"Aneh...Mengapa tidak ada ari-ari bayi?" ucap seorang tenaga medis.
"Ya. Dan darah yang berhamburan bukan berasal dari rahim mbak Neha. Buktinya semua masih sempurna seperti kelahiran tadi hanya mimpi..." ucap medis lainnya.
"Jika bukan ku lihat dengan mata kepalaku sendiri, mana mungkin aku akan percaya dengan hal ini..."
"Tapi mbak Neha begitu kelelahan?"
"Yang diserap energinya, karenya mbak Neha kelelahan..." ucap Fachri.
"Mas Fachri..." ucap para medis takzim setelah tahu kehadiran anak laki-laki pemilik pesantren ternama itu.
"Bagaimana keadaan, mbak Neha...?" tanya Fachri.
"Sejauh ini stabil. Mbak Neha hanya kelelahan saja..."
"Tolong rawat mbak Neha. Jangan biarkan dia sendirian. Jika terjadi sesuatu cepat kabari kiyai atau saya. Oya, satu lagi. Kejadian ini hanya terjadi di pesantren saja, tidak untuk di viral kan..."
"Baik, mas. Kami mengerti..." ucap para medis hampir bersamaan.
Sementara itu, di dalam masjid berkumpul para kiyai dan guru. Wajahnya begitu tegang. Satu persatu mereka mengangkat tangan dan menghaturkan penuturan. Namun yang paling menonjol adalah pembicaraan tentang Aabid yang membawa lari si jabang bayi laknat itu. Hal tersebut pun menjadi pertanyaan yang sukses membuat kerut kening para kiyai dan guru.
"Mungkin ini bisa menjawab semua pertanyaan kita..." ucap Fachri.
Laki-laki bertubuh tegap itu berdiri di ambang pintu. Ditangannya ada selembar kertas berwarna putih. Setelah mendapat perhatian semua, Fachri melangkah mendekati kiyai Abdullah dan menyerahkan secarik kertas yang dibawanya.
Laki-laki lebih dari setengah abad itu mengambil apa yang disodorkan anak laki-laki semata wayangnya itu. Mata renta nya menilik setiap kata di setiap baris yang tertulis pada secarik kertas itu.
"*Neha istriku....Maafkan atas perilaku ku yang terbilang aneh. Aku terpaksa. Demi menyatukan keluarga ku kembali, maka aku harus membawa bayi laknat itu pergi kepada yang semestinya memilikinya.
Neha istriku...Aku yakin kau akan baik-baik saja di pesantren bers…
Laki-laki Penghuni Hutan Tanggamus
Episode 32. Jangan Pergi, Kak....!
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 46 Episodes
Comments