Ingin berhasil keluar dari perjodohan yang dilakukan Grandpa dan Grandma antara Alvin dan sahabat kecilnya sendiri Alana, Dewi Fortuna akhirnya berpihak padanya. Kejadian naas yang menimpah paman dan bibi dalam perjalanan menuju ke Mension untuk menghadiri pesta perjodohan itu tak sengaja diliput langsung oleh seorang reporter hingga menyebabkan keluarga Deacon menjadi topik utama perbincangan di negeri Paman Sam. Alvin tidak tinggal diam dengan hal tersebut dan akhirnya memilih untuk melakukan sesuatu agar topik itu hilang dari mulut masyarakat. Ia meluncurkan idenya dengan melamar langsung presenter sekaligus yang mengambil alih sebagai reporter penanganan berita tersebut. Wanita bernama Gilda sukses dilamar sebagai tumbal akibat bermain api dengan keluarga Deacon.
Akankah kisah cinta mereka akan akhirnya dimulai dari sini?......
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areq03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 "MENYETUJUI PERMOHONAN"
"Datanglah kerumah Minggu depan. Hari itu adalah acara ulang tahun pernikahan kedua mertua saya."
Gilda terpaku mendengar ucapan Nyonya Besar Deacon itu. Ia menelan ludah gugup. Air mukanya memancarkan kekhawatiran disana.
"Saya tau bagaimana hubungan kamu dengan anak saya. Semua hanya pura-pura saja, bukan?"
Wanita paruh baya itu memberikan senyuman, bahwa ia mengetahui semuanya. Hal itu semakin membuat Gilda terpaku ditempat sekarang ia berada.
"Kamu sudah tau sendiri bukan, apa resikonya jika kamu berani berurusan dengan keluarga Deacon?...."
"....saya harap, kamu bisa bertanggung jawab untuk jalan yang sudah kamu ambil."
Lanjut wanita paruh baya yang sangat dihargai puteranya itu.
Gilda menunduk gugup, sedang memutar kembali kejadian yang dia timbulkan saat itu ,sembari mengutuk diri dibalik wajah gemasnya yang memerah akibat amarah yang ia timbulkan sendiri.
"Sa...sa...saya akan berusaha untuk merenungi kesalahan saya. Tapi saya mohon hal ini tidak berlanjut sampai ke telinga keluarga besar saya."
Gilda berusaha sebisa mungkin untuk bisa meyakinkan Ibunda Alvin meski getaran suaranya jelas menunjukan sisi gugupnya.
"Nyonya Besar sudah mengetahui lebih jauh tentang saya. Maka tidak menutup kemungkinan Anda sudah tau seperti apa tempramen ayah saya...."
"...saya sangat berharap mereka tidak mengetahui bahwa saya saat ini telah menjadi tunangan pura-pura seorang Miliarder dari keluarga Deacon....."
"...ayahku memiliki seorang wanita yang sangat gila akan harta. Saya tidak ingin mengambil keuntungan apapun sejak nanti saya sudah dikenal sebagai tunangan dari anakmu."
Penjelasan panjang tersebut, tidak membuat Nyonya Deacon itu terheran. Ia bahkan sudah sangat jauh mengenali siapa lawannya sebelum akhirnya dia mengambil keputusan.
"Itu tidak akan terjadi, Gadis Manis. Sebenarnya, saya tidak ingin memaksa untuk menarik kamu bergabung dalam keluarga besar kami....."
"...maaf, jika ini sedikit memaksa kehendak mu. Mertua saya sedang mengalami masa tua, dimana dia ingin sekali melihat Alvin memiliki seseorang pendamping dari pilihannya sendiri....."
"...dan kebetulan Alvin sudah melamar mu saat itu, maka pilihan kami ada pada mu."
Gadis blasteran Indonesia - Amerika itu hanya bisa meremas keningnya gelisah. Ia sama sekali tidak mengharapkan hal seperti ini terjadi dalam hidupnya. Memiliki seorang ayah dengan segala tempramen keras saja sudah cukup membuat dia menderita selama ini. Ia bahkan sudah berfikir untuk tidak menikah seumur hidup, apalagi dalam waktu dekat ini. Ini tampak seperti mimpi bagi seorang Gilda Marcia.
"Gadis cantik, kamu dipilih langsung oleh mertua saya. Keputusan langka yang pernah terjadi selama saya bergabung dalam keluarga besar ini...."
"...sebagai seorang wanita, saya sangat mengerti dengan apa yang saat ini kamu rasakan....."
"....anggap saja, saya sedang meminta bantuan kamu. Tolong untuk sekali ini saja."
Gadis yang kerap kali di panggil Alvin 'GILA' itu, terdiam sesaat sambil menatap ibah pada sosok Nyonya besar itu. Segala pertanyaan muncul dalam pikirannya. Apa yang istimewa darinya, sampai-sampai Nyonya Besar ini harus memohon padanya. Gilda menatap teduh Wanita paruh baya itu, ada sebercak harapan terlukis jelas disana. Gilda berusaha meyakinkan diri sesaat agar ia bisa fokus pada keputusannya.
"Ba...ba...baiklah. Saya akan hadir di perjamuan itu, Minggu depan."
............................
Gilda melangkah terhuyung-huyung setelah keluar dari mobil taxi yang baru saja mengantarnya dilobi apartemen, lalu melangkah masuk ke lift yang kebetulan tidak ada antrian saat itu. Ia menekan bagian tombol nomor dengan tujuan ke lantai kamarnya. Didalam lift, Gilda masih saja memikirkan apa yang baru saja ia putuskan. Apa lagi kalau bukan tentang dirinya yang bersedia menjadi salah satu anggota baru keluarga Deacon. Tidak berhenti dia memukul dahinya kesal sambil sesekali mengutuk dirinya, akibat perkara bodoh yang sudah ia timbulkan sendiri.
"Ding....dong."
Gadis cantik dengan wajah murung itu, terbuyar dari pikirannya setelah mendengar suara alarm lift yang sudah sampai ke lantai kamarnya. Gilda mengusap wajahnya kasar dan mengambil langkah keluar menuju ke kamar apartemennya yang kebetulan berada tepat disamping lift.
Saat sedang menekan kode pintunya dan tepat saat pintu terbuka, Gilda merasakan badannya dipeluk oleh seseorang dari belakang dan dalam dekapannya, Gilda terdorong masuk tanpa adanya penolakan apapun, karena serangan tiba-tiba itu. Sesaat setelah berada dalam apartemennya, sosok itu langsung mengunci pintu kembali, dengan Gilda yang masih terpaku kebingungan dengan posisinya masih membelakangi sosok tersebut.
......................
...****************...
...----------------...
lanjutin dong kaka