Cakrawala mulai masuk ke dalam kehidupan teman sekelasnya, gadis introvert bernama Embun. Hingga kehadirannya mampu berubah dunia Embun, yang awalnya hitam putih menjadi lebih berwarna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sJuliasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Setiba berada di dalam klub malam itu,langkah Embun terhenti seketika saat melihat Ray yang malah sibuk bermain biliard sembari tertawa lepas dengan di temani beberapa wanita berpakaian minim.
Ini tak bisa ku biarkan!!!pekiknya geram.
"Kak Ray...."teriak Embun sembari berjalan menghampiri kakaknya itu.
Ray pun seketika menoleh ke arah suara yang memanggil namanya.Matanya membulat sempurna saat melihat kedatangan Embun.Ia tersentak dan hanya terdiam di tempatnya.
"Keterlaluan.!!Bisa-bisanya di saat ibu sedang sakit,kau malah bermain dengan tenangnya di tempat seperti ini!!!dimana hati nurani mu?hahh?!."sekak Embun tanpa basa-basi.Matanya yang penuh amarah menatap tajam ke arah Ray yang masih tak berkutik.
"Kau siapa?berani-beraninya berkata seperti itu kepada Ray?"celetuk salah satu wanita berpakaian minim itu.
"Kau diam!!!ini bukan urusan mu."pekik Embun dengan lantangnya.
Ansel yang kebetulan juga ada di tempat itu langsung menghampiri Embun sembari menyunggingkan senyum sinis."Wahh..aku tidak menyangka akan bertemu dengan mu lagi.Kau semakin cantik dan terlihat sangat seksi."celetuk Ansel yang memandangi tubuh Embun mulai dari ujung kepala hingga ke ujung kakinya.
Mendengar itu,Embun pun menatap tajam dan sinis ke arah Ansel.
"Sudah bertahun-tahun berlalu,namun rasa penasaran ku untuk mencicipi tubuh mu yang indah itu ternyata tak juga kunjung menghilang."kata Ansel yang ingin menyentuh dagu Embun.Namun belum sempat Ansel menyentuh dagunya,Embun sudah lebih dulu menghempas tangan lelaki mesum itu dengan kasar.
Ansel seketika menyeringai.Sikap berani Embun membuatnya semakin tertarik kepada gadis itu.
"Kak Ray,ayo pulang!!!ada yang ingin ku bicarakan dengan mu."pintah Embun dan mengabaikan Ansel yang berdiri di depannya.
"Pulanglah sendiri.Aku enggan bicara dengan mu."sahut Ray.
"Kau tak kasian melihat ibu?!".seru Embun.
"Tidak..!!!"jawab Ray datar.
"Dasar anak durhaka!!!"bentak Embun marah.
"Jaga ucapan mu ya".kata wanita berpakaian minim itu lagi sembari melayangkan tamparan ke pipi Embun.
Namun Embun dengan cepat menahan lengan perempuan itu dan mencengkramnya.
"Aww...sakit...lepaskan.."pekik wanita itu sambil meringis.
"Lepaskan dia Embun..."teriak Ray yang tak terima wanita penghiburnya di perlakukan kasar oleh Embun.Padahal wanita itu lah yang berulah,kalau tidak mana mungkin gadis seperti Embun akan bersikap kasar tanpa alasan.
Embun seketika melepaskan cengkraman di lengan wanita itu.Melihat wanita itu kesakitan sembari memegang lengannya yang memerah,Ray yang tak terima pun langsung menghampiri Embun dengan emosi yang bergemuruh di dadanya.
"Kurang ajar!!!"pekik Ray yang ingin membungkam Embun dengan sebuah tamparan yang akan ia daratkan ke wajah adiknya itu.
Namun Cakra yang ternyata mengikuti Embun sejak tadi merasa tak terima saat melihat Ray akan melakukan tindakan kasar kepada gadis yang ia cintai itu.Dengan cepat Cakra pun berlari ke arah Embun dan langsung menahan lengan Ray dengan kuat.Mata Ray melotot seketika saat Cakra tiba-tiba menahan lengannya dan menggagalkan rencananya untuk membungkam Embun.
