#Dark Romance, Obsesi
Di tengah kota yang dilanda kerusuhan dan hukum tak lagi berfungsi, Kirania hidup dalam dunia yang penuh ancaman. Sebagai seorang remaja ceria, ia tak pernah menyangka bahwa kehidupannya akan berubah drastis ketika menjadi target seorang pria obsesif yang siap melakukan apa saja untuk memilikinya.
Ayahnya, Albert, seorang pria dingin dengan masa lalu kelam, adalah satu-satunya pelindung Kirania. Dalam dunia yang dipenuhi kekerasan dan tipu muslihat, Albert harus menggali kembali insting mematikannya demi melindungi putrinya. Namun, di balik perlindungannya, tersembunyi rahasia yang mengancam keharmonisan hubungan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A Veil Asvara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Kirania tampak sibuk menggeledah tubuh pria-pria kekar itu, dan senyum puas terlihat di wajahnya saat dia menemukan incarannya. Namun, dia tidak menyadari dua pasang mata yang memperhatikannya dengan geli. Albert yang melihat tingkah putrinya hanya bisa menggelengkan kepala, merasa bingung. Apa uang bulanannya kurang? Atau dia menginginkan sesuatu?
"Aku rasa kau berubah jadi gadis mesum," celetuk Albert tiba-tiba, membuat Kirania yang sedang sibuk mengambil uang itu kaget dan buru-buru menoleh ke arah suara. Albert menatapnya dengan datar sambil bersedekap, sementara Joshua tampak menahan tawa.
"Oh, tidak. Ketahuan!" seru Kirania, langsung tergagap, wajahnya memerah sedikit. Dia hanya ingin meraba-raba tubuh pria yang terkapar itu untuk mencari dompet dan mengambil uangnya.
"Tapi aksimu itu terlihat seperti wanita liar yang hasratnya menggebu. Apakah seleramu sekumpulan pria jelek ini?" ujar Albert dengan nada sinis. Pria itu sangat kesal melihat kelakuan putri semata wayangnya yang kini sedang memeluk sejumlah uang hasil penjarahan—mungkin sekitar lima puluh juta. Dia merasa seperti seorang ayah yang terabaikan di mata putrinya.
"Aku tidak mesum, tau!" seru Kirania kesal, melemparkan uang itu ke teman-temannya yang duduk di belakangnya. "Itu uang untuk kalian. Bagi rata, ya."
"Tapi, Papa, jangan ribut! Laki-laki sejati tidak ribut dengan perempuan," desis Kirania kesal, masih merasa canggung dengan komentar Albert. Bisa-bisanya sang papa tampan itu menyebutnya sebagai wanita liar dengan hasrat menggebu.
Beberapa orang yang sedang memperhatikan interaksi ayah dan anak itu tampak terkejut. Mereka pikir pria tampan itu adalah kakak Kirania atau pasangan kekasih.
"Pengecualian untukmu. Kau kan putriku, jadi tidak masalah jika kita ribut sedikit," jawab Albert acuh tak acuh, sambil mengangkat bahunya. Pria itu kembali mengalihkan perhatiannya ke beberapa anak buah Athena Grup yang sedang memeriksa sekitar.
"Kau bener-bener ngajak ribut, ya?" kata Kirania, melemparkan uang ke teman-temannya. "Gila, Papa."
"Sepertinya tiga tahun lagi, kau bakal jadi nenek-nenek yang cemberut terus, deh," cibir Albert dengan pedas.
Tawa Joshua pecah mendengar itu. Kirania menggeram kesal, lalu tanpa pikir panjang melayangkan tendangan ke arah Albert. Kejadian itu berlangsung begitu cepat.
Beberapa orang yang menyaksikan kejadian itu melongo, bingung melihat interaksi ayah dan anak yang tampak begitu aneh. Perkataan Albert juga terdengar tidak masuk akal.
"Joshua, aku pinjam mobilmu. Kucing lemah ini mengamuk," ujar Albert dengan santai, sambil menatap Kirania yang masih histeris di tangannya.
Joshua hanya melemparkan kunci mobilnya pada Albert, yang kemudian memikul putrinya seperti karung beras. Setelah menukar kunci, Albert segera pergi dari sana, dengan Kirania yang terus mengamuk dan memukul bahu lebar Albert dengan keras sambil berteriak.
