Bukankah tidak ada yang sempurna di dunia ini?
Satu hal itu yang Cinta lupakan, saat terpesona dengan kesempurnaan seorang Azio Salim.
Visual yang selalu berhasil membuat jantungnya berdebar serta pribadi dan sikap yang membuatnya nyaman, berbanding terbalik dengan kenyataan yang ia temukan, seorang iblis menakutkan yang bersembunyi di balik paras malaikatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hilmahiryadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
My Wedding Surprise
"Bagaimana?" tanya Jiyoung yang berjalan di belakang Cinta saat mereka kembali ke kamar setelah makan malam. "Tentang apa?" tanya Cinta datar. "Tentang kata-kataku tadi," jawab Jiyoung yang merubah posisinya jadi di depan Cinta dan membuat Cinta menghentikan langkahnya, "apa kau setuju?" tanyanya lagi.
Cinta diam menimbang-nimbang antara isi hatinya yang bimbang, pikirannya yang masih bingung, logikanya yang serasa tumpul serta kenyataan yang harus dihadapinya sekarang, "Apa ... Cinta boleh egois?" tanya Cinta pelan. "Hmm ... " sahut Jiyoung seraya matanya lekat menatap manik cantik Cinta dengan jantungnya yang mulai berdetak cepat, menunggu jawabannya.
"Ayo, menikah dan membesarkan anak kita bersama ... tanpa ada kata cerai! Sehidup semati selamanya!" ucap Cinta pelan di akhir kalimat, sengaja menekan kata-kata terakhirnya tapi dengan tatapan yang begitu teduh.
Deg! Jantung Jiyoung seketika terasa berhenti berdenyut mendengarnya, namun sepersekian detik kemudian, jantungnya kembali memacu cepat saat pujaan hatinya melanjutkan kata-katanya.
"Cinta akan selalu menerimamu apa adanya. Sarang ... " belum selesai Cinta mengatakannya, Jiyoung langsung menarik tengkuknya. Serigala gila itu mencium bibir merah mudanya kesukaannya itu.
Jiyoung terlalu bahagia mendengar jawaban Cinta sampai ia tidak sadar sudah memeluknya terlalu erat. Cinta menepuk-nepuk dadanya, memberitahukan bahwa ia sedang kesulitan bernafas.
"Maaf!" ucapnya saat melepaskan tautannya, "bayinya tidak kenapa-kenapa, 'kan?" tanyanya sedikit khawatir. "Kenapa yang ditanya bayinya? Yang kehabisan nafas 'kan, Cinta!" ucap Cinta kesal. "Maaf, tadi aku kelepasan," ucap Jiyoung lagi.
"Kelepasan? Memangnya kapan kamu tidak kelepasan?" sindir Cinta. "Maksudnya?" tanya Jiyoung tidak mengerti. "Selama ini kamu 'kan memang selalu lepas, tidak ada remnya! Ini, hasilnya!" sahut Cinta seraya mengelus-ngelus perutnya membuat Jiyoung tertawa melihat tingkahnya.
"Baiklah, mulai sekarang aku akan pakai rem!" ucap Jiyoung. "Kenapa malah direm? Sudah mau menikah, sudah jadi seperti ini juga!" ucap Cinta pelan dengan bibirnya yang ia manyunkan.
Jiyoung mengangkat satu alisnya saat melihat tingkah imut Cinta, "Tidak. Mulai hari ini harus pakai rem!" katanya. "Tumben!" sindir Cinta lagi. "Pokoknya tidak boleh dekat-dekat, apalagi sampai kelepasan!" sahut Jiyoung.
Cinta mengerutkan keningnya dan memandang tajam Jiyoung, "wae (kenapa)?" tanyanya. "Kata dokter, harus menunggu sampai kandungannya 3 bulan, baru boleh," jawab Jiyoung santai.
