Pernikahan yang didasari cinta belum tentu selamanya akan abadi. Akan ada badai yang akan menghampiri, apakah sang nahkoda bisa mengatasinya atau tidak tergantung kesiapan diri.
Begitu juga dengan rumah tangga Ima, kebahagian yang ia nikmati hancur lebur saat suaminya punya Wanita lain dan lebih menyakitkan mertuanya ikut andil atas pengkhianatan putranya.
Ima yang sakit hati bertekad dalam hati akan membalas semua pengkhianatan suami dan mertuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ima susanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Untuk meredakan kekesalannya pada sang ayah, Ima memutuskan untuk mencari udara segar sejenak di taman rumah sakit. Ia butuh seorang teman untuk mengeluarkan unek - unek yang tertahan. Ima mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi sahabatnya.
"Hallo Ima, ada apa?" tanya sahabatnya saat telpon di angkat.
"Kamu lagi mana?" tanya Ima
"Rumah. "
"Sibuk ga?"
"Ga." geleng Ratna padahal Iam tidak melihatnya.
"Kamu bisa kerumah sakit sebentar ga? Aku lagi butuh teman."
"Siapa yang sakit?"tanya Ratna panik, ia takut Ima kenapa - kenapa.
"Ayah."
"Ya udah aku segera meluncur kesana."
"Ok! aku tunggu." Ima memasukan ponselnya kembali kedalam sakunya. Ia memperhatikan orang lalu lalang silih berganti, ada yang berjalan santai ada juga yang tergesa - gesa. Tak berselang lama orang yang di tunggu akhirnya datang juga.
"Ima." panggil Ratna.
"Ratna." Ima langsung memeluk sahabatnya itu cukup lama mencari sedikit kenyamanan.
"Udah tenang?" tanya Ratna saat pelukan mereka terurai.
"Makasih sudah datang."
"Apaan sih, pakai makasih segala."
"Aku minta tolong sebentar ga?"
"Kamu mau ngapain?" tanya Ratna sambil menatap Ima yang namlak begitu kusut wajahnya.
"Aku titip ayah sebentar, aku mau pulang ambil beberapa keperluan aku di rumah sekalian ganti baju." ujar Ima.
"Siap, bos. Kamu tenang aja, serahkan pada ku." Ratna mengangkat tanganya layaknya memberi hormat sambil tertawa ringan.
"Kita keruangan ayah yuk, sekalian aku mau pamit."
" Ayo. "Ratna mengandeng tangan Ima menuju ruang inap ayah. sesekali mereka nampak tertawa, Ima selalu merasa terhibur saat bersama Ratna. Ratna memang pandai menghibur Ima yang tengah gelisah.
"Ya ayah tidur, nanti kalau ayah bangun tolong bilangin kalau aku pulang sebentar. "
"Ok! kamu hati - hati."
Ima bergegas keluar karna ojol yang ia pesan sudah menunggu di depan.
"Mbak Ima." sapa ojol ramah.
"Iya, mas."
"Sesuai titik ya?"
"Hmmm...." angguk Ima yang sudah duduk dijok belakang lengkap dengan helm di kepalanya.
Sepanjang jalan hati ima sangat gelisah, entah kenapa seakan ada yang memanggilnya untuk pulang ke rumah. Sebenarnya tadi bisa saja ia meminta tolong Ratna untuk membawa barang yang ia butuhkan tapi panggilan itu terus memaksanya.
"Makasih ya, pak. Udah bayar di aplikasi ya."
"Iya, mbak Mari." pamit ojol.
"Loh kok mobil mas Aldi ada di garasi ya? Bukanya ia lembur di resto." gumam Ima saat melihat mobil suaminya terpakir di garasi. Tanpa mengetuk pintu Ima menerobos masuk, sepi dan sunyi itu hal pertama yang ia rasakan saat masuk rumah.
"Lah orangnya mana ya? Apa mas Aldi di kamar ya?" pikir Ima suaminya pasti capek bekerja dan langsung istirahat di kamar. Ima melangkah perlahan menuju lantai dua dimana kamar mereka berada.
Langkah kaki Ima terhenti di depan pintu karna sayup - sayup telinganya mendegar suara yang begitu ia kenal tengah berbicara dengan seorang wanita. Tangan yang sudah terulur hendak memutar handel pintu surut, senyum di bibirnya seketika pudar. Jantung Ima berdegup sangat kencang saat mendengar suara orang yang tengah memadu kaish di dalam sana.
"Aauch... mas kamu laur biasa, aku selalu kalah dengan keperkasaanmu."
"Sayang kamu juga enak, punyamu masih sempit sayang. Oouch...."
"Lebih cepat, mas. Aku udah mau sampai."
"Tunggu, sayang. Kita keluar bareng - bareng." teriakan suara laknat bergema di dalam kamar.
Ima refleks menutup mulutnya dengan tanganya, sudut mata Ima memanas. Perlahan bulir bening itu tak bisa lagi ia tahan membasahi pipi mulusnya.
Ia menggelengkan kepala untuk menepis apa yang baru saja ia dengar, tapi suara itu nyata adanya. Lelaki yang selama ini ia percaya tega mengkhianati dirinya dan lebih parahnya ia memadu kasih di atas ranjangnya sendiri.
"Mas Aldi, kenapa? Tega kamu mas? Aku butuh kamu saat ini tapi kamu malah main gila." ucap Ima lirih. Badan Ima luruh kelantai saking shocknya. Untuk sesaat ia menumpahkan rasa sakitnya dengan menangis tanpa suara dan telinganya masih menyimak apa yang terjadi di dalam.
...****************...
Assalamualaikum kk, thor up lagi ya.
Jangan lupa like dan komenya serta vote yang banyak ya kk.