"TURUNKAN AKU, PAPA JAHANAM! BIARKAN AKU MEMUKULMU DENGAN KIPAS BESIKU YANG CANTIK INI!" teriak Kirania kesal, wajahnya dipenuhi kedutan kekesalan.
Albert hanya tersenyum santai, tampak tak terganggu oleh teriakan putrinya yang menggema di sekitar mereka. Dia memeluk Kirania lebih erat, membuat gadis itu semakin kesal. "Tenang, sayang. Kita pulang dulu, biar nggak merusak suasana," katanya dengan nada pelan yang terkesan lebih mirip seperti menenangkan anak kecil, meskipun Kirania sudah berusia cukup dewasa.
"Papa jahat!" Kirania mendengus kesal, namun tidak bisa berbuat banyak. Dia merasa seperti anak kecil yang tak berdaya di tangan Albert. Cobalah melawan, dia tahu betul, Albert akan selalu menang, terutama dalam hal kekuatan fisik.
Joshua yang menyaksikan adegan ini hanya tertawa, sambil menyandarkan tubuhnya pada mobil dengan sikap santai. "Itulah, Albert. Tak pernah berubah. Bahkan setelah bertahun-tahun," ujarnya dengan suara agak teredam.
Beberapa anggota Athena Grup yang menyaksikan pemandangan ini saling melirik, bingung apakah mereka harus tertawa atau merasa tidak nyaman. Mereka hanya bisa diam dan meneruskan pekerjaan mereka. Tak ada yang bisa dilakukan ketika si bos sudah bertindak begitu.
"Sudah, cukup Kirania. Kita akan selesai urusan ini secepatnya," kata Albert dengan suara rendah namun penuh kewibawaan. Wajahnya masih terlihat tenang, meskipun Kirania berusaha memberontak.
"Papa selalu bilang begitu," jawab Kirania dengan suara mendesis, masih berusaha menendang ke arah dada Albert yang terlampau besar baginya.
Saat Albert akhirnya memasukkan Kirania ke dalam mobil dan mengunci pintu dengan cepat, dia tahu bahwa meskipun putrinya selalu terlihat penuh tenaga dan semangat, dia tetap anak kecil di matanya. Seperti biasa, saat situasi sudah tenang, Kirania pasti akan kembali dengan sikap manja dan lincahnya, hanya saja di saat itu dia membutuhkan sedikit ruang untuk 'beristirahat' dari keributan yang telah dibuatnya sendiri.
Namun untuk Albert, tidak ada yang lebih penting daripada memastikan putrinya aman, bahkan jika itu berarti harus menghadapi ledakan kemarahan Kirania setiap saat.
️⚛️⚛️⚛️⚛️
Kirania menyusuri deretan laptop yang dipajang di etalase toko. Sesekali dia menunjuk dan menimang-nimang laptop itu sebelum kembali mencari yang lain, sementara penjaga toko sudah mulai menahan kesal. Sudah sejam mereka berada di sana, namun Kirania belum menemukan laptop yang cocok.
"Kau lama sekali. Apakah kau menunggu laptop itu bisa bicara atau melakukan sensus laptop? Kau tidak akan menemukannya di sini," kata Albert ketus, kesal. Pasalnya, gadis itu terus melakukan hal yang sama sejak mereka menginjakkan kaki di sana.
"Aku menunggu laptopnya menikah dan melahirkan," balas Kirania tak kalah jengkelnya, sementara penjaga toko hanya bisa mengeluarkan keringat dingin mendengar percakapan antara ayah dan anak itu.
"Aku mau lihat yang ini," ucap Kirania sambil menunjuk ke arah laptop berwarna hitam. Penjaga toko itu segera mengambilnya dan menyerahkan laptop tersebut ke tangan Kirania.
Kirania menimang-nimang dan mengamati laptop itu dengan seksama. Setelah dirasa cocok, dia tersenyum puas dan mengangguk.
"Aku ambil yang ini."
Setelah menyelesaikan pembayaran, mereka memutuskan untuk pergi. Penjaga toko itu menghela napas lega setelah kepergian mereka.
"Hei, Kucing. Kita mampir ke toko pakaian sebentar," ucap Albert tiba-tiba, menyeret Kirania menuju butik di sebelahnya.
Kirania hanya bisa pasrah dengan tingkah aneh papanya dan mengikutinya dengan ogah-ogahan. Meski begitu, dia merasa tidak enak hati dengan pria tampan tersebut.
