Nasyila Alexa Pratiwi, atau akrab disapa Ale adalah gadis keturunan Indonesia-Inggris. Memiliki latar belakang keluarga yang tidak biasa, tak membuatnya menjadi pongah. Ia adalah gadis yang cantik, aktifis, pandai, sedikit bar-bar dan juga berprestasi. Perjalanan hidupnya tak semulus apa yang orang lihat. Lika-liku masalah keluarga dan masa remajanya tak membuatnya tumbang.
"Pundak ini untukmu, lepas topengmu aku tahu kau tak sekuat itu," kata seseorang yang kini menjadi rumah kedua baginya. Seseorang yang selalu memberinya dukungan mengarungi perjalanan hidupnya yang panjang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nbllaflii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUFAN
Hari sudah menjelang malam. Setelah dari Museum Geologi, rombongan SMA Purnawarman kini telah sampai di salah satu penginapan di Bandung. Meski jaraknya dekat, namun kegiatan study tour tetap memilih menginap di hotel. Karena sekalian belajar kesenian di Sawung Angklung Mang Udjo.
Sepulang dari Museum Geologi, sekitar pukul 14.00. Lima bus dari SMA Purnawarman langsung melanjutkan untuk makan siang dan ke Sawung Angklung Mang Udjo.
Now, mereka baru saja sampai di lobi hotel untuk melakukan registrasi.
“Huh,” Ale menghembuskan napas kasar sembari duduk di salah satu sofa.
“Vi, tolong ambil kuncinya, ya. Gua tunggu di sini, capek,” pinta Ale.
"Gua juga capek, Al," sahut Viola.
"Ya elah, Vi. Gua capek, ntar kalau tifus gua kambuh gimana?" Ale memelas dengan memasang wajah seimut mungkin.
"Geli,” Viola bergidik geli.
" Gua ambilin bentar,” ujar Viola beranjak dari duduknya.
Melihat wajah mulus Ale yang tampak kelelahan. Viola pun mengiyakan permintaan Ale. Meski pun ia juga merasakan lelah.
“Nih,” ucap seseorang menyodorkan kartu kunci kamar hotel.
“Punya siapa?” tanya Viola pada Gabriel yang memberikan kartu tersebut.
Pasalnya, Viola baru saja hendak mengambil kunci tersebut.
“Punya lu berdua. Tadi udah gua ambilin,” jawab Gabriel.
“Oh. Btw thank, Gab,” ucap Viola menerima kartu tersebut.
Gabriel hanya mengangguk. “Lu berdua di lantai lima. Ayo, Ale udah kelihatan capek gitu.”
“Lu udah minum obat?” tanya Gabriel pada Ale.
Gabriel segera membantu membawakan koper milik Ale. Sedangkan koper Viola ditinggal gitu aja.
"Minimal kalau mau PDKT sama Ale, sahabatnya juga diperhatiin. Biar dapat restu, biar berkah juga,” sindir Viola juga mendorong kopernya menuju lift.
"Berisik,” seru Gabriel.
"Sini gua bantu bawa,” Ale menawarkan bantuan untuk membawa tote bag milik Viola. Karena tadi, mereka berdua sempat membeli makanan dan Ale titipkan di tote bag Viola.
"Ga usah,” jawab Viola ketus.
"Hehe."
"Udah minum obat?” tanya Gabriel saat keduanya sudah memasuki lift.
Vero dan Dewa tadi sudah ngacir duluan karena memang sudah lelah. Tumben-tumbenan tu dua anak curut punya rasa capek.
“Belum. Tadi gua ga suka makanannya jadi ga gua makan,” tutur Ale.
“Bandel sih,” kata Gabriel menarik hidung mancung Ale.
"Sakit, Gab," keluh Ale.
"Ehem, nyamuk nih," timpal Viola seraya menepuk-nepuk tangan seolah menangkap nyamuk.
Ale dan Gabriel diam tak menanggapi perkataan Viola.
Sesampainya di lantai lima, Gabriel segera mencari lokasi kamar Ale dan Viola. Memang, satu kamar hanya ditempati oleh dua orang saja. Wajarlah, sekolah mahal.
“Kuncinya,” kata Gabriel meminta kartu.
“Ha?” beo Viola.
“Oh, ini,” Viola menyerahkan kartu tadi.
Setelah pintu terbuka. Gabriel memasukkan koper Ale dan menuntunnya masuk. “Gua tinggal dulu. Lu abis ini mandi,” ucap Gabriel meninggalkan kamar.
“Makasih banyak, Gab,” ucap Ale lirih.
Gabriel hanya mengangguk samar.
Sebelum menuju kamar. Gabriel sempat turun lagi ke restoran hotel untuk memesan makanan. Ia memesan nasi goreng kesukaan Ale. “Tolong nanti diantar ke kamar 128 di lantai 5. Terima kasih,” ucapnya saat membayar di kasir.
Gabriel pun segera menuju kamarnya sendiri dan membersihkan tubuhnya. Gabriel tak menanggapi cecaran pertanyaan Dewa yang satu kamar dengannya. Ia membiarkan Dewa terus bertanya.
***
Tok, tok, tok!
Suara pintu kamar Ale dan Viola.
“Siapa?” tanya Ale membuka pintu, karena Viola sedang mandi.
“Ini pesanannya, ya, Mbak,” ucap pelayan restoran menyerahkan sepiring nasi goreng dan jeruk hangat.
“Lho, saya tidak pesan apa-apa, Mbak. Ini baru mau pesan,” kata Ale.
“Tapi ini pesanannya, Mbak. Sudah dibayar sama Mas Gabriel,” tutur pelayan tersebut.
“Oalah. Ya sudah, tolong letakkan di meja, ya, Mbak,” ucap Ale mempersilakan masuk.
