TOLONG TINGGALKAN JEJAK SETIAP MEMBACA UNTUK MEMBUAT AUTHOR SEMANGAT DALAM BEKARYA! Terimakasih.
.
.
.
"Ya, akulah pemenangnya. Jadi sekarang aku adalah pemimpin kamu ya, Dara."
–––
Di sebuah sekolah dengan sistem yang buruk, Dara di masukan di dalamnya. Di sana dia bertemu Damian dan menjadi partner satu sama lain. Tapi yang tidak mereka ketahui, ketua sembilan naga memiliki dendam pribadi atas Damian membuat kehidupan sekolah mereka penuh dengan intrik dan juga konflik dalam permainan yang mempertaruhkan diri mereka sendiri. Biasakah Dara bertahan, atau memilih berhenti karena semua hal gila yang dia alami?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuriha Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
[SCHOOL SYSTEM No. 9] : Tepat di UKS, William dan Dara
Dara perlahan membuka matanya, melihat sekitar bayangan kamar mandi samar menghilang di gantikan dengan putih ruangan. Beberapa saat Dara menerjapkan mata, berharap dia hanya bermimpi untuk sesaat. Pusing masih saja Dara rasakan, jangankan untuk berdiri bergerak saja dia tak bisa.
“Kamu sudah bangun,” tanya seseorang anak laki-laki di sebelah Dara. “Apakah ada yang masih sakit?” lanjutnya.
Sesaat Dara melihat kea rah sumber suara. Terasa tak sing bagi Dara. William, ada di sebelah Dara dengan buku cerita di tangannya. “William?” ujar Dara perlahan masih samar karena menahan pusih di kepalanya.
“Kamu tidur lama sekali, lihat,” ucap William langsung mengusap kepala Dara. Beberapa perban melingkar disana, terlihat dengan lembut Willam mengusapkan tangannya. “Andaikan Chisel tidak berpatroli maka kamu akan mati,” lanjutnya.
“Apa yang terjadi?” ucapan Dara lemah masih mencerna apa yang William katakan.
“Chisel, dia itu pendamping saya,” kata William memperlihatkan seorang anak perempuan manis yang berdiri di sebelah William. Dara tak bisa bohong jika anak itu begitu manis. Dara bahkan tak menyangka jika dia adalah pendamping William. Saat dia menjadi pendaming Damian saja, menang satu kali mendapatkan incaran yang luar biasa apalagi menjadi pendamping ketua sembilan naga.
Sesaat Dara melihat uluran tangan dari Chisel, sebuah handuk hangat lantas dia selipkan pada leher Dara agar relaks. Chisel tak banyak berbicara, dia hanya melakukan apa yang sebelumnya William minta. Sesaat Chisel langsung beralih ke lengan Dara, mengusapkan handuk hangat basah untuk menyeka lengan Dara. Ringisan pelan Dara lakukan saat Chisel mengusap memar di tubuhnya.
“Hati-hati Chisel,” ucap William menyadari. Anggukan perlahan Chisel lakukan setelah itu pergi.
Suasana hening seketika datang, hingga deheman pelan dari William membuat Dara sedikit melihat kea rah William. “Kamu sudah tiga hari di sini,” ujarnya membuka pembicaraan.
“HAH! Tiga hari! Kenapa ti- AKKH!” teriakan Dara saat terasa nyeri tak bisa dia sembunyikan lagi. Benar-benar perasaan nyeri itu tak bisa dia tahan.
“Kamu jangan sok kuat gitu, aku juga gak bangunin kamu karena lihat kondisi mu itu!”
“Zoya, entahlah bahkan aku tidak pernah skip kelas,” gumam Dara menyalahkan Zoya atas keadaannya.
“Pernah satu kali, saat kamu pergi dengan Damian,” celetuk William sembari membuka bukunya.
Dara terdiam sesaat saat mendengar ucapan dari William. Entah William merasakannya juga tau tidak, perasaan aneh ini muncul di antara keduanya. Kikuk, itu yang Dara rasakan diam hingga tanpa terasa malam kembali datang.
Luar jendela UKS masih gelap sekarang. Memang Dara masih belum boleh keluar, melihat kondisi dari Dara sendiri membuat William merasa bertanggung jawab. Karena ketidakmampuannya atas menjaga warga sekolah sebagai ketua OSIS di akademi itu.
[Sayang, kami dengar teman sekelas kamu ada yang di keluarkan kerena melakukan kekerasan. William kemarin datang untuk meminta maaf, mama harap kamu baik sayang] pesan Panjang dari mamanya.
