Aku tidak pernah tahu tentang apa yang menimpaku sebelum nya. Aku tidak pernah tahu bagaimana dunia luar sebenarnya. Papa menyembunyikan ku dari indahnya dunia, dia selalu mengatakan semua ini demi keselamatanku, dan aku tidak pernah di beri tahu apa alasan nya.
Sampai akhirnya aku tahu hal yang begitu besar. Hal yang akan mengubah hidupku dan perjalanan hidupku, dan membuat aku mengenal dunia yang aku kira akan jauh lebih menyenangkan dari sekedar bermain di taman rumah. Padahal Papa memberikan apa yang aku inginkan dan apa yang aku butuhkan, tapi aku terus bersikeras untuk melihat dunia luar yang ternyata benar hanya bisa menyakitiku.
Namun aku bertemu dengan dia, laki-laki yang menjadi pelindungku. Laki-laki yang akan menjaga ku dari masalah yang menyerangku dari dunia yang ternyata begitu kejam. Dia memberikan kebahagiaan yang aku kira akan bertahan cukup lama, dia sudah memberikan harapan yang besar terhadapku, aku percaya kepadanya.
Akan tetapi pada akhirnya dia juga lah sumber dari masalah terbesarku, masalah yang hanya akan membuat ku menyesali keputusan ku untuk mencoba ke dunia luar. Aku mencintainya namun aku juga membencinya.
Bagaimana akhirnya aku bisa menjalani semua ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ega Endrawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Si misterius
Aku tertidur.
Saat sudah beberapa jam berlalu,aku terbangun,aku melirik jam di tangan ku.
21.30
Ini belum terlalu malam dan aku lapar kembali. Biasanya aku makan teratur sehari bisa tiga kali,belum cemilan nya. Sementara sekarang,aku hanya makan tadi siang dengan laki-laki itu,tentu perut ku pasti sudah mendemo untuk mencari makanan lagi.
Aku melirik ke bilik di sebelahku. Mungkin saja laki-laki itu mau mengantarku ke foodcourt lagi.
Aku bangun dan aku berdiri untuk melihat dia,namun ternyata dia tidak ada di tempat.
Aku memakai jaket ku dan memberanikan diri untuk berjalan keluar sendirian. Aku turun dari tempat tidurku dan berjalan dengan perlahan dan hati-hati,seseorang melintas di depan kamar ku,lalu aku cepat-cepat menutup kepalaku dengan kupluk. Entahlah,saat Papa menceritakan hal yang sebenarnya kepadaku,aku malah jadi lebih was was dan berhati-hati.
Aku keluar dari bilik ku,melirik kanan kiri di lorong memastikan tidak ada orang yang akan melihat jalan ku yang aneh.
Aku berjalan di lorong,dan semakin lama semakin lama aku malah jadi terbiasa dengan goncangan ombak kecil kecil ini.
Aku memasukan tanganku ke dalam saku jaket ku,lalu aku mulai berjalan dengan normal menuju foodcourt itu berada.
Aku keluar dari lorong dan melihat banyak sekali orang yang berkeliaran disana. Aku juga sambil mencari laki-laki itu,namun aku tidak bisa menemukan nya. Aku melirik ke atasku,melihat lantai dua dan lantai satu. Aku ingat kata-kata pria itu,yang mengatakan ada suasana indah di atas sana yang bisa kita nikmati.
Aku memikirkan keputusanku sejenak,lalu aku mencari dimana akses tangga untuk aku bisa naik. Dan aku menemukan nya di samping restaurant yang tadi siang aku datangi.
Tangan ku berkeringat dan aku panik,aku diam dulu di bawah tangga berjalan kesana kemari sedang membujuk diriku untuk berani.
“Ayoo lawan ketakutan lo Aca” ujar ku pada diri sendiri.
Lalu dengan menghembuskan nafas begitu dalam aku langsung menaiki tangga itu dengan segenap keberanian yang sudah aku kumpulkan.
Saat sampai ke atas,aku merasa lebih tinggi dari sebelumnya. Aku melirik kanan kiriku,disana lebih tenang dan lebih sepi. ada juga restaurant kecil yang mungkin di khususkan untuk penumpang kelas 1 & 2.
Aku berjalan menuju pembatasnya. Lantai dua itu adalah atap dari restaurant yang tadi siang aku hampiri. Aku memberanikan diri memegang besi penyangga itu,melirik ke bawah yang banyak sekali orang yang sedang beraktifitas di bawah sana.
Senyum ku terpancar di wajahku. Ternyata di atas sini lebih indah,aku bisa melihat orang orang di bawah dan juga bisa melihat laut lepas yang sangat indah. Aku berjalan ke arah samping nya,memegang kembali besi penyangga itu dan mulai menatap lautan yang amat sangat gelap.
