Kereta penjara terbang menembus awan abu-abu sebelum menukik menuju sebuah ngarai terpencil.
Begitu melewati batas formasi, udara mendadak berubah kering. Hawa petir yang pekat memenuhi lembah dan membuat kulit terasa perih.
Di bawah mereka terbentang Lembah Eksekusi.
Tidak ada tembok atau penjara di tempat itu. Hanya kawah luas yang dikelilingi tebing batu hitam.
Tak seekor burung spiritual pun berani melintas di atasnya.
Di tengah langit, pusaran awan ungu terus berputar. Petir ungu menyambar dari dalamnya. Setiap dentuman mengguncang jiwa.
Itulah Awan Petir Penghakiman.
Selama ratusan tahun, Istana Dewa telah mengikat kekuatan itu dengan formasi dan menjadikannya alat penghukuman.
Namun bagi Lin Xuan, awan itu tidak lebih dari Api Petir Penghakiman yang sedang terbelenggu.
Kereta mendarat di pelataran lembah.
Kapten Pembunuh menendang pintu sangkar.
"Seret dia keluar."
Dua prajurit segera menarik Lin Xuan. Rantai Pengikat Naga berderak saat tubuhnya diseret menuju jembatan batu.
Lin Xuan tetap memasang wajah pucat dan napas berat.
Namun jauh di dalam tubuhnya, darahnya mendidih karena kegembiraan.
Mangsa yang ia tunggu akhirnya berada tepat di depan matanya.
Tak lama kemudian, mereka tiba di panggung batu berbentuk lingkaran.
Altar Penghakiman.
Ratusan Pembunuh Transformasi Roh Puncak berdiri mengelilinginya dengan tombak terhunus.
Di atas sebuah batu yang melayang tak jauh dari altar, duduk seorang pria paruh baya berjubah hitam keemasan.
Rambutnya merah menyala. Tatapannya penuh kekejaman. Tekanan Qi dari tubuhnya membuat ruang di sekitarnya bergetar.
Dialah Shen Tu.
Pembunuh Tertinggi Lembah Eksekusi.
"Kapten Hei." Suaranya terdengar malas.
"Jadi ini pemberontak yang kau laporkan?" Tatapannya jatuh pada Lin Xuan.
"Transformasi Roh Awal. Bahkan berdiri saja tidak mampu."
Ia terkekeh.
"Dan orang seperti ini berani menentang Istana Dewa?"
Kapten Pembunuh segera berlutut.
"Melapor kepada Tuan Shen Tu. Pemuda ini memang terlihat lemah. Namun para budak di Sektor Em…
Dewa Alkemis Sembilan Benua
BAB 97: Altar Penghakiman
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 116 Episodes
Comments
Rinaldi Sigar
lanjut
2026-09-07
0