Sesampainya di stand pakaian perempuan, Kirania mengambil sebuah pakaian dan mulai meraba tekstur kainnya, menilai modelnya, dan melihat harga. Namun, dia meletakkan pakaian itu kembali karena tidak sesuai dengan seleranya.
Saat tangannya hendak menyentuh sebuah dress cantik berwarna ungu, tiba-tiba sebuah tangan merebutnya dari genggamannya.
"Ini punyaku!" seru seorang perempuan dengan makeup tebal.
Kirania hanya melirik perempuan itu sekilas sebelum kembali menyentuh pakaian lain berwarna merah. Namun, gadis itu kembali merebut pakaian tersebut.
"Ini punyaku! Sebaiknya cari yang lain saja!" bentaknya dengan kasar, sukses membuat emosi Kirania tersulut. Beberapa pengunjung di butik itu menatap mereka penasaran dan berbisik-bisik menjelekkan Kirania.
Dengan kesal, Kirania mulai menyentuh beberapa pakaian secara acak, namun lagi-lagi perempuan itu merebutnya.
Akhirnya, Kirania pergi meninggalkan perempuan bermake-up tebal itu yang kini menatapnya dengan kesal, merasa diabaikan.
Gadis itu mencari keberadaan Albert dan menemukannya berdiri di dekat kasir dengan raut wajah menahan marah. Ternyata, Albert telah menunggunya, menciptakan kerumunan di sekitar kasir.
"Kau lama sekali. Apakah putriku ini tersesat?" celetuk Albert dengan nada mengejek saat melihat Kirania muncul dengan wajah kesal.
Para wanita di sekitar mereka langsung protes, tidak terima, dan menatap Kirania dengan penuh permusuhan. Mereka iri dengan kecantikan Kirania dan kenyataan bahwa gadis itu bisa berdekatan dengan pria tampan yang hampir tidak nyata itu.
"Aku hanya memilih beberapa pakaian, Pa. Bukan bercosplay menjadi anak hilang," balas Kirania ketus.
"Sepertinya kau mengalami masalah," ujar Albert dengan nada dingin, aura membunuhnya yang mulai merembes membuat beberapa orang menggigil dan langsung menjauh. Sebuah senyuman kejam tersungging di wajah tampannya. "Mau aku membereskan mereka?"
"Tidak perlu, Pa," jawab Kirania sambil menyeringai. "Lagipula lalat-lalat itu akan musnah dengan tingkahnya sendiri," katanya sambil tersenyum sinis, tepat saat keributan di butik itu mulai memuncak.
Saat keributan di butik itu semakin membesar, Kirania melangkah mendekati sekelompok wanita yang masih memperhatikannya dengan penuh permusuhan. Mereka semua tampak marah, seolah-olah Kirania telah melukai harga diri mereka hanya dengan keberadaannya di sana.
Kirania berhenti beberapa langkah di depan mereka, matanya tajam menatap satu per satu wanita yang menatapnya dengan kebencian. Senyum sinisnya tak kunjung pudar, seolah dia menikmati kekacauan yang tercipta.
"Apakah kalian semua memang hanya bisa berteriak dan menghakimi orang lain? Kenapa tidak coba menikmati hidup sedikit?" ujarnya dengan nada mengejek, membuat wanita-wanita itu terdiam sejenak.
Salah satu wanita yang lebih muda, tampaknya pemimpin kelompok, maju selangkah dan menyipitkan mata. "Kau pikir bisa menang hanya dengan wajah cantikmu itu?" katanya, suaranya bergetar antara kesal dan iri.
Kirania terkekeh pelan. "Oh, aku tahu. Kalian iri. Tapi coba deh, terima kenyataan—aku punya lebih dari sekadar wajah. Aku punya segalanya." Dengan satu gerakan cepat, dia mengedipkan mata, memutar tumitnya, dan melangkah pergi dengan angkuh, meninggalkan kerumunan yang tercengang.
Albert yang sebelumnya hanya mengawasi dari kejauhan, kini mulai berjalan mendekati Kirania, dengan langkah penuh percaya diri. Melihat situasi yang cukup tegang, ia tahu sudah saatnya untuk mengakhiri drama ini.
"Sudah cukup, Kucing. Kita pergi," ucapnya dengan suara rendah namun penuh otoritas.
Beberapa wanita di sekitar mereka melongo, tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Mereka hanya bisa menatap dengan kekesalan, tetapi tidak berani melanjutkan perdebatan.
