Di sana, Rahmad Ajie duduk membungkuk, wajahnya dibanjiri cahaya dari monitor laptop bekas dan beberapa layar kecil buatan sendiri. Tangannya sibuk ngotak-ngatik komponen kecil, solder di tangan kiri, dan cat warna putih mengalir pelan dari jari kanan.
Tangannya udah lecet, ada bekas luka baru di pergelangan, dan peluh menetes dari dagunya. Tapi dia nggak berhenti. Matanya fokus, penuh tekad.
Di hadapannya terbuka beberapa file hasil rekaman pertarungan semalam. Setiap adegan gerakan Glamora diperlambat, dicermati. Gelombang cahaya yang diluncurkan, pola hologramnya, sampai suara manipulatif yang ia keluarkan melalui sistem mikrofonnya. Semuanya ia bedah habis-habisan.
“Dia pakai pantulan cahaya... diatur dari proyektor mini di sekujur tubuh. Tapi sumber utamanya... ada di bagian punggung,” gumam Ajie.
Dia mengulang ulang satu frame. Glamora berputar di udara, sembari mengeluarkan ledakan cahaya berbentuk kipas. Tapi di satu momen—setengah detik sebelum cahaya itu meledak—ada kilatan kecil dari punggungnya. Bukan kilatan biasa. Itu bukan pantulan. Itu sumber.
Ajie mencatat cepat di kertas: “Lightcore Unit – belakang tubuh, rentan saat serangan besar.”
Dia bersandar sebentar, menarik napas panjang. Kemudian melirik ke arah armor-nya—yang sekarang udah dibongkar setengah.
Tabung catnya terlepas, beberapa kabel menjuntai. Bagian dada terbuka, memperlihatkan lapisan rangka dalam yang penuh sistem micro-hydraulics. Ajie nyengir kecil, walau capeknya udah numpuk di bahu.
“Lo butuh mata baru, bro,” gumamnya pada armor itu. “Dan otak yang lebih cepet dari gue.”
Dia mengambil satu lensa kecil dari meja, benda itu dulunya cuma kamera bekas drone. Sekarang, dia udah nyambungin ke filter optik buatan sendiri yang bisa mendeteksi spektrum ultraviolet dan inframerah.
“Glamora nggak bisa bohongin lo lagi pakai hologram. Sekarang lo bisa liat mana nyata, mana tipuan.”
Lalu dia mulai merakit. Lensa itu dipasang di sisi helm, dikalibrasi dengan sistem targeting otomatis. Dia nyambung…
The Painters : Colour Wars
Menganalisa kelemahan musuh
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 60 Episodes
Comments