"Ih, pasti bohong!" kata Cinta. "Serius! Tanya saja dokternya," kata Jiyoung serius. "Ah! Waeyo (kenapa)!" rengek Cinta manja. "Molla (tidak tahu)! Jinjja (sungguh)! Jeongmal jinjjayo (benar-benar sungguh)!" sahut Jiyoung sambil terkekeh mendengar Cinta yang bertanya dengan bahasa Korea.
***
"Ah, capek!" ucap Cinta merebahkan dirinya di atas ranjang sesampainya di Maldives. Besok adalah pesta pernikahan mereka dan hari ini semua keluarga sudah tiba di destinasi pernikahan impian Cinta Ardita Widjaja.
"Kenapa hari ini mereka jadi melow semua? Dari tadi menahanku terus. Aku 'kan mau istirahat. Perasaan sejak hamil, aku selalu cepat merasa lelah. Apa memang seperti ini, ya, kalau hamil? Untung masih tidak ada yang tahu kalau aku sudah hamil," gumam Cinta seraya mencoba memejamkan matanya, tapi nihil.
"Aarrrgh! Pergi ke mana, sih, dia! Dari tadi tidak kelihatan hidung mancungnya. Betah sekali menghindari istri cantik dan seksi sepertiku! Sebal! Tidak mengerti apa, kalau istri dan anaknya sedang membutuhkan asupan ketampanan daddy-nya!" ucap Cinta kesal seorang diri karena sudah seminggu ini Jiyoung gencar melakukan physical distancing dengannya.
"Asupan apa?" tanya Jiyoung tiba-tiba datang dan sudah terkekeh melihat kelakuan Cinta yang menurutnya setelah hamil makin tambah manja. "Jiyoung!" rengek Cinta manja. "Tidak! Aku ke sini hanya karena disuruh memanggilmu makan bersama yang lain. Itu, mereka sudah menunggu di luar," jawab Jiyoung.
Jiyoung sengaja langsung memotong perkataan Cinta sebelum wanita manjanya itu meminta hal-hal yang harus dia hindari, bahkan Jiyoung memilih tetap berdiri di dekat pintu kamar, menjaga jarak aman agar ia bisa langsung kabur saat Cinta berniat menangkapnya lagi. Cinta hanya diam menatap tajam Jiyoung dengan wajah kesalnya.
"Tidak lapar?" tanya Jiyoung. "Lapar. Sangat lapar! Tahu tidak, sejak hamil, Cinta selalu merasa lapar, tapi Cinta tahan!" jawab Cinta lesu. "Kenapa ditahan? Makan saja apa yang kau mau. Kalau ditahan, nanti bayinya ileran, mau?" kata Jiyoung. "Bukan begitu. Cinta hanya takut wedding dress Cinta jadi tidak muat kalau Cinta makan terus," jawab Cinta.
"By the way, apa kau tidak ingin apa-apa? Seingatku, kau tidak pernah meminta apa-apa," kata Jiyoung tiba-tiba. "Maksudnya?" tanya Cinta. "Mengidam seperti orang hamil kebanyakan. Ingin makan apa, ingin ke mana, ingin dibelikan apa, ingin dibuatkan apa atau ingin melakukan apa, bukankah seperti itu? Tidak ada?" tanya Jiyoung penasaran.
"Tidak," jawab Cinta seraya menggelengkan kepalanya. "Mual juga tidak, 'kan?" tanya Jiyoung lagi. "Mungkin belum. Tapi bagus, 'kan? Jadi, tidak ada yang tahu kalau Cinta hamil," jawab Cinta. "Iya, benar," sahut Jiyoung pelan.
"Ah, Cinta baru ingat, ada yang Cinta inginkan!" ucap Cinta tiba-tiba. "Apa? Biar aku carikan. Makanan?" tanya Jiyoung semangat. "Bukan. Kiseu (cium)!" ucap Cinta seraya memajukan bibirnya. "Ck! Sudah, aku duluan," sahut Jiyoung langsung menjauh keluar kamar.