Kirania mendengus, masih merasa gemas dengan sikap perempuan-perempuan itu. "Mereka itu benar-benar seperti nyamuk yang gak bisa diem. Mengganggu aja," gumamnya sambil melirik Albert.
Albert tersenyum tipis, tanpa sedikit pun raut marah di wajahnya. "Kalau mereka nyamuk, kita harus jadi dewa yang menepuk mereka, kan?"
Kirania melirik Albert dengan cemas. "Papa... jangan buat situasi ini lebih parah."
Albert hanya terkekeh, lalu dengan santai ia menuntun Kirania keluar butik itu. Sesampainya di luar, dia menyerahkan mobil kunci pada putrinya. "Kau suka yang ini, kan? Ayo, kita pulang."
Kirania mengangguk dan membuka pintu mobil dengan sedikit kesal, namun di balik itu ada perasaan bangga. Bangga karena dia tahu bahwa meskipun dunia penuh dengan orang yang iri, dia selalu punya seseorang yang melindunginya.
Mobil melaju meninggalkan butik, sementara Albert menyetir dengan tenang, seolah-olah tidak ada yang terjadi. Namun, di dalam mobil, Kirania melirik ke luar jendela, merasa puas dengan bagaimana ia telah menghadapinya, sambil membayangkan apa lagi yang akan mereka hadapi setelah ini.
⚛️⚛️⚛️⚛️⚛️
"Kau sudah menunggu lama, Boy?" Sapa Albert saat mendapati Ellios duduk di salah satu meja yang terletak di sudut cafe dan memutuskan mendekati pemuda itu.
Pemuda bersurai merah itu mendongak dan menatap pasangan ayah anak yang baru saja tiba dan ikut duduk bersamanya.
"Aku baru saja tiba, Yah." Balas Ellios santai sambil meletakkan ponselnya di atas meja. Dia melirik kearah Kirania dan mendapati wajah sang adik yang terlihat buruk, membuatnya mengerutkan kening. "Apa yang terjadi dengan kucing kecilku ini, hmm?"
"Moodku buruk." Sahut Kirania dengan lesu tak bersemangat. "Abang sudah pesan?"
"Belum. Aku masih menunggu seseorang lagi."
"Hn." Kirania berdehem dan menelungkupkan kepalanya di atas meja.
Tak berapa lama muncul Joshua dengan pakaian casual, tidak lupa dengan kaca mata hitam bertengger di hidungnya yang mancung. Dengan santai pria itu menghampiri tempat di mana Albert berada.
"Maaf, membuat kalian menunggu lama." Cengir pria itu dan mendudukkan diri di sebelah Ellios. Lalu dahinya berkerut saat melihat Kirania menelungkupkan kepalanya di meja.
"Kau kenapa?" Tanya Joshua sambil menyentuh dahi Kirania dengan lembut. "Kau demam?" Tanya pria itu sambil menyentuh leher Kirania yang terasa hangat.
Kirania menggeleng pelan sebagai jawaban dan menegakkan tubuhnya. "Aku baik-baik saja, Paman." Jawabnya meyakinkan Joshua dan Albert.
"Benarkah?" Albert memastikan dengan menyentuh leher gadis itu dengan telapak tangannya dengan dahi berkerut. "Kita harus pulang kalau begitu."
"Tapi aku sangat lapar." Kirania merengek dengan memasang wajah memelas andalannya. Ellios segera memanggil seorang pelayan laki-laki yang sedang membersihkan meja.
Seorang pelayan laki-laki datang menghampiri mereka dan menyerahkan buku menu. Setelah menyebutkan pesanan mereka, pelayan itu pergi dari sana.
"Jadi, bagaimana?" Albert memecah keheningan diantara mereka.
"Seperti yang kita duga, mereka sudah bergerak secara diam-diam." Ujar Joshua sambil mengamati kondisi cafe yang sedikit sepi. Namun netra abu-abu yang di tutupi kacamata hitam itu menangkap seorang pria yang sedang memperhatikan mereka dengan raut wajah tak suka.
"Dan salah satu diantara mereka tengah menatap kucing manis kita dengan tatapan tak suka." Joshua melirik kearah Kirania yang sedang bermain ponsel lalu menatap Albert sambil menyeringai.
"Jadi, bagaimana selanjutnya?" Tanya Ellios dan menatap kedua pria itu penasaran.