Warna Pertama

Langkah Ajie makin berat. Nafasnya kasar, bercampur debu dan udara malam yang dingin. Sepatu kerjanya yang sudah bolong tergelincir di aspal basah, tapi dia nggak peduli. Di belakang sana, suara-suara itu masih mengiang.

“Kami melihatmu…”

Dia nggak tahu itu halusinasi atau kenyataan. Tapi tubuhnya... tubuhnya jelas bereaksi.

Cat ungu itu—apa pun itu—masih terus merembes dari pori-porinya. Bukan darah, bukan keringat. Tapi cairan kental yang bersinar seperti tinta neon. Dan saat ia melangkah, cairan itu ikut. Menetes. Meninggalkan jejak.

"Apa yang terjadi sama gue...?" gumamnya, suara lirih penuh ketakutan.

 

Kontrakan kecilnya di pinggiran Pasar Rebo akhirnya terlihat. Sebuah bangunan sempit dua lantai dengan dinding hijau pudar, cat yang mengelupas, dan kipas angin rusak di jendela. Lampu depan berkedip seperti disko murahan. Ajie masuk cepat, langsung mengunci pintu dan merapatkan semua gorden.

Napak tilas langkahnya... jelas. Bekas cat masih berpendar samar di lantai teras.

Dia masuk ke kamar, melempar tas, menjatuhkan tubuhnya ke kasur tipis yang digelar di lantai. Kamarnya kecil—cuma cukup untuk kasur, lemari kayu tua, dan meja kerja penuh perkakas bekas.

Ajie menggigil. Bukan karena dingin. Tapi takut. Panik. Mual. Tangannya gemetar saat dia mencoba menarik napas dalam.

Tapi napas itu malah membuatnya batuk keras. Dari mulutnya, semburan kecil cat merah keluar.

“Apa—”

Ia berdiri mendadak, melangkah ke cermin kecil di dinding.

Wajahnya—eh, tubuhnya—terlihat seperti habis jatuh ke drum cat. Leher dan tangannya dipenuhi garis-garis warna. Ungu, merah, hijau... seperti pembuluh darah yang berubah jadi pelangi aneh. Tapi yang paling menonjol... warna merah menyala di dadanya. Seperti coretan api.

Dan saat ia menatap warna itu… udara di sekitarnya terasa panas.

Ia menatap tangannya. Fokus.

“Kalau ini kayak di film… mungkin gue bisa—”

"FWOOOSHH!"

Tangannya menyala.

Cat merah meledak dari telapak tangannya, bukan terbakar, tapi seperti tinta cair yang panas—menguap, menggetarkan udara, melelehkan ujung meja yang tak sengaja terkena semburan.

Ajie langsung melompat mundur.

"INI GILA!" teriaknya.

Dia panik. Muter-muter di kamar. Kepalanya pening. Tapi di tengah kekacauan itu, sesuatu mulai nyambung.

Cat merah \= panas. Ledakan.

Yang tadi siang? Yang di bengkel?

Cat kuning. Kilat. Seperti listrik. Dia ingat tubuhnya mengalirkan energi sebelum ledakan.

Dan tadi saat dia lari… cat ungu. Muncul begitu aja, lalu ada suara-suara itu. Seolah cat itu hidup. Menyadari sesuatu.

Ajie duduk di lantai, memegangi kepala.

“Jadi gue... apaan? Superhero? Monster? Korban limbah?” gumamnya lirih.

Hening. Hanya suara kipas tua di atap yang berderit pelan.

Lalu, dia berdiri. Pelan-pelan. Wajahnya masih bingung, tapi tatapannya mulai berubah.

“Kalau ini emang kekuatan... gue harus ngerti cara ngendaliinnya.”

 

Dua jam berikutnya, Ajie berubah jadi ilmuwan amatir. Dia ambil semua kaleng bekas, plat logam, dan kayu dari gudang belakang kontrakan. Bikin target dummy. Pakai jaket motor tua buat pelindung dada. Dan dia mulai… bereksperimen.

Cat merah: Meledak, tapi arahannya bisa dikendalikan lewat fokus dan pernapasan.

Cat kuning: Listrik. Menyetrum. Tapi terlalu berisiko dipakai di dekat benda elektronik.

Cat ungu: Masih misteri. Muncul sendiri, dan seolah hidup. Tapi bisa menciptakan pola.

Cat hijau: Baru muncul saat dia panik tadi, waktu hampir ketabrak motor. Sekilas seperti… perlambatan. Dunia melambat. Atau dia yang jadi lebih cepat?

Ajie mencatat semuanya di kertas lusuh dengan spidol merah.

Lalu ia berhenti.

Memandang ke dinding kamar yang penuh coretan warna.

Wajahnya masih ragu. Tapi ada api kecil yang mulai tumbuh di matanya.

“Gue nggak tahu ini dari mana... Tapi gue juga bukan orang biasa lagi.”

Ia menghela napas panjang. Menatap langit-langit kontrakan yang retak.

Lalu, suara langkah kaki terdengar dari luar. Seperti... seseorang berhenti di depan kontrakannya.

Ajie diam. Jantungnya berdetak cepat.

Seseorang mengetuk pintu.

