"Clau, riana mengundangmu untuk datang ke pesta ulang tahunnya." ucap mei kepada claudia.
Dengan raut wajah yang bingung, claudia pun mengangguk tanda mengiyakan informasi yang disampaikan mei untuknya. Claudia tersenyum kecil pada mei, seraya berkata.
"Terima kasih ya mei, nanti aku datang ke pesta ulang tahunnya riana."
"Oke deh, bye Clau." ucapnya sembari melambaikan tangan pada Claudia dan kemudian berlari kecil meninggalkannya disana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Minul2602, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ADA APA DENGAN RIANA? (1)
Riana berdiri dari duduknya dan menenteng tote bag miliknya. Tangannya di tahan oleh Mei, tatkala ia hendak berjalan melewati Mei. Langkahnya terhenti, Riana menatap malas wajah Mei yang sedang memohon padanya.
"Riana, gue minta maaf. Please maafin gue ya" Pinta Mei.
"Apaansi Mei. Ayo pulang! " Tegas Riana.
Riana sama sekali tak banyak bicara, dia lebih memilih diam dan sedikit cuek. Mei pun menuruti perintah Riana, mereka akhirnya memilih keluar kelas bersamaan. Seperti biasa, Riana dan Mei pulang bersamaan menaiki mobil jemputan Mei. Meski terlihat aneh, memang begitulah adanya.
Riana lebih senang semobil dengan Mei dibanding harus di jemput oleh sopir pribadinya. Sedangkan Valen, ia akan pulang menaiki sepeda motor matic yang ada stiker hello kittynya. Sepeda motor itu adalah hadiah ulang tahun, pemberian dari papa dan mamanya.
"Riana, lo beneran gak kenapa-kenapa kan? lo gak sakit kan? "Tanya Valen khawatir terhadap sahabatnya itu sambil meletakkan punggung tangannya di kening Riana.
"Apasi len, singkirin tangan lo!" mood Riana menjadi rusak di perlakukan demikian.
"Sorry, kalo gitu gue balik duluan ya Mei." Ucaonya sedikit takut setelah mengetahui respon Riana yng tak senang padanya, kemudian berpamitan pada Mei. Valen berlari kecil ke arah parkiran, menghampiri sepeda motornya.
Valen mengendarai sepeda motornya dan berlalu meninggalkan Mei dan Riana yang tengah menunggu mobil jemputan Mei di dekat parkiran.
...****************...
Di depan gerbang sekolah...
"Ibuu... " Panggil Claudia pada sang ibu dengan raut wajah bahagia sambil berajalan ke arah bu Melda, di ikuti oleh Nora di belakangnya.
"Heii sayang, gimana hari ini? hmm.. " Bu Melda langsung memeluk tubuh mungil sang putri sambil mengajukan pertanyaan pada anak kesayangannya itu, terkait hal yang terjadi dan perasaannya di sekolah baru.
Bu Melda menyadari ada seorang anak yang berparaskan wanita namun gayanya seperti seorang anak lelaki. Bu Melda melayangkan senyum pada Nora. Nora pun membalas senyuman bu Melda dengan tulus. Nora bisa merasakan kasih sayang bu Melda begitu besar pada Claudia.
"Hari ini berjalan lancar bu, lncar banget. Oiya bu, ini temen baru Clau, namanya Nora." Sahut Claudia menjawab pertanyaan ibunya sambil memperkenalkan Nora padanya.
"Hai Nora. Kamu sekelas sama Clau? " Bu Melda menyapa Nora dengan senyuman hangat dan jabatan tangan layaknya orang tua dan anak. Bu Melda juga mengajukan pertanyaan sederhana pada Nora.
"Iya bu, kita sekelas. Oiya Clau, kalo gitu gue balik duluan ya.Permisi ya bu!" Ucap Nora yang canggung sekali karena baru bertemu orang tua Claudia. Ia berusaha menghindari percakapan lainnya yang bisa membuatnya jadi sedih.
(tau sendiri kan emak-emak ini suka kepo sama temen anaknya,bakalan ditanya-tanya detail. Intinya kaya detektif conan deh) - Pov Author.
"Loh kok cepet banget si Nor, bukannya tadi kamu bilang jam satu baru ada angkutan umun yang lewat ya? udah gak apa-apa kok sama aku aja naik sepeda motor, kita cengtri bareng ibuku, oke! ." Sahut Claudia panjang lebar membuat Nora sedikit malu dan segan pada bu Melda.