"Kau...?!"pekik Ray dengan rahangnya yang mengeras karna amarahnya tertahan.
"Kau masih belum berubah ya.Masih tetap menjadi manusia sampah yang tak berguna."celetuk Cakra datar.
Betapa malunya Ray di sudutkan oleh Cakra di depan teman dan wanita penghiburnya.Sembari menahan rasa marah dan malu,Ray berusaha menarik lengannya dari cengkraman Cakra.Namun Cakra yang sudah menduga hal itu, dengan cepat melepas lengan Ray bersamaan dengan Ray yang mengerahkan seluruh tenaganya untuk menarik lengannya dari cengkraman Cakra,hingga lelaki tak berguna itu pun terpental jatuh dengan kerasnya.
Wanita berpakaian minim itu pun bergegas membantu Ray untuk berdiri.Tampaknya wanita itu benar-benar menaruh perasaan kepada lelaki pengangguran seperti Ray.Sedangkan Ansel yang masih trauma melihat Cakra,dengan sembunyi-sembunyi ia melarikan diri entah kemana.
"Kau masih ingin tetap di sini,kak?!"ujar Embun yang mengintimidasi Ray dengan tatapannya.
Ray yang tak punya pilihan hanya bisa mendengus kesal sembari bergegas keluar dari tempat itu.
"Dan untuk kau,berhenti lah menjadi tempat pelampiasan nafsu kakak ku.Dia itu tidak menyukai mu,...".pekik Embun kepada wanita yang membantu Ray tadi.
Wanita itu tak berani menjawab,ia hanya menundukkan kepalanya dan tak lagi berani menatap Embun.
Setelah cukup melampiaskan amarahnya,Embun lalu keluar dari tempat itu di ikuti oleh Cakra yang berjalan di belakangnya.Sembari membuka pintu mobil Cakra,Ia berkali-kali mengatur nafasnya yang memburu akibat emosinya yang sempat meluap tadi.
"Aku tak menyangka...".Cakra membuka suara sembari menggelengkan kepalanya.
Embun mengerutkan dahi dan menatap Cakra yang mulai melajukan mobilnya.
"Tak menyangka kenapa?"tanyanya.
"Aku seperti melihat sisi lain dari diri mu.Sejak mengenal mu dulu,baru kali ini aku melihat mu setegas dan seberani itu."sambung Cakra.
"Entah lah,Cak.Aku saja bahkan tak mengerti mengapa kini kepribadian ku berubah.Tapi menurut ku,aku mengalami perubahan itu setelah kehilangan mu dan kepergian ayah ku.Saat itu aku merasa di tuntut untuk harus memiliki mental yang lebih kuat agar aku bisa melanjutkan hidup ku."sahut Embun.
Cakra tiba-tiba terdiam.Sebegitu besar ternyata dampak yang ia tinggalkan untuk Embun di saat ia memilih menghilang dari hidup gadis itu.
Kini Cakra memilih bungkam dan hanya menyetir mobilnya.Tak ada percakapan lagi setelah itu di antara Cakra dan Embun hingga mereka tiba di rumah milik orang tua Embun.
Embun tak langsung keluar dari mobil itu.Tatapannya seolah ia sedang memikirkan sesuatu.
"Tidak turun??!"tanya Cakra.
"Hahh?!..hmm..iya..".
"Sedang memikirkan apa?!"
"Tidak ada!"
"Tidak mungkin.Kau saja terlihat sedang memikirkan sesuatu.Cepat katakan!.apa yang membebani hati mu saat ini."
"Benar tidak ada,Cak.Sudahlah lebik baik kau pulang saja.Karna aku akan sampai malam di rumah ibu ku."
"Jangankan sampai malam nanti,sampai bulan depan pun kau singgah di rumah ibu mu,aku akan tetap menunggu mu."
"Cakra...".lirih Embun
"Embun....".sahut Cakra sembari menatap Embun
"Ck...terserah kau saja lah.".celetuk Embun kesal dengan sikap keras kepala Cakra.Ia pun bergegas keluar dari mobil itu sebelum berdebatannya dengan Cakra semakin panjang.
