin.
"Itu bukan sesuatu yang harus kamu khawatirkan." Aku memandang Kean dengan marah.
"Ya, tentu saja. Tapi tetap saja Bapak tidak menjawab pertanyaan saya." Dia tidak bisa menjawab sesaat. Kean mengalihkan tatapannya pada handuk yang tergantung di lenganku. Untuk sesaat keheningan kembali menyapa kami.
"Menang atau tidak itu bukan sesuatu yang harus kamu pikirkan. Kamu juga tak perlu mengkhawatirkan pandangan orang lain. Dan tentu saja saya butuh sekretaris yang kompeten." Kean kembali menatapku dengan wajah bermasalah.
"Tentu saja tidak, apa saya pernah mengeluh tentang itu?"
Keheningan kembali menerpa kami. Aku menarik nafas dalam dalam. Tak berniat meneruskan perang saraf kami.
"Baik pak, jika itu yang anda inginkan. Apa anda ingin saya mendampingi anda memulai lomba sekarang?" Aku mengarahkan Kean ke bagian panitia untuk mengkoordinasi lomba selanjutnya yang akan dimulai sepuluh menit lagi.
***
Pada dasarnya, tetap saja aku harus berpartisipasi dalam lomba yang tersisa. Karena semua anggota timku sudah terlihat lelah. Apalagi Mbak Alya dan Mira. Selesai dengan lomba tarik tambang, namaku kembali dicantumkan dalam lomba terkahir. Lomba dayung. Kedua timku sudah terlalu kelelahan, sedangkan aku dan Dimas masih semangat untuk ikut lomba dayung. Maklum mantan atlet karate. Sudah bisa dipastikan kekuatan fisik kami jauh berbeda dengan mereka.
"Tumben stamina lo kuat Dim." Seloroh Mbak Meli yang ada disampingku.
"Oh iya dong. Gue udah fitness dan olah raga sekarang mbak. Awas aja lo terpesona liat perubahan gue, nggak bakal gue gubris." Mbak Meli langsung terkekeh mendengar jawaban Dimas.
"Lo pada liat aja nanti. Pokoknya gue mau balas dendam sama kalian kalian..." tunjuk dimas pada kami semua. "Semua yang udah meragukan kegantengan gue." Ledakan tawa langsung terdengar dari kami semua.
"Ih... aciaannya lagi. Seniorku memang yang paling ganteng, baik, rajin menabung lagi. Tolong ambilin junior keceyangan ini minum dong. Dedek aus bang." Kataku dengan wajah yang kubuat se imut mungkin.
"Gue juga, gue juga... Dimas yang ganteng, baik, lo yang paling d'best deh disini. Minumnya dong. Pleaseeee" sorak mbak Alya yang ada didepanku.
"Cih... ada maunya aja, kalian baru bilang gue ganteng, baik. Lo juga mbak, kenapa ikut ikutan junior durhaka ini sih. Dasar junior durhaka..." Dimas langsung menowel lenganku tetapi dia masih juga bergerak mengambil minum untuk kami berdua.
"Lo ikut lomba dayung kan Re?" Tanya Dimas saat dia menyerahkan satu minuman isotonic yang telah dia buka padaku.
"Ya dong, kapan lagi senang senang kayak gini." Aku minuman minuman yang diberikan Dimas hingga tandas. Didepanku Mbak Alya hanya menggeleng gelengkan kepala nya 'melihat semangat empat lima ku'. Aku terkekeh melihat raut wajah Mbak Alya yang sudah lelah dan penuh keringat karena kami baru saja memenangkan lomba tarik tambang.
"Lo nggak capek apa re?" Tanya Mbak Alya saat Dimas menyerahkan minuman isotonic padanya.
"Nggak, tenang mbak gue punya cakra cadangan dari kurama-kyubi didalam tubuh gue" jawabku sambil menyentuh perutku berlagak seperti naruto yang siap perang.
"Pftttt," mbak Alya tertawa melihat reaksiku, "Dasar. Belagak kuat lo, padahal kemarin siapa coba yang perlu digotong karena pingsan."
"Hehe... kemarin baterai gue lowbat mbak, belum di charger. Sekarang udah di charger, masih full."
"Gue ke bagian panitia bentar ya mbak." Aku berdiri dari posisi dudukku. Melangkah ke arah Timy yang sedang berdiskusi dengan salah satu panitia lomba. Setelah mengecek persiapan lomba dayung dan rekap peserta. Aku melangkah kearah danau, mengecek keadaan perahu. Hingga beberapa menit kemudian terdengar suara gesekan rumput dan sepatu dari arah belakangku. Begitu aku berbalik. Aku melihat Kean memandangku dengan wajah datarnya.
"Pak. Persiapan lomba dayungnya sudah siap. Kita bisa mulai dua puluh menit lagi." Aku melihat Kean yang masih menatapku tajam. Ada apa dengannya? Seharian ini moodnya buruk.
"Ok..." jawabnya. Singkat, padat dan jelas. Aku menunggu sebentar, mungkin ada perintah atau hal lain yang ingin dia sampaikan padaku. Tetapi setelah beberapa menit dan kami masih saling tatap menatap hingga aku merasa canggung.
***
Sebenarnya, Kean merasa marah pada Michael –panggilan Rere saat kecil– karena dia terlihat baik baik saja. Tentu saja dia senang melihatnya sehat. Terlihat lebih hidup, dibandingkan kemarin saat dia menggendongnya dalam pelukkannya. Suhu tubuhnya sedikit tinggi, keringat terlihat di dahinya yang putih dan bulat. Dan tubuhnya terasa ringan dan lemas tak berdaya.
Permasaalahannya adalah dia –Michael– terlihat menikmati hari ini. Sedangkan Kean... bergulat dengan rasa cemas sepanjang hari melihatnya mengikuti semua lomba di acara hari ini. Tidak hanya itu, dia terlihat lebih banyak tertawa dan bersenda gurau dengan timnya. Padahal Kean sempat menyalahkan dirinya sendiri karena membuat Michael harus bekerja lembur beberapa hari untuk kesuksesan acara ini.
Kean kesal dia tak meminta bantuan padanya dan memilih mengerjakan semuanya sendirian. Tak hanya itu, perempuan itu juga tak menyalahkan Dira atau Timy yang selalu bekerja lambat dan membuat kesalahan. Hingga Michael yang harus menyelesaikannya sendiri. Yang membuatnya bertambah marah, dia tidak mengeluh sama sekali pada Kean.
Karena kesal dan kemarahannya yang kekanakan ini tidak bisa dia arahkan pada Michael. Sudah bisa dipastikan, Dira dan Timy yang menyebabkan ini semua yang menjadi sasaran berikutnya. Setiap kali laporannya salah, Kean langsung melemparkannya keluar ruangan.
Namun, saat Micha jatuh pingsan karena kurang tidur dan makan yang tak teratur. Semua kemarahan Kean berganti dengan rasa cemas dan rasa bersalah. Dia panik melihat Michael terkulai lemas di lengannya. Bahkan dia tak sadarkan diri berjam jam lamanya. Melihat wajahnya yang pucat dan kuyu. Kean langsung berteriak marah pada Dira dan Timy. Dia tau mereka bantuan dari divisi lain. Tetapi tetap saja, mereka masih karyawannya. Jika pekerjaan seperti ini saja mereka tak bisa handle, bagaimana bisa dia mempekerjakan karyawan seperti mereka? Kean menitipkan Micha pada Edra dan Alya di rumah sakit.
Saat dia kembali ke rumah sakit. Micha sudah terlebih dahulu dijemput oleh seorang laki laki. Mereka terlihat akrab. Dia bahkan membiarkan laki laki itu memasangkan helm di kepalanya. Dia juga memeluknya dengan hangat saat mereka mengendarai motor malam itu. Dan Kean merasa kekhawatirannya pada gadis itu sia sia. Dia bahkan terlihat baik baik saja. Kenapa dia bisa mengkhawatirkan wanita seperti Michael? Itu benar benar perasaan yang tak berguna.
***
"Kalau begitu saya permisi pak" sepertinya Kean tidak memerlukanku lagi. Jadi aku melangkah melewati Kean kembali ke kelompokku. Hingga beberapa langkah berlalu, Kean kembali memanggilku.
"Kamu ikut lomba dayung juga?"
"Iya pak, anggota tim yang lain sudah kelelahan. Jadi saya yang diikut sertakan dalam lomba ini. Apa ada yang bapak butuhkan? Bapak bisa mengatakannya langsung pada saya." Aku melihat dia ragu ragu. Jadi kupikir dia ingin mengatakan sesuatu.
"Tidak. Tidak ada." Lalu dia berbalik. Dan melangkah menjauh menuju basecame para pimpinan.
Hah! Itu saja?
Ada apa dengan laki laki bengis itu?
Aku benar benar tak mengerti. Kenapa sulit sekali membaca isi hatinya?
***
mampir juga ya kak
novel T O H
itu kucing micka bukan cheetah....
author bisa aja, melembutkan bahasa