"Ya! Cinta mengidamnya itu, tahu!" teriak Cinta, tapi Jiyoung tidak menghiraukannya. Ia tetap berjalan meninggalkan Cinta yang semakin kesal dibuatnya. Dengan wajah cemberut, Cinta pun melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu karena bagaimanapun dia memang sudah lapar.
"Sebal! Tanggung jawab, kalau anak kita nanti ileran!" ucap Cinta pelan saat melewati Jiyoung dengan kesal tanpa menyadari langkahnya yang tidak hati-hati, "uwaaa!" pekiknya yang hampir terpeleset. "Bahaya, tahu!" sebuah suara lembut dengan tangan kekar yang melingkar di perutnya dan menyelamatkannya. Cinta menatap lekat sepasang mata itu.
"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Jiyoung seraya melepaskan pelukannya. "Ah, iya," jawab Cinta. "Hati-hati jalannya! Lantainya licin," ucap Jiyoung seraya memungut sendal Cinta yang sempat terlepas dari kakinya. Jiyoung berlutut di depan Cinta untuk memasangkan kembali sendal itu di kaki Cinta.
Jantung Cinta sudah melompat-lompat kegirangan di dalam sana karena ia merasa menjadi Cinderella untuk sesaat saat sang pangerannya berlutut di depannya, tapi seketika jantungnya terasa berhenti berdetak saat Jiyoung mengecup lembut kakinya dan berkata, "jangan sampai jatuh lagi!" dengan lembut pula. Lalu, Jiyoung mengulurkan tangannya pada Cinta. Setelah Cinta menggenggam tangannya, Jiyoung pun berjalan menuntunnya sampai ke meja makan.
***
Keesokan harinya, pesta pernikahan pun berjalan lancar. Setelah mengucapkan sumpah di hadapan Tuhan untuk selalu sehidup semati dan memotong kue pengantin, kini tiba saatnya untuk wedding dance. "Sepertinya semua menikmati pestanya," ucap Cinta di sela-sela dansa romantisnya dengan suaminya itu.
Cinta berusaha mencairkan suasana karena sedikit gugup, bagaimana pun ini adalah first dance mereka. "Sepertinya," sahut Jiyoung santai. "Cinta harap semua berjalan lancar sampai selesai," ucap Cinta seraya tersenyum cantik. "Chagiya (sayang), gomawo (terima kasih)," ucap Jiyoung seraya membalasnya dengan tersenyum tampan.
Cinta tiba-tiba menghentikan langkahnya, "Apa tadi?" tanyanya. "A-apa? Kenapa berhenti? Perutnya sakit? Chagiya capek?" tanya Jiyoung yang mulai khawatir. "Cha-gi-ya?" eja Cinta dengan pelan seraya mengangkat satu alisnya.
"Apa aku salah bicara?" tanya Jiyoung dengan ekspresi takutnya yang menggemaskan. "Tadi memanggil Cinta, chagiya?" tanya Cinta sekali lagi. "Memangnya tidak boleh? Kau 'kan istri oppa," jawabnya percaya diri dengan ekspresi wajah serigalanya yang selalu memukau itu seraya menarik pinggang istrinya untuk melanjutkan dansa mereka.
Deg! Deg! Deg! "Ah, Serigala gilaku! Chagiya! Oppa! Kyaaa! Aku jadi merasa sedang shooting drakor. Yang seperti ini yang membuat kerusakan mentalku. Jantungku juga sudah makin rusak saja dibuatnya berdebar setiap saat. Setiap dekat dia, detaknya sudah tidak beraturan. Belum lagi, gula darahku yang sepertinya akan naik terus akibat sikap manisnya," pekik Cinta tertahan dalam hati.
Sementara Cinta asyik dengan lamunannya, tanpa ia sadari lagu "Perfect" by Ed Sheeran yang mengiringinya telah berhenti, yang menandakan dansa mereka telah usai. Rencana awalnya setelah ini, Cinta akan melakukan wedding dance surprise untuk suaminya, tapi demi keselamatan Jiyoung kecilnya, dia terpaksa membatalkannya.
