Ajie terduduk lemah di sudut ruang isolasi itu. Tangan dan kakinya masih terikat oleh sabuk logam elektromagnetik, menempel di dinding kaca transparan yang menyekatnya dari dunia luar. Ruangan ini dingin, tanpa suara, tanpa warna. Cahaya putih menyilaukan dari atas membuat segalanya terlihat steril, seperti laboratorium tanpa rasa.
Namun, justru di tempat sehening ini, suara langkah kaki logam menggema keras.
Ratna masuk.
Tanpa armor. Tanpa helm. Hanya mengenakan jaket kulit hitam lusuh, rambutnya digelung asal-asalan, dan mata—mata itu—yang penuh bara yang belum padam.
Ajie mendongak pelan. “Lo… datang cuma buat liat gue kayak binatang di kandang?”
Ratna tak menjawab. Ia berdiri di depan kaca isolasi, menyandarkan satu tangan ke permukaannya. Matanya menatap Ajie, bukan dengan kemarahan seperti biasanya, tapi… kosong. Seperti seseorang yang habis berperang dalam pikirannya sendiri.
“Kenapa gak lo bunuh aja waktu itu?” Ajie bertanya lagi, suaranya parau.
“Karena Cain belum nyuruh,” Ratna menjawab datar.
“Lo selalu segitunya sama perintah?”
“Kalau lo gak ngerti, mending diem.”
Ajie menarik napas, pelan. Wajahnya masih lebam dari pertarungan sebelumnya. Tapi sorot matanya… masih menyala. “Gue pikir… lo punya otak buat milih jalan sendiri.”
Ratna tersenyum tipis, nyaris seperti ejekan. Ia menarik kursi logam di dekat dinding, lalu duduk menghadap kaca itu. Diam sejenak, hanya bunyi dengungan mesin di latar belakang yang menemani.
“Dulu gue punya jalan sendiri,” katanya akhirnya. “Waktu gue masih mahasiswa teknik. Semester lima. Punya mimpi bikin sistem otomasi yang bisa bantu desa-desa terpencil punya listrik murah.”
Ajie terdiam. Tidak menyangka Ratna akan mulai bicara seperti itu.
“Kampus gue—Universitas Teknologi Mandala—mereka senyum pas lo bawa prestasi. Tapi giliran lo gak bisa bayar uang semesteran, semua prestasi lo gak ada harganya. Dosen gue yang dulu bangga, tiba-tiba bilang ‘Maaf, ini bukan urusan saya’.”
Ratna tertawa kecil. Tapi tawa itu pahit.
“Ayah gue……
The Painters : Colour Wars
Masa Lalu Junkcore
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 60 Episodes
Comments