Kabut tebal berwarna zamrud perlahan turun menyelimuti Jalur Tebing Ratapan yang memiliki kemiringan luar biasa curam dan mematikan. Udara fajar terasa sangat dingin dan lembab, membawa hawa es gaib yang menusuk langsung hingga ke sumsum tulang para pejalan kaki.
Bebatuan obsidian di sepanjang jalan setapak itu berbentuk runcing mengerikan, persis seperti deretan taring naga purba yang siap mengunyah mangsanya hidup-hidup. Cahaya matahari pagi berwarna ungu pucat kesulitan menembus kepekatan kabut, menciptakan bayangan-bayangan memanjang yang menari menakutkan di dinding tebing.
Suara tetesan embun beracun jatuh menimpa genangan lumpur hitam dengan ritme pelan yang sangat menyiksa sisa kesabaran. Lingkungan alam pegunungan di Benua Awan Surgawi ini seolah memiliki nyawa sendiri, bernapas hanya untuk menguras habis harapan setiap jiwa malang yang berani melintas.
Di tengah kengerian bentang alam yang mematikan itu, rombongan kultivator elit sekte berjalan terseok-seok layaknya sekumpulan semut pekerja yang kehilangan arah. Napas mereka tersengal-sengal memburu udara tipis di ketinggian, sementara dada bidang mereka terasa seperti dihimpit oleh puluhan batu asahan raksasa.
Wajah para pahlawan perang yang dulunya sangat ditakuti itu kini memucat pasi, dihiasi oleh lingkaran hitam tebal di bawah mata mereka yang sayu. Mereka terus menundukkan kepala dalam-dalam, menahan isak tangis tertahan sambil menyeret kaki-kaki berlapis zirah baja yang terasa seberat gunung besi.
Di tengah barisan yang dipenuhi oleh aura depresi massal tersebut, sebuah tandu kayu cendana berukir emas diusung dengan tangan gemetar oleh empat ksatria. Di atas tandu mewah yang bergoyang pelan itu, Li Zhen duduk bersila dengan ekspresi wajah yang sangat merendahkan martabat seluruh makhluk hidup.
Pemuda itu tidak peduli sama sekali pada udara dingin yang membekukan darah, karena jubah kebesarannya telah dilindungi oleh seratus lapis formasi penangkal hawa murni. Dia asyik bersenandung pelan dengan nada…
Pendekar Mulut Sampah
Sepatu Sutra yang Tergores Angin Pagi
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 194 Episodes
Comments