Jiyoung melepaskan genggaman tangan Cinta. Ia berjalan menjauh begitu saja, meninggalkan Cinta yang terpaku karena bingung. Jiyoung melepaskan jasnya dan mengantungkannya di sandaran kursi tamu. Lantas, ia juga melepaskan kacamatanya dan sedikit mengacak rambutnya yang semula tertata rapi.
"Suami tampanku ini mulai lagi! Jangan katakan serigala gila ini ingin tebar pesona di hari pernikahannya sendiri? Apa perlu aku cungkil semua mata wanita di sini?" gerutu Cinta dalam hati sambil memperhatikan para tamu wanita yang ada di sana yang menatap lekat suaminya.
Jiyoung mengambil mic yang diserahkan oleh MC acara padanya. "Mau apa lagi dia pakai mic segala? Dia tidak berniat mengacaukan acara, 'kan?" pikir Cinta sedikit khawatir. Cinta tiba-tiba tertegun saat telinganya menangkap suara rintik hujan yang keluar dari speaker di sana.
"Eh! Ini 'kan "Still With You"-nya Jungkook! Jangan-jangan, dia mau menyanyikan lagu ini! Apa ini wedding surprise untukku? Dasar serigala gila! Padahal dia yang memaksa tidak usah ada wedding surprise segala karena aku sedang hamil. Aduh, kenapa mataku jadi panas seperti ini?
Padahal dia belum mulai menyanyi, tapi aku sudah terharu seperti ini," lirih Cinta dalam diamnya.
Jiyoung berjalan pelan menghampiri Cinta seraya menyanyikan lagu itu. Cinta sampai menutup mulutnya dengan kedua tangannya, bahkan kini air matanya mengalir dari kedua ujung matanya. Bukan hanya karena dia bahagia mendapatkan surprise yang tidak pernah dia duga sama sekali, tapi juga karena ini adalah lagu favoritnya, lagu milik idolanya dan dinyanyikan oleh pria tercintanya yang kenyataannya juga mirip dengan bias-nya itu.
Dan hal yang tidak terduganya lainnya, ternyata suara suaminya juga tidak kalah merdunya dengan sang bias. Sekalipun bukan Jungkook yang sedang menyanyi di hadapannya, tapi dia tetap terharu karena dia adalah suami tercintanya. Terlebih, entah mengapa, Cinta merasa lirik lagu ini sungguh mencerminkan isi hati seorang Ahn Jiyoung.
Nal seuchineun geudaeui yeot-eun geu mogsoli.
(Suaramu yang lembut itu menyentuhku.)
Nae ileum-eul han beonman deo bulleojuseyo.
(Tolong, panggil namaku sekali lagi.)
Eol-eobeolin no-eul alae meomchwo seoissjiman.
(Aku berdiri diam di bawah cahaya beku.)
Geudae hyanghae han geol-eumssig geol-eogallaeyo.
(Tapi aku akan terus berjalan langkah demi langkah ke arahmu.)
Still with you.
(Bersamamu.)
Eoduun bang jomyeong hana eobs-i.
(Di dalam ruang gelap tanpa cahaya.)
Igsughaejimyeon an doeneunde.
(Tak seharusnya aku terbiasa.)
Geuge tto igsughae.
(Tapi aku sudah terbiasa.)
Najimag-i deullineun.
(Suara yang lembut.)
I eeokeon soli.
(Yang mendinginkan.)
Igeolado eobs-eumyeon.
(Tanpa ini.)
Na jeongmal muneojil geos gat-a.
(Aku mungkin akan hancur berantakan.)
Hamkke usgo hamkke ulgo.
(Tertawa bersama, menangis bersama.)
I dansunhan gamjeongdeul-i.
(Kurasa perasaan sederhana ini.)
