Setelah mengalami patah hati berat akibat pengkhianatan dari orang terkasih, Lifia memutuskan untuk tidak mempercayai laki-laki dengan mudah.
Bermain-main dengan perasaan mereka adalah caranya membalas dendam pada masa lalunya. Sampai dia bertemu dengan Galen, pria muda berusia 23 tahun yang mengajaknya untuk menikah.
Akankah Lifia menerima lamaran itu? Lalu, bagaimana perjuangan Galen meluluhkan hati Lifia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fiane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
"Hallo Lifi?" Suara lembut Zoya sedikit berteriak dengan suara musik yang terdengar mengganggu.
"Kamu di mana?" Tanyaku saat mendengar suara musik dan beberapa suara lainnya di sebrang sana. Jika dugaanku benar, mungkin anak ini sedang berada di kelab.
Sudah menjadi kebiasaannya bermain di kelab diakhir pekan. Akhir-akhir ini kebiasaan buruknya itu sedikit berkurang, dulu dia bisa bermain setiap hari bersama teman-teman dekatnya. Tapi semenjak Zoya memiliki kekasih dia berusaha untuk menguranginya, dan sekarang? Anak ini mulai aktif bermain di tempat seperti itu lagi. Apa hubungannya dengan kekasihnya baik-baik saja?
"Biasa. Tumben menelponku, ada apa nih?" Jawabnya terdengar lebih jelas, mungkin dia pergi ke tempat yang lebih tenang.
"Hah~ aku ingin mengonfirmasikan sesuatu untuk besok. Bisa kita bertemu sekarang?" Jelasku sambil melihat jam dinding yang sudah menunjukan pukul 08:02 malam.
"Kalau kamu tidak keberatan untuk bertemu di tempatku sekarang. Aku tidak masalah." Ucapnya membuatku sedikit terkejut. Bagaimana bisa aku pergi ke tempatnya? Seumur hidupku aku belum pernah menginjakan kakiku di tempat seperti itu. Apa aku akan baik-baik saja?
"Bagaimana?" Tanyanya membuatku ragu, tapi mau tidak mau aku harus menemuinya. Karena hal yang harus ku bahas dengannya adalah hal penting yang bersangkutan dengan pekerjaanku.
"Baiklah, aku akan ke sana. Kirim lokasinya padaku dan tunggu aku di luar oke."
"Oke."
Sambungan telpon terputus dan tak lama kemudian aku mendapatkan alamat yang ku butuhkan. Tanpa membuang-buang waktu lagi, aku bergegas pergi dari butik setelah mengunci pintu butik.
Karena satpam butik sedang mengambil cuti, aku jadi harus memperhatikan keamanan butik lebih teliti dari biasanya.
***
"Di mana anak itu?" Gumamku tidak mendapati Zoya di manapun. Padahal jelas-jelas aku memintanya untuk menungguku di luar.
Dengan malas aku kembali menelponnya, tapi tidak ada jawaban darinya. "Apa dia tidak memegang ponselnya?" Lanjutku sambil menghela napas memikirkan Zoya yang sedang asik bersenang-senang di dalam sana.
Tidak ada pilihan lain, aku harus masuk. Batinku bertekad dan berjalan melewati penjaga pintu setelah mengumpulkan semua keberanianku. Tentu saja mereka memeriksa identitasku untuk memastikan usiaku.
"Ugh!" Gumamku merasakan sakit di telingaku saat mendengar suara musik yang begitu keras, belum lagi pandanganku yang sedikit kabur saat melihat begitu banyaknya orang-orang berdesakan di sana.
"Apa bagusnya menghilangkan rasa lelah di tempat seperti ini Zoya?" Gumamku bertanya-tanya sambil merasakan tubuhku yang lebih lelah dari biasanya saat memasuki kelab.
Ku langkahkan kakiku perlahan menerobos beberapa orang di hadapanku, mencari keberadaan Zoya yang belum tertangkap oleh penglihatan ku.
"Wah siapa perempuan itu? Aku baru pertama kali melihatnya."
"Apa dia mencari seseorang?" Suara perempuan yang tertangkap oleh Indra pendengaranku saat aku melewatinya. Entahlah, padahal suara musiknya begitu keras sampai rasanya aku ingin pergi dari tempat ini secepatnya untuk melindungi aset berhargaku—telingaku, tapi anehnya telingaku bisa mendengar ucapan perempuan itu dengan jelas. Sangat luar biasa.
Mereka bahkan tau orang baru dan orang lama yang sering ke tempat ini ya? Batinku berhenti di dekat bar sambil memeriksa handphone ku, berharap Zoya balik menghubungiku. Tapi tidak ada panggilan balasan dari Zoya.
"Sebenarnya kemana perginya anak itu?" Gumamku mulai frustrasi mencari keberadaannya. "Apa aku pulang saja?" Lanjutku merasa harus menyerah. Tapi detik berikutnya aku langsung menggelengkan kepalaku, menepis pikiranku untuk kembali saat mengingat jadwal pentingku dengan Zoya besok.
"Permisi, apa kamu datang sendirian? Atau—" Tanya seorang pria mengejutkanku.
"Aku sedang menunggu seseorang." Potongku berniat pergi dari hadapannya karena tidak menyukai aroma yang keluar dari mulutnya—bau alkohol, namun dengan tangguhnya dia menghalangi langkahku.
"Kalau begitu aku bisa menemanimu sampai orang yang kamu tunggu datang." Tuturnya membuatku mengernyit tidak suka.