Laki-laki itu benar,ini semua terasa begitu tenang dan damai. Aku memejamkan mataku,merasakan kenikmatan dingin nya laut malam ini,aku mendengar deburan ombak yang ternyata tidak semengerikan yang aku bayangkan,lalu tiba-tiba ingatan tentang Mama kembali datang dalam fikiranku. Kenangan indah di pesisir pantai dengan Mama terputar jelas seperti sebuah film di dalam fikiranku. Bagaimana dia tersenyum bermain bersama ku, tertawanya yang begitu lepas,dan ciuman Mama yang sangat sangat tulu,begitu terasa seperti nyata. Lalu tiba-tiba kenangan pahit itupun ikut datang. Aku ingat persis bagaimana aku mendengar suara ledakan yang begitu besar,lalu tiba-tiba semua orang berlari,aku juga ikut berlari mengikuti kemana mereka pergi, dan pemandangan yang tidak pernah bisa aku lupakan, ketika aku melihat Mama mengambang di lautan pun kembali teringat di memory ku. Aku merasa mual dan pusing ketika mengingatnya,aku berusaha membuka mata dan malah hanya menambah rasa mual ku ketika kapal ini bergoncang menghantam ombak. Aku membalikan badan dan hampir saja terjatuh,seseorang menangkapku dengan satu tangan nya. Aku begitu bisa merasakan parfume nya yang sangat harum,aku berusaha melihat siapa laki-laki itu,namun mataku sepertinya sudah begitu lelah. Samar-samar aku melihat laki-laki itu memakai masker hitam,memakai topi yang hampir menutup matanya,dan memakai kupluk di atas topinya.
Dia mengangkat tubuhku yang lemas,lalu dia membaringkanku di atas kursi panjang yang sepertinya tidak jauh dari tempat ku berdiri.
Dia membaringkan ku,memberikan ku sebuah obat dan minum hangat. Aku masih lemas,dia membantuku meminum obat itu,lalu setelah selesai dia bangkit dari berjongkok nya di hadapanku lalu berjalan pergi.
Aku masih begitu pusing dan mual hebat,namun aku mulai bisa membuka mataku dengan jelas sekarang.
Aku melirik laki-laki misterius itu yang sudah mulai menuruni tangga. Aku ingin menahan nya memanggilnya,setidak nya mengucapkan terimakasih,namun dia sudah menghilang di tangga dan malah melihat seorang laki-laki menyebalkan itu naik berpapasan dengan si misterius itu.
Dia tampak lega bisa melihatku.
“Lo darimana?” Tanya dia dengan panik saat akhirnya melihat aku terbaring dengan lemas.
Aku tak menjawab,dia melihat ada bungkus obat dan minum di meja ku.
“Ini obat mual. Lo mabuk laut ?” Tanya nya.
Lalu aku berusaha duduk sambil memegang kepala ku yang masih pusing.
“Gue tadi hampir pingsan di luar sana. Gue emang mual banget dan pusing kaya naik roller coaster gitu,terus ada orang yang bantuin gue berbaring disini,gue ga tau dia siapa,tapi dia kasih obat itu,terus pusing gue ilang tapi mual nya masih ada”
“Ck. Lo lagian mau ngapain sih?” Tanya nya terdengar kesal.
“Gue cuma ikutin saran lo tadi siang kan”
“Ya at least lo kan bisa ajak gue”
“Lo ga ada di tempat lo” jawab ku ikut kesal.
Lalu dia seperti bersalah.
“Gue,habis dari foodcourt belakang tadi” ujarnya.
“Ah ya udah ayo,nyusahin aja si lo. Gue tuh panik takutnya lo pingsan dimana terus kecebur ke laut”
Dia membantuku bangun dengan mengangkat lenganku.
Aku tidak mengerti,apa semua orang memang seperti ini. Kenapa bisa orang-orang yang baru aku kenal bisa sepeduli ini,padahap kami baru bertemu beberapa jam saja,bahkan pria misterius tadi baik sekali menggendongku ke tempat duduk dan memberikan obat.
Kami sampai ke bilik kami.
“Duduk” pinta nya dengan ketus.
“Nyusahin aja deh lo,lo tuh orang asing tapi udah bikin gue pusing”
Aku melirik dia dengan sinis.
“Kalo lo ga mau bantuin gue ya ga usah,biarin aja gue sendiri”
“Ya mana bisa? Nih di ruangan ini orang-orang udah liat kita ngobrol ya,bahkan orang lain udah liat kita bareng-bareng makan di luar sana,kalo lo sampe ilang ya pasti gue yang kena getahnya”
Dia benar, jika saja saat itu aku pingsan bahkan mungkin terjatuh ke lautan,dia sudah pasti adalah orang pertama yang akan banyak di hujani pertanyaan orang orang. Kasihan dia,harus bertanggung jawab menjaga orang yang tidak di kenalnya.
“Aku lapar” ucap ku dengan wajah yang muram.
Dia kesal,namun dia tak kuasa melihat ku yang bersedih.
“Ck. Ambil ini” dia mengeluarkan roti sobek di dalam kantung belanja nya.
Aku mengambil roti itu dari tangan nya dengan lemah. Dan mulai memakan roti nya.
Dia kesal tapi dia tetap baik.
Hari sudah begitu larut,aku tertidur kembali setelah merasa perutku kenyang,dan lagi mungkin efek obat itu ada obat tidurnya,aku merasa malam ini begitu nyenyak sekali.