Naegen jeonbuyeossna bwa.
(Yang menjadi segalanya bagiku.)
Eonjejjeum-ilkka.
(Saat itu terjadi.)
Dasi geudael majuhandamyeon.
(Saat kita bertemu lagi.)
Nun-eul bogo malhallaeyo.
(Aku akan menatapmu dan berkata.)
Bogo sip-eoss-eoyo.
(Aku merindukanmu.)
Hwangholhaessdeon gieog sog-e.
(Dalam kenangan yang indah.)
Na hollo chum-eul chwodo biga naelijanh-a.
(Hujan turun meski aku menari sendirian.)
I angaega geodhil ttaejjeum.
(Saat kabut hilang.)
Jeoj-eun ballo dallyeogal ge.
(Aku akan berlari kearahmu dengan kaki basahku.)
Geuttae nal an-ajwo.
(Peluklah aku erat.)
Sampai pada lirik itu, Jiyoung merentangkan kedua tangannya. Cinta pun berlari menghambur ke dalam pelukannya. Cinta memeluknya dengan erat, begitu pula Jiyoung yang membalasnya. Riuh tepuk tangan para tamu undangan menggema melihat pemandangan mesra di depan mereka.
"Gomawo ... " ucap Jiyoung lirih seraya mencium pucuk kepala Cinta. Cinta menyeka bulir air mata yang jatuh di wajah tampan itu dengan tersenyum cantik, lantas merebut mic di tangan Jiyoung dan melanjutkan part kedua lagu itu.
Jeo dal-i oelowo boyeoseo.
(Bulan itu tampak kesepian.)
Bamhaneul-e hwanhage ulgo issneun geos gat-aseo.
(Seperti sedang menangis di tengah cerahnya langit malam.)
Eonjenga achim-i oneun geol almyeonseodo.
(Meski aku tahu pagi akan segera datang.)
Byeolcheoleom neoui haneul-e meomulgo sip-eoss-eo.
(Aku tetap ingin menjadi bintang di langit.)
Haluleul geu sungan-eul.
(Setiap hari, setiap saat.)
Ileohge doel geol al-assdamyeon.
(Jika aku tahu akan jadi seperti ini.)
Deo dam-adwoss-eul tende.
(Maka aku akan menyimpannya lebih lama.)
Eonjejjeum-ilkka.
(Saat itu terjadi.)
Dasi geudael majuhandamyeon.
(Saat kita bertemu lagi.)
Nun-eul bogo malhallaeyo.
(Aku akan menatapmu dan berkata.)
Bogo sip-eoss-eoyo.
(Aku merindukanmu.)
Hwangholhaessdeon gieog sog-e.
(Dalam kenangan yang indah.)
Na hollo chum-eul chwodo biga naelijanh-a.
(Hujan turun meski aku menari sendirian.)
I angaega geodhil ttaejjeum.
(Saat kabut hilang.)
Jeoj-eun ballo dallyeogal ge.
(Aku akan berlari kearahmu dengan kaki basahku.)
Geuttae nal jab-ajwo.
(Peluklah aku erat.)
Nal balaboneun huimihan miso dwipyeon-e.
(Di balik senyum tipismu saat menatapku.)
Aleumdaun bolasbich-eul geulyeobollaeyo.
(Aku ingin menggambarkannya seperti cahaya ungu yang indah.)
Seolo balgeol-eum-i an maj-eul sudo issjiman.
(Meski mungkin langkah kita tidak sama.)
Geudaewa hamkke i gil-eul geodgo sip-eoyo.
(Tapi aku tetap ingin melaluinya jalan ini.)
Still with you.
(Bersamamu.)
"Saranghae, jeongmal saranghae (sungguh aku mencintaimu)," ucap Cinta di akhir lagunya. "Gomawo. Nado saranghae (aku juga mencintaimu)," balas Jiyoung. "Ah, padahal Cinta tidak ingin menangis seperti ini, Pasti jelek!" ucap Cinta di tengah isak tangisnya.