Tok. Tok. Tok.

Dia berdiri pelan. Mendekat. Menempelkan telinga ke pintu kayu tipis.

Sunyi.

Lalu suara berat, datar, terdengar dari luar:

"Ajie... kamu bukan satu-satunya yang berubah."

Ajie membeku. Matanya membelalak.

Suara itu... bukan suara manusia biasa.

Dan dia tahu satu hal pasti: malam ini belum selesai.

Episodes
1 Ledakan Di Bengkel
2 Ledakan Dalam Diri
3 Warna Pertama
4 Yang Mengetuk Pintu
5 Jejak Yang Lengket
6 Laboratorium Dadakan dan Cat Ajaib
7 Warna Perang
8 Kemunculan JunkCore
9 Ratu Torsi
10 Spectrum Core
11 The Painters
12 Aliran yang tak nyaman
13 Diagnosi Warna
14 Uji Warna
15 Jejak Di Balik Warna
16 Warna vs Besi
17 Kandang Cat
18 Spectrum yang tak terbendung
19 Retakan di dalam neraka
20 Spektrum Amarah
21 Masa Lalu Junkcore
22 Eksperimen Fase dua
23 Peluru dan Pecahan Diri
24 Warna Terakhir
25 Akhir dari altherion
26 Dua Bulan Setelah Langit Terbakar.
27 Ancaman Baru
28 Sahabat yang jadi cinta
29 Perpisahan
30 Lampu, Sorotan dan Undangan Yang Mengejutkan
31 Kemunculan Glamora
32 The Painters VS Glamora
33 Kegelisahan Ajie
34 Menganalisa kelemahan musuh
35 Sorotan Palsu
36 Abu Dan Sorotan
37 Ratu Tanpa Bayangan
38 Gearstrom
39 Yang Tersisa Di Balik Sorotan
40 Di Balik Sel
41 Neon Dan Lumpur
42 Kota Yang Mabuk
43 Rumah, Ribut-Ribut dan Roti Bakar Keju
44 Kota Tanpa Wajah
45 Balas Dendam Dari Ketinggian
46 Kedatangan Tengkorak Hitam
47 Pengadilan dari seorang pembela
48 Simfoni Baja dan Cat
49 Janji Di Tengah Kehancuran
50 Jalan Menuju Jurang Hasrat
51 Pilihan Yang Sangat Sulit
52 Jejak Kegelapan dan Panggilan Dari Markas
53 Jejak Kegelapan dan Panggilan dari Markas
54 Percakapan Di Tepi Jurang
55 Sekutu Gelap
56 Kedatangan Sang Pena Bulu Emas
57 Kolektor Pedang VS Kolektor Topeng
58 Topeng Putih dan Tarian Kematian
59 Lumen Sigil Dan Kemarahan Murni
60 Sentuhan Kekasih
Episodes

Updated 60 Episodes

1
Ledakan Di Bengkel
2
Ledakan Dalam Diri
3
Warna Pertama
4
Yang Mengetuk Pintu
5
Jejak Yang Lengket
6
Laboratorium Dadakan dan Cat Ajaib
7
Warna Perang
8
Kemunculan JunkCore
9
Ratu Torsi
10
Spectrum Core
11
The Painters
12
Aliran yang tak nyaman
13
Diagnosi Warna
14
Uji Warna
15
Jejak Di Balik Warna
16
Warna vs Besi
17
Kandang Cat
18
Spectrum yang tak terbendung
19
Retakan di dalam neraka
20
Spektrum Amarah
21
Masa Lalu Junkcore
22
Eksperimen Fase dua
23
Peluru dan Pecahan Diri
24
Warna Terakhir
25
Akhir dari altherion
26
Dua Bulan Setelah Langit Terbakar.
27
Ancaman Baru
28
Sahabat yang jadi cinta
29
Perpisahan
30
Lampu, Sorotan dan Undangan Yang Mengejutkan
31
Kemunculan Glamora
32
The Painters VS Glamora
33
Kegelisahan Ajie
34
Menganalisa kelemahan musuh
35
Sorotan Palsu
36
Abu Dan Sorotan
37
Ratu Tanpa Bayangan
38
Gearstrom
39
Yang Tersisa Di Balik Sorotan
40
Di Balik Sel
41
Neon Dan Lumpur
42
Kota Yang Mabuk
43
Rumah, Ribut-Ribut dan Roti Bakar Keju
44
Kota Tanpa Wajah
45
Balas Dendam Dari Ketinggian
46
Kedatangan Tengkorak Hitam
47
Pengadilan dari seorang pembela
48
Simfoni Baja dan Cat
49
Janji Di Tengah Kehancuran
50
Jalan Menuju Jurang Hasrat
51
Pilihan Yang Sangat Sulit
52
Jejak Kegelapan dan Panggilan Dari Markas
53
Jejak Kegelapan dan Panggilan dari Markas
54
Percakapan Di Tepi Jurang
55
Sekutu Gelap
56
Kedatangan Sang Pena Bulu Emas
57
Kolektor Pedang VS Kolektor Topeng
58
Topeng Putih dan Tarian Kematian
59
Lumen Sigil Dan Kemarahan Murni
60
Sentuhan Kekasih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!