BAB

• Ayo menikah

Pagi harinya Adira terbangun dengan mata yang sembab. Semalaman penuh dia menangis. Bingung untuk mengutarakan permasalahan yang ada pada Yovan. Adira malah mengatakan hal yang berbelit. Membuat mereka akhirnya bertengkar. Beruntungnya meskipun begitu, Yovan masih menghubungi Adira di pagi hari.

Dengan perasaan campur aduk Adira mengangkat telfonnya. Pagi-pagi seperti ini rumah pasti sepi. Mira sudah pasti berolahraga di sekitar komplek. Sedangkan Mamanya keluar membeli sarapan.

"Selamat pagi cantik! Aku tau pasti semalam kamu itu banyak pikiran dan sulit buat utarain masalah kamu ya?"

Sapaan dan tebakan dari suara itu jelas membuat Adira tak dapat berkilah. Apalagi suara hangat lembut Yovan benar-benar membuat pikiran Adira merasa aman.

"Selamat pagi, iya kamu benar." Adira menarik nafas dalam-dalam.

"Kamu bisa langsung cerita dan kasih tau aku apa masalah kamu sayang. Hm.. Biar aku tebak, kamu mau di jodohkan?"

Tenggorokan Adira tercekat. Tebakan Yovan benar, namun belum pasti. Hanya saja sudah menjadi sebuah masalah bagi jiwa Adira.

"Hei? Aku benar ya.."

"Iya sayang kamu benar. Tapi, hal itu berlaku nanti saat Mira sudah menikah. Dan jika sampai saat itu aku belum kunjung membawa calon. Maka Mama dengan tegas akan menjodohkan aku."

"Aku gak mau kehilangan kamu sayang.." Suara Adira bergetar menahan tangis. Rumah sunyi ini membuat Adira benar-benar merasa makin leluasa untuk mengeluarkan air matanya.

"Baiklah aku paham sayang, kamu tenang aja. Aku pasti akan nikahin kamu. Tahun ini setelah Mira menikah, kita akan langsung menikah juga."

Jawaban kepastian yang diberikan oleh Yovan membuat Adira merasa lega. Tetapi dia sadar, mendapatkan restu Mama akan cukup sulit. Apalagi Mama selalu melihat seseorang dari kasta pendidikan dan pekerjaan. Namun selama Yovan setia dan mau berjuang, Adira akan selalu kuat untuk memperjuangkan hubungan mereka.

"Makasih sayang."

"Makasih juga, karena mau nunggu aku dan bersabar."

Setelah itu Adira pergi ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Namun, saat melewati dapur, mata Adira terpaku dengan tumpukan cucian piring yang berserakan. Selalu seperti itu di pagi hari. Padahal malamnya Adira sudah menyelesaikan tugas rumah. Tapi paginya selalu saja pekerjaan itu menumpuk lagi untuk di kerjakan.

"Adira semangat! Ingat kata Yovan, kamu kuat dan hebat." Lalu Adira pun merapihkan meja, dan mulai menyapu rumahnya terlebih dahulu, kemudian mengepel lantai. Setelah itu barulah gadis itu mencuci piring.

"Siapa sih yang makan malam-malam begini, selalu aja setiap aku udah bebersih, pasti tak lama berantakan dan kotor lagi." Adira ngedumel.

Tiba-tiba di bahu Adira terasa hangat sebuah tangan menyentuh bahunya perlahan. Membuat tubuh Adira membeku lantaran kaget. Pikiran Adira awalnya menduga jika itu adalah Mira. Tapi saat sadar jika tangan ini besar. Adira hanya dapat berasumsi yang di belakangnya adalah maling atau orang jahat.

Dalam rasa takut dan tubuh yang membeku itu, tangan besar yang semula ada di bahu, pindah ke pinggang Adira, dan tak hanya satu, namun kedua tangan besar dan berbulu itu melingkar di perutnya. Memeluk Adira dari belakang. Nafas pria itupun terasa oleh kepala dan tengkuk Dira.

"Anak Papa sudah besar ternyata.."

Suara itu,

Adira kenal, perlahan Adira menoleh, wajah pria itu hanya berjarak sejengkal dari wajahnya. Membuat Adira lebih panik lagi dari sebelumnya.. Keringat dingin langsung menyerang.

Terpopuler

Comments

Ichigo Kurosaki

Ichigo Kurosaki

Kece abis!

2025-10-03

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!