Indonesia
NovelToon NovelToon
Scandal Cinta Majemuk

Scandal Cinta Majemuk

Status: tamat
Genre:Obsesi / Identitas Tersembunyi / Hamil di luar nikah / Cinta Terlarang / Tamat
Popularitas:32.6k
Nilai: 5
Nama Author: Eka Magisna

Austin 'tak peduli. Dia mencintai Jasmine. Walaupun perut wanita itu membuncit di usia hampir trimester tiga kehamilannya. Tidak ada yang salah dengan hubungan keduanya. Jasmine tak bersuami. Kehamilannya adalah hasil tragedi penculikan yang justru menimbulkan simpati di hati Austin.

Tapi bagaimana jika suatu waktu, pria yang melakukan penculikan itu tiba-tiba datang.
Akan bagaimana hubungan mereka ke depannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Magisna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Batita gembul berusia enam bulan itu nampak tenang terlelap di atas ranjang berpagar miliknya. Kelambu biru terbentang menutupi bagian atas--menghalau nyamuk-nyamuk menyentuh kulit lembut gadis kecil tersebut. Di bawahnya, di atas sehelai kasur berbulu, sang pengasuh--Nimas, juga nampak lekat terpejam, cukup kelelahan sepertinya wanita 27 tahunan itu.

Austin masuk mengendap ke dalam kamar bernuansa girly dengan ragam boneka dan pernak-pernik lucu di setiap sudut milik putrinya itu. Cahaya yang berpendar hanya berasal dari sebuah lampu tidur tipe berdiri di pojok ruangan. Dalam keremangan, Austin menyibak pelan kelambu halus ranjang. Ditatapnya lekat wajah mungil yang menyamping itu penuh cinta.

"Kamu cuma milik Daddy, Sayang. Daddy gak akan biarin siapa pun rebut kamu dari Daddy. Termasuk Mommy-mu sendiri!" Suara Austin terdengar parau, membentuk seperti rintih, namun cukup tegas dan menekan.

Tubuhnya ia bungkukan, beberapa jenak mengecup pipi gembul yang menyamping itu dalam dan penuh perasaan. Aroma khas minyak telon menyeruak masuk ke dalam penciuman. Aroma yang selalu membuatnya tak sabar untuk segera merangkul dan menciuminya acapkali usai bekerja di bengkel, atau setelah apa pun.

"Have a nice dream, Sweety!"

Lalu kembali dengan perlahan, Austin meninggalkan kamar itu dengan perasaan yang entahlah, ia pun terasa bingung menyikapinya.

Pertemuan tak diduga dengan Jasmine sore tadi, membuat setengah dari dirinya terasa aneh. Antara rindu, rasa ingin memeluk, marah, dan juga benci!

Selain permintaan paksa Jasmine atas putrinya, kehadiran Dayhan juga menjadi pemicu kegamangan dalam diri seorang Austin. Berakhir membentuk emosi yang tertahan.

Pintu kamarnya baru saja Austin dorong untuk tertutup setelah puas menemui Lily. Mengambil keintiman seorang diri dengan segala rasa yang dikaisnya secara mendadak.

Langit-langit putih yang dibentuk sedikit cekung di bagian tengah dengan sebuah lampu LED di titik pusat, menjadi buangan tatap Austin saat ini. Kedua lengan ia lipat untuk menyangga kepala dengan tubuh telah merebah di ranjang rendah.

Beberapa saat saja.

"Aarrggh! Apaan sih, gua!" Ia menghardik perasaannya sendiri, seraya dengan cepat mengangkat baringnya jadi terduduk. "Ngapa gua menye gini?" keluhnya pada diri sendiri, atau mungkin pada cicak yang berbaris di dinding, menatapnya penuh curiga. "Pan gua sendiri yang bilang, gua mau move on, kalo uda ngeliat Jasmine bahagia!" Ia menyadari. "Dan sekarang uda jelas! Jasmine uda bahagia sama tu laki! Ngapain gua lelepin dia di otak gua ampe sinting model begini? Gak guna!"

Austin geleng-geleng, mencoba menepis perasaannya mengikuti kehendak. Diusap kasar wajah kusamnya, laju memaut rambut gondrongnya ke belakang hingga tak ada anak-anak rambut yang semula menjuntai berantakan menutupi sebagian wajah.

Diliriknya arloji di pergelangan tangan. "Masih jam sebelas. Mending gua nge-game!" Seolah mendapat dukungan alam, Austin sepertinya berhasil menggeser galau. Dengan gerak semangat, ia meninggalkan empuk kasurnya, lalu melangkah menuju meja rendah di sisi kanan di mana laptopnya ia letakkan.

Cukup lama si bule bergelut dengan game yang entah apa jenisnya. Hingga akhirnya ia mengalah juga pada kebosanan satu jam kemudian.