"Aku tidak mau." Ketusku benar-benar menabraknya dan pergi ke tempat duduk di sudut ruangan, lalu kembali menghubungi Zoya.
Kenapa tidak di angkat juga? Batinku mulai jengkel dengan anak itu. Bisa-bisanya dia mengabaikan panggilanku di saat aku bermurah hati datang untuk menemuinya di tempat seperti ini.
"Kalau boleh tau siapa namamu?" Suara pria sebelumnya kembali mengejutkanku, sepertinya dia tidak kenal kata menyerah. Benar-benar menyebalkan terus di ganggu seperti ini.
"Sudah ku katakan aku ...," jelasku terhenti saat aku melihat sosok familiar di tempat duduk yang tak jauh dengan tempatku saat ini. Pria itu tengah duduk bersama dengan seorang perempuan yang mengenakan pakaian seksi yang mengekspos bagian punggung dan paha mulusnya.
Tangannya yang memegang gelas wine segera mendapatkan satu tuangan wine dari perempuan itu sebelum dia kembali memeluk tubuh pria itu. Dan untuk beberapa alasan aku merasa mataku mulai tercemar saat memperhatikan sekelilingku. Banyak hal yang seharusnya tidak ku lihat, tapi aku melihatnya.
Apa mereka tidak malu melakukannya di tempat terbuka seperti ini? Batinku saat melihat pasangan sejoli yang tengah menikmati ciuman panasnya di sela-sela joget mereka.
"Tunggu dulu! Itu kan—Zoya?" Gumamku saat melihat perempuan yang sedang berciuman itu. Dengan cepat aku bangkit dari tempatku dan berjalan cepat mendekati perempuan itu setelah memastikan indra penglihatanku beberapa kali.
"Tunggu sebentar!" Seru pria yang ku abaikan sebelumnya, sekali lagi dia menghentikan langkahku dan mencekal pergelangan tangan kiriku.
"Apa?" Tanyaku menatapnya dengan tajam dan segera menepis tangannya dari tanganku.
"Itu aku—"
"Ah! Menyebalkan. Kalau aku tidak mau memberitahu namaku jangan maksa dong. Kamu kira perempuan suka paksaan?" Potongku sambil mendelik sebal sebelum berlalu dari hadapannya.
"Zo ...," ucapku terhenti saat melihat siapa pria yang sedang berciuman dengan anak itu. Mataku benar-benar dibuat terkejut saat melihat sosoknya yang sangat ku kenali. Mungkin harusnya aku menyadarinya dari awal, tapi karena pria pengganggu tadi, indraku jadi tumpul.
"Ekhem!" Dehemku mengejutkan mereka berdua, ku lihat keduanya langsung menoleh ke arahku dan menjauh satu sama lain.
"Lifi?" Ucap mereka bersamaan.
"Kenapa tidak menjawab panggilanku?" Tanyaku menatap sosok Zoya yang terlihat linglung dan dengan cepat dia mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana jeansnya.
"Ya ampun! Aku tidak menyadarinya." Ceplosnya terlihat sangat terkejut. Tentu saja, aku sudah menelponnya lebih dari sepuluh kali panggilan dan spam Chet sebanyak lima puluh kali.
"Ayo pergi ke tempat yang lebih tenang." Ucapku membuat Zoya mengangguk patuh sebelum memimpin perjalanan kami menuju lantai dua yang terlihat lebih tenang tanpa menanyakan apapun padaku.
"Lifi bagaimana kamu bisa berada di tempat seperti ini?" Tanya Caesar yang berjalan di sampingku, "aku masih tidak percaya kamu ada di hadapanku sekarang." Lanjutnya tidak membuatku ingin menjawab pertanyaannya.
Ya, pria yang berciuman dengan Zoya tadi adalah Caesar. Aku tidak tau bagaimana bisa mereka saling mengenal satu sama lain sebelum aku mengenalkan mereka. Apa mereka tidak sengaja mengalami suatu insiden yang membuat mereka saling mengenal satu sama lain? Entahlah, aku tidak tau.
"Lifi?" Tanyanya lagi mengembalikan ku pada kenyataan, dan entah kenapa aku merasa sedikit kesal padanya. Apa karena dia melakukan hal tadi bersama dengan Zoya? Perempuan yang jelas-jelas sudah memiliki kekasih.
Ku kira setelah diputuskan oleh kekasihnya, dia sudah menjadi anak baik dibawah pengawasanku. Ternyata dia menjadi lebih buruk dari yang ku harapkan. Batinku melirik Caesar sekilas sebelum menghela napas panjang. "Yah bukan urusanku juga." Lanjutku bergumam.
... tapi kalau harus memikirkannya sekarang, alasan kenapa anak ini jadi sangat pintar menggoda adalah karena dia sering melakukannya di tempat seperti ini?
"Duduklah!" Seru Zoya mengembalikanku pada kenyataan.
Dengan cepat aku mendaratkan bokongku di atas kursi empuk yang dipilihkan Zoya. Lalu dia ikut duduk disampingku dan Caesar, pria itu juga ikut bergabung bersama kami. Inginnya aku mengusirnya, tapi karena dia juga salah satu model yang ku pakai untuk pemotretan pakaian pengantin besok. Aku jadi berpikir untuk sekalian saja melibatkannya dalam diskusiku bersama Zoya yang juga model utamaku.
.
.
.
Thanks for reading...
tetap semangat ya
knapa di sensor
semangat ya💪💪
semangat kk
Semangat buat auhornya.