Sedangkan Cakra hanya tertawa kecil melihat tingkah Embun yang ia anggap lucu.Bersamaan dengan itu,ia segera keluar dari mobil dan menyusul langkah Embun.
Di dalam rumah,Ray yang sudah tiba lebih dulu hanya duduk di sofa sembari menyenderkan kepalanya.Melihat Embun yang tiba-tiba masuk ia pun segera memperbaiki posisi duduknya.Entah mengapa kini ia terlihat gentar saat melihat adik yang dulunya sering ia siksa itu.
Embun menghentikan langkahnya tepat di samping Ray."Kak..mau sampai kapan kau bersikap seolah masih remaja yang tak memiliki tanggung jawab?usia mu itu hampir menginjak kepala 3.Namun sedikit pun tidak ada usaha mu untuk membantu ibu,atau setidaknya untuk memperbaiki diri saja kau tak bisa."
Ray hanya menunduk dan tak berani menyelah ucapan Embun.
"Kalau kau tidak bisa membahagiakan ibu,setidaknya jangan buat ibu menjadi susah karna mu.Kasian ibu kak,semenjak ayah pergi,ibu selalu berusaha keras agar bisa mencukupi kebutuhan keluarga ini"sambung Embun.
"Kak Ray...".panggil Embun agar kakaknya itu menatapnya.Benar saja,Ray pun mendonggakkan kepalanya dan menatap Embun yang berdiri di sampingnya.
"Berubah lah kak,semua belum terlambat.Kalau kau memang tetap ingin seperti itu terus,aku tidak akan mengizinkan ibu untuk tinggal bersama mu lagi.Aku akan membawa ibu dan Nara ke luar kota tempat ku tinggal sekarang."
"Ja..jangan Embun.Jangan bawa ibu,aku..aku..tak bisa apapun tanpa ibu.".Ray memohon sembari berlutut di hadapan adiknya itu.
"Kak Ray,berdiri lah.Jangan berlutut seperti itu."ujar Embun sambil memegang kedua lengan Ray.
Namun Ray masih tetap berlutut bahkan kini ia semakin menunduk malu.Dan tanpa di duga,tiba-tiba Ray mulai terisak.
"Ja..jangan bawa ibu,Embun..."lirih Ray sembari memegang tangan Embun.Betapa takutnya ia di jauhkan dari ibu yang selalu menjadi tempatnya pulang.Apa jadinya Ray tanpa ibunya itu.
Seumur-umur tinggal bersama Ray,baru kali ini lah Embun melihat kakaknya itu menangis.Hatinya pun seketika terenyuh mendengar isak Ray yang memilukan itu.
"Kak,berdiri lah.."pintah Embun.
Ray menggeleng dengan masih terisak.Embun pun mengalah,ia lalu ikut berlutut di hadapan kakaknya itu.
"Maafkan kakak...Embun...."ucap Ray yang tiba-tiba langsung memeluk tubuh adiknya.Embun seketika mematung.Ia tak menyangka bahwa Ray akan mengucapkan kata itu kepadanya.Walau pun ia memang pernah di sakiti oleh Ray dulu,namun tidak pernah sekalipun ia berharap bahwa kakaknya itu akan memohon dan meminta maaf kepadanya.
"Aku sudah memaafkan kak Ray.Tapi aku mohon satu hal,berubah lah kak demi ibu."sahut Embun tanpa membalas pelukan Ray.
"Iya Embun.Kakak janji,kakak janji akan berubah.Kakak akan membahagiakan ibu."sambung Ray.
Karna kebaikan hati Embun,kini lenyaplah sudah kebencian yang dulu selalu bersemayam di rumah itu.Ada Pepatah yang mengatakan,bahwa habis gelap terbitlah terang.Setiap manusia pasti akan mengalami masa-masa sulit,tetapi ada saatnya juga akan merasakan masa-masa bahagia.Itulah yang saat ini sedang di rasakan oleh Embun.
**