"Duh, ngapain lagi, ya?" gumam Austin setelah mematikan dan merapikan alat-alat mainnya ke tempat semula. "Tara nongkrong di Gradas. Lumayan jauh juga kalu gua kudu nyusul," ia mulai bingung, sementara matanya masih nampak terang bercahaya, seolah menolak sapaan sang peri kantuk. "Ah, turun aja, dah!"

Tak lama ....

Dengan sebuah gitar bolong di tangan, Austin menuruni tangga bangunan rumahnya yang memang sengaja ia desain di luar bengkel dan juga kafe. Untuk memudahkan akses keluar masuk ketika kedua cabang usahanya telah dalam keadaan tutup seperti saat ini.

Ranumnya dedaunan pohon mangga yang terletak di bawah sebuah kursi taman, dipilih Austin untuk ia duduk di sana--di depan halaman kafe.

Dengan punggung tersandar juga kaki yang ia naikkan bersila, petikan demi petikan gitar mulai ia mainkan. Cangkir kopi panas yang dibawanya, diletakkan di samping beserta ponsel yang juga turut diajak.

Suasana yang cukup damai dirasakan Austin malam ini.

Untuk hati yang sulit didebat, mengalah saja.

Aku bahkan sudah melangkah jauh di depanmu.

Untuk hati yang keras mempertahankan, pecah saja. Aku bahkan jauh lebih keras dari tekadmu.

Untuk hati yang setia merenung dalam kelam, mundur saja. Aku bahkan telah menemukan sinarku sendiri.

Untuk hati yang tengah menunggu di ujung senja, pulang saja. Aku bahkan telah memeluk malam tanpa kau sadari.

Mulanya Austin terkejut, sehelai kertas yang dibulat-bulat, tiba-tiba menimpa kepalanya. Namun bibirnya mulai berkedut tersenyum-senyum, setelah dibacanya bait-bait puisi di badan kertas tersebut. Kertas itu terlempar serampangan dari suatu arah, yang kemudian ditelisik Austin dengan gerakan kepala berputar mengedar setiap sudut--mencari.

"Siapa sih, iseng banget?" umpat pria itu. Gitar ia sandarkan di atas kursi, meraih ponsel, lalu berjalan menapaki sekitar--tentu saja mencari sumbernya.

Sampai langkahnya terhenti di halaman ruko yang terletak di sebelah bangunan miliknya.

Terhalang pohon karet, seorang gadis berambut bondol, nampak asik bermain dengan lembaran buku juga pulpen di atas kap mobil berwarna merah yang terparkir serampangan.

"Tu cewek ngapain tengah malem di sini?" gumam Austin bertanya-tanya. Dihampirinya gadis itu lebih dekat. "Elu yang punya tulisan ini?!" tanyanya dengan kepala menengadah ke arah gadis itu. Dilihat dari raut imutnya, mungkin usianya setara tujuh atau delapan belas tahun, juga dari kostum yang dikenakan.

Gadis itu menoleh sontak. "Tulisan apa?"

Austin membeliak, membuang wajah. Dengan sedikit dengusan, ia kemudian membentang kertas di tangannya kembali, lalu dibacanya keras-keras bait demi bait.

"Hehe ...." Dengan polosnya gadis itu merenyih. "Iya. Itu punya gue."

"Kena pala gua!" sembur Austin. "Ngapain di sini lu malem-malem? Uda sepi juga." Wajah Austin nampak redup terang tertimpa cahaya bulan yang terhalang dedaunan di atas kepala. "Turun lu! Gua panggilin serikiti, nih!"

"Security, Kak." Gadis itu merevisi.

"Serah gua! Mulut, mulut gua!"

Baru saja satu kaki gadis itu menjuntai, suara dering ponselnya nampak nyaring terdengar.

Wajah kesal ia pasang untuk meraih benda itu dari dalam saku seragam SMA yang dikenakannya. "Nelpon mulu!"

"Pasti mak lu. Angkat aja. Jan jadi anak duraka lu!" Austin menakuti.

"Bukan! Bukan mama. Ini tu abang gue, Kak!"

"Ya udah, angkat! Atau lu mau gua yang angkatin!" Austin memasang gestur hendak merebut ponsel yang digenggam si gadis.

"Nggak! Gak boleh." Dengan sigap ponsel itu dijauhkannya. "Nanti gue tambah dimarahinlah!" akunya ngegas. "Gue takut pulang, Kak."

Austin bersidekap tangan menatap wajah yang tertunduk itu. "Emang lu ngapain pake dimarahin?"

Pertanyaan Austin membuat gadis itu tercenung sesaat, lalu .... "Noh lu liat!"

Austin mengikuti kemana telunjuk gadis itu mengarah, lalu tersentak setelahnya. "Ebuseeehhh! Lu apain ni mobil ampe lecet-lecet?!"

"Hehe ...." Dengan cengiran polosnya gadis itu mendongak, lalu menjawab, "Gue pake balapan, Kak."