"Jelek apanya? Chagiya tetap cantik, kok," ucap Jiyoung seraya menyeka air mata Cinta dengan jarinya. Kemudian semua berakhir dengan ciuman hangat keduanya sebagai penutupnya.
***
Bulan dan bintang mulai naik di permukaan langit malam, Cinta yang sudah merasa kelelahan pun memutuskan untuk kembali ke kamarnya, "Cinta menyesal ... " ucapnya dengan tatapan lurus ke depan. "Menye ... sal?" seketika tubuh Jiyoung mematung mendengarnya dan tangannya mengepal kuat.
"Cinta menyesal, kenapa Cinta memilih villa yang paling ujung di sana!" ucap Cinta seraya menunjuk villa di ujung jalan, "jauh! Cinta capek!" rengeknya manja bergelayut di tangan kekar itu. Jiyoung melepaskan kepalan tangannya.
Pletak! "Aw, kenapa Cinta dijitak!" pekik Cinta seraya mengusap kepalanya dengan kedua tangannya, walau Jiyoung menjitaknya dengan pelan tetap saja rasanya sakit.
Sret! Jiyoung tiba-tiba menggendong Cinta ala bridal style. "Oppa!" pekik Cinta lagi, tangannya merangkul kuat di leher Jiyoung. "Diam saja! Jangan gerak-gerak!" pinta Jiyoung seraya terus melangkah. "Oppa serius? Ini masih jauh!" kata Cinta seraya menatap wajah suaminya itu.
"Kenapa? Chagiya takut oppa tidak kuat, ya?" kata Jiyoung santai. "Kalau begitu, nanti berapa round?" bisik Cinta di telinga Jiyoung. "Tidak ada!" jawab Jiyoung santai sambil tersenyum. "Ih, oppa tidak asyik! Ini 'kan malam pertama kita!" kata Cinta cemberut.
"Malam pertamanya ditunda 2 bulan lagi," sahut Jiyoung. "Apa-apaan! Bisa-bisanya malam pertama ditunda 2 bulan lagi!" ucap Cinta kesal. "Tidak boleh! Bahaya!" tegas Jiyoung. "Percaya sekali, sih, pada dokter!" sarkas Cinta.
"Kalau benar bayinya nanti kenapa-kenapa, bagaimana?" tanya Jiyoung. "Kita buat lagi saja, mudah 'kan!" ucap Cinta tengil. "Keras kepala sekali, ya!" sindir Jiyoung. "Memang Oppa bisa menahannya?" tanya Cinta seraya mengejek. "Kata siapa, tidak bisa!" sahut Jiyoung.
"Ck! Bohong!" kata Cinta menjulurkan lidahnya. "Buktinya sudah menahan berminggu-minggu, 'kan!" balas Jiyoung menjulurkan lidahnya juga. "Sudah lama, 'kan? Jadi, malam ini tidak usah ditahan lagi saja!" goda Cinta. "Tidak, tunggu 2 bulan lagi!" tolak Jiyoung.
"Oppa!" rengek Cinta manja. "Chagiya!" sebut Jiyoung seraya menurunkan Cinta dengan pelan saat sampai di villa mereka, "istirahatlah. Oppa kembali sebentar lagi, ponsel oppa ketinggalan," ucapnya seraya mengecup lembut dahi Cinta.
"Alasan!" ucap Cinta cemberut. Jiyoung terkekeh melihat tingkah imut istri kecilnya itu. Cup! Satu flying kissbye beserta senyuman andalannya dilayangkannya ke arah Cinta sebelum Jiyoung menghilang dari balik pintu.
yang sabar yaa..
menguras emosi dan airmata...
kok aku yang jadi deg2an...
Aku tunggu kedatangan kk di karya aku ya
"Kamu matahari dan aku bulan"
"Siren or Human"
Semangat🥰