“Baik.”
“Terima kasih.”
“Kalau gitu saya permisi dulu,” pamit sang pelayan.
Ale mengangguk dengan seulas senyum.
Sepeninggalan pelayan tadi, Ale segera menghubungi Gabriel. Ia memberikan foto sedang makan nasi goreng yang ia kirimkan pada Gabriel. “Thank, Gab,” captionnya.
“Wah nasi goreng tuh,” seru Viola saat melihat Ale tengah asyik menyantap makanannya.
“Hooh, dari Gabriel,” sahut Ale.
“Wah tu anak effort banget.”
"Jadi gua restuin nih,” sambung Viola sembari duduk di sebelah Ale.
"Mau, Vi?”
"Gabriel belinya berapa?”
"Satu doang."
"Lah, minimal dua kek. Sobatnya juga doyan, ga cuman ceweknya aja,” kesal Viola bercanda.
"Ga jadi gua restuin kalau gitu,” tutur Viola lagi.
“Hahaha,” Ale hanya tertawa garing.
“Kalau lu sama dia pasti bahagia banget,” ucap Viola yang asyik membuka sosmednya.
“Gua yakin Gabriel ga sebrengsek Jonathan.”
“Tapi gua ga mau ngerusak pertemanan kita. Lu harus ingat, Vi. Kita hancur karena dulu gua sama Jonathan jadian kan?” tanya Ale sudah selesai dengan urusan makannya.
“Bukan karena kalian. Tapi emang kita aja yang ga solid,” tegas Viola.
“Gua, Lu, Jonathan, Kinar dan Romeo beda sama gua, lu, Gabriel, Dewa dan Vero. Ingat itu, Al!” Viola mengingatkan.
“Iya.”
HP Ale bergetar menandakan ada pesan masuk. ‘Gabriel Ketos’ nama itu yang tertera di layar beranda.
“Oke. Dimakan, ya, obatnya jangan lupa terus istirahat,” balas Gabriel.
Ale hanya membaca pesan tersebut. Kemudian ia segera mencari obatnya dan tidur menyusul Viola.
***
Keesokan harinya, seluruh rombongan SMA Purnawarman sudah bersiap kembali ke Jakarta. Pukul 06.00 tadi mereka semua sudah meninggalkan area hotel. Sekarang mereka tengah melakukan perjalanan menuju Dufan.
“Cantik banget, Al,” puji Dewa.
“Hehe, makasih, Wa,” ucap Ale dengan seulas senyumnya.
Hari ini Ale mengenakan celana selutut, kaos dan juga outer berwarna merah. Kaki jenjang nan putihnya ia balut dengan sepatu berwarna putih. Jangan lupakan surai kecokelatannya ia biarkan tergerai. Wajahnya natural tanpa polesan make up. Begitu pula dengan Viola yang mengenakan celana jeans biru dan tank top yang dibalut dengan blazer berwarna abu-abu.
Kurang lebih selama tiga jam perjalanan mereka sudah sampai di Dufan. Ale menambahkan topi berwarna putih di kepalanya yang ia beli saat liburan ke Inggris beberapa tahun lalu.
“Al, kita bareng-bareng, ya,” ajak Vero.
“Sama Gabriel, Dewa juga. Biar ga ilang,” sambung Vero.
“Oh, oke.”
Viola menambah kecantikannya dengan mengenakan topi berwarna hitam dan kaca mata hitam miliknya. Gabriel terlihat semakin tampan saat mengenakan celana jeans hitam dan kaos polos berwarna putih dan topi.
“Gila, Gabriel ganteng banget.”
“Iya. Calon pacar gua.”
“Halu. Saingan lu sama Alexa.”
"Selama janur kuning belum melengkung masih bisa ditikung.”
"Mereka cuman temen.”
"Kan pacarnya Gabriel gua."
Seperti itulah bisik-bisik dari kaum hawa saat melihat Gabriel berjalan bersama Ale, Viola, Dewa dan Vero.
“Kita naik apa dulu?” tanya Ale.
“Histeria,” pekik Viola.
“Go,” sahut mereka berempat.
Mereka berlima bersenang-senang bersama. Menaiki berbagai wahana yang cukup ekstrem. Teriakan dari Viola dan Ale turut serta menambah kebahagiaan mereka berlima.
“Foto dulu, yuk,” ajak Ale.
“Ayok,” seru semuanya.
Ale yang memegang kamera di HP berlogo apel boba tiga tersebut.
“Cis.”
“Cis.”
“Al, mau foto berdua ga?” tanya Gabriel.
“Boleh.”
“Cieee,” sorak Viola, Dewa dan Vero.
“Sini gua fotoin,” Dewa meminta HP milik Gabriel.
“1, 2, 3.”
Dengan pose Gabriel memegang puncak kepala Ale dan Ale mengacungkan dua jarinya. Foto tersebut berhasil diabadikan Gabriel di akun Instagramnya, @Gabrieldanu dengan caption ‘Ciptaan Tuhan yang lain’. Ia juga memberikan mention pada akun milik Ale, @NayAlexa.
Beribu follower Gabriel langsung memberikan like dan komen pada postingan tersebut.
“Cewek baru, Gab.”
“Gila, habis ditinggal bule Eropa dapat bule mana lagi?”
“Selamat, Gab. Akhirnya dapat juga.”
“Idamannya yang bule-bule ternyata.”
"Hari broken heart nasional."
"Tega kamu, Mas. Idamannya yang bule-bule."
"Muka cowoknya hampir mirip bule, ceweknya juga."
"Ndak mampu aku."
Seperti itulah komentar dari follower Gabriel yang tak lain adalah teman SMP-nya dulu.
Juga ada beberapa dari anak SMA dan teman-temannya yang lain.
jangan lupa mampir kak