"Bener-bener lu!" Goresan-goresan di body mobil itu diusap Austin dengan tubuh membungkuk. "Pantesan lu klojotan kagak mo balik."

"Iya. Gue takut sama abang gue, Kak!" ungkap gadis itu dengan wajah frustrasi. "Gua telat dateng ke sini. Bengkel itu udah tutup aja," katanya seraya menunjuk bengkel Austin yang telah rapi tertutup.

"Ngadi-ngadi lu ke bengkel tengah malem buta!" Austin menghardik. "Ya udah, mobil taro sini aja! Tar gua lelepin bengkel. Sekarang lu gua anter pulang pake motor gua!"

"Tapi, Kak ...."

"Abang lu biar gua yang urus!"

1
engkoz83
harus kahhhhh..seperti ini thor...
engkoz83
tuhhhh..ketemu Andrew dehhh... kacauuuuuuu
engkoz83
ihhh...bakalan amburadullll deh klu ketemu Andrew
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Hehe..biar gk flat, Kak.

btw, mkasih udah maraton baca karya2 aku.
sehat selalu, Kak🥰
total 1 replies
Yudith Lahay
Good
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: makasih, Kak.
kaget aku, novel sepi ini tiba2 ada yg baca😄
total 1 replies
Emak Femes
𝚠𝚊𝚊𝚊𝚑 𝚐𝚊𝚔 𝚛𝚎𝚕𝚊 𝚔𝚊𝚕𝚘 𝚜𝚒 𝚊𝚞𝚜𝚝𝚒𝚗 𝚝𝚊𝚖𝚊𝚝 𝚖𝚊𝚔
𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚒𝚗 𝚕𝚊𝚑 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚋𝚘𝚗𝚞𝚜2 𝚗𝚐𝚊𝚙𝚊𝚊𝚊𝚊
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Kgk, Mak.
mengcapek
total 1 replies
🌺💐H@5#🌺💐
hari di hafal luar kepada ya ozt bahwa Sanya perempuan itu maha benar 😃 walaupun salah tetap maha benar karena bakalan garing hari² Lo kalo mode ngambek nya udah keluar
Emak Femes
entah kenapa masih kebayangnya si ozt sama.jasmine dah mak
Emak Femes
satu kata
yasalaaaaaaammmmm
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Wkwkwk.

kenapa, Emak?
total 1 replies
🌺💐H@5#🌺💐
dasar bule songong tak ada romantis² nya ngelamar anak orang sejam yang lalu aja udah hampir buka paha artinya kalo jebol tadi tuh gawang sembilan bulan kedepannya udah punya adek tu si Lily versi Deddy songong
🌺💐H@5#🌺💐: 🤭🤭🤭🙈🙈🙈🙈
total 2 replies
🌺💐H@5#🌺💐
udah kentang harus banyak ngeles lagi gimana gk lapar coba?🤭😃😃 ngeles juga butuh tenaga kaliii wkwkkkk
Emak Femes
sepertinya elu kena karma Le...
skrg jan celap celup lagi
halalin satu Le trus elu celup smp mampus 🤣🤣🤣
Emak Femes
hadeeeeh
tobat napa Le Le
kok malah khilap
pusing eke
Emak Femes
hahahaha dunia nya selebar daun kelor
🌺💐H@5#🌺💐
menang banyak di bule songong adek rival mo di embat juga
🌺💐H@5#🌺💐
udah baca nya tegang tegang eh . malah next 😔😔kentang kentang
🌺💐H@5#🌺💐
hilal bahagia dah hampir muncul seperti nya 😊 berdamai dengan diri dengan keadaan memaafkan takdir menjalani hidup seperti air yang mengalir pasti bahagia sudah menanti
🌺💐H@5#🌺💐
sebetulnya damai itu indah tapi beda pemikiran yang kadang membuat nya menjadi rumit semoga Jasmine juga sepemikiran dengan niat ozt
🌺💐H@5#🌺💐
wiihhh bisa eror otak nya Jasmine njalani takdir hidup nya...oh tidak!!! jika kita yang dihadapkan dengan masalah seperti ini bisa apa coba... jangan ditanya tentang sabar tentang ikhlas entah lh
..
🌺💐H@5#🌺💐
da ellahh....apa musti Jasmine pindah lagi ke pelukan pria lain ape ya...aku rasa cinta yg udah di patri Ke Ben gak akan sama kwalitas nya dengan ke Andrew kalo Ben menolak Jasmine ...yg ada Jasmine bisa gila beneran kalo tau yg niduri waktu di enggres itu malah pria yang pernah nyulik dia
🌺💐H@5#🌺💐
inget Ben Abang Lo baru tiba tengah malam dari enggres.. kapan Lo terakhir vc ame jas mikir pura2 aja tanya ke resepsionis mana tau ada nm Andrew sebagai tamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!