Kesadaran Chen tidak jatuh ke dalam kegelapan yang tenang atau kedamaian yang semu setelah pertempuran gila di Altar Jantung Bumi. Sebaliknya, jiwanya terlempar kembali dengan sentakan hebat ke dalam ruang hampa berdensitas tinggi yang dipenuhi oleh kabut hijau zamrud pekat yang berputar-putar seperti badai kosmis. Namun, berbeda dari dimensi mimpi sebelumnya, atmosfer di tempat ini kini terasa begitu menekan, berat, dan mencekam, seolah-olah gravitasi spiritual di dalamnya siap meremukkan jiwa manusia biasa menjadi serpihan debu dalam sekejap mata.
Di hadapan kesadaran astral Chen, kabut hijau yang melayang-layang itu perlahan-lahan mulai memadat, berkumpul di satu titik fokus hingga membentuk siluet raksasa berjubah zirah kuno yang agung. Yang paling mengerikan adalah sepasang mata dari siluet zirah tersebut yang menyala merah darah—persis sama dengan sepasang mata Chen saat ia mengamuk membabi buta menghancurkan Penjaga Pulau beberapa saat yang lalu.
"Kau... kau kembali lagi ke dalam pikiranku," bisik Chen dengan suara yang bergetar hebat, meraba dadanya yang terasa sesak di ruang hampa tersebut. Ia merasakan getaran kecemasan yang luar biasa menjalar di sekujur jiwa astral-nya.
"Siapa sebenarnya kau? Dan kekuatan monster macam apa yang baru saja mengambil alih tubuh fisiku di atas bukit tadi?!"
Siluet raksasa itu tidak segera menjawab pertanyaan Chen. Kehadirannya memancarkan aura wibawa mutlak dan tekanan ghaib yang begitu masif, memaksa lutut astral Chen untuk menekuk dan berlutut di atas lantai kabut tak kasat mata demi menahan beratnya energi purba tersebut.
"Aku adalah primordial dari garis darahmu. Aku adalah Xuantian, Pemilik Pertama dari Mata Tembus Pandang yang kini bersemayam di dalam jasad fanamu," ucap suara itu dengan nada bariton yang menggelegar, bergetar langsung di dalam sanubari terdalam Chen. "Hari ini, kau telah melihat sekilas dari apa yang kau sebut sebagai kebenaran mutlak. Sudah saatnya kau memahami takdir besar yang kau pikul di pundakmu…
MATA TEMBUSH PANDANG
Bab 73: Asal usul kutukan suci.
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 102 Episodes
Comments