Sekolah ini memang memiliki sistem asrama yang ketat. Sebelum waktu untuk di perbolehkan bertemu orang tua tidak boleh melakukan itu. Jika ingin keluar sekolah bahkan harus ada kepentingan khusus. Secara tidak langsung anak-anak di penjarakan di sekolah ini dengan tabiat sebagai asrama.
[Aku tak apa, aku tak ingat apapun hanya sekarang aku baik-baik saja] jawab singkat Dara masih terasa belum sepenuhnya baik.
[Bagaimana dengan partner mu? Harusnya dia tau apa yang terjadi dengan mu] ucapan dari Maria saat tau jika yang membantu adalah William.
Seketika Dara terdiam, hampir satu minggu dirinya tidak melihat Damian. Perlahan Dara melihat keluar, terlihat seluet hitam dengan postur yang Dara kenal. ‘Damian?’ pertanyaan dalam batin Dara. Sesaat Dara teringat akan masa lalunya. Anak-anak kecil itu, dia mengulurkan tangan. ‘Aku tau kamu istimewa,’ batin Dara mengingat ucapan dari mimpinya.
[Dara? Sayang? Kenapa kamu tidak menjawab pesan?] terdengar suara dering pesan masuk dalam ponselnya.
[Aku ingin istirahat mama, besok akan aku hubungi kembali] balasan singkat Dara langsung menutup ponselnya.
Bayangan anak itu benar-benar membuat Dara gelisah. Napasnya mulai memburu dengan ingatan masa lalu itu kembali. Seringai yang Dara kenal bahkan ingin dia lupakan. “Siapa kamu,” gumam Dara.
“Siapa?” tanya seorang tiba-tiba langsung membuat Dara tersentak. Lagi-lagi William datang tanpa di undang. Dalam keheningan ruang UKS menambah suasana seram. “Kenapa kamu menatap saya dengan tatapan itu!” lanjut William sesaat menyadari aura suram dari Dara.
“Saya ketakutan di sini lalu kebetulan kamu datang, wow kamu seperti hantu saja. Muncul begitu saja tanpa di harapkan,” jelas Dara menanggapi pertanyaan dari William.
“Maaf, aku pikir kamu suka di perlakukan seperti ini,” jawaban aneh dari William malah membuat Dara malah menaikkan alisnya bingung. Seketika Willam menaruh sebuah minuman hangat di atas nakas di sebelah kasur milik Dara.
Tatapan bingung Dara, apalagi saat Willam kembali duduk di sebelahnya. Dara ingat jika William baru saja pergi dari sana saat sore, itupun saat dia bilang ada urusan. Bergantian dengan Chisel yang pergi beberapa waktu lalu.
“Kamu itu ketua bukan? Aku pikir kamu menyia-nyiakan waktu untuk sekedar duduk di sini,” timpal Dara.
“Aku menjaga mu, aku taddi lihat ada seorang yang melihat mu dari luar. Apakah kamu tak sadar?” ujar William sembari menunjuk ke sebrang kamar Dara tepat ada jendela menuju luar. Seketika Dara tersadar dengan siluet hitam yang sebelumnya dia lihat.
“Kamu melihatnya juga!” tanya Dara juga terkejut.
“Tentu, dia di sini semenjak kamu di sini. Mungkin kamu punya penguntit, wow mengagumkan.”
“Mungkin itu Damian?”
Pertanyaan dari Dara malah membuat William menatapnya datar. Perlahan dia menutup bukunya, lantas memukulkan perlahan pada kepala Dara. “Apakah kamu tau siapa itu Damian? Dara?” pertanyaan yang di layangkan William langsung membuat Dara menutup mulutnya rapat. “Dia pernah di keluarkan karena urusan kekerasan, mungkin dia hanyalah maniak yang memikirkan dirinya sendiri mana mungkin dia kemari malam-malam hanya untuk melihat mu,” lanjut panjang William.
“Maniak? Setidaknya dia yang membantu ku.”
“Bagaimana sekarang? Bahkan dia tak menjenguk mu,” timpal Willam lagi-lagi membuat Dara diam. “Jika kamu sekarang percaya sama dia tak apa. Apalagi dia adalah partner mu, tapi saat kamu ingin memutuskan kontrak, aku pasti akan membantumu,” kalimat itu mengakhiri pembicaraan mereka beruda malam itu.
Perasaan sakit tiba-tiba datang pada Dara. Benar saja, selama pemulihan tak ada chat ataupun panggilan dari Damian. Dara menggengman ponselnya kuat. Saat tubuhnya sudah kembali sehat, meskipun masih banyak perban di tangannya.
Perjalanan Dara ke asrama biasa saja, seperti tak ada yang peduli Dara menghilang beberapa waktu ini.
“Sepertinya sangat menyenangkan berduaan dengan ketua OSIS , Dara?”