Matahari kembar di langit Ngarai Ratapan Angin kini bersinar dengan warna ungu kemerahan yang sangat menyilaukan mata. Sinar terik yang mematikan itu memanggang seluruh permukaan bebatuan kapur hingga mengeluarkan uap panas berbau belerang menyengat.
Udara di dasar ngarai itu terlihat bergelombang hebat, menciptakan fatamorgana ilusi berupa genangan air darah yang menari-nari liar di kejauhan. Tebing-tebing raksasa di sekeliling mereka seakan hidup dan bernapas, menghasilkan suara rintihan panjang setiap kali angin panas melewati celah-celahnya.
Pasir berwarna jingga beterbangan membentuk pusaran-pusaran kecil bak hantu gurun kelaparan yang sedang mencari mangsa. Tidak ada satu pun tumbuhan hijau yang mampu bertahan hidup di wilayah ini, kecuali semak duri beracun yang akar-akarnya mencengkeram batu padas.
Di tengah lanskap neraka dunia tersebut, kereta kuda naga emas milik Li Zhen masih berdiri tegak tanpa bergeser satu inci pun dari posisinya. Roda-roda kayunya yang berlapis baja mulai memuai karena suhu tanah yang ekstrem, mengeluarkan bunyi retakan pelan yang memecah kesunyian.
Delapan ekor kuda bersisik naga yang bertugas menarik kereta itu tampak menundukkan kepala mereka dengan mata setengah terpejam. Hewan-hewan mutasi dari alam gaib itu mendengus bosan, sesekali menghentakkan kuku berapi mereka ke tanah sekadar untuk menghilangkan pegal.
Zhao Wei yang duduk di bangku kusir tampak nyaris kehilangan kesadarannya akibat dehidrasi dan tekanan mental yang tak berkesudahan. Pemuda malang itu menggigit bibir bawahnya yang pecah-pecah hingga berdarah, berusaha keras menahan rasa sakit agar tetap terjaga.
Setiap kali embusan angin ngarai menyapu wajahnya, Zhao Wei gemetar ketakutan seolah hembusan itu adalah napas malaikat maut. Jari-jarinya yang pucat pasi terus mencengkeram tali kekang kulit naga dengan sangat kuat, menolak untuk melepaskannya meski telapak tangannya telah melepuh.
Di sebelahnya, Penatua Mo Jian duduk menyusut menyerupai tumpukan kain kotor abu-ab…
Pendekar Mulut Sampah
Tiupan Napas Keputusasaan di Ngarai Tandus
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 194 Episodes
Comments