"Dah tau-tauan bahasa cengtri segala anak ibu ini. Ciee ciee yang udah ngerti bahasa gaul sini, dah bisa jadi anak kota permanen ni. Aciee cieee." Goda bu Melda pada anaknya sambil mencolek-colek bahu Claudia membuat lengannya bergoyang-goyang. Tampak raut wajah malu terpancar di wajah Claudia saat di perlakukan oleh ibunya demikian.
"hehe,, ibu ni ah, malu buu.." Ucapnya malu.
"Iya deh iyaa.. " Ucap sang ibu merespon demikian samhil tersenyum senang melihat sang putri sudah mendapatkan teman baru dan mulai beradaptasi dengan lingkungan kota.
"Mau kan Nor, pulang bareng aku dan ibu? " Tanya Claudia ada Nora yang hanya berdiam diri kikuk di hadapan mereka.
"Udah Nor, gak apa-apa. Kita cengtri ae, amanlah pokoke. Pokoke mantuullah di boncengan ibu, santuy". Ucap bu Melda menirukan gaya bicara anak kota yang gaul dan santai.
Nora dan Claudia sedikit terkekeh mendengarnya.
"Gas lah bu.. malu-malu nanti capek. " Ucap Nora tiba-tiba saja menjadi santai dan semangat, tidak kikuk seperti sebelumnya.
"Loh, malu-malu kok capek si? biasanya yang ibu tau nor, orang-orang sering ngomong kalo malu-malu nanti sesat di jalan. " Tanya bu Melda sedikit heran dengan perkataan Nora yang tak dapat dimengerti.
"Hehe... maksud Nora capek itu gini bu, Kalo malu kan gak dapat boncengan gratis. Trus nanti berdiri disini nunggu angkutan umum lewat, capek kan kakinya. Mending malu-maluin ae lah bu, ya gak? " Jelasnya pada bu Melda dengan gaya santainya. Seketika suasana canggung pun berubah menjadi santai.
Claudia terdiam sejenak, kemudian tertawa kecil melihat respon Nora yang begitu santai. Bu Melda juga sedikit heran melihat tingkah teman anaknya tersebut yang tiba-tiba
"Begitu toh maksudnya, masuk akal si, Gas lah malu-maluin. Cengtri kita!! ." Sahut bu Melda dengn gaya santai meniru Nora.
Nora tersenyum seperti kuda, menampakkan sedikit cabai yang tersangkut di sela-sela giginya. Claudia terkekeh melihat hal itu, Nora hanya cengar-cengir sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Oke, kita gass gak nii?? " Tanya bu Melda dengan suara yang sedikit kuat pada Nora dan Claudia yang sudah standby di atas sepeda motor bu Melda.
"Gass!!! " Jawab mereka bersamaan. Claudia tertawa kecil, dia merasa senang bisa menemukan teman yang baik dan mau menampung cerita kelam yang ia alami.
Akhirnya mereka pun melaju menyusuri jalanan, meninggalkan area sekolah. Debu dan asap kendaraan jadi makanan sehari-hari Nora. Begitulah keseharian hidup di kota ini. Begitupun yang mereka bertiga rasakan, debu dan asap jalanan menjadi saksi bisu perjalanan mereka pulang menuju rumah.
Pemandangan kota di siang hari dengan terik matahari yang menyilaukan mata membuat suasananya seperti berada di kumpulan bara api, panas sekali. Keringat bercucuran membasahi tubuh Nora, Claudia dan bu Melda. Namun, semangat bu Melda tak kendor. Bu Melda tetap melanjutkan perjalanan menuju rumah Nora dan mengantarkannya sampai tujuan dengan selamat.
Di mobil (dalam perjalanan pulang)....
"Na.." Panggil Mei pada Riana yang sedang asik melihat ponsel canggih miliknya.
Riana tak menjawab, namun ia menoleh ke arah Mei sambil menaikkan sebelah alisnya menatap binging teman kecilnya itu.
"Apaansi lo Mei?, heran deh gue." Riana bertanya pada Mei dan kembali menatap laya ponselnya.
Dia berucap seolah hari ini tak terjadi hal apapun, membuat Mei menjadi bingung harus berkata apa lagi agar Riana mau berbicara padanya. Akhirnya Mei memilih diam dan melamun menatap jalanan dari dalam kaca mobilnya.
ini kayaknya gorengannya dibuang, cabenya ditelen.
pedes banget soalnya 😂
bunga jason ama caludia 🌻